I Love You Too

I Love You Too
Anak Ayah.



"Kamu langsung ke Cabang Selatan?" tanya Reza pada Nanta via telepon esok harinya.


"Iya Ayah, ini aku mau berangkat." jawab Nanta yang sudah berada di Mobil. Dania sudah duduk manis di sebelah Nanta. Berhubung hari ini Nanta tidak ada kuliah, Maka ia antarkan istrinya dulu ke kampus baru lanjut ke Warung Elite Cabang Selatan.


"Nanti Ayah mampir deh, biar semua tahu siapa kamu." kata Reza pada Nanta.


"Tidak usah begitu Ayah, nanti orang kira aku kerja karena Ayah." tolak Nanta halus.


"Memang karena Ayah kan? Kamu bantu Ayah dan teman-teman." kata Reza tetap pada pendiriannya.


"Tapi tanggapan orang belum tentu begitu. Mereka pikir aku..."


"Jangan hiraukan apa yang orang pikirkan, tunjukan saja kalau kamu memang layak." Reza semangati Nanta.


"Iya memang mau aku mau tunjukkan sih, tapi jangan bikin aku terkesan berlindung dipunggung Ayah dong." kata Nanta pada Reza, sampaikan isi hatinya. Reza terkekeh mendengarnya.


"Jadi Ayah tidak boleh kunjungi kamu ke cabang selatan?" tanya Reza pada Nanta.


"Boleh tapi nanti kalau kinerjaku sudah tunjukkan hasil." kata Nanta pada Ayah Eja.


"Jumat sore boleh dong Ayah ke Cabang Selatan." Reza terkekeh.


"Kalau itu boleh, karena memang ada event." Nanta ikut terkekeh.


"Ya sudah Ayah, aku nyetir dulu ya." ijin Nanta pada Ayah, lihat Dania sudah gelisah takut terlambat ke kampus.


"Iya hati-hati, Boy. Kalau ada kesulitan jangan sungkan hubungi Ayah. Kata Papi kamu agak kesal kemarin."


"Hahaha Papi itu saja diceritakan, iya Ayah aku pasti hubungi Ayah kalau mentok. Doakan lancar kerjaku." Nanta jadi tertawa, segitu perhatiannya Ayah Eja pada Nanta.


"Pasti Boy, kamu bisa." Reza semangati keponakan tersayangnya.


Nanta mulai melajukan kendaraan menuju kampus istri tercinta. Dania boleh menarik nafas lega, jalanan pagi ini tidak terlalu macet, in Syaa Allah tidak akan terlambat.


"Nanti pulang jam berapa? aku tidak bisa jemput." Nanta beritahukan Dania.


"Iya, nanti Tomson jemput jam dua belas." jawab Dania tersenyum pada suaminya. Perutnya sudah mulai membesar, tampak sekali kalau Dania sedang hamil.


"Adek Bayi sudah mulai tampak." Nanta membelai perut Dania.


"Iya, teman aku pada bisik-bisik gitu. Mereka mungkin baru tahu kalau aku sudah menikah." Dania terkekeh.


"Kamu sih nikahnya diam-diam." Nanta tertawakan istrinya.


"Harusnya diumumkan ya, tapi aku tidak begitu kenal sama mereka. Lagi pula sebagian sering lihat kita berdua."


"Ada Silvy kan yang jaga kamu dikelas?" tanya Nanta pada Dania.


"Iya." jawab Dania tersenyum, Nanta jadi ikut tersenyum.


"Kamu masih belum berteman dengan yang lain?" tanya Nanta pada istrinya.


"Ada selain Silvy yang suka pinjam buku aku." Dania terkekeh.


"Perempuan apa laki-laki?" Nanta memicingkan matanya.


"Perempuan." Dania tertawa melihat ekspresi suaminya.


"Awas ya genit-genit." ancam Nanta pada istrinya.


"Ya kali perut blendung gini mau genit-genit." Dania jadi tertawa dan memukul bahu suaminya. Nanta langsung saja meringis, tapi membelai perut istrinya sambil fokus menyetir.


"Adek Bayi, itu Mamanya pukulin Papa loh." lapornya pada calon anaknya.


"Jadi mau dipanggil Papa? bukannya kemarin itu bilangnya panggil Mas Nanta saja?" Dania menggoda Nanta.


"Aban." jawab Nanta terkekeh.


"Sayang, bisa jadi anak kita panggil kamu Aban ya, ikuti Balen dan Ichie." Dania sedikit berpikir.


"Masa sih?" Nanta jadi tertawa sendiri.


"Panggil Abah saja ya." Dania tertawakan Nanta.


"Ya ampun sayang, aku bayangkan anak kita panggil aku Abah ya, terus akunya yang pakai sarung sama peci gitu, sama kaos oblong putih." Nanta langsung saja membayangkan Abah ala-ala mang kabayan. Dania tertawa geli jadinya.


"Lucu juga ini Abahnya si iteung mau jadi bintang iklan." Dania masih saja tertawa.


"Kok iteung sih, memang sudah pasti perempuan?" Protes Nanta pada istrinya.


"Tidak tahu juga, siapa tahu saja perempuan. Mas Nanta maunya laki-laki kah?" tanya Dania.


"Apa saja terserah Allah, kalau boleh memilih mau laki-laki. Tapi kalau dikasih perempuan ya tidak masalah. Alhamdulillah yang penting kamu sama Baby sehat." kata Nanta pada istrinya.


"Iya, Mas Nanta juga harus sehat." Dania tersenyum, Nantapun menganggukkan kepalanya.


"Sudah sampai saja." Dania menghela nafas, tidak sadar suaminya sudah menepi memarkirkan kendaraannya di depan gerbang kampusnya.


"Iya Abah." Dania terkikik geli. Nanta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kenapa juga jadi panggil Abah.


"Mas Nanta, jangan pusing-pusing kerjanya ya." Dania menyalami suaminya dan mencium punggung tangan Nanta.


"Tidak pusing kok, hanya perlu waktu untuk adaptasi saja." Nanta membelai rambut Dania.


"Sudah sana turun, Nanti aku ikut kamu ke kelas loh." kata Nanta menggoda istrinya.


"Hahaha bisa disusuli Ayah Eja nanti." Dania tertawa dan segera turun dari Mobil suaminya. Setelah Dania menghilang dari pandangan Matanya barulah Nanta melajukan kendaraannya menuju Warung Elite Cabang selatan. Sesekali tersenyum sendiri ingat Dania sebut dirinya Abah.


"Selamat Pagi..." sapa Nanta pada staff di cabang selatan saat masuki restaurant. Baru pukul sembilan pagi, restaurant belum juga buka, pelanggan belum ada yang datang. Sepertinya Nanta datang kepagian, beberapa staff masih beberes-beres.


"Pagi Mas Nanta." balas staff yang Nanta sapa.


"Ruangan saya dimana ya, Lia?" tanya Nanta pada staff yang bernama Lia, ketika Nanta lihat pada Nametagnya.


"Oh, ruangan Mbak Cyla ya?" hmm, Nanta jadi bingung sendiri, kemarin tidak diberitahu ia harus duduk diruangan mana.


"Mbak Cyla mulai hari ini di cabang Utama." kata Nanta pada Lia.


"Saya berubah pikiran." tiba-tiba Cyla muncul diantara Nanta dan Lia.


"Oh jadi Mbak Cyla disini juga ya." Nanta tersenyum pada Cyla.


"Iya." Cyla menganggukkan kepalanya.


"Kita kerjasama kah?" tanya Nanta ragu.


"Saya akan awasi kamu." kata Cyla sombong.


"Oh oke, terima kasih menyempatkan diri untuk awasi saya." Nanta tersenyum jahil.


"Jadi ruangan saya dimana?" tanya Nanta pada Cyla.


"Anak baru sudah minta ruangan." Cyla tersenyum sinis.


"Kamu kira kalau dekat dengan petinggi kamu bisa dapat semua fasilitas itu ya?" Cyla cari gara-gara, sepertinya dia tidak tahu siapa Nanta.


"Hmm... Jadi saya harus dimana?" tanya Nanta minta pendapat kepala cabang yang berkuasa ini.


"Sementara kamu dibagian dapur dulu ya Nanta." tegasnya pada Nanta.


"Dapur? maksudnya?" Nanta jadi bingung sendiri, Selama di Cabang Utama tidak pernah turun ke dapur, disini malah disuruh kedapur.


"Kamu belajar masak dulu sana kalau mau gantikan saya." Nanta tertawa mendengar ucapan Cyla, siapa juga yang mau gantikan Cyla.


"Sepertinya ada yang tidak beres, kalau mau dibagian dapur, waktu di Cabang Utama pasti saya sudah di sana." Nanta tersenyum.


"Kenapa Boy?" tanya Reza yang tiba-tiba saja muncul.


"Ih Ayah kenapa datang?" tanya Nanta sementara Cyla tampak pucat melihat kehadiran Reza.


"Pak Reza disini?" tanya Cyla bingung.


"Iya, kamu kenapa disini, bukannya seharusnya kamu ada di cabang Utama?" tanya Reza pada Cyla.


"Saya berubah pikiran, Pak." jawabnya pada Reza.


"Pak Mario pasti belum tahu."


"Iya baru mau saya kabari." jawab Cyla. Reza langsung tersenyum.


"Cyla kenalkan ini Nanta yang akan gantikan saya di kantor pusat, karena sebentar lagi saya akan pensiun." tegas Reza pada Cyla.


"Oh..."


"Nanta yang akan putuskan kamu tetap disini atau harus ke Cabang Utama. Keputusan tidak bisa berdasarkan pikiran kamu saja. Waktu rapat seluruh pimpinan kamu tidak hadir kah?"


"Maaf saya sedang cuti Pak." jawab Cyla tidak enak hati.


"Pantas saja kamu tidak tahu siapa Nanta." Reza tersenyum pandangi Cyla, kemudian menepuk bahu Nanta.


"Jadi bagaimana Boy, Cyla tetap disini atau bagaimana?"


"Biarkan saja disini Ayah, tapi aku perlu tahu aku harus duduk dimana selama disini." kata Nanta pada Ayah Eja.


"Oh sini..." Reza mengajak Nanta masuk keruangan petinggi, dimana hanya Reza dan ketiga sahabatnya yang bisa duduk disana.


"Ayah, aku pakai punggung Ayah Hari ini." Nanta memberengut. Reza tertawa melihat ekspresi wajah Nanta.


"Sekali waktu perlu, boy. Untuk hadapi orang yang merasa hebat." kata Nanta menepuk bahu Nanta.


"Hari ini sampai jumat Ayah disini temani kamu, karena Bowo sedang cuti." kata Reza pada Nanta yang mengangguk pasrah. Anak Ayah tetaplah anak Ayah.