
"Tante terima kasih ya, Kapan kita bertemu lagi? Aku pasti kangen terus sama Tante." Nona memeluk Nina saat ia dijemput Samuel dan Deni.
"Telepon-telepon kalau lagi di Jakarta atau Malang ya." Jawab Nina sambil menepuk bahu Nona.
"Lama sekali pelukannya, mau pulang tidak? pengap Tante Nina tuh." colek Samuel pada Nona, sementara Deni asik ngobrol dengan Kenan. Nona pun melepas pelukannya pada Nina.
"Maaf Tante, katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu menangis, kenapa sayang?" tanya Nina jadi ikut terharu, Deni tadi banyak bercerita tentang Nona saat mereka menunggu Nona dan rombongan pulang Nonton.
"Aku jadi ingat Mama. Makasih loh Tante sudah baik sama aku." kata Nona tertawa disela tangisnya.
"Mulai drama." Samuel masih saja menggoda Nona.
"Rese, rese, rese." Nona memukul Samuel dengan tangannya berulang kali hingga Samuel meringis sambil tertawa dan memegang bahunya yang jadi sasaran Nona. Mama Nina dan Papa Dwi ikut tertawa melihatnya.
"Sudah?" tanya Deni pada adiknya.
"Sebentar... Nanta!!!" teriak Nona pada Nanta yang asik duduk didepan TV, ia sedang bermain game dengan Raymond. Nanta menghentikan permainannya, entah apa yang Raymond bilang, ia berdiri menghampiri Nona dan mengulurkan tangannya, ingin menyalami Nona.
"Peluk saja." kata Nona tersenyum jahil.
"Idih." Nanta menaikkan bahunya tapi tetap mengulurkan tangan pada Nona. Nona pun terkekeh dan membalas uluran tangan Nona.
"Nanti kita janjian di Malang ya." kata Nona pada Nanta, semangat sekali seperti punya teman baru.
"Kapan?" tanya Nanta.
"Ya nanti kalau aku sudah di Malang, sebulan ini di Cirebon dulu. Nanti aku telepon diangkat loh." kata Nona lagi.
"Iya Tante."
"Ish Tante, jitak nih."
"Iya Kak Nona." kata Nanta sambil tertawa.
"Kita pakai sepatu seri baru bulan depan." kata Nona, Nanta pun lagi-lagi tertawa, lalu mereka pun saling tos. Rupanya Nona sudah menghubungi temannya di America lalu memesan sepatu untuknya dan Nanta, Sepatu yang tadi mereka inginkan.
"Nanta ingat, jangan galak-galak sama Papamu, dia kan sudah usir Mak lampir itu demi kamu tadi." bisik Nona pada Nanta, membuat Nanta terkekeh menganggukkan kepalanya. Keakraban Nanta dan Nona membuat yang lain heran lalu menyimak bahkan bertanya-tanya. Nanta termasuk anak yang sulit dekat dengan orang, apalagi Nanta irit bicara. Raymond dan Roma sudah tidak heran, jadi biasa saja melihatnya.
"Akrab sekali mereka." bisik Papa Dwi pada Mama Nina.
"Bagus kan Pa, bisa lancar kalau begini." Mama Nina tersenyum bahagia. Papa Dwi terkekeh menepuk bahu istrinya yang banyak ide.
"Sudah?" tanya Deni lagi ketika Nona berjalan menuju Mobil dengan wajah bahagia.
"Mas Kenan cepat sembuh ya." kata Nona saat melewati Kenan.
"Aamiin. Non maaf kalau Raymond dan Nanta terlalu jahil tadi ya." kata Kenan tidak enak hati.
"Santai saja Mas, aku tidak ambil hati. Enjoy." katanya dengan senyum Manis dan sikap cueknya. Kenan menarik nafas lega.
Mereka melambaikan tangan dan segera masuk ke dalam rumah setelah Mobil Deni menghilang dari pandangan mata.
"Sumringah sekali wajahmu." kata Deni pada Nona saat dalam perjalanan.
"Iya lah mereka semua menyenangkan, gue seperti punya keluarga baru." jawab Nona, senyum tak lepas dari bibirnya.
"Bagaimana Mas Kenanmu?" tanya Deni menggoda Nona.
"Elu mau jodohin gue sama duda, punya anak loh dia?" dengus Nona kesal.
"Hmm pengen bebas betul ya kalian dari gue. Sampai jodohin gue sama Mas Kenan. Beda Lima belas tahun loh gue sama dia." cerocos Nona, ia memang suka bahkan sangat suka melihat Kenan dan tadi sempat sedikit salah tingkah. Tapi sepertinya tidak terpikir untuk menjadi istri Kenan.
"Siapa tahu jodoh. Kan sama-sama single, Mas Kenan itu kenal sama Papa loh." kata Deni
"Oh ya? elu kata siapa?"
"Tadi kan gue ngobrol, dia juga kenal baik sama istri Papa sekarang. Waktu Papa menikah, rupanya Mas Kenan yang jadi saksi." kata Deni menceritakan hasil percakapannya dengan Kenan tadi.
"Oo..." jawab Nona tidak tertarik.
"Tidak naksir sama Mas Kenan?" tanya Samuel.
"Naksirnya sama elu Samuel." jawab Nona terkekeh memajukan badannya dan menepuk bahu Samuel, sementara kepalanya bersandar di bahu Deni yang sedang menyetir kendaraan.
"Eh tidak bisa." jawab Deni cepat. Ia tidak pernah memberikan alasan kenapa tidak mau merestui Nona dengan Samuel. Samuel terkekeh tanpa beban melihat reaksi sahabatnya. Ia memang hanya menganggap Nona sebagai adiknya, tidak lebih. Tapi jujur ia nyaman dan sangat suka menghabiskan waktunya dengan Nona.
"Padahal kalau elu restui, gue minta Papa nikahin gue sama Samuel sekarang juga nih." kata Nona sambil melihat pemandangan di jalan tol dari balik jendela mobil. Samuel dan Deni terbahak mendengarnya.
"Gue serius woii." teriak Nona pada kedua pria didepannya. Tetap saja mereka berdua mentertawakan Nona. Membuat Nona jadi ikut tertawa. Selalu saja ucapan serius Nona ditanggapi bercanda oleh mereka.
"Gue tanya ya, tiap gue punya pacar, elu pernah cemburu?" tanya Samuel. Nona menggelengkan kepalanya.
"Pernah tidak kamu menangis karena Samuel lebih pilih jalan sama pacarnya dari pada sama kamu?" Deni ikut bertanya. Nona kembali menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah dipikir ulang ya, pelajari lagi perasaan kamu sama Samuel." kata Deni terkekeh. Samuel gemas dan mengacak anak rambut Nona si biang ribut ini.
"Kalian setuju gue sama Mas Kenan?" tanya Nona penasaran. Kedua pria itu mengangguk cepat. Nona menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Dikasih makan apa sama Tante Nina tadi kalian?" tanya Nona pada keduanya.
"Minum saja, tidak makan." jawab Deni apa adanya.
"Tidak mungkin dijampe-jampe kan." kekeh Nona lagi.
"Kamu mau tahu kenapa?" tanya Deni pada adiknya.
"Hu uh." jawab Nona.
"Dari kemarin kamu tidak rewel menghubungi kita, bahkan tadi seharian sekalipun kamu tidak menghubungi kami. Berarti kamu nyaman ada disana. Kamu juga tidak teror Papa loh hari ini." kekeh Deni memandang Nona dari kaca spion.
"Hahaha iya hari ini seru. Tapi kan gue bukan jalan berdua Mas Kenan. Tapi mereka semua asik, gue suka." kata Nona lagi dan mulai memasang headset pada telinganya. Jika sudah begitu Deni dan Samuel tahu, Nona akan sibuk nyanyi sendiri, karena hatinya sedang senang, akhirnya bisa ketahuan ia akan tertidur pulas.
"Sepi deh." Deni melirik sahabatnya, benar saja tidak sampai lima belas menit Nona sudah terkulai di kursi belakang.
"Siap-siap kita kesepian kalau nih bocah sudah mulai normal." kekeh Samuel yang paling sering direcoki Nona.
"Yes bisa cari pacar." teriak Deni senang. Samuel terbahak melihatnya.
"Eh tapi beneran elu siap nih bocah balik normal. Tadi gue dengar bulan depan dia balik ke Malang, mulai sibuk lagi dong dia. Kita deh kesepian." Samuel meringis membayangkan teman berantemnya akan segera menghilang.
"Ya kita cari pacar." kata Deni sambil menyetir.
"Calon istri woi, jangan pacar. Nanti calon kalian biar gue yang seleksi, bawa saja ke Malang." sahut Nona yang rupanya hanya tertidur sebentar, ia sudah terbangun dan menyimak percakapan antara Samuel dan Deni.
"Capek deh kalau Kamu yang seleksi, belum ada yang lolos sampai sekarang." keluh Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Samuel menarik nafas panjang, bisa membayangkan gaya menyeleksi Nona sama dengan mengajak ribut pacar-pacar mereka.
"Gue akan professional, tenang saja." kata Nona dengan gaya tengilnya.
"Will see." jawab Samuel sambil mendengus. Nona pun terkekeh dibuatnya. Kalian pikir bisa cepat bebas dari gue, enak saja batinnya dan kembali tertawa sendiri. Senang sekali bisa merepotkan kedua pria didepannya ini.