I Love You Too

I Love You Too
Kesal



"Aku lapar nih." kata Nanta pada Papa dan Om Micko.


"Tunggu ya, makanan sedang dijalan." kata Micko, ia sudah memesan makan siang untuk mereka tadi, tapi karena Dania tiba-tiba keringat dingin, Micko lupa menjawab konfirmasi ulang menu pada sekretarisnya.


"Ok, Om." Nanta tersenyum pada Om Micko.


"Papa tadi pesawat jam berapa, kok jam segini sudah di Jakarta?" tanya Nanta pada Papanya.


"Dari sana jam sebelas, tidak delay. Tadi shubuh pun begitu, semua lancar, jam delapan tiga puluh sudah sampai di lokasi acara." jawab Kenan pada putranya.


Makan siang yang ditunggu, akhirnya pun tiba, menu untuk tiga orang bisa mereka makan berempat, Kenan tidak perlu nasi karena makan lauk dan sayur saja sudah cukup bagi Kenan.


"Papa pulang sama aku?" tanya Nanta pada Kenan setelah mereka selesai makan.


"Tidak, Papa sama Pak Atang. Kamu antar Dania saja." jawab Kenan menepuk bahu putranya.


"Nanti setelah mengantar Dania kamu langsung pulang kan, Boy? Papa ada perlu sama kamu." kata Kenan lagi pada Nanta.


"Iya, Pa."


"Aku pulang sendiri saja, kalau Papon ada perlu sama Mas Nanta." kata Dania pada Kenan.


"Oh, tidak harus sekarang. Sepulang Nanta mengantar kamu masih bisa kok." Kenan terkekeh.


"Kamu mau diantar Papa?" tanya Micko menawarkan putrinya.


"Kalau Papa tidak keberatan."


"Mana mungkin keberatan, tapi apa tidak mencolok nantinya? Mobil Papa selalu mengundang perhatian." kata Micko.


"Tukar mobil aku mau Om?" Nanta terkekeh bercandai Micko.


"Waduh, kalau kamu naik mobil itu apa tidak bertambah banyak penggemar kamu nanti?" Micko malah balik bercandai Nanta.


"Jangan." ceplos Dania langsung.


"Jangan apa?" tanya Nanta tersenyum.


"Jangan tukar mobilnya. Aku suka mobil Mas Nanta yang sekarang." kata Dania berkelit, tadi ia spontan saja bilang jangan saat Papa bilang penggemarnya Nanta bisa bertambah. Kenan dan Micko terkekeh melihat ekspresi Dania. Nanta mengangguk saja sambil menyeringai.


"Kalau begitu kami pamit sekarang, Pa, Om." kata Nanta pada Kenan dan Micko


"Titip Dania ya, Nan. Jangan lupa kabari Om." kata Micko pada Nanta.


"Siap Om." Nanta tertawa melihat Micko yang mau buru-buru saja.


Dalam perjalanan pulang kerumahnya Dania lebih banyak diam, ia agak kesal karena Nanta harus ke Amerika bulan depan, tidak kasih info lagi, walaupun belum cinta tapi komunikasi itu perlu, pikir Dania.


"Melamun, kenapa?" tanya Nanta sekilas menoleh pada Dania yang wajahnya sedang irit senyum.



"Kok aku kesal ya dengar Mas Nanta mau ke Amerika." gumam Dania nyaris tidak terdengar.


"kok lucu." Nanta terkekeh.


"Apanya yang lucu?" Dania melengos tambah kesal.


"Iya lucu saja, aku kan tugas negara, bukannya liburan, malah kesal. Yang lucu lagi tuh kamu kayanya makin hari makin posesif deh." Nanta kembali terkekeh.


"Posesif bagaimana sih, jelas-jelas kita baru kenal, belum juga dua minggu." kata Dania menyangkal.


"Nah itu, belum dua minggu saja kamu sudah kesal aku ke Amerika. Mau melarang?"


"Mana bisa melarang, orang tua Mas Nanta saja mengijinkan." ketus Dania.


"Tau ah." Dania bergaya merajuk. Nanta melirik Dania sambil tersenyum. Biar saja merajuk, mau bagaimanapun tetap saja Nanta harus berangkat.


Nanta menghentikan kendaraannya didepan rumah Nek Pur, ia memandang Dania yang setelah merajuk itu diam sepanjang jalan.


"Jadi bagaimana? berubah pikiran?" tanya Nanta sebelum Dania turun dari mobil.


"Berubah pikiran apa?" tanya Dania bingung.


"Kamu marah kan aku ke Amerika? tadi kan sudah aku bilang akan sering begini, keluar negeri atau keluar kota dalam waktu yang lumayan lama. Pikir lagi deh mau diteruskan apa tidak." tegas Nanta pada Dania.


"Aku maunya semua berjalan lancar, kita seiring sejalan, senada seirama, karena kamu tahu kan kondisi keluarga Papa kamu, Mama sama Papa kamu saja bisa dibikin pisah." kata Nanta panjang lebar, Dania terkesiap mendengarnya.


"Aku bukan kesal karena Mas Nanta berangkat." kata Dania memandang Nanta.


"hmm..." Nanta bersedekap menunggu lanjutan alasan Dania.


"Aku kesal karena Mas Nanta tidak bilang akan berangkat begitu dapat surat. Padahal kita sudah satu mobil, sepanjang jalan ngobrol banyak, malah aku tahunya di kantor Papa." lanjut Dania dengan bibir mengerucut.


"Harusnya bagaimana?"


"Kasih tahu aku begitu dapat berita, aku kan calon istri Mas Nanta."


"Itu ilmu dari Wilma lagi?" tebak Nanta sambil tertawa. Dania menganggukkan kepalanya.


"Wilma benar-benar mempengaruhi kamu ya?"


"Jangan bawa-bawa Wilma dong, kan sekarang masalahnya ada di Mas Nanta."


"Kenapa di aku?"


"Mas Nanta belum anggap aku calon istri kan? Jadi aku belum masuk prioritas utama dalam hidup Mas Nanta. Aku mengerti sih, keputusan ini terlalu cepat, tiba-tiba saja kita diminta menikah. Kemarin itu aku juga sudah minta Mas Nanta untuk lupakan permintaan Papa, tapi Mas Nanta sendiri yang tetap mau maju." cerocos Dania, menghela nafas.


"Kalau sudah memutuskan untuk maju, boleh dong aku minta diprioritaskan, walaupun Mas Nanta belum ada rasa sayang atau cinta sama aku." kata Dania mengeluarkan unek-uneknya. Nanta mendengarkan dengan seksama.


Hening...


"Terima kasih sudah antar aku." Dania bersiap untuk turun dari Mobil dengan perasaan campur aduk. Bingung sendiri kenapa ia jadi menuntut banyak pada Nanta. Minta perhatian betul sih, Dania ingin menepuk dahinya tapi masih ada Nanta.


"Dan..." tangan Dania ditahan Nanta.


"Maaf, ini yang pertama buat aku, sedekat ini dengan perempuan yang baru aku kenal, lalu tiba-tiba sekarang jadi calon istri aku. Aku terbiasa sendiri, jadi tidak tahu kalau hal seperti ini penting untuk kamu." Nanta tersenyum menatap Dania.


"Lain kali aku akan jadikan kamu yang pertama kali tahu, aku juga belum kasih tahu Mama. Papa juga baru tahu tadi kan diruangan Om Micko, karena memang biasanya begitu, kalau dapat pengumuman aku infokan saat kami kumpul di meja makan." Nanta terkekeh.


"Pelan-pelan kasih tahu aku apa saja yang kamu mau supaya tidak kesal-kesalan. Banyak hal mesti kita diskusikan, belum lagi masalah pisah kamar. Aku belum mau punya anak dulu karena kita masih kuliah, kamu bagaimana?"


"Bunda Kiki waktu hamil Bang Raymond seumuran aku." kata Dania cepat tapi tiba-tiba wajahnya tampak seperti kepiting rebus.


"Berarti setelah menikah kita tetap satu kamar ya." Nanta terkekeh.


"Ini ilmu dari Wilma juga pasti, karena aku tahu dia sangat mengidolakan Ayah dan Bunda." kata Nanta tertawa.


"Wilma terus sih."


"Loh jadi bukan karena Wilma?"


"Bukan." Dania menggelengkan kepalanya.


"Memang kamu yang mau cepat bikin anak ya?" tanya Nanta polos.


"Ish Mas Nanta apa sih." Dania buru-buru keluar dari mobil meninggalkan Nanta dengan wajah seperti udang rebus.