I Love You Too

I Love You Too
Demam



"Aku tidak enak badan deh, Pa. Hari ini tidak usah terapi dulu ya." pinta Dania pada Papanya, badannya lelah sekali, pandangan sedikit berkunang-kunang.


"Apa yang dirasa?" tanya Micko khawatir, baru kali ini Dania mengeluh tidak enak badan.


"Seperti mau jatuh saja, mungkin kurang tidur ya." Dania berasumsi sendiri.


"Kamu begadang sayang?" tanya Oma Misha pada Dania, ia menghampiri cucu perempuannya itu.


"Sedikit, aku kerjakan makalah sih berapa hari ini, ternyata menyita energiku, Oma." jawab Dania menatap Oma dengan pandangan sayu.


"Panggil dokter saja, Ko" Oma memerintahkan Papa Micko.


"Sepertinya tidak usah ya Oma, aku hanya kurang makan dan kurang tidur." jawab Dania yakin.


'Kurang belaian juga." celutuk Winner disambut kikikan geli dari Lucky.


"Kalian ini Kakaknya sakit malah dibercandakan." Omel Oma Misha pada keduanya.


"Diajak bercanda biar cepat sehat Oma." jawab Winner tersenyum pada Oma.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja, nanti makan siang biar diantar ke kamarmu." kata Lulu pada anak sambungnya, yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Iya ma. Mungkin juga aku kepikiran Mama Maya di London, selalu saja tidak bisa dihubungi.' keluh Dania lagi.


"Mama kamu baik-baik saja seperti yang Nanta bilang, dia menghubungi Nanta." kata Micko mengingatkan Dania. Memang Nanta sudah ceritakan pada Dania tetapi kurang yakin saja kalau tidak bicara langsung.


"Iya, biasanya aku setiap hari telepon Mama, ini sejak aku menikah belum pernah deh sepertinya." Dania meringis.


"Sabar dulu, sebentar lagi Nanta pulang, bisa tanya langsung. Kamu jangan banyak pikiran dong. Masa suami datang kamunya sakit." kata Lulu menenangkan Dania, memang benar Dania terlihat pucat pagi ini.


"Mungkin karena kangen Nanta." Micko menyeringai jahil, yang lain juga jadi ikut senyum-senyum jahil.


"Kan aku tiap hari videocall sama Mas Nanta, kangennya tuh tertutupi. Tapi sama Mama Maya rasanya aneh juga aku tidak ngobrol selama satu setengah bulan." Dania menghela nafas, kanget berat sama Mama.


"Kalau Mama bisa hubungi Nanta tapi tidak hubungi kamu, itu pasti ada alasannya, Ayolah sayang jangan sakit karena khawatir yang berlebihan." hibur Oma mengelus pundak Dania lembut.


"Iya Oma. Dania bingung saja, tapi Dania yakin Mama baik-baik saja." kata Dania akhirnya, ia menghibur diri.


"Pa, bagaimana mengenai Om Peter?" tanya Dania kemudian, ia ingin tahu karena sejak Papa pukul kok anteng saja tidak ada pergerakan, agak mencurigakan.


"Biarkan menjadi urusan Papa, Nak. Kamu pikirkan yang enak-enak saja." kata Micko tersenyum.


"Mas Nanta takut aku diganggu Om Peter." adu Dania pada Papanya.


"Tidak akan sayang, Peter tidak akan berani mengganggu kamu." tegas Micko.


"Papa yakin sekali." Lucky ikut berkomentar.


"Iya Papa sangat yakin. Jadi kalian juga harus yakin." kata Micko terkekeh.


"Aku heran kenapa Kak Dania yang Om Peter jadikan target?" tanya Lucky sedikit berpikir.


"Entahlah Papa juga heran, tapi mulai sekarang dia tidak akan mengganggu Dania lagi, seperti halnya pada kalian juga." Micko menenangkan ketiga anaknya.


"Ok, Papa berangkat dulu." Micko beranjak dari meja makan.


"Aku juga." Winner ikut beranjak menyalami Mama, Oma dan Dania.


"Iya, aku juga." Lucky mengikuti langkah Winner. Mama Lulu mengantarkan Papa, Winner dan Lucky hingga mobil menghilang dari pandangan Matanya.


"Yakin tidak mau ke dokter?" tanya Lulu pada Dania.


"Tidak usah, aku ijin ke kamar ya Ma, Oma."


"Iya sayang, istirahat. Kalau dirasa sampai siang tidak ada perbaikan Oma panggil dokter loh." kata Oma pada Dania.


"Iya Oma." jawab Dania pasrah, ia segera masuk kedalam kamarnya, baru juga merebahkan badannya di kasur teleponnya berdering.


"Tania..." Balen ternyata.


"Iya sayang." jawab Dania lesu.


"Om Mito biangna Tania satit?" cepat sekali Papa menyebar berita, Dania jadi senyum sendiri.


"Tidak enak badan Dek, Mungkin Kakak Dania kurang tidur." jawab Dania apa adanya.


"Bobo sama Baen aja yuk." ajak Balen kasihan Dania tidur sendiri.


"Nanti Balen ketularan sakit juga. Kakak disini dulu ya. Nanti kalau sudah sehat bobo sama Balen deh."


"Tapi tan, Tania ndilian di tamal." khawatir sekali Balen pada Iparnya.


"Oh ditu ya. Nih Mamon mo nomon." katanya, terdengar suara grasak grusuk.


"Dan, Mamon jemput ya?" kata Nona pada Dania.


"Tidak usah Mamon, aku agak demam juga, nanti malah semua ketularan, khawatir bawa virus, biar saja disini dulu." Dania menyampaikan alasannya.


"Disini ada Bibi pintar pijat, siapa tahu kamu cocok. Berapa hari lagi Nanta pulang, kamu malah sakit." kata Nona lagi.


"Semoga besok sudah sehat ya Mamon." jawab Dania berharap.


"Iya sayang, cepat sembuh ya. Kamu mau makan apa, Mamon bikinkan, Pak Atang yang antar."


"Apa tidak merepotkan?" tanya Dania, ia ingin sekali makan masakan Mamon. Mamon memang pintar masak.


"Tidak, Mamon lagi santai kok. Mau makan apa? empal genton?" tanya Nona.


"Mau, sama tahu gejrot dong Mamon." eh malah nambah permintaannya. Masakan khas Cirebon sih sangat dikuasai Nona.


"Nah itu sih kebetulan lagi ada stock langsung dari Cirebon. Kakak Mamon lagi ada disini. Nanti kalau kamu kesini bisa bertemu deh. Mereka agak lama karena lagi ada seminar." Memang rejeki Dania, Deni dan Samuel rupanya sedang menginap dirumah Kenan. Jadi Nona minta bawakan jajanan Cirebon langsung Dari toko yang terkenal. Meskipun rasanya bikinan Nona juga tidak kalah enaknya.


"Alhamdulillah rejeki aku Mamon." Dania terkekeh.


"Iya Alhamdulillah, sebentar ya Mamon siapkan dulu."


"Iya. Mamon, jangan kasih tahu Mas Nanta ya kalau aku sakit." pinta Dania pada Nona.


"Sepertinya kamu telat deh, Nanta sudah tahu. Mungkin hubungi kamu tidak bisa karena keduluan Balen." Nona terkekeh.


"Duh Papa, cepat sekali melapor." keluh Dania, lagi-lagi Nona terkekeh.


Benar saja begitu Nona menutup sambungan teleponnya, Nanta langsung berhasil menghubungi Dania.


"Kok sakit?" tanya Nanta begitu Dania mengangkat sambungan teleponnya.


"Iya, habis kerjakan tugas kampus, aku kan tidak bisa tidur berapa hari karena kepikiran tugas harus selesai." lapor Dania pada Nanta.


"Tidak kasih tahu aku kalau kamu tidak bisa tidur. Lain kali kalau tugasnya susah kasih tahu, siapa tahu aku atau Ando bisa bantu."


"Iya Mas, aku pikir Mas Nanta sibuk disana, Kakak Ando juga kerja." jawab Dania lemas.


"Kamu lemas sekali, panggil dokter saja ya?" bujuk Nanta yang dapat laporan dari Micko, Dania tidak mau ke dokter.


"Besok saja ya, semoga besok sehat jadi tidak perlu ke dokter. Aku benerin tidur aku dulu, sama makan lagi tunggu kiriman Mamon."


"Mamon kirimi kamu apa?" tanya Nanta.


"Empal gentong sama tahu gejrot langsung dari Cirebon. Kakak Mamon lagi dirumah, katanya sih seminar jadi lumayan lama di Jakarta." jawab Dania.


"Om Deni sama Om Samuel ya, duh aku bawakan oleh-oleh apa ya mereka?" Nanta langsung saja kepikiran.


"Memang mesti ya belikan mereka juga?" tanya Dania bingung, semua orang mau dibelikan oleh-oleh.


"Mereka kan Om aku juga." Nanta memberikan alasan.


"Sayang, pekerja di rumah kamu sudah dibelikan oleh-oleh? tanya Dania ingin tahu.


"Oh sudah kalau mereka sih." jawab Nanta terkekeh.


"Kopernya masih muat kalau belanja lagi?" tanya Dania.


"Masih ada koper Larry." Nanta terbahak.


"Kamu belikan Balen alat berenang, padahal dia minta boneka keriting. Apa tidak komplen nanti?" tanya Dania lagi, meski sakit ingat maunya Balen apa.


"Ya ampun aku lupa." Nanta menepuk dahinya.


"Sayang kabari aku kondisi kamu sesering mungkin ya. Kalau tidak kuat kamu harus diobati dokter." pesan Nanta sebelum mematikan sambungan teleponnya.


"Iya." jawab Dania, kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Koper lu bisa dititipi boneka untuk Balen?" tanya Nanta pada Larry begitu selesai menelepon istrinya.


"Bisa, mau cari boneka?"


"Iya, gue lupa dia minta boneka keriting tapi yang tidak blonde." kata Nanta membuat Larry terkikik geli.


"Kenapa harus keriting sih?" tanya Larry heran.


"Entah, kalau gue punya anak juga mintanya yang keriting." Nanta tersenyum jadinya ingat Balen.