I Love You Too

I Love You Too
Bukan type



"Baen, aban kangen nih." kata Larry begitu melihat wajah Balen di teleponnya. Akhirnya Nanta mengalah juga menambahkan Larry pada sambungan video hingga mereka bicara bertiga.


"Baen juda tau. Aban Leyi mana sih?" tanyanya semangat.


"Masih di Cirebon." jawab Larry, tampak Mike sedang ngobrol asik dengan Deni dan Samuel pada layar.


"Betah sekali di Cirebon, sudah dapat kah?" Nanta terkekeh. Larry senyum saja penuh arti tidak menjawab pertanyaan Nanta.


"Ish bikin penasaran saja." keluh Nanta yang tidak mendapat jawaban.


"Bagaimana ya? bingung juga jawabnya." kata Larry masih senyum saja.


"Aban, Baen besok mau naik tapal don." lagi-lagi Balen pamer mau naik kapal.


"Yah Aban tidak diajak." Larry menggoda Balen.


"Aban sih di Ciebon teus." jawab Balen tersenyum bangga membayangkan mau naik kapal.


"Aban Leyimu lagi cari pacar." kata Nanta pada Balen.


"Pacaan teus, puna isti don." kata Balen membuat Larry menggelengkan kepalanya, bocah tiga tahun bisa bilang begitu.


"Baen yang pilihkan ya, ada dua kakaknya nih." kata Larry konyol.


"Boeh." jawab Balen sok tahu. Nanta tertawa saja mendengarnya.


"Serius Nan, ada dua nih yang dikenalkan, sue si Mike langsung menolak saja, mau fokus sama Seiqa." adu Larry pada Nanta.


"Kalau tidak suka ya tolak saja, jangan dipaksakan." kata Nanta pada Larry.


"Berteman saja tapi mengarah ke serius. Capek juga seperti kemarin-kemarin itu." kata Larry, Balen menyimak saja pembicaraan para pria ini, bagaimana tidak tua kalau temannya seumuran Abangnya.


"Berteman saja dengan keduanya." kata Nanta.


"Iya tapi kan harus fokus ke satu orang." jawab Larry.


"Yang elu suka yang mana?" tanya Nanta.


"Jujur saja keduanya bukan type gue." jawab Larry terkekeh. Ia sudah memisahkan diri karena dapat telepon dari Nanta.


"Kalau bukan type kenapa memaksakan diri?" kata Nanta menghela nafas, tidak setuju sahabatnya seperti itu.


"Kadang yang bukan type-type itu yang menjadi jodoh kita." kata Larry terbahak.


"Ngobol apa sih?" keluh Balen merasa diabaikan.


"Baen, ada dua kakak cantik sedang ngobrol sama Om Deni, Balen tebak ya yang cocok sama Aban." kata Larry pada Balen.


"Jangan main-main Leyi." Nanta mengingatkan.


"Justru gue tidak mau main-main, sudah puluhan cewek yang gue pilih sendiri tidak ada yang jadi, siapa tahu pilihan Balen yang lolos jadi istri." kata Larry menyeringai.


"Ote." jawab Balen cengar-cengir.


"Konyol lu." protes Nanta.


"Yang jadi istri gue mesti sayang juga sama singkong cantik ini, Nan." kata Larry terkekeh.


"Terserah elu deh." kata Nanta ikut terkekeh. Larry pun kembali masuk keruangan dan mengarahkan video berbalik arah.


"Omuel, tok disini?" tanya Balen saat melihat Samuel.


"Iya lagi main ke rumah Om Deni." jawab Samuel yang tidak lagi tinggal disana.


"Adek mana?" Balen menanyakan sikembar.


"Dirumah, tidak Om ajak." jawab Samuel melayani keponakannya.


"Oo, itu sapa sih?" tunjuknya pada gadis disebelah Samuel.


"Oh ini Kakak Rima." jawab Samuel tersenyum.


"Tata Yoma ya."


"Rima buka Roma." Samuel membenarkan.


"Balen, Abang Mike tidak disapa." protes Mike pada Baen.


"Aban ladi napain sih? tok diumah Om Deni?" tanya Balen pada Mike.


"Ini lagi ada pekerjaan." jawab Mike terkekeh.


"Oo." jawab Balen sok tua.


"Itu sapa Ban?" tanya Balen lagi pada gadis yang disebelah Mike.


"Ini Kakak Femi." jawab Mike, Femi tersenyum ramah melambaikan tangannya pada Balen.


"Halo adek." sapa Femi membuat Balen tersenyum.


"Tata pemi, napain diumah Om Deni?" tanya Balen pada Femi.


"Emanna umah Tata pemi dimana?" tanya Balen menginterogasi.


"Rumahnya di Jakarta, tapi kerjanya di sini." jawab Femi sabar menghadapi kebawelan Balen.


"Bisa beenang ndak?" tanya Balen tengil, Femi terkikik geli.


"Anak siapa sih dok? lucu sekali." tanya Femi pada Deni.


"Anak adik saya, Nona." jawab Deni tersenyum.


"Bisa dong berenang, Mau berenang sama Kak Femi tidak?" tanya Femi pada Balen.


"Baen sih beenangna sama Aban Leyi." jawabnya bangga.


"Nanti diajak berenang juga Kak Feminya." kata Samuel pada Balen.


"Boeh." jawab Balen mulai sok tua.


"Tata Yoma bisa beenang ndak?" tanya Balen pada Rima.


"Rima bukan Roma." Samuel mengingatkan.


"Oh iya, bisa ndak beenang?"


"Tidak bisa, ajarin dong." kata Rima tersenyum pada Balen. Mungkin mereka lelah harus menghadapi bocah cerewet ini.


"Emanna umah tata di Jatata?" tanya Balen pada Rima.


"Di Cirebon." jawab Rima terkekeh.


"Oh, jauh tau ajainna." jawab Balen membuat yang mendengar terkekeh.


"Udah duu ya, henpon Papon wobet nih." kata Balen ketika melihat tanda battery kedap-kedip. Lalu langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Leyi!" panggil Nanta pada sahabatnya.


"Yoo."


"Simpulkan sendiri ya." Nanta terbahak, Larry pun ikut terbahak. Kemudian Nanta mematikan sambungan teleponnya.


"Kita pamit ya Dok, cuma berkas ini saja yang harus disampaikan ya?" tanya Femi begitu Larry bergabung.


"Iya itu saja." jawab Deni.


"Kalian naik apa?" tanya Samuel pada kedua dokter muda yang hari ini dipanggil ke rumah oleh Deni untuk mengambil berkas yang sudah ditanda tanganinya.


"Tadi sih diantar temannya Rima." jawab Femi tersenyum.


"Kok tidak disuruh masuk?" tanya Deni.


"Tadi hanya antar, pulangnya kita naik taxi saja." jawab Rima.


"Oh diantar Larry dan Mike saja." kata Deni menawarkan.


"Tidak usah merepotkan, belum terlalu malam kok, aku telepon temanku dulu siapa tahu bisa jemput." tolak Rima mengotak-atik handphonenya.


"Aku antar saja." kata Larry menawarkan diri. Kasihan juga sudah malam, lagi pula lumayan Larry jadi refreshing putar-putar kota Cirebon.


"Iya jangan menolak, dokter Rima, dokter Femi." tegas Deni pada anak buahnya.


"Baik dok." jawab mereka tidak lagi menolak, menurut pasrah pada perintah pimpinan.


"Ayo Mike." ajak Larry.


"Gue menunggu Doni." jawab Mike pada Larry.


"Doni mau datang?"


"Iya katanya Lima belas menit lagi." jawab Mike menaikkan alisnya. Larry menghela nafas, Mike malas menemaninya mengantar dua gadis ini. Mau tidak mau Larry harus jalan sendiri.


"Ayo." ajaknya pada keduanya, tidak masalah jika harus mengantar sendiri.


"Pamit dok." ijin keduanya pada Deni dan Samuel.


"Ayo Mas." pamit Femi pada Mike, Rima hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa mengeluarkan suara pada Mike.


"Memangnya Doni mau datang?" tanya Deni pada Mike setelah Larry dan kedua anak buahnya menghilang dari pandangan.


"Tidak, biar Larry sendiri saja yang mengantar, nanti kalau dokternya naksir aku kan repot." jawab Mike membuat Deni terbahak dan Samuel nyengir lebar.


"Kira-kira Larry suka sama yang mana?" tanya Samuel pada Mike.


"Mungkin sama Femi." jawab Mike menduga-duga.


"Kok tahu kan belum bilang?" tanya Deni penasaran.


"Soalnya bisa beenang." jawab Mike terkekeh ingat Balen tadi.