
Dalam perjalanan pulang kerumah Nanta lebih memilih jadi pendengar yang baik, jika ada yang lucu ia ikut tertawa, tapi otaknya terus berpikir apa yang dikatakan Dania, tadi siang ia menolak dengan alasan memikirkan perasaan Dania dan perkenalan mereka yang baru satu minggu, tapi malam ini Dania dengan gamblang menyampaikan apa yang ada didalam pikirannya. Nanta tidak tahu saja apa yang terjadi tadi saat Dania di hotel.
Pov. On
Saat sampai dihotel Dania langsung ikut kedua adiknya masuk ke kamar, mereka bercerita panjang lebar, sampai Winner membocorkan rencana Papanya untuk menjodohkan Dania dengan Nanta. Dania tertawa saja mendengarnya, ia tidak ambil pusing, ia sudah nyaman bersama Nanta, jika harus dijodohkan tidak ada masalah, malah lebih enak komunikasinya pikir Dania, terlepas dari perasaan sudah jatuh cinta apa belum, yang penting rasa nyaman, perhatian dan ada yang melindungi, itu saja sudah cukup bagi Dania yang selama ini selalu sendiri. Ada Nenek tapi tidak semua hal bisa dibahas dengan Nenek, apalagi masalah rumah tangga Mamanya.
Sekitar satu jam setelah Dania bercengkrama dengan kedua adiknya, Papa dan Tante Lulu mendatangi kamar mereka.
"Tidak bilang, kalau kalian sudah dihotel." protes Micko pada ketiga anaknya.
"Aku kira Papa tidur." jawab Winner santai
"Jangan suka mengira-ngira, pastikan saja dulu, semua itu harus serba pasti." kata Papa mengingatkan Dania pada Wilma.
"Kamu tidur disini sayang? tidak sempit, Papa buka kamar lagi ya?" Micko menawarkan.
"Jangan Pa, aku lagi berpikir mau ikut Ke Bromo apa tidak." kata Wilma pada Papa.
"Aku mau ikut." kata Winner dan Lucky.
"Ya sudah nanti kita ke rumah Oma." kata Micko tersenyum senang.
"Sayang, kamu harus bayar uang apartment minggu ini?" tanya Micko saat menerima pesan dari Mama Dania yang meminta uang untuk kebutuhan Dania dan membayar sewa apartment, jumlah yang diminta besar sekali, padahal Dania menumpang gratis pada Nek Pur. Kalaupun bayar tidak semahal yang Mama minta.
"Tidak, aku menumpang gratis, kan aku sudah bilang Papa." kata Dania sedikit heran. Papa sering Kirim uang dalam jumlah besar tapi Mama selalu mengeluh tidak punya uang, Jack suami Mama juga bekerja, untuk apa uang itu ya, Dania jadi berpikir.
"Setiap kali Papa dapat uang dari hasil usaha keluarga, tidak lama Mama kamu selalu minta transfer untuk kebutuhan kamu. Papa pikir Mama dan saudara tiri Papa bekerja sama nih. Jadi uang yang mereka Kirim untuk Papa sama saja kembali pada mereka lagi setengahnya." Micko menghela nafas panjang.
"Lagi pula aku dijakarta, kontrak rumah pun tidak semahal itu kan." kata Dania pada Papa.
"Tidak usah dikirim, Pa." kata Dania pada Papanya.
"Mungkin memang Mbak Maya butuh uang." kata Lulu pada Micko.
"Cari tahu dulu saja biar lebih pasti." kata Winner membalikkan ucapan Papa.
Micko segera menghubungi orang kepercayaannya yang bekerja diperusahaan keluarga Mamanya, menanyakan kebenaran yang terjadi, ternyata memang benar dugaan Micko, selama ini setiap transfer hasil usaha seperempat akan kembali pada Peter saudara tirinya. Ada hubungan apa Maya sama Peter ya? Micko jadi bertanya sendiri.
"Sam, coba cari tahu hubungan Maya sama Peter." pinta Micko pada Sam orang kepercayaannya via telepon.
"Bang Micko tidak tahu? mereka mantan pacar, aku juga bingung waktu Bang Micko menikah dengan Maya. Kok menikah dengan mantannya Peter." kata Sam membuat Micko terkejut.
"Sam, kamu tidak bercanda?" tanya Micko memastikan, yang ia tahu Maya dulu sebatang Kara, mereka tidak pacaran lama dan terpaksa menikah siri karena situasi darurat saat itu, Micko harus mendapat ijin dari Kakek untuk siapa yang boleh menjadi istrinya, Maya tidak lulus seleksi karena tidak punya keluarga, namanya anak muda segitu cintanya sampai tidak bisa berpikir jernih, mereka menikah diam-diam lalu membeli rumah kecil di Puri Indah, sebelah rumah Nek Pur dan orang tua Ando, tempat Dania tumbuh kembang.
Perpisahan tidak bisa dielakkan saat Maya tahu jika ternyata Micko masih keluarga konglomerat, ia marah besar karena Micko tidak jujur, Maya merasa Micko takut diporotin hingga menutupi identitasnya, ia mulai mencari gara-gara hingga setiap hari mereka selalu ribut dan akhirnya Maya minta ditalak.
Setelah Micko tahu saat ini, pantas saja Maya menolak meninggalkan Dania pada Micko, kalau Dania ikut Micko tidak ada alasan untuk Maya meminta uang kebutuhan Dania pada Micko. Ternyata Maya membohongi Micko selama ini.
"Sayang, kamu sudah tahu keadaan Papa, kan? musuh Papa keluarga Papa sendiri. Winner dan Lucky aman karena keluarga Tante Lulu orang kuat, tapi kamu papa khawatir, karena Mama kamu ternyata juga bagian dari musuh Papa."
"Cara Papa melindungi kamu itu dengan mencarikan kamu jodoh yang tepat dan kamu sudah tahu siapa orangnya."
"Mas Nanta?" tebak Dania, Micko menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu sudah menikah, Mama kamu tidak akan ganggu kamu kan? apalagi kalau Nanta bisa tegas. Papa percaya Nanta orang tepat karena tadi dia berani menolak saat mendengar keinginan Papa." Micko jujur pada Dania. Lulu, Winner dan Lucky mendengar dengan seksama.
"Mas Nanta tidak suka sama aku?" tanya Dania pada Papa.
"Bukan itu, Nanta menyampaikan beberapa alasan yang Papa bisa terima." Micko mengulang cerita yang ia dapat dari Tari tadi.
"Papa setuju aku menikah dengan Mas Nanta?" Dania memastikan.
"Kamu sendiri Papa lihat sangat bergantung sama Nanta." Micko terkekeh.
"Yah, he's my hero." Dania terkekeh.
"Tugas kamu meyakinkan Nanta dan Mama kamu." kata Micko pada Dania.
"Aku bisa, Papa jangan khawatir." jawab Dania.
"Sementara yang Mama minta Papa Kirim saja sampai kamu aman." kata Micko, tidak masalah, uang dari usaha keluarga selama ini memang tidak pernah Micko gunakan. Mobil mewah berjejer dirumah juga kiriman dari kakeknya, bukan Micko beli sendiri.
"Kirim saja setengahnya, Papa jangan mau dibohongi Mama terus, pelan-pelan aku akan mengingatkan Mama." kata Dania pada Micko.
"Kita masih harus merahasiakan pertemuan kita pada Mama dan Keluarga Papa." kata Micko membuat Dania menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak pernah diawasi selama ini, bebas saja mau kemana. Mungkin Papa yang mereka awasi." kata Dania pada Papa
"Entahlah, kita waspada saja."
"Sewa pengawal saja untuk kakak." kata Lucky memberi saran, Lulu menganggukkan kepalanya.
"Tidak usah, aku sudah punya pengawal pribadi." Dania terkekeh.
"Bang Nanta." Winner terbahak.
"Sama Kakak Ando." jawab Dania ikut terbahak.
Pov Off.