I Love You Too

I Love You Too
Karena Allah



"Kangen, kangen, kangen." Nanta menciumi Dania begitu istrinya masuk kekamar hotel, Dona tadi ikut Doni entah kemana sedang Nanta meminta Dania langsung menunggunya di kamar, eh ternyata Nanta sudah dikamar lebih dulu.


"Dapat kunci kamar dari mana?" tanya Dania terkekeh, suaminya masih saja menciumi pipinya bergantian.


"Resepsionis dong, masa begitu saja ditanya." kata Nanta gemas menyudahi ciumannya.


"Galak." jawab Dania meletakkan tasnya diatas meja disudut kamar.


"Galak? enak saja." Nanta langsung saja memeluk istrinya dari belakang.


"Eh iya deh aku galak, kamu harus dihukum karena tadi berani lepas cardigan di negara Muslim." kata Nanta lagi pada Dania.


"Eh iya bagaimana itu." Dania langsung saja khawatir, bagaimana bisa ia lupa jika Abu Dhabi negara Muslim, Dania langsung membalikkan badannya khawatir, benar-benar khawatir karena ini menyangkut nama baik negara.


"Ish langsung pucat saja, tenang saja. Semoga besok tidak ada yang bahas saat konferensi pers." kata Nanta pada istrinya.


"Kalau ada yang bahas bagaimana?" rengek Dania ketakutan.


"Aku akan minta maaf." jawab Nanta tersenyum, langsung saja Dania menangis.


"Sayang, kenapa menangis?"


"Aku teledor, tidak bisa berpikir dengan


benar jadi bikin malu Mas Nanta dan rombongan." jawabnya sambil terisak.


"Eih kan aku bilang tenang saja, Pak Jaya tidak komentar apapun juga. Biasanya dia akan langsung tegur." kata Nanta sambil menghapus air mata istrinya dengan tangannya.


"Sayang yang aku khawatirkan itu..." Nanta tersenyum jahil.


"Apa?" tanya Dania menatap suaminya sendu, matanya masih berair.


"Kamu dilamar sultan Arab, bagaimana nasibku nanti." Nanta bercandai istrinya sambil tertawa.


"Mas Nanta masih saja bercanda, aku beneran takut tahu." Dania memukul bahu suaminya sambil cemberut sementara Nanta tertawa puas dan kembali menciumi istrinya gemas.


"Telepon Mama yuk." ajaknya, baru bisa ajak Dania hubungi Mama Maya di London, karena kemarin sibuk terus. Nanta langsung mengeluarkan handphonenya lalu menekan nomor Mama Maya, menggunakan nomor Abu Dhabi tentu saja.


"Assalamualaikum Mama." sapa Dania saat wajah Maya muncul dilayar, sambil menyedot hingusnya, seperti gaya orang habis menangis pada umumnya.


"Waalaikumusalaam... Nanta, anak gue kenapa dibikin menangis?" teriak Maya langsung saja menuduh Nanta.


"Huhu Mama bukan Mas Nanta. Mama kemana saja sih, tidak rindu aku ya." langsung menangis lagi terisak, mungkin sisa sedih yang tadi masih ada sekarang bertambah saat ingat Mama tidak bisa dihubungi beberapa bulan ini.


"Rindu sekali Dania, tapi Mama takut hubungi nomor Indonesia, Peter masih cari gara-gara." kata Mama Maya jujur.


"Eh kamu jangan nangis begitu, bikin Mama merasa bersalah saja." kata Maya resah.


"Iya." menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.


"Aku sedih." kata Dania kembali menangis.


"Kalau masih menangis begitu matikan dulu teleponnya, Mama tidak kuat lihat anak Mama sedih." kata Maya pada Dania. Nanta mengusap bahu istrinya perlahan sambil menghela nafas.


"Matikan dulu Nanta." kata Maya pada Nanta. Nanta pun menuruti keinginan mertuanya mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa sih nangis terus?" Nanta memeluk Dania yang hari ini berdua Nanta malah cengeng sekali, menyesal juga sebut hukuman, malah istrinya sekarang ketakutan dan terus saja menangis.


"Peluk dikasur saja deh, biar tidak menangis." kata Nanta mengajak istrinya rebahan dikasur.


"Mas Nanta sudah mandi?" tanya Dania, Nanta mengangguk sambil tersenyum.


"Aku mau mandi dulu." ijin Dania pada suaminya.


"Mau mandi bersama?" Nanta menawarkan.


"Mas Nanta kan sudah mandi."


Sementara di Mal, Larry terus saja mepet pada Deni, padahal Om Deni sedang melayani istrinya yang tiap sebentar masuk toko pilih ini dan itu, Mike saja sudah kebagian bawakan kantong belanja Dini yang sebelumnya. Dini tidak mengijinkan Deni yang membawa, katanya Deni harus menjaga Dini, jadi Mike yang jaga belanjaan, nanti kalau sudah penuh tangan Mike, baru Larry kebagian.


"Om, dokter muda yang mau dikenalkan itu seumuran aku juga?" tanya Larry semangat.


"Seumuran Nanta, kamu sama Nanta sama kan?" tanya Deni pada Larry.


"Kurang lebih saja, lebih tua aku sih Om." jawab Larry tersenyum.


"Kamu beneran mau dikenalkan?" tanya Deni memastikan.


"Iya mau saja siapa tahu jodoh?" kata Larry tersenyum berharap.


"Jodoh lu tuh Balen tahu." celutuk Mike yang berjalan dibelakang.


"Sue, gue mesti jomblo berapa tahun kalau jodoh gue Balen." Larry terbahak sambil memiting leher Mike, enak saja bicara sembarangan.


"Tarik lagi omongan lu, takut jadi doa." kata Larry pada sahabatnya.


"Kenapa harus ditarik, lu kira omongan gue sakti mandra guna. Allah juga tahu gue bercanda." kata Mike terbahak, lihat wajah kesal Larry karena dibilang jodohnya Balen.


"Tapi Balen besarnya pasti cantik itu." kata Dini pada keduanya.


"Iya, menggemaskan. Tapi aku perlu jodoh sekarang, bukan tujuh belas tahun lagi." kata Larry sambil menadahkan tangannya keatas.


"Hahaha kalian ini. Awas saja kalau ada yang mengganggu Balen." kata Deni mengepalkan tangannya pada kedua jomblo ini.


"Mana ada diganggu, yang ada kita jaga seperti porselen Om." jawab Larry sungguh-sungguh, sudah menganggap Balen seperti adiknya sendiri.


"Kalau adik aku masih Tk, aku jodohkan sama Balen deh. Tidak boleh kemana-mana." kata Larry posesif.


"Adik kamu yang suka tawuran itu?" tanya Dini mendelik, Larry terkekeh.


"Makanya kan kalau masih TK, Tante Dini." kata Larry menggoda Dini.


"Kak Dini Larry." desis Dini membuat Deni terkekeh, istrinya ini rupanya barbar juga seperti Nona, ampun deh sudah bebas dari Nona bertemu dengan Dini pula memang harus begitu jalan hidup Deni rupanya.


"Kamu tenang saja, Mas. Balen banyak yang jaga. Mas Kenan bisa tidur nyenyak deh pokoknya." kata Dini yakin.


"Kenapa begitu?"


"Ada kuartet, yang jadi bodyguard Balen." Dini terbahak.


"Hahaha bayangkan saja kita yang tampan rupawan ini menjaga Balen, bisa kabur itu jodohnya Balen karena kita seleksi ketat." kata Mike berhayal sambil tertawa.


"Kasihan Balen." Deni menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Kalau harus berhadapan dengan kalian kapan Balen dapat jodoh." kata Deni prihatin.


"Tenang saja, nanti kan kita jadi coach tuh, pasti banyak atlet muda yang bisa kita seleksi untuk menjadi jodoh Balen." Larry ikut berhayal.


"Asal saja bukan elu Atlitnya." Mike terbahak.


"Sue, Balen besar mah gue sudah tidak muda meskipun mungkin saja masih jadi atlet." kata Larry terbahak.


"Om... benar ya kenalkan sama dokter itu, gue langsung nikahi deh, biar Mike tidak sembarangan bicara lagi." kata Larry pada Deni.


"Jangan buru-buru menikah Larry, kenalkan sih pasti, tapi jangan terpaksa harus menikah karena khawatir, kamu harus menikah karena Allah." Deni menasehati Larry.


"Om menikahi Kak Dini karena Allah?" tanya Mike penasaran.


"Iya, memang karena apa? Semuanya karena Allah, kalau tidak karena Allah mana mungkin kami menikah." kata Deni membuat Mike dan Larry menganggukkan kepalanya, sedang Dini tersenyum haru, kalimat Karena Allah itu sungguh menggetarkan hati Dini.