
"Kita mau kemana?" tanya Deni pada ketiganya.
"Makan dulu dong Mas." ajak Dini pada suaminya.
"Iya aku mau makan." Dona langsung semangat.
"Aku ikut saja." jawab Dania santai, mau makan dimanapun tetap saja ia sudah bawa nasi di wadah berikut lauk Paul didalam tasnya.
"Dan, kita belum tahu nih, kebanyakan sih tidak boleh makan didalam restaurant loh, nanti kena biaya." Dona mengingatkan.
"Tidak apa bayar saja." jawab Dania terkekeh.
"Ih sayang, kalau aku sih mending uangnya untuk beli parfume." kata Dini terkikik geli.
"Kode keras Mas Deni." timpal Dona ikut terkikik.
"Kamu mau parfume kah?" tanya Om Deni pada istrinya.
"Ish Dona ini, aku hanya bilang dari pada bayar biaya karena bawa makanan dari luar lebih baik uangnya aku belikan parfume." Dini menjelaskan, Deni tertawa saja mendengarnya. Tidak hanya rombongan Nanta yang rusuh, Dona dan Dini pun rusuh rupanya, hanya Dania saja yang sedikit kalem dan seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Deni maklum karena Dania masih dalam proses terapi seperti yang diceritakan Nanta padanya.
"Jadi Tante din..."
"Kak Dini, Daniaaa." protes Dini cepat, Dona dan Deni terkekeh, supir lokal yang merangkap guide pun ikut tertawa kebetulan ia bisa bahasa Indonesia meskipun suka terdengar aneh, paling tidak masih bisa dimengerti dan mereka masih bisa saling berkomunikasi.
"Hehehe kan menikah sama Om Deni, masa panggil Kak." Dania ikut protes.
"Nanta saja panggil aku Kak Dini."
"Oh oke Kak Dini, begini loh kan aku belum lapar, karena tadi dilapangan juga makan terus," Dania terkekeh.
"Jadi kalian makan saja, kalau aku lapar dan menu di restaurant tidak sesuai seleraku, aku makan laukku sendiri." lanjut Dania.
"Oke." jawab Dini tersenyum senang.
"Pak makan apa yang enak disini?" tanya Dona pada Pak Supir.
"Yang enak bisa diterima lidah orang Indonesia dan murah." tegas Dini pada Pak Supir.
"Mau makan enak dan murah ya?" tanya Pak Supir memastikan.
"Iya tapi bersih loh ya." Dini mengajukan syarat, Pak Supir tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Sudah minta yang enak, murah, bersih pula.
"Makanan Indonesia?" tanya Pak Khalid guide merangkap supir.
"Nah aku mau itu." sorak Dania senang, siapa tahu cocok dengan lidah dan lambungnya.
"Oke kita ke Bandung Restaurant." kata Pak Khalid memutar arah kendaraannya. Pikirnya tadi mau makan makanan khas Abu Dhabi ternyata ditawarkan makanan Indonesia langsung saja mau.
Sesampainya di restaurant mereka langsung saja melihat buku menu.
"Aku mau makanan yang berkuah." kata Dania pada pegawai restaurant dalam bahasa Inggris karena Dania tidak bisa bahasa Arab.
"Soto Ali mau?"
"Apa itu soto Ali?"
"Itu menu favorite disini. Isinya daging berkuah kuning."
"Oh boleh." jawab Dania setuju. Entahlah apa itu soto berkuah kuning berisi daging. Begitu datang ternyata soto daging, semua tertawa.
"Om jadi kalau mau pesan soto betawi, soto berkuah Santan berisi daging dan jeroan." kata Dania melucu, lumayan membuat Om Deni, Dini dan Dona terbahak. Ketika mereka senang-senang makan di Bandung Restaurant, Nanta dan Doni kelimpungan mencari keberadaan keluarga mereka.
"Kamu dimana?" tanya Nanta pada Dania melalui telepon.
"Di Bandung Restaurant." jawab Dania tanpa Dosa.
"Yah marahi saja Om Deni, aku kan diajak Om Deni." katanya membela diri. Deni terkekeh, Nanta bisa marah juga meskipun sebenarnya itu bukan marah. Deni langsung mengambil telepon Dania.
"Ih posesif juga kamu rupanya. Istrimu jalan sama Om loh bukan sama orang lain." Deni terkekeh.
"Bukan posesif Om. Tadi Om bilang mau langsung kembali Ke hotel, ini kami berempat menolak diajak makan bersama karena mau bergabung dengan Om, kita sudah dibebaskan malah ditinggal." Nanta langsung saja mengoceh.
"Hahaha ya sudah ayo menyusul kesini. Bandung Restaurant naik taxi saja."
"Iya siap-siap ditertawakan rombonganku deh, mereka juga lagi menuju kesana." sungut Nanta.
"Hahaha maaf ya lupa konfirmasi tadi, karena Om kira kalian pasti ada acara sama rombongan."
"Iya memang, kaminya saja yang nakal. Kami berempat menuju kesana Om, ada menu apa saja? langsung pesankan ya." pinta Nanta pada Om Deni.
"Nanti Dania fotokan menunya." jawab Om Deni memberikan handphonenya pada Dania.
"Sudah?" tanya Dania pada Om Deni.
"Sudah, kamu fotokan daftar menu ya, Nanta, Doni, Larry dan Mike sedang menuju kesini naik taxi." jawab Deni. Dania mengangguk dan mulai koordinasi daftar menu dengan suaminya.
"Loh Om itu rombongan Mas Nanta." Dania menunjuk bus yang baru tiba, satu persatu peserta turun menuju restaurant.
"Masalahnya itu, tadi mereka menolak ikut karena mau bergabung sama kita." Deni nyengir lebar.
"Kasihan suami aku." kata Dona iba hati.
Satu persatu teman-teman Nanta masuk kedalam restaurant, mereka bingung saat melihat keluarga Nanta dan Doni sudah ada di restaurant tersebut.
"Loh itu kuartet tadi tidak mau ikut loh karena mau makan bersama keluarga." kata Pak Jaya yang menyebut keempatnya kuartet, sudah seperti group lawak saja, Deni jadi tertawa.
"Mereka sedang menuju kesini naik Taxi." jawab Deni pada Pak Jaya, langsung saja mereka tertawakan si kuartet.
Dania memesankan makanan untuk Nanta, Doni, Mike dan Larry, mereka minta menu best seller jadi Dania dan lain putuskan pesankan mereka soto berkuah kuning berisi daging itu. Tadi Dania sudah makan dan enak juga.
Benar saja begitu masuk kedalam restaurant keempatnya disambut dengan sorak sorai, semua tertawakan si kuartet basket itu.
"Sombong sih tidak mau bergabung." kata Pak Jaya mencibir.
"Sorry bukan tidak mau bergabung, cuma mau coba naik super taxi." jawab Mike tengil.
ini dia super taxi di Abu Dhabi Lamborghini saja😁
"Bagaimana rasanya naik super taxi?" tanya Pak Jaya.
"Perih hati, apa yang mau aku sombongkan?" jawab Mike dengan wajah meringis. Nanta terbahak, bagaimana tidak mobil mewah mertuanya yang berjejer di rumahnya, hanya keluarga konglomerat yang bisa naik mobil sejenis itu, disini dijadikan Taxi, betapa kayanya negara ini.
"Disini semua sultan." bisik Larry takut dibilang Norak. Ia menggelengkan kepalanya, diatas langit memang ada langit.
"Jadi pesan moralnya Pak Jaya?" tanya Doni pada pembinanya.
"Kalau bertemu orang sombong di Indonesia, berarti belum pernah ke Uni Emirates Arab." jawab Pak Jaya bercanda, semua langsung terbahak
"Nanti kita pulang ke hotel ikut naik bus ya." pinta Mike senyum-senyum setelah makan.
"Naik super taxi saja." sahut temannya yang lain.
"Tidak dong, bersama rombongan saja, kan sudah coba tadi, mahal tahu." ocehnya, Larry terkikik geli.
"Itu yang bikin hati lu tambah perih." kata yang lain tertawakan Mike.
"Setidaknya gue cuma keluarin uang segitu bisa naik mobil milyaran." kata Mike sok bijaksana. Dasar Mike ada saja jawabannya.