
"Aban Leyi..." sambut Balen senang saat Larry dan Mike turun dari mobil.
"Ichi pandil tuh Aban Maik." perintah Balen pada Richi, selalu saja Balen yang mengatur Richi harus ini dan itu.
"Babanaik." sapa Richi, membuat Nanta dan Dania tertawa, duo bocah ini lucu sekali. Bahkan semua anggota keluarga Nanta terbahak. Nanta menggendong Richi menyambut kedua sahabatnya. Doni dan Kakaknya masih dalam perjalanan.
"Kalian pakai celana pendek kan? bukan celana berenang?" tanya Nanta membuat Mike mengernyitkan hidungnya.
"Gue pakai baju training, puas?" Larry langsung saja terbahak.
"Baju training tapi pakai celana renang, sama saja bohong." dengus Nanta, kemudian mereka tertawa bersama.
"Dania sayang berenang sama aku ya." sapa Mike pada Dania, agak berlebihan merasa saudara langsung saja panggil sayang.
"Jangan over acting." sengit Nanta membuat Larry dan Dania terkekeh.
"Tania, ini Aban Leyi Baen." langsung saja Balen mengenalkan Larry pada Dania, tidak tahan dengan ada tambahan Baen itu loh.
"Oh Abang Larry yang..." Dania sengaja menggantung kalimatnya sementara Balen sudah menutup wajahnya malu, dasar bocah centil, sekali melihat cowok ganteng langsung begitu.
"Keponakan Om nih punya gebetan." kata Nanta pada Om Deni dan Om Samuel, mereka terbahak mendengarnya. Larry pun ikut terbahak dan segera menggendong Balen. Tambah senang saja Balen dibuatnya.
"Kalah lu sama si unyil." Samuel memandang sahabatnya, sementara istri Samuel sibuk melayani kedua anak kembarnya yang maunya hanya sama Mama saja. Bahkan diajak Balen berenang pun harus sama Mama.
"Aku ikut berenang, kan?" tanya Dania pada suaminya.
"Iya, tunggu. Bajunya masih sama Kak Dini." kata Nanta yang memesan baju berenang untuk Dania.
"Baju berenang apa sih? muslimah ya?" tanya Dania lagi.
"Bukan sayang, nanti lihat saja sendiri." Nanta tersenyum.
"Kenapa pesan sama Doni?" tanya Dania cerewet.
"Kak Dini itu produksi baju renang, bisa custom, jadi aku pesan yang nyaman untuk kamu pakai." jawab Nanta sabar sekali menjelaskan pada Dania.
"Aku pesan yang seperti ini, celananya bisa di setel kalau perut kamu bertambah besar."
"Hehehe oke." jawab Dania cengengesan.
"Kenapa cengengesan?" tanya Nanta
"Aku pikir yang tangan sebahu tuh, kan ada juga untuk orang hamil." kata Dania.
"Tidak usah, yang begini saja lebih bagus." Nanta tidak berkenan. Mike dan Larry mencebik, Nanta memang sedikit kolot, heran saja banyak yang suka.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Nanta pada sahabatnya.
"Nanti saja habis berenang." jawab Larry.
"Siapa yang tawari makan?" tanya Mike konyol.
"Itu Nanta barusan." Larry terkekeh.
"Mau matan sekaang ndak?" tanya Balen, Larry tidak berkata-kata hanya menunjukkan tangannya pada Balen menatap Mike penuh kemenangan. Mike jadi mendengus kesal.
"Doni sudah didepan komplek." kata Mike lagi, ia mendapat share lokasi saat ini dari Doni, jadi tahu posisi Doni dimana, demi menghindari kebawelan yang ada, bertanya tiap sebentar, sudah dimana? bikin malas saja.
Tidak lama Mobil Doni masuk ke parkiran sesuai arahan Pak Atang yang mengatur parkir kendaraan, karena Nanta sudah bilang sahabatnya mau datang pagi ini.
"Ayo Balen kita pemanasan." ajak Larry pada Balen, Balen sih pasti ikut karena ia ada dalam gendongan Larry.
"Om, Tante..." sapa Larry sopan saat melewati keluarga Nanta yang sedang berkumpul diruang tengah.
"Balen, gendong siapa tuh?" tanya Nona menggoda Balen.
"Aban Leyi Baen." jawabnya Senang.
"Ih, sejak kapan jadi Abang Larry Balen, genit ah." kata Samuel mencubit betis Balen gemas.
"Omuel, janan." teriak Balen tidak mau dipegang betisnya oleh Samuel, apalagi dibilang genit.
"Sudah ijin mau belajar berenang belum?" tanya Larry pada Balen.
"Udah tau tok." jawab Balen.
"Tapi harus minta ijin juga." kata Larry lagi.
"O ditu, tuunin Baen duu deh." Balen berontak minta diturunkan.
"Mau apa?" tanya Larry terkekeh.
"Tatana suuh ijin."
"Oh iya lupa." Larry tertawa dan turunkan Balen. Mulailah si unyil berkeliling meminta ijin pada Mamon, Papon, Om Samuel dan Om Deninya. Kemudian menghampiri istri Samuel dan kedua anaknya, juga meminta ijin.
"Ayo beenang mau ndak?" ajak Balen pada sepupunya.
"Sama Mama." rengek sikembar mengajak Mamanya berenang.
"Nanti makan dulu." kata Mama pada keduanya.
"Tuh matan duu." kata Balen sok tahu.
"Baen duuan ya." katanya lagi meninggalkan sepupunya, menghampiri Larry.
"Ayo, Ban." ajaknya menggandeng tangan Larry yang sedang bicara dengan Kenan dan Nona.
"Yuk, Om dan Tante ijin ya ke kolam dulu." kata Larry pada Kenan dan Nona, kemudian mengangguk pada Samuel dan Deni. Ia ke kolam renang lebih dulu bersama Balen, membiarkan Mike dan Nanta yang sedang menunggu Doni.
"Kita jalan keliling kolam dulu ya, pemanasan supaya Balen tidak keram nanti kakinya." kata Larry mengajak Balen mengelilingi kolam renang dirumahnya.
"Tapek, Aban." Balen mau digendong saja mengulurkan tangannya.
"Ih kalau digendong mana bisa pintar berenangnya." tolak Larry pada Balen.
"Huhu Aban Nih." sungut Balen mau tidak mau ikuti Larry berjalan kelilingi kolam renang. Larry tertawa melihat Balen setengah hati, bocah ini maunya langsung nyemplung saja, terus saja Larry senyum melihat kelakuan Balen.
Sementara diluar kedatangan Doni dan Kakaknya disambut dengan sangat hangat oleh keluarga Kenan, bukan berarti tadi Larry dan Mike tidak disambut dengan hangat, hanya saja Nona berharap Dini benar-benar pilihan yang tepat dan bisa menjadi jodoh Abangnya.
"Ini yang pesan baju renangnya." tunjuk Doni pada Dania.
"Iya aku tunggu dari tadi." kata Dania membenarkan.
"Kalau bukan karena pesanan ini baju renang aku tidak ikut loh, tapi Doni bilang Nanta mau aku melihat langsung istrinya pakai baju itu." Doni rupanya akal-akalan mengajak Dini agar mau ikut dengannya. Dania tertawa saja, rupanya Nanta pesan baju renang juga bagian dari rencana mengenalkan Deni dengan Dini.
"Ayo kenalan sama keluargaku." ajak Nanta pada Doni dan Dini. Sementara Deni mengamati gadis yang direncanakan akan dijodohkan dengannya pagi ini.
"Cantik." bisik Samuel pada Deni.
"Hmm..." Deni menaikkan alisnya. Cukup begitu saja Samuel tahu Deni mengakui kalau Dini cantik.
"Om kenalkan ini Doni dan Kak Dini." kata Nanta pada Deni setelah mengenalkan keduanya pada Nona dan Kenan.
"Halo...Deni." sambut Deni mengulurkan tangannya. Standard lah balasan keduanya ikut ulurkan tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
"Dania tidak ganti pakaian?" tanya Dini terpecah konsentrasinya. Salah tingkah juga karena semua mata tertuju padanya, ia tidak tahu saja rencana adiknya saat ini. Kalau dibilang mau dikenalkan atau dijodohkan Dini bisa lari, Doni paling tahu gaya Kakaknya. Entah kenapa selalu menolak jika dikenalkan dengan pria manapun, sejak terakhir putus dengan pacarnya empat tahun yang lalu.
"Iya, sebentar ya. Aku masih kenyang." Dania mengulur-ulur waktu saja.
"Aku kekolam dulu ya, pamit Mike mengajak Richi yang sudah siap dari tadi dengan baju renangnya. Nona tidak mengijinkan Richi hanya menggunakan celana renang tanpa baju, takut masuk angin pikirnya, entah pemikirannya benar apa tidak tapi Nona meyakini itu.
"Mau duduk di pinggir kolam sambil lihat bocah berenang?" ajak Deni pada Doni dan Dini, tuan rumah yang baik harus begitu kan, membuat nyaman tamunya hahaha padahal Deni sedang berusaha membuat Dini betah, karena terlihat sekali ia ingin Dania cepat-cepat menggunakan pakaian berenangnya, jika sudah beres maka Dini bisa mengajak Doni pulang.
"Ayo boleh Om." kata Doni semangat karena Deni terlihat tertarik pada Kakaknya. Ia menggandeng Dini mengikuti langkah Deni yang sudah berjalan lebih dulu, Samuel lebih memilih bermain bersama kedua anaknya karena kasihan melihat istrinya dari tadi sibuk melayani keduanya.
"Semoga saja lancar." bisik Nona pada Kenan.
"Iya, semoga dimudahkan dan dilancarkan." Kenan pun berharap Abang Iparnya segera mendapatkan jodoh, Dini sepertinya cocok dengan Deni, tapi terlihat sekali Dini belum merasa nyaman, hingga Doni dari tadi menggandengnya saja.
"Aku temani Dania coba bajunya dulu ya." pamit Nanta ketika Dini sudah duduk nyaman bersama Doni dan Deni.
"Sebentar, Nan." Doni berdiri menghampiri Nanta dan meninggalkan Deni dan Dini berdua, ia mengajak Nanta duduk dibangku yang lain, bicara dengan serius hingga Dini berpikir adiknya ada urusan penting dengan Nanta.