
Disekolah aku baru dateng temen-temen sekelasku menatapku dengan tidak biasanya , ketika aku baru saja duduk dibangku ku, sri dateng ke bangku ku
"Kamu jadian dengan gian?" sri
Tibatiba sri bertanya padaku, aku kaget dong orang aku ga ngapa-ngapain juga, orang baru dateng juga
"engga" kataku datar.
"jangan bohong ntar idungnya panjang" lili
"iya orang kamu deket gitu sama dia" dian
"cerita dong"
Entah sejak kapan mereka dateng, tibatiba aja pada berkumpul gitu di bangku ku
"dih gossip aja terus " kataku malas.
Lili, sri, dian adalah teman-temanku, jadi kita dikelas tuh kayak sering berkolompok gitu kan, nah mereka nih yang jadi temenku selama di sekolah, tapi aku kalo kemana-mana syuka berdua sama dili aja gais, cewe kan gtu walaupun berkelompok bertujuh delapan dan sebagainya tetep aja ada 1 yang paling deket kan kan
"Jadi udah lupa nih sama arfan?? " lili sambil menatap tajam kearahku.
Arfan adalah kakak kelas yang aku sukai, lebih tepatnya aku kagum dengannya dia ketua OSIS, tapi aku sadar diri karena aku juga udah punya pacar jadi aku ga berharap lebih, toh dia juga udah punya pacar
"paansi arfan tuh tetep dihati yaaaaaa, dia ga akan kemana-mana" kataku semangat
Temen-temen sekelasku gaada yang tau kalau aku udah punya pacar, karena seperti yang aku bilang bahwa rizal pacarku, tidak ingin orang lain tau bahwa kita pacaran hanya aku dia dan teman dekat dia saja yang tau.
Eh iiyaa ralat ada dili sahabat aku yang tau aku punya pacar yaaaa
Aku dekat dengan beberapa kakak kelas, dan mereka juga menembakku namun aku langsung menolaknya dengan alasan aku punya pacar, seengga nya status ini berguna lah buat aku.
****
"besok berangkat bareng yukkk"
Aku melihat ponselku, dan kulihat notifikasi pesan
Andi : "besok berangkat bareng yukkk"
Andi adalah kakak kelas yang dekat denganku, dia adalah kakak kelas yang belum ku tolak, karena dia belum menyatakan perasaannya padaku, iya aku tau aku kepedean dengan menggagap dia suka padaku, tapi dari gerak-geriknya dia menandakan dia suka padaku.
Aku emang bukan ahli pembaca tubuh, aku juga bukan lulusan psikolog, tapi aku tau siapa yang suka sama aku, siapa yang hanya mendekatiku karena maunya, dan siapa yang tulus padaku, yah walaupun itu hanya tebakkan ku saja tapi itu selalu benar dengan tebakkan dipikiran ku.
Aku : oke
Aku sih hanya ber oke oke aja kalo ada yang ngajak berangkat sekolah bareng, lumayaannn kan ngirit ongkos ya gak 😂,
Setelah itu dia datang menjemputku dan kita berangkat sekolah bareng
Dikantin aku makan-makan bersama dengan teman-temanku, tapi aku merasa ada yang memperhatikan ku dari jauh lalu mataku mencari kesana-sini
Gaada siapa siapa. Batinku.
Dan seketika mataku melihat seseorang "gian", ternyata dia yang memperhatikanku dari kejauhan
Oh dia. Batinku.
Gian tersenyum ketika pandangan mata kami bertemu, aku juga membalas senyum padanya.
Setelah selesai sekolah aku pulang bareng andi, karena dia bilang mau mengantarku pulang, dan dengan senang hati aku menerima tawarannya.
Di perjalanan pulang aku bertemu dengan gian dan feri yang sedang berjalan kaki, di motor aku menoleh kearahnya lalu aku melambaikan tanganku sambil bibirku berucap "Daaaaahhhhhhhh" kataku.
Gian hanya membalas dengan anggukan dan senyuman, entah senyuman apa tapi aku tau jika itu senyuman terpaksa. Namun aku tidak menghiraukannya
****
Setelah pulang sekolah waktu itu, ketika gian melihatku pulang bareng andi, gian tidak pernah mengirim pesan lagi padaku, dia cuek bahkan ketika kita berpapasan di sekolah pun dia seolah enggan untuk melihat ku. Entah salah apa aku padanya hingga dia seperti itu padaku.
Ketika di sekolah aku terus memikirkan gian kenapa dia? Ko dia cuek sih? Ko gitu sih sama aku? Ko ga ngabarin sih, berkumpulah semua pertanyaan itu dalam kepala ini, hingga seseorang membuyarkan lamunanku.
"Kamu lagi berantem ya sama gian?"
"hah? Apa!?"
Tiba-tiba dili bertanya seperti itu padaku, entah aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu
"paansi ko tiba-tiba gian" lanjutku
"udahlah ngaku aja lagi, kamu lagi mikirin gian kan?"
"udah deh buruan putusin pacar lo, dan jadian ama gian kelar deh" lanjut dili
Gila aku bener-bener ga ngerti apa sih maksud ni anak, gaada angin gaada ujan tiba-tiba membuat kepala ini pusing tujuh keliling.
Karena aku mengabaikan pertanyaan dili, jadi dia tuh nyikut nyikut aku gitu terus ketauan guru dong
"Itu yang belakang lagi diskusi apa? Kalo kalian tidak berniat ikut kelas saya keluar sekarang juga".
Degh
Aku lgsg menatap dili disampingku dia hanya menunduk, tangan dili gemetar dia meggang tanganku, dili lgsg mematung gtu dia yang biasa nya gabisa diem jadi kayak patung gtu dong.
Hari itu adalah mata pelajaran nya pa arman, pa arman adalah guru killer, ketika dia ngajar di kelas, itu sebenernya ngantuk bgt gaiss, tapi temen-temen dikelas gaada yang berani untuk berkedip sekalipun kayaknya hahaha, karena setiap kita gerak sedikit tuh, mata pa arman tuh lgsg kayak mau keluar gtu, iihhhh syereeeemmmm
Kami hanya diam,
Dan aku udah pastiin, muka ku udah kayak udang rebus nih pasti, panassss bgt soalnya ni pipiku
Kriiiiinnngggggg://///
Huufffttttt bel kali ini penyelamatku dan dili,
Setelah bel berbunyi pa arman tanpa basi-basi lgsg keluar kelas
Haaaaahhhhhhh akhirnya aku dan dili bernafas legaaaaaa. Tadi tuh pas di bentak pa arman tuh kayak ada petir nyambar gtu loh gaisssss,
" Kamu sih" kataku pura-pura marah ke dili, karena sebenarnyaaku gabisa marah ke dili
" iye iye maap maap nape"
Dengan ekspresi dili yang mengucapkan kata itu sambil memutar bola matanya gtu, terus tangannya yang lengak-lengok gitu, pokoknya itu tuh berhasil bikin aku ngakak banget, aku lgsg ketawa seperti tidak ada kejadian apapun.
Aku dan dili itu kan sebangku, jadi kita tuh, kalo misalkan dili dihukum karena kesalahan dia dikelas, aku juga akan ikut mengerjakan hukuman yang sama, begitu pun dili kalo aku dihukum guru karena kesiangan dia juga akan ikut keluar kelas, entah persahabatan macam apa antara aku dan dia, dan itu sering bikin geleng-geleng guru di kelas kita, tapi jika teman-teman dikelas sih udah ga aneh mereka tau bagaimana persahabatan aku dan dili, udah kayak perangko kali nempel aja terus, dimana ada aku disitu pasti ada dili, dan entah kalian suka atau tidak tapi itulah kenyataanya, itulah faktanya persahabatan aku dan dili.
Bel sekolah telah berbunyi menandakan pelajaran terakhir telah selesai aku dan dili pulang bareng seperti biasa kita jalan kaki dari sekolah menuju terminal, bukan karena kita ga punya ongkos yaaa tapi karena kita emang suka, ya suka ngbrl lebih lama tepatnya, aku dan dili sering banyak bercerita, sambil di perjalanan itu bahkan kami juga, kadang kami juga taruhan gitu siapa cepet dapet ini terus kami juga sering berantem, berantem karena lelucon kita yaaa bukan karena laki-laki, karena aku dan dili Alhamdulillah nya itu kita ga pernah menyukai satu laki-laki yang sama, kalau pun itu terjadi aku akan dengan senang hati memberikan laki-laki itu pada dili, aku hanya ingin melihat dili bahagia.
Ketika kami sedang jalan kaki aku lihat kebelakang, dan aku kaget seketika mataku bertemu dengannya, yah gian dia dan feri berada tepat di belakangku, dan gian sedang memerhatikan ku, dan seketika aku jadi pendiam dihadapan dili, ( mungkin salah tingkah kali yaaa) dili yang menyadari itu dia nyikut aku gitu
"ada gian noh" bisiknya sambil tangan nya merangkul bahu ku
"iye iye gue tau" dan itu sontak membuat dili ketawa keras sampe semua orang yang ada di jalanan menatap ke arah kita, aku dan dili ga pernah memperdulikan keadaan sekitar, kita terlalu asyik berdua.
Lalu dili lari, jadi sekarang dia di depanku
"Tungguin aku" kataku yang langsung menyusulnya
Lalu dili menyatukan kedua tangannya sambil menaik turunkan keduannya, seperti sedang memanggil burung padaku
" weh, weh, weh, weh", katanya sambil tertawa seakan aku ini burung dipanggil seperti itu
Aku langsung diam ditempat sambil memanyunkan bibirku, aku marah padanya, tapi dia tidak menghiraukan marahku sama sekali, dan itu benar-benar membuatku sangat kesal
Tanpa disadari aku mendengar tawa dari belakang, ya gian dan feri menertawakan tingkahku dengan dili saat itu,
Blush
Kuyakin sekarang pipiku sudah seperti udang rebus, dan mau gamau aku lari ke arah dili, walaupun dia masih memanggilku seperti burung dan dili tertawa sangat bahagiaaa hingga tanpa dia sadari air mata nya keluar, aku tau dia tertawa karena itu tandanya dia menang, dia menang karena aku yang lari tadi ke arahnya
Sesampainya diterminal aku dan dili lgsg menaiki angkot, aku dan dili duduk diujung, dan sungguh pengap sekali didalam angkot itu, karena si mang sopir terus mengangkut penumpang, walau udah penuh, dan dili pun mengalah akhirnya di duduk dipangkuan, aku peluk dili kuat-kuat karena takut-takut dia jatuh
"aku berat ngga" bisik dili padaku
"ngga, kamu ga berat, udah jangan mikirin aku, gpp ko," jawabku dan itu membuat dili tersenyum
Sungguh aku tidak merasa dili berat, karena ketika bersamanya aku hanya bahagia, hanya senang tapi aku juga kasian dili yang ga kebagian tempat duduk, malah duduk di pangkuan ku, aku kesal ke si mang sopir itu, kenapa harus membuat dili berada di pangkuanku padahal kan kita bayar. bantinku
Gian yang juga se angkot denganku dia tidak memerhatikan tingkah kami, dia cuek, cuek sekali
" cieee yang lagi marahan, udah kayak pacaran aja" bisik dili padaku dan sungguh itu membuatku kesal
Jika kalian menginginkan adegan di angkot ini kayak adegan dilan
"milea kamu cantik, tapi aku belum menyukaimu gatau kalau sore, tunggu aja,"
Oke aku kasih tau kalian yaa, bahwa pada saat di angkot itu tuh ga gitu kita berdesak-desakan bahkan jarak aku dan gian diangkot itu juga ga berdekatan, aku diujung angkot dan gian juga diujung angkot, kita bukan mau ngangkat angkot itu yaaa, karena kita sedang menumpangi angkot itu, dan itu posisi kita di angkot itu,
Setelah angkot itu dekat dengan pemberhentian ke arah rumahku dili berbisik padaku " nanti pas turun, sun tangan dulu yah sama calon pacar, bae - bae sono",
Degh
Calon pacar?? Apansi dili. Batinku
Ketika angkot itu berhenti tanpa basa-basi aku langsung mengangkat tubuhku, hingga membuat dili kepentok kepalanya ke langit-langit angkot itu,
"Awwwww,"
"rasain, makanya jangan ngmng sembarangan", kataku pada dili yang sedang memegang kepalanya karena kesakitan dan aku malah menertawakannya,
ketika aku turun dari angkot lalu aku menoleh ke angkot itu, aku menoleh hanya untuk memastikan dili baik-baik saja namun yang kulihat maha gian yang sedang tersenyum padaku,
Blush
Oemji dia senyum? Dih tadi aja cuek, apa dia denger ya tadi yang dikatakan dili, sungguh kalau itu karena omongan dili, aku akan membalasmu dili tunggu saja.
Lalu aku juga membalas senyum pada gian
Tunggu gue dili. Bantinku
D e n g a n s e g a l a k e r e n d a h a n h a t i
m o h o n m a a f a t a s s e g a l a
k e k u r a n g a n d a l a m t u l i s a n i n i ,
s e m o g a k a l i a n d a p a t m e n g a m b i l
h i k m a h n y a
S e l a m a t m e m b a c a 😊