I Love You Too

I Love You Too
Kenyang



"Kita berangkat jam berapa Oma?" tanya Raymond pada Oma Misha saat sarapan pagi bersama.


"Jam delapan ya." jawab Oma Misha, Raymond menganggukkan kepalanya, Nanta ikut-ikutan.


"Roma sama Dania mana sih?" tanya Oma Nina tidak melihat kedua Ibu hamil di meja makan.


"Jalan pagi." jawab Nanta tersenyum.


"Kalian tidak temani?" Oma Misha mendelikkan matanya.


"Sudah tadi, tapi mereka mau duduk-duduk di taman, kita disuruh pulang." jawab Nanta apa adanya. Tadi memang Nanta dan Raymond menemani mereka tapi berhubung Raymond dan Nanta terdesak hendak ke toilet, sementara keduanya masih mau santai berjemur di taman maka sang suami disuruh pulang lebih dulu.


"Bawa handphonenya tidak, suruh pulang saja." kata Opa Dwi pada kedua cucunya.


"Bawa." jawab Nanta langsung menghubungi istrinya.


"Aku lagi makan bubur." jawab Dania langsung saja sebelum ditanya oleh Nanta.


"Setelah itu langsung pulang ya, aku sudah mau berangkat." padahal masih ada waktu satu jam lagi, tapi bilang saja begitu supaya tidak ada penawaran ini dan itu dari istrinya.


"Iya." jawab Dania kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Lagi sarapan bubur mereka." Nanta memberikan informasi pada Opa dan Oma yang sedang menunggu kabar.


"Bagaimana sih bukannya sarapan bersama dirumah." omel Oma Misha, kesal Dania melupakan kegiatan rutin keluarga di pagi hari.


"Biarkan Oma, kan lagi hamil." Nanta tersenyum memandang Oma Misha.


"Mestinya melayani kamu dong disini, kalau mau makan bubur kan bisa pesan." khas Oma-oma kalau lagi ngomel, pasti tidak berhenti.


"Kali ini saja, nanti aku kasih tahu." kata Nanta kembali menenangkan Oma Misha.


"Iya biarkan saja, lagi hamil sudah mau makan saja sudah syukur." Oma Nina ikut menenangkan sahabatnya.


"Roma juga makan bubur atau hanya menemani?" tanya Raymond pada Nanta.


"Yah aku tidak tanya." Nanta terkekeh, Raymond pun ikut terkekeh. Kembali melanjutkan sarapan pagi yang sempat diwarnai sedikit omelan dari Oma Misha.


"Kamu yakin mau bertemu Kripto?" tanya Opa Dwi pada Oma Misha.


"Iya, harus diselesaikan. Kasihan Dania dan keluarga Mamanya. Kalau aku dan Micko kan sudah biasa dan tidak begitu terganggu. Tapi Maya dan orang tuanya harus bersembunyi dari Peter itu sangat menyebalkan."


"Mau ditemani?" Opa Dwi menawarkan, ia juga kenal Kripto walau tidak terlalu dekat, setidaknya Opa Dwi cukup disegani.


"Ikut saja Opa." Raymond langsung saja semangat.


"Oma boleh ikut?" Oma Nina ikut menawarkan diri.


"Iya, sekalian saja kita jalan-jalan." kata Nanta tersenyum pada Oma. Ini kok jadi seperti acara weekend keluarga, padahal mau membahas masalah serius antara Oma Misha dan Kakak tirinya.


"Nanti kami pisah meja." kata Opa Dwi pada Oma Misha.


"Iya biar aku, Nanta dan Dania yang menemui Kripto. Tapi kamu standby ya Ray." pinta Oma Misha pada Raymond.


"Siap Oma, katakan saja apa yang harus aku lakukan." jawab Raymond tersenyum menenangkan Oma Misha.


"Aku baru tahu ada bubur seenak ini." kata Roma semangat begitu sampai dirumah, mulai bergabung dimeja makan.


"Loh memangnya belum makan?" tanya Raymond melihat istrinya membuka wadah bubur yang dibawanya.


"Tadi sih sudah." jawab Roma terkekeh.


"Terus?"


"Aku bungkus beberapa, siapa tahu Opa dan Oma mau coba." kata Roma menyodorkan wadah bubur pada Opa dan duo Oma.


"Kami sudah kenyang." Opa Dwi menggelengkan kepalanya.


"Oma?" Roma menatap kedua Oma.


"Sama, sudah makan nasi goreng." jawab Oma.


"Aku tidak ditawarin?" tanya Raymond pada istrinya.


"Kamu kan tidak suka bubur." jawab Roma mulai menikmati bubur ayam yang dibawanya. Dania juga tidak membelikan Nanta karena tahu pagi hari suaminya hanya minum jus dan makan buah potong.


"Melihat kamu tega sarapan tanpa ditemani suami, aku jadi mau coba." jawab Raymond ikut menikmati bubur yang tersisa, tadi Roma membawa tiga porsi.


"Untung porsinya sedikit, jadi kita bisa makan dua porsi." kata Dania pada Roma. Raymond menatap Nanta sambil tertawa. Apanya yang sedikit, makan satu porsi saja sudah bikin kenyang, apalagi ini porsi kedua para Ibu hamil. Nanta hanya mengangkat alisnya tanpa berkomentar, tidak mau merusak selera makan istrinya. Opa dan duo Oma jadi penonton saja akhirnya.


"Enak kan?" tanya Roma pada Nanta yang melihat Raymond masih menikmati tanpa mencela.


"Iya, enak." jawab Raymond, kalau Raymond yang tidak suka bubur bilang enak sudah dipastikan makanan itu memang enak.


"Apa tidak kekenyangan?" tanya Oma Nina khawatir, melihat Roma dan Dania terus saja makan dengan lahap.


"Tidak Oma, tapi perutku rasanya penuh." Roma terkekeh.


"Bagaimana tidak penuh kalian makan dua porsi." Raymond menggelengkan kepalanya.


"Tadi kan jalan pagi lumayan jauh jadi wajar kalau makan kita lebih banyak dari biasanya." kata Roma memberi alasan.


"Iya wajar, siapa yang bilang tidak wajar sih." jawab Raymond tertawakan istrinya yang sekarang duduknya seperti orang kekenyangan.


"Jangan dipaksakan kalau perut kamu sudah tidak muat." kata Nanta pada Dania, belum pernah lihat Dania makan sebanyak ini.


"Iya, masih muat kok." jawab Dania.


"Aduh bagaimana ini, kalau di Jakarta mau bubur ini lagi." Dania langsung saja khawatir membayangkan hari-harinya di Jakarta.


"Kita kan ke Malang setiap dua minggu sekali, Nikmati saja kalau lagi disini."


"Tapi nanti kan menginap dirumah Mama." kata Dania memandang suaminya.


"Besok bisa minta Pak Supir antar bubur untuk kamu." Nanta membuat istrinya tersenyum, Oma Misha juga tersenyum memandang Oma Nina. Bahagia melihat cucunya Dania mendapatkan jodoh yang menurutnya sangat tepat.


"Oma janjian dengan Opa Kripto jam berapa?" tanya Dania pada Oma Misha.


"Jam sepuluh." jawab Oma Misha.


"Oh kalau jam segitu kita berangkat jam setengah sepuluh saja Oma." kata Nanta mengingat jarak tempuh ke lokasi pertemuan hanya sekitar dua puluh menit.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu." pamit Dania pada semua yang ada dimeja makan.


"Iya kita juga mau siap-siap." Oma Nina ikut beranjak dari meja makan.


"Opa begitu saja?" tanya Raymond, Opa menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga sana siap-siap." perintah Raymond pada Roma.


"Mau kemana memangnya?" tanya Roma bingung, pikirnya hari ini hanya leyeh-leyeh karena semalam Raymond sudah ijin menemani Oma Misha.


"Semua ikut." jawab Raymond terkekeh.


"Oh ada makanan apa disana ya?" langsung saja memikirkan makanan padahal perutnya sudah terasa penuh.


"Sudah kenyang masih saja pikirkan makanan." Raymond menggelengkan kepalanya.


"Biar saja, yang makan anakmu juga." Opa Dwi tertawa memandang Roma.


"Tuh Opa lebih pengertian dari pada Papanya sendiri." sungut Roma mengusap perutnya


"Aku takut kamu malah muntah karena kekenyangan, itu kan tidak boleh." Raymond mengingatkan.


"Makannya kan bukan sekarang Lemon." kata Roma sambil meninggalkan meja makan menuju kamarnya, mengikuti perintah Raymond agar bersiap-siap. Opa Dwi dan Nanta tertawa saja melihat Roma yang berjalan perlahan gaya Ibu hamil, sementara Oma Misha menepuk bahu Raymond sambil tersenyum lebar.


"Sejak hamil panggil aku Lemon, tidak ada mesra-mesranya." keluh Raymond memandang Oma Misha.


"Hahaha sabar ya, Papa Lemon." jawab Oma Misha sambil terbahak.