
"Capek banget tuh Kiki." kata Mario ketika melihat Kiki tertidur saat menuju ke Rumah Sakit tempat ibu Wisnu di rawat. Mereka sudah memberi tahu Wisnu bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju kesana.
"Padat kan perjalanan gue kemarin, Habis dari S'pore, sebentar di Jakarta lanjut ke semarang, sampai Jakarta masih aktifitas, bisalah istirahat hari ini, besok Senin lanjut ke Bali." jawab Reza membelai istrinya yang duduk dibangku tengah.
Mereka menggunakan kendaraan 7seater, dimana Regina dan Kiki duduk dibangku penumpang tengah, Reza, Mario dan Andi di bangku penumpang belakang ,sedangkan Erwin duduk didepan disebelah supir Mario, padahal pak Min sudah menjemput Reza dan Kiki di Hotel, tapi seperti belum mau terpisahkan, Mario mengajak sahabat dan istrinya untuk naik ke dalam mobil jemputannya dan pak Min pun hanya membawa Koper Reza, Kiki, Erwin dan Andi lalu mengikuti dari belakang.
"Jangan diporsir Ja." Andi mengingatkan. Reza menganggukan kepalanya.
"Menurut kalian gimana, Enji semalam serius ga sih?" tanya Erwin meminta pendapat sahabatnya.
"Anggap aja serius, tapi dia suruh lu mikir dulu kan karena dia suka spontan emosinya." jawab Andi mengingatkan apa yang Enji katakan semalam.
"Istikharah aja Win. Dulu juga Kiki suruh gue mikir." kata Reza mengingat Kiki saat mengatakan dirinya cemburuan.
"Emang Kiki suruh mikir gimana Ja?" tanya Erwin ingin tahu.
"Dia kan cemburuan, jadi dia bilang mikir dulu aja sanggup ga gue ngadepin dia yang cemburuan. Gue pikir gue ga aneh-aneh ya sangguplah. Tapi bener dia cemburu banget kemarin Ranti telpon gue terus. Gue dilempar bantal, handphone gue dilempar kekasur." cerita Reza lancar tanpa takut Kiki mendengarnya, sementara yang dibahas masih tidur meringkuk pulas didepannya.
"Hahaha galak juga nih kecil-kecil, sabar lu ya." kata Mario mentertawakan Kiki dan Reza.
"Sempat sedikit kebawa emosi juga gue, kan bukan gue yang salah. Tapi ya gue harus terima lah kan dari awal dia sudah kasih tau dia begitu."
"Iya bokap gue juga kemarin bilang kalau yang satu emosi, yang satu mesti ngalah. Namanya dua kepala jadi satu ya. Natural aja lah ikutin alur. Yang penting ga nyalahin aturan agama." Mario mengintip istrinya ingin tahu tidur apa tidak. Tampak Regina sedang memandang pemandangan diluar, menyimak tanpa ikut berkomentar.
"Kamu ga tidur?" tanya Mario mencolek bahu Regina dari belakang. Regina menoleh tersenyum pada suaminya lalu menggelengkan kepalanya.
"Fokus lah Win. Istikharah minta doa nyokap bokap lu, biar lancar urusan lu Win." kata Andi tulus.
"Iya friend. Senin kan gue ke kantor pak Burhan. Doain ya."
"Lu mau ngomong ke pak Burhan?" tanya Andi
"Hehe belum lah friend, ngobrol ngobrol aja ambil ilmunya. Kalau ada peluang baru deh" kata Erwin sambil tertawa.
Mereka sudah sampai di Rumah Sakit, sementara Kiki masih saja pulas. Reza tak tega ingin membangunkan Kiki, tapi mau ditinggalpun juga tak rela.
"Biarin aja tidur Ja, lu masuk sebentar habis itu lu pulang deh. Sekarang biar gue sama Regina yang tungguin Kiki disini." Kata Mario yang juga tak tega melihat Kiki yang tampak lelah.
"Kalian duluan deh, sebentar lagi juga bangun." jawab Reza yakin. Mereka pun mengikuti keinginan Reza masuk duluan ke kamar rawat ibunya Wisnu. Sementara Reza masih dimobil Mario menunggui Kiki sambil membelai rambutnya.
"Sayang.." Reza menepuk pipi Kiki pelan. Kiki terbangun dan melihat sekelilingnya. Hanya ada ia dan Reza dimobil, sementara supir Mario menunggu diluar sambil menghisap rokoknya.
"Mau ikut besuk apa tidur dimobil?" tanya Reza sambil tersenyum manis.
"Ikut, Kak aku haus juga." jawab Kiki manja.
"Yuuk turun, sekalian kita beli minumnya." ajak Reza menggandeng istrinya keluar dari mobil kemudian memanggil pak supir untuk mematikan dan mengunci pintu mobil.
Setelah mampir ke minimarket dan membeli buah tangan Reza dan Kiki pun menuju kamar rawat inap. Tampak didepan kamar, Andi dan Erwin sedang berdiri didepan pintu.
"Gantian friend," kata Andi menjelaskan tanpa ditanya. Reza menganggukan kepala tanda mengerti.
"Ga usah dijawab." Reza tak mau Kiki keceplosan. Andi terkekeh melihat wajah Kiki yang merona, sementara Reza yang berusaha menutupi.
"Gue cuma nanya berapa ronde sih." Erwin membela diri.
"Kalau gue kasih tau, nanti lu kepengen lagi. Lu sendiri yang repot kan." Jawab Reza santai.
"Rese." Erwin terkekeh dibuatnya, membuat yang lain ikut tertawa.
Tak lama tampak Mario dan Regina keluar dari ruangan, disusul Wisnu dibelakangnya. Kemudian tampak dokter visite dan perawat masuk kedalam ruangan, mau tak mau Wisnu pun ikut masuk untuk mendengarkan arahan dokter.
"Gimana Yo, sudah ada perubahan?" tanya Reza. Mario menggelengkan kepalanya.
"Habis ini kalian masuk Ja, Kita tadi sudah." kata Erwin melihat dokter dan perawat keluar ruangan. Reza dan Kiki pun masuk ke dalam. Tampak Wisnu sedang membetulkan selimut Ibunya.
"Hai Ja, Sorry ya minggu lalu ga bisa datang." sambut Wisnu begitu melihat Reza dan Kiki.
"Ga papa friend, gue maklumlah, nyokap lu lebih penting. Sendiri lu, adik lu ga kesini?"
"Gue suruh pulang istirahat, kasihan sudah berhari-hari ga pulang, gue kan cuma bisa malam sama weekend aja. Untung single Ja."
"Kalau ga single juga kan pasangan lu bisa bantu jaga nyokap."
"Hahaha iya sih, mesti cari yang begitu ya."
"In syaa Allah dapat Wis. Nih makan dulu, tadi gue beliin makan buat lu sama adik lu. Mau beliin nyokap percuma kan belum bisa makan."
"Tau aja lu gue lapar. Makan ya Ki." Tanpa malu-malu Wisnu melahap makanan yang dibawa Reza dan Kiki.
"Nanti yang buat adik gue, bisa buat gue makan siang nih." kata Wisnu disela makannya. Reza terenyuh dibuatnya.
"Friend, lu kalau butuh apa bilang lah, nanti supir atau staff gue kan bisa antar. Repot juga kan lu ga bisa keluar lama."
"Iya bener, kalau gue tinggal ke apotik aja gue ga tenang, tapi ob kantor suka bantuin gue kok." jawab Wisnu. Kiki menitikkan air matanya. Kasihan melihat tante yang sedang sakit dan kasihan juga melihat Wisnu yang tampak lelah.
"Kak Wisnu aku ada vitamin nih, Kak Wisnu bisa minum supaya tetap fit. Kakak butuh tenaga ekstra." Kiki meletakkan vitamin yang baru dikeluarkannya dari dalam tas diatas laci.
"Makasih ya Ki. Ga kepikiran gue minum vitamin. Gue hajar buah aja, kan pada suka bawa buah tuh. Sayur juga paling titip gado-gado sama adik gue."
Karena wisnu sudah selesai makan, Reza dan Kiki pun pamit, supaya Wisnu bisa istirahat. Mario, Regina, Andi dan Erwin masih setia menunggu didepan pintu.
"Lupa gue nyuruh lu duluan Yo." kata Reza pada Mario.
"Tadi Erwin sama Andi sudah suruh juga. Tapi gue ga mau, bareng aja ga papa kan. Males banget liat muka gue ya." jawab mario sambil tertawa.
"Hahaha ga gitu juga. Besok gue ajak sekamar juga lu, Biar Kiki sama Regina."
"Ish emang gue cowok apaan, mending gue dijakarta sama istri gue, kalau ke Bali honeymoonnya sekamarnya sama lu Ja." jawab Mario terpancing. Membuat sahabatnya terbahak. Sementara Kiki dan Regina hanya senyum saling pandang-pandangan.