
"Aku tidak sangka kamu sedekat itu sama Rumi." kata Femi pada Larry.
"Kamu dari tadi komplen terus, Balen kamu komplen, Rumi juga kamu komplen." Larry menghela nafas panjang.
"Entah kenapa bawaannya kesal saja." jawab Femi jujur.
"Jadi dokter bukannya harus sabar ya hadapi pasien." Larry tertawa pandangi Femi.
"Iya kalau pasien bisa sabar, tapi ini hadapi pasangan yang lebih perhatian sama orang lain pasti bawaannya emosi." jawab Femi menghela nafas.
"Wah repot dong kalau kamu terus begini, aku sudah bilang kan dari awal jangan cemburu sama Balen, itu baru Balen loh belum nanti kalau dijalan bertemu mantan-mantan atau temanku. Sekarang kamu sepertinya cemburu juga sama Rumi." kata Larry lagi.
"Iya kurang gaul aku jadi lihat kamu begitu jadi cemburu saja."
"Bisa belajar dari Dania, Rumi, Dona dan mungkin Seiqa. Mereka santai saja kalau kami lagi sibuk sendiri." jawab Larry fokus menatap kedepan.
"Mungkin kamu lebih cocok sama Rumi." kata Femi bersungut.
"Mungkin juga." sekalian saja Larry jawab begitu deh, lama-lama kesal juga hadapi Femi yang tidak sabaran.
"Tuh kan benar."
"Kenapa?"
"Kamu sukanya sama Rumi. Tadi kamu cemburu lihat Rumi menggandeng Diky." Femi kembali dengan jalan pikirannya.
"Terserah kamu deh Fem mau bilang apa." jawab Larry malas berdebat. Baru jalan berdua hari ini malah Femi ajak ribut terus.
"Tapi benar kan? kamu tidak menyangkal."
"Iya terserah kamu dengan apa yang kamu pikirkan deh." kata Larry tersenyum. Dasar playboy pikir Femi, tidak ada usahanya sama sekali untuk yakinkan Femi.
"Leyi...!" langsung mendengus kesal.
"Kenapa sih? kamu lebih ribet dari Balen deh." kata Larry akhirnya.
"Kamu harusnya yakinkan aku dong." kata Femi kesal.
"Apa yang mau diyakinkan sih, aku tuh memang begini orangnya, mau syukur tidak ya sudah. Jangan bikin capek ah."
"Jadi menurut kamu aku bikin kamu capek ya?" suara Femi mulai melunak.
"Ya, kalau pikiran kamu selalu negatif bukan kamu saja yang capek, aku lebih capek. Pikir dulu deh Fem hubungan kita bakal Bagus kedepannya apa tidak dengan pola pikir kamu yang seperti sekarang. Kalau kamu sudah yakin dan tidak rewel baru aku mau ke Papaku." tegas Larry pada Femi.
"Harusnya kamu yakinkan aku." kata Femi pelan.
"Apa yang mau aku yakinkan? kamu sudah ada dilingkungan Sahabatku dan pasangannya, mereka juga perlakukan kamu dengan baik, Rumi bahkan Rumi perlakukan kamu dengan sangat baik. Tapi kamu malah begitu."
"Rumi lagi kan yang bagus dimata kamu." Femi tersenyum miris.
"Memang sebenarnya kamu suka sama Rumi tapi kamu jadikan aku pelarian." tuduh Femi lagi membuat Larry meringis.
"Benar kan Leyi?" Femi menuntut jawaban.
"Terserah kamu." jawab Larry tersenyum, walau agak kesal dituduh jadikan Femi pelarian tapi Larry pilih senyum saja, mau apa lagi, kalau Femi punya pikiran begitu ya mau dijelaskan seperti apapun akan tetap begitu
"Tuh kan benar." Femi menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum tanda mengerti.
"Terima kasih ya Leyi, tidak usah kenalkan aku sama Papa dan Mama kamu yang super sibuk itu." kata Femi sebelum turun dari Mobil saat Larry sudah parkirkan kendaraannya didepan rumah Femi.
"Oke Femi, maaf ya kalau aku ada salah. Semoga kamu bertemu pasangan yang sempurna sesuai keinginan kamu." kata Larry akhirnya. Ia pilih tutup buku saja deh kalau Femi seperti sekarang. Larry jadi kesal, bukan pasangan seperti ini yang Larry mau, belum apa-apa sudah banyak menuntut dan tidak sabaran.
"Kamu betul-betul tidak ada usahanya ya." masih lanjutkan kekesalan hatinya.
"Harusnya kalau aku kesal begini, kamu bujuk aku." kata Femi lagi.
"Capek Fem." jawab Larry mengusap dahinya.
"Ini yang bikin aku tidak pernah lama pacaran, aku bukan type yang suka membujuk, mungkin yang seperti kamu bilang tidak ada usahanya. Lagi pula menurut aku tadi kita tidak ada masalah tapi kamu jadikan masalah." kata Larry lagi.
"Maaf ya, semoga kamu bahagia." kata Larry tersenyum tanpa beban, kemudian lanjutkan perjalanannya pulang kerumah setelah Femi masuk ke rumahnya.
Lapor Larry pada sahabatnya di group setelah sampai dirumah.
"Kenapa?" Nanta langsung hubungi Larry. Larry ceritakan perjalanannya selama bersama Femi.
"Repot juga kalau begitu." Nanta terkekeh.
"Kalau jodoh tidak kemana, masih mau kasih dia peluang tidak, siapa tahu ini cuma kerikil saja." kata Nanta pada Larry.
"Iya jodoh tidak kemana, kalau masih ribet begini tidak mau. Balen dicemburui, Rumi dicemburui." kata Larry menghela nafas.
"Mana sudah bilang sama Ajudan bokap lagi minta waktu." kata Larry tertawa miris.
"Yah bagaimana dong." Nanta jadi prihatin.
"Yah lanjut saja deh, ceweknya siapa lihat nanti." Larry dan Nanta langsung terbahak.
"Iya nanti juga dapat, siapa tahu bokap sudah punya calon untuk anaknya." kata Nanta lagi.
"Jangan dong, cari sendiri saja." jawab Larry.
"Tidak masalah mau bokap yang cari atau cari sendiri, yang penting sama-sama suka." kata Nanta pada sahabatnya.
"Pengalaman pribadi ya?" tanya Larry.
"Hahaha ya begitu lah." jawab Nanta terbahak.
"Tapi kan elu kenal duluan." kata Larry lagi.
"Iya sih, tapi tetap saja di push suruh menikah." jawab Nanta.
"Menyesal Mas?" tanya Dania yang ada disebelah Nanta.
"Tuh saking menyesal ya sampai besar perut Dania." jawab Nanta membuat istrinya terbahak.
"Nah gue maunya kan begitu, kaya Dania dibawa santai saja." kata Larry bayangkan rumah tangga ya seperti Nanta dan Doni, Mike Larry belum tahu
"Pakai proses juga kok, Dania juga pernah rewel." jawab Nanta apa adanya.
"Terus kalau rewel elu bujuk?" tanya Larry
"Lupa." jawab Nanta tertawa.
"Mas Nanta juga pernah galak Leyi, aku sampai nangis." lapor Dania pada Larry.
"Hahaha masa sih." Larry tidak percaya.
"Kapan? curhat sama Leyi lagi." protes Nanta, Larry terbahak.
"Bodo ah." kata Dania membuat Nanta tertawa.
"Kalau dia pakai baju sesi sesi." kata Nanta pada Larry akhirnya dengan gaya bahasa Balen.
"Hahaha Dania, kalau Femi curhat kasih tahu saja ya." kata Larry lagi.
"Aku tidak dekat dengan Femi, mungkin dia curhatnya sama Rumi ya bukan aku." kata Dania yakin.
"Masalahnya dia cemburu sama Rumi, tidak mungkin curhat sama Rumi deh." kata Larry tertawa.
"Nanti ya siapa tahu curhat sama Kak Dini." kata Nanta akhirnya.
"Oh iya bisa jadi." Larry terkekeh.
"Masih berharap kah?" tanya Nanta pada sahabatnya.
"Tidak tahu, masih flat sih ini rasanya." jawab Larry apa adanya, sekarang lagi mau rileks saja malas sama yang ribet-ribet.
"Oke semangat." Nanta semangati sahabatnya, sementara Doni dan Mike belum muncul. Mike mungkin lagi sibuk olah raga entah Doni sibuk apa.
"Semangat dong." jawab Larry terkekeh, tidak tanyakan Balen karena Nanta sudah dikamarnya bersama Dania.