I Love You Too

I Love You Too
Pemaksa



"Aku dandan sendiri saja." tolak Dania langsung begitu salah satu pihak keluarga mengabsen masing-masing peserta yang akan di make up pagi ini. Dania dan Nanta sedang bersama Kakek Suryadi saat ini.


"Kenapa tidak mau di make up oleh ahlinya?" tanya Kakek Suryadi pada Dania.


"Suka ketebalan, aku mau yang soft saja Kek." jawab Dania.


"Kakek, coba deh nih kue sarapanku, enak loh." Dania sodorkan kardus yang dibawanya turun dari tadi.


"Kakek tidak berselera makan." jawab Kakek menolak.


"Nah kalau tidak selera makan ini." paksa Dania ambilkan arem-arem yang ada dalam salah satu jenis kue pasar yang Nanta beli.


"Dania suapi ya." Dania bukakan daun pada arem-arem itu, hobi Dania akhir-akhir ini memang suka memaksa. Nanta senyum saja melihat Kakek Suryadi dan Dania. Mereka terlihat Manis sekali.


"Tidak mau." tolak Kakek Suryadi saat Dania sodorkan kemulutnya.


"Satu suap saja." pinta Dania dengan mata penuh harap, seperti minta apa saja. Kakek Suryadi ikuti keinginan cucu Buyutnya. Tampak Kakek nikmati makanan yang ada dimulutnya. Kemudian kembali menganga minta disuapi, tentu saja Dania jadi senang karena Kakek suka makanan yang dibawanya.


"Beli dimana? tiap pagi harus ada ini di meja saya." pinta Kakek pada ajudannya.


"Siap Pak." langsung siap saja padahal belum tahu itu beli dimana.


"Tadi lupa tanya nomor handphone si Ibu ya." Dania jadi menyesal.


"Tidak apa, kasih tahu saja lokasi belinya dimana." kata Kakek Suryadi. Nanta segera beritahukan lokasi tempatnya membeli tadi. Untung saja Ajudan tersebut tahu dan pernah juga belanja disana.


"Kakek mau apa lagi?" tanya Dania.


"Sudah cukup." jawab Kakek Suryadi. Sudah habiskan satu arem-arem itu sudah lebih dari cukup. Beberapa bulan ini hanya bisa makan satu atau dua suap.


"Kakek ke dokter dong biar nafsu makan Kakek kembali normal." pinta Dania pada Kakek Suryadi.


"Lihat kamu saja nafsu makan Kakek langsung timbul." jawab Kakek Suryadi.


"Kalian tinggal dirumah Kakek saja ya? Temani Kakek, sepi sekali dirumah. Kalau ada kalian dan anak kalian nanti Kakek ada temannya." pinta Kakek Suryadi pada Nanta dan Dania. Keduanya diam tidak bersuara.


"Kakek serius, tolong pertimbangkan." pinta Kakek Suryadi pada Dania dan Nanta. Dania masih diam saja bingung sendiri. Selama hamil ia merasa nyaman dirumah mertuanya. Jarang sekali ke rumah Papa, bahkan kalau tidak dipaksa suaminya kadang malas ke rumah Papa kunjungi Om Misha dan yang lainnya. Kalau Lucky sering bertemu karena seminggu sekali kursus piano sama Mamon.


"Dania cuma bisa tidur di kamar Nanta, Pa." kata Oma Misha pada Papanya.


"Nanti Papa bikinkan kamar seperti kamar Nanta, berikut perabot didalam kamarnya, bikin saja sama persis, jadi terasa di kamar yang sama." jawab Kakek Suryadi.


"Jun, atur waktu sama Nanta, kapan bawa Zaen survey kamarnya." perintah Kakek Suryadi pada ajudannya. Belum juga cucu buyutnya setuju untuk tinggal dirumahnya.


"Siap Pak." dari tadi selalu saja bilang siap.


"Aku belum jawab iya kan?" protes Dania pada Kakek Suryadi.


"Tidak akan lama temani Kakek di rumah, ini permintaan pertama dan terakhir Kakek pada kalian." langsung saja Nanta mencelos mendengarnya, tidak mungkin Nanta menolak kalau Kakek bilang begini. Tali kapan tinggal dirumah sendiri kalau begini caranya, kan ada cita-cita yang belum tercapai, olah raga di dalam mobil. Eh malah pikir itu si Nanta.


"Kenapa kami Kek, cucu buyut Kakek banyak." masih saja berargumen, Nanta mengusap bahu istrinya agar tidak lagi mendebat Kakek Suryadi.


"Nanta bicarakan dengan Papa dulu ya Kek." kata Nanta akhirnya buka suara.


"Kakek yang akan bicara dengan Papamu nanti." kata Kakek Suryadi paksakan kehendak. Sepertinya sifat Dania yang suka memaksa menurun dari Kakek Suryadi.


"Papa suka sekali memaksa." keluh Oma Misha pada Papanya.


"Hanya Dania yang berhasil suapi Papa makan tadi." rupanya karena nafsu makannya muncul, Kakek Suryadi ingin Dania berada didekatnya.


"Hanya karena itu?" tanya Dania.


"Menurut kamu hanya, tapi menurut Kakek sangat berarti, ini urusan perut. Bayangkan berapa bulan tidak bisa nikmati makanan dengan sempurna."


"Tadi mau." Dania pandangi Nanta. Kenapa jadi begini ya, tapi kasihan juga Kakek.


"Kalau tidak mau makan bagaimana?"


"Kalian boleh pindah lagi." kata Kakek tertawa.


"Menginap saja kalau begitu, percobaan." Dania tertawa.


"Sudah dibikinkan kamar, percobaan pula." Kakek Suryadi tertawa.


"Hubungi Zaen sekarang Jun." tegas Kakek Suryadi pada ajudannya.


"Ih main hubungi Zaen saja Papa." Oma Misha komplen.


"Sekalian kamu juga pindah ke rumah Papa." Kakek Suryadi malah sekalian ajak Oma Misha tinggal dirumahnya.


"Lucky bisa marah tidak ada yang temani tidur." Oma Misha tertawa bayangkan Lucky yang tidak ijinkan Oma Misha pergi lama.


"Kamu sih biasakan Lucky tidur sama kamu." menghela nafas panjang


"Ok Nanta, jam berapa Papamu datang?"


"Saat resepsi Kakek." jawab Nanta tersenyum.


"Kakek, kami sering ke luar kota loh percuma juga tinggal dirumah Kakek." kata Dania lagi.


"Kakek tidak batasi aktifitas kalian kok. Tenang saja, Yang penting ada yang Kakek tunggu. Kalau sekarang tidak ada yang Kakek tunggu, kalian datang kalau di panggil saja." Kakek Suryadi Tampa termenung.


"Kakek Kripto mana sih?" Dania celingukan.


"Kakek tidak mau ditemani Kripto." langsung menolak tegas.


"Hehehe iya Kek, Nanti kita bilang Papa. Hanya tinggal dirumah Kakek kan? kalau kerja aku tetap di Warung Elite dan aktif di Basket, kuliah juga masih berjalan. Tidak bisa aktif di Suryadi Corporation."


"Iya."


"Dan juga setiap weekend aku pulang kerumah Papa karena adikku bisa komplen berat kalau kita pergi lama." ingat Balen dan Richie.


"Iya, keluargamu bebas kok keluar masuk kediaman Suryadi. Kalau adikmu mau latihan berenang di rumah Kakek boleh juga, malah Kakek senang." Eh malah tahu kalau ada aktifitas latihan berenang, mungkin dengar cerita Mike.


"Aku dandan dulu ya, sebentar lagi akad nikahnya mulai." ijin pada Kakek Kripto dan yang lain.


"Dandan saja disini." tidak kasih Dania menjauh.


"Papa..." Misha langsung saja komplen dan memeluki cucunya.


"Begini ya Oma jadi cucu yang tidak dianggap akhirnya diperebutkan." ceplos Dania membuat Oma Misha mengetuk jidatnya.


"Kamu tidak sadar dari kecil diperebutkan ya. Sampai Mamamu bodoh mau turuti permintaan Peter, supaya kamu tidak diambil keluarga Suryadi." Kakek Kripto tertawa.


"Kakek tahu cerita itu?" tanya Dania.


"Apa yang Kakek tidak tahu sih?" tersenyum manis.


"Kenapa didiamkan kalau tahu?" Dania komplen berat.


"Oma dan Papamu sih sombong sama Kakek dulu " jawab Kakek memandang Misha.


"Ish Papa ini. Ayo Dania cepat Dandan. Nanta juga temui Mike sana, Doni dan Larry sudah datang dari tadi." kata Oma Misha tunjuki ruangan Mike tepat disebelah ruangan mereka bicara saat ini.


"Iya Oma, aku ijin dulu ke sebelah Kek." pamit pada Kakek Suryadi yang tersenyum puas yakin Nanta dan Dania akan tinggal dirumahnya, menemaninya sampai akhir hidupnya kelak.