
"Sudah selesai?" tanya Nanta saat melihat Dania keluar ruangan praktek, wajahnya tampak sumringah.
"Sudah, kata dokter perkembangannya semakin membaik, kalau terus begini berapa bulan kedepan sudah tidak perlu terapi lagi." Jawab Dania semangat, Nanta ikut senang mendengarnya.
"Syukurlah, jadi kamu bisa beradaptasi dan bergaul seperti orang pada umumnya." kata Nanta tersenyum lebar, mereka berjalan menuju parkiran, Nanta menggandeng tangan istrinya.
"Iya, walaupun menurutku bersama keluarga dan Mas Nanta saja sudah cukup, dikampus tidak ada teman tidak masalah."
"Perlu berteman dikampus, kalau ada tugas bisa diskusi, kalau tiba-tiba pulpen kamu tintanya habis bisa pinjam teman."
"Aku bawa pulpen banyak." Dania terkekeh.
"Bisa saja ketinggalan atau terjatuh di mobil." Nanta berasumsi.
"Iya juga sih." Dania terkekeh.
"Bukan itu saja, kalau kamu harus lahiran saat dikampus, ada yang bantu kamu hubungi aku." kata Nanta lagi pada istrinya.
"Hehehe iya, aku tidak berharap itu terjadi." kata Dania membuat Nanta mengeratkan rangkulannya dan mencium gemas dahi istrinya sambil berjalan.
"Ini bukan London." Dania mengingatkan, Nanta jadi tertawa karena ucapannya berbalik. Mereka tertawa bersama sambil memasuki mobil.
"Antar aku ke kampus ya." kata Dania begitu Nanta melajukan kendaraannya perlahan.
"Iya, nanti pulang jam berapa?" tanya Nanta sambil fokus menyetir.
"Jam enam sore, Mas Nanta tidak usah jemput, biar Tomson saja." kata Dania pada suaminya.
"Kok Tomson?" protes Nanta pada istrinya.
"Habis siapa? Nanti sore Balen berenang, Larry yang ajar kan? Mana enak kalau ditinggal."
"Oh iya. Apa Larry aku minta datang lebih cepat saja, jadi jam setengah lima Sudah selesai dan aku bisa jemput kamu."
"Terserah Mas Nanta saja, tapi aku tidak masalah dijemput Tomson atau Pak Atang. Jam tiga sore juga Balen masih tidur biasanya." jawab Dania pasrah tapi juga mengingatkan suaminya.
"Nanti berkabar ya, handphone kamu batterynya full tidak?" tanya Nanta.
"Full kok." jawab Dania tersenyum.
"Power bank ada?" Dania menggelengkan kepalanya. Nanta merogoh sakunya Dan memberikan power bank miliknya pada Dania.
"Buat berjaga-jaga." katanya, Dania menganggukkan kepalanya.
Nanta menurunkan Dania didepan kampusnya setelah mereka makan siang bersama terlebih dulu.
"Tidak nyebrang ke Mal ya." pesan Nanta pada istrinya, khawatir karena tidak ada yang menjaganya, bagaimanapun Nanta belum yakin betul Om Peter akan melepas Dania begitu saja.
"Iya." jawab Dania tersenyum. Nanta menjalankan kendaraannya begitu Dania masuk kedalam kampusnya. Masih ada waktu untuk membuka rekening, Nanta menghubungi Ando, tapi ternyata handphone Ando tidak aktif. Mungkin lain kali, pikir Nanta.
Pandangan Nanta terhenti pada bangku yang diduduki istrinya tadi, apa-apaan Dania ini, dia bawa power bank tapi handphonenya malah ketinggalan. Mau tidak mau Nanta putar balik, bagaimana bisa Dania menghubungi Tomson nanti untuk minta jemput kalau handphonenya ketinggalan. Istrinya memang ceroboh.
"Assalamualaikum Silvy ini Nanta." Nanta menghubungi Silvy keponakan Om Bagus, mereka sempat bertukar nomor telepon dulu.
"Iya Nan, kenapa?"
"Kamu dikampus? sudah sampai kelas belum?"
"Sudah. Mau cari Dania kah?" tebak Silvy langsung tidak mungkin Nanta menghubunginya begitu saja.
"Iya, Dania sudah dikelas belum?"
"Sudah ini disebelah aku." Silvy menyerahkan handphonenya pada Dania.
"Iya Mas?"
"Handphone kamu ketinggalan, bagaimana sih."
"Oh iya biarkan saja kan ada yang satu lagi." eh malah santai padahal Nanta sudah putar balik kekampus Dania.
"Aku sudah putar balik loh, mau antar handphonenya." kata Nanta menghela nafas.
"Itu lobat. Itu yang nomor baru juga kok." jawab Dania santai.
"Jadi aku pulang lagi ya." Nanta minta pendapat.
"Iya pulang saja." jawab Dania terkekeh. Nanta menghembuskan nafas panjang mau marah tapi tidak bisa, istrinya suka terlalu santai. Tapi mungkin memang harus begitu supaya tidak gampang stress.
"Mas..." panggil Dania sebelum Nanta menutup teleponnya.
"Benar Mas Nanta bilang, teman memang berguna." Nanta tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Iya sampaikan terima kasih pada silvy " kata Nanta kemudian menutup sambungan teleponnya. Pesan moral ketinggalan handphone setidaknya istrinya sudah mau berteman walaupun Nanta harus putar balik melewati macet yang lumayan menyebalkan.
Nanta tiba dirumahnya dengan disambut Balen dan Richi, mereka sudah memakai baju berenang.
"Hei ini masih siang, kenapa sudah pakai baju renang?" tanya Nanta pada adiknya.
"Waktu dengar pagar dibuka dan lihat mobil kamu langsung minta ganti baju." lapor Nona pada Nanta.
"Bobo siang dulu kan, Abang Larry belum datang juga. Katanya sore kan?" kata Nanta pada Balen.
"Masih ama ya?" tanya Balen.
"Iya ini baru jam berapa? dua jam lagi. Sana bobo dulu." kata Nanta pada adiknya.
"Ayo ganti dulu bajunya, nanti kalau Abang Larry datang baru dipakai lagi." kata Nona pada keduanya. Richi mengikuti langsung membuka baju berenangnya kemudian berlari memanggil Ncusss.
"Mamon, Baen bobona pate baju ini aja ya?" pintanya pada Nona.
"Nanti tidak nyaman tidurnya." kata Nona pada Balen.
"Ndak tok Mamon." masih saja keras kepala.
"Ih terserah kamu deh, awas ya kalau keringatan terus gatal-gatal lehernya jangan merengek." tegas Nona pada Balen.
"Janan mawah don Mamon." bujuki Mamon biar tidak marah.
"Tidak marah, hanya mengingatkan." kata Nona pada Balen.
"Iya ndak engek tok." katanya meyakinkan.
"Sana masuk kamar, bobo dulu."
"Bobo tamal Aban aja." pintanya pada Nanta.
"Ya sudah ayo." Nanta menggandeng Balen menuju kekamarnya.
"Kalau pakai baju itu nanti pipisnya susah Balen." kata Nona lagi mengingatkan.
"Ndak..." masih saja menolak saran Mamon, minta dijitak saja rasanya.
"Nanta bawa nih." Nona menyerahkan daster Balen dan Nanta pun mengambilnya sambil terkekeh, pasti nanti Balen minta ke kamar mandi, sedangkan ia tidak lagi pakai Pampers. Sudah pasti buka baju semua itu.
"Pipis dulu sebelum kekamar Abang." kata Nanta pada adiknya.
"Yah."
"Mo pipis Mamon." Balen berbalik arah pada Mamon.
"Ish lihat susah kan pipisnya kalau pakai baju ini." kata Nona membuka baju berenang Balen.
"Mawah teus." gerutu Balen membuat Nona dan Nanta terkekeh. Balen menuju kamar mandi sambil bertelanjang.
"Ih malu." kata Nanta menggoda Balen.
"Janan iat don talo mawu." katanya tertawa.
"Makanya pakai daster biar tidak telanjang." kata Nanta pada adiknya.
"Iya tundu." jawab Balen memasuki kamar mandi bersama Mamon. Tidak lama sudah keluar dengan memakai daster yang tadi Nanta pegang, sebelumnya sudah diserahkan lagi pada Mamon.
"Adik kamu banyak gaya betul sih." gerutu Nona sambil seakan ingin mencubit Balen, gemas sekali rasanya.
"Ada yang ditiru pasti." jawab Nanta terkekeh.
"Siapa? aku maksud kamu Nan?" Nona membesarkan bola matanya.
"Ih aku tidak bilang begitu, mungkin meniru Padeh yang banyak gaya." kata Nanta begitu melihat Padeh keluar kamar.
"Kenapa?" tanya Baron yang terlambat mendengar, sepertinya baru bangun tidur jadi belum konsen maksimal juga.
"Opon banak daya." teriak Balen membuat Nanta dan Nona terbahak.
"Kenapa ini bocah?" Baron terbahak mendengar cucunya berteriak begitu. langsung saja digendong dan diciuminya Balen.
"Kamu yang banyak gaya." kata Opon kembali menciumi Balen.