
"Kamu mau makan dulu apa langsung pulang?" tanya Nanta pada Dania.
"Makan dulu lah, sudah dipesan." kata Roma pada Nanta.
"Oh sudah pesan, ya sudah." Nanta akhirnya bergabung dengan Roma dan teman-temannya, Raymond dan yang lain pun mengikuti.
"Belum ada makanan dari tadi?" protes Raymond.
"Pembahasan kita terlalu seru." kata Roma terbahak, Dania cengengesan saja ingat pelajaran yang didapatnya tadi.
Mereka menikmati makan malam bersama, bicara seperti biasa layaknya orang normal dan santun, tanpa ada bahasan mesum, beda sekali saat mereka mentraining Nanta dan Dania tadi, seakan tidak pernah membahas apapun tentang itu.
"Jadi nanti kamu tinggal dimana kalau Nanta di Amerika?" tanya Roma pada Dania.
"Dirumah Papa." jawab Dania.
"Kenapa tidak di rumah Om Kenan?" tanya Raymond.
"Terserah Dania dan Om Micko saja mau dimana, yang penting Dania aman." kata Nanta pada semuanya.
"Kenapa? ada masalah?" tanya Raymond. Nanta menceritakan yang mereka alami tadi pagi dan rencana Dania untuk test DNA.
"Peter? Peter Suryadi?" tanya Arkana.
"Abang kenal?" tanya Nanta.
"Lagi lobby perusahaan gue dia, butuh investor sepertinya." kata Arkana.
"Senin kan Tan, kalian bertemu." kata Chico.
"Iya, saudara mertua lu dia?" tanya Arkana.
"Saudara tiri." jawab Nanta.
"Hati-hati Bang, aku tidak tahu dia dalam berbisnis bagaimana, tapi yang pasti dia selalu ganggu Papaku dan Oma Misha." Dania mengingatkan Arkana.
"Weits, tenang saja, mau urusan kalian sekalian gue beresin juga bisa." Arkana terkekeh.
"Boleh tuh Tan, bantu." kata Raymond pada Arkana.
"Papa rencana mau temui dia senin." kata Arkana.
"Oh ke Burhan Company saja, jam sembilan rencana kami bertemu." kata Arkana.
"Mau lu bikin variety show yang ini, Tan?" tanya Chico pada kembarannya.
"Aih, kalau dia macam-macam masuk ke kolom gosip, habis dihajar deterjen dia nanti." semua terbahak mendengar komentar Arkana yang juga punya rumah produksi sehingga namanya cukup dikenal di dunia entertainment.
"Masalah dibikin viral sih gampang ya, Papi dan Mamiku juga bisa up beritanya." kata Roma terbahak.
"Habis sudah Peter kalau macam-macam." kata Arkana menimpali.
"Dan... kamu sih tenang saja, kalau Om kamu itu memang mau kamu angkat beritanya sudah banyak jalur, apa lagi Nanta ini lumayan banyak penggemarnya." kata Anggita pada Dania.
"Begitu ya?" Dania terkekeh.
"Iya, lebih mudah untuk kita angkat beritanya, cepat saja test DNA begitu hasilnya sudah ditangan kita mainkan." kata Arkana pada Dania dan Nanta.
"Sebenarnya aku tidak mau sampai jadi berita nasional sih." kata Nanta pada yang lain.
"Kalau ada elu sih tidak hanya berita nasional, Nan. Bisa gue bikin berita Asean." jawab Arkana terbahak.
"Hahaha segitunya." Nanta ikut terbahak.
"Ok ya, tidak usah dipikirkan Peter, senin mulai gue sounding deh ke dia kalau kalian dalam pengawasanku." kata Arkana berbaik hati.
Dania dan Nanta sedikit menarik nafas lega, sahabat Bang Raymond siap membantu mereka.
"Risa juga ada masalah keluarga sih, seperti Om Micko. Tapi dia lepas semua urusan perusahaan keluarga, hanya ada saham 25 persen milik Risa saja yang tidak bisa diganggu." kata Chico menunjuk istrinya pada Dania dan Nanta.
"Kak Risa di teror juga?" tanya Nanta.
"Tapi tetap saja efeknya kamu harus terapi sayang." kata Chico pada istrinya.
"Terapi apa?" tanya Nanta.
"Kecemasan berlebihan, panik, Anxiety." jawab Chico.
"Loh sama seperti Dania, sekarang sedang dalam pengobatan." jawab Nanta.
"Berobat dimana?" langsung saja Risa dan Dania bertukar informasi menceritakan penyakit mereka.
"Aku kira Dania saja yang begitu, Kak Risa juga rupanya." kata Nanta tertawa.
"Yah culun-culun lu sama Chico kan hampir sama." kata Arkana membuat semuanya terbahak.
"Biar saja dia bilang kita culun, asal dia senang." kata Chico tertawa pada Nanta yang ikut tertawa.
Nanta dan Dania akhirnya ikut berkumpul sampai Raymond dan sahabatnya bubaran. Ada saja yang dibahas hingga mereka lupa waktu.
"Jangan lupa yang sudah gue ajarin." Arkana menepuk bahu Nanta saat mereka berpisah diparkiran, Nanta cengengesan dibuatnya.
"Jangan cuma nyengir, laksanakan." Arkana bergaya ala patriot yang berteriak merdeka, kembali Nanta terbahak, sementara Dania sudah duduk manis didalam Mobil.
"Seru ya mereka." komentar Dania saat mereka sudah dalam perjalanan pulang, Nanta tertawa mendengarnya. Tidak tahu saja tadi lebih seru, batin Nanta terkekeh.
"Mas Nanta, kata Kak Roma tadi aku harus duduk dipangkuan Mas Nanta saat lihat tutorial nanti." lapor Dania pada Nanta.
"Hah! gitu?" rupanya Dania juga ditraining tadi, Nanta jadi tertawa.
"Tahu tuh, aneh." gerutu Dania malu sendiri melihat ekspresi Nanta.
"Tidak aneh, ikuti saja, mungkin harus begitu." jawab Nanta sok santai padahal hatinya kebat kebit ingin cepat sampai dirumah.
"Mas Nanta tidak keberatan?" tanya Dania.
"Masa keberatan sih, memangnya kamu seberat apa?" Nanta terbahak mendengarnya.
Sampai sudah Nanta dan Dania dirumah Micko, suasana tampak sepi dan sudah gelap gulita, karena sudah malam juga mereka sampai dirumah.
"Baru pulang?" sapa Micko yang kebetulan keluar kamar, mungkin mendengar suara mesin Mobil Nanta tadi.
"Iya habis dari Mama, ke Warung Elite dulu." Nanta menjelaskan.
"Oh bertemu Raymond dan sahabatnya ya." kata Micko yang rupanya sudah tahu dari Raymond.
"Iya, Bang Atan bilang Papa kalau mau bertemu Om Peter, hari senin jam sembilan pagi Om Peter ada di Burhan Company, sedang lobby perusahaan disana." Dania menjelaskan.
"Iya rencananya besok Papa bertemu Raymond dan Arkana." kata Micko, cepat sekali Raymond bergerak, selalu begitu dari dulu.
"Ya sudah kalian istirahat, sudah malam." kata Micko pada keduanya.
"Aku besok habis sholat shubuh langsung ke GBK ya Om, berenang dulu baru deh urusan basket." ijin Nanta pada Micko.
"Sibuk sekali kamu Boy." Micko terkekeh.
"Hehehe kan Om Micko tahu sendiri, Dari dulu begini." Nanta ikut terkekeh.
"Jaga kesehatan, Boy. Jangan terlalu lelah." kata Micko pada Nanta.
"Iya Om." jawab Nanta tersenyum.
"Butuh vitamin, Boy?" tanya Micko pada menantunya.
"Tidak usah, buah murni juga sudah mewakili, Om." jawab Nanta, Micko pun mengangguk setuju.
"Jangan lupa Boy, laksanakan." Micko mengikuti gaya Arkana yang seperti patriot tadi.
"Ugh, Om Micko habis bicara lama sama Bang Ray dan Bang Atan kah?" tanya Nanta curiga, Micko terbahak tanpa menjawab, Nanta jadi tersenyum dengan wajah penuh arti, sama saja mertua dan Abangnya heboh soal malam pertama, padahal besok shubuh sudah harus ke GBK, Nanta jadi bingung sendiri.
Dania dan Nanta pun masuk kekamarnya, rasanya mereka benar-benar lelah setelah aktifitas seharian, setelah mandi dan berganti pakaian, Nanta terpana karena Dania malam ini hanya mengenakan baju kaos Nanta tanpa bawahan, tadi memang Dania kehabisan baju karena bajunya masih banyak tertinggal dirumah Nek Pur, hingga Nanta meminjamkan baju kaosnya pada Dania. Ufffhh, Nanta menarik nafas panjang, kenapa istrinya jadi tampak lebih seksi, padahal kemarin pakai piyama celana pendek, terlihat biasa saja.