I Love You Too

I Love You Too
Ganteng



"Papa tidak bisa hadir acara Ando, Boy. Nanti jam sepuluh harus ke Surabaya." kata Kenan pada Nanta saat sarapan pagi.


"Mendadak sekali."


"Sebenarnya kemarin sore semua sudah tahu, kamunya saja yang pulang malam." Kenan terkekeh.


"Aku pulang sudah di kamar semua." Nanta tersenyum pada Papa.


"Papa ke Surabaya sendiri?" tanya Nanta lagi.


"Sama Ayah." jawab Kenan.


"Ayah tidak bilang aku padahal sore kemarin kami bersama." protes Nanta.


"Opa yang minta, Ayah ikut juga ke Surabaya. Kenapa sih komplen terus?" Nanta terbahak mendengar pertanyaan Papanya.


"Bawaan orok mungkin." jawab Nanta disela tawanya.


"Mamon tidak ikut?" tanya Dania.


"Padeh mau datang, sedang dijemput Pak Atang." jawab Nona pada Dania.


"Aish, Padeh mau datang saja aku tidak tahu." Nanta memonyongkan bibirnya.


"Aban sih puangna ma'am." Balen tertawakan Abangnya.


"Iya ya, nanti juga pulang malam lagi. Setelah acara Ando, aku langsung latihan basket." lapor Nanta pada semuanya.


"Atu itut batet don." pinta Richie pada Abangnya.


"Kamu mau latihan basket juga?" tanya Nanta pada adiknya.


"Mo don, atu mo jadi atet juda taya Aban." jawab Richie mantap.


"Atlet Basket?"


"Iya, batet aja."


"Katanya mau jadi atlet renang." Nona menggoda Richie.


"Beenang juda boehlah, apa aja lah atet nani juda boeh." jawab Richie asal.


"Mana ada atet nani Ichie, itu sih masut tipi nani agu agu atis itu." Balen menjelaskan.


"Ichie mau jadi artis apa Atlit sih?" tanya Kenan tertawakan Richie.


"Atu tan maen bastet sambil nani." jawabnya mantap. Semua tertawakan Richie.


"Oh Atlit nyanyi tuh maksudnya begitu ya, main basket sambil nyanyi?" Nanta masih saja tertawakan adiknya.


"Napa sih tawa, ndak boeh emanna?" tanya Richie bingung.


"Boleh saja, siapa yang larang sih. Keren deh pasti kalau kamu giring bola sambil bernyanyi." Nanta acungkan jempolnya.


"Jadi atu boeh itut ndak?"


"Ikut apa?"


"Itut Baban batet nanti soe."


"Nanti Abang jemput kamu deh, tidur siang ya supaya tidak rewel." pesan Nanta pada adiknya.


"Mana bisa tidur, nanti ada Opa Baron." bisik Nona pada Nanta.


"Eh Ichie nanti ada Opa loh, kamu mau tinggal?" tanya Nanta kemudian.


"Atu ajak ajah ama Baban maen batet." kata Richie pada Nanta.


"Tidak usah dijemput si Richie, Nan. Paling Opa yang antar Richie kelapangan nanti, itu juga kalau Richie tidak berubah pikiran." kata Nona pada Nanta.


"Begitu saja ya Chie, kamu sama Opa susul Abang kelapangan." kata Nanta pada Richie.


"Ote. Sekaang atu itut Papa ya, bandala." pintanya pada Kenan.


"Boleh, kamu ditemani siapa? Nanti Papa berangkat Opa datang. Temani Opa sajalah dirumah." kata Kenan pada Richie.


"Atu ladi syuntut." katanya mengerutkan kening. Kenan tertawa mendengarnya.


"Gaya ah, masih bocah saja suntuk." Nanta tertawakan adiknya.


"Semuana olan besal pedi sana pedi sini, anak tecil diumah teus." Balen ikut komplen.


"Jadi maunya bagaimana?" tanya Kenan pada kedua anaknya.


"Tita pedi juda, janan diumah teus bisa syuntut." jawab Richie pada Papanya.


"Ncusss dan yang lain dirumah terus tidak suntuk tuh." kata Nona pada Richie.


"Ncusss ndak syuntut ada atu ajak maen, dia juda maen titot sendiian, tawa-tawa sendiian, joded joded." lapor Richie, kembali semua tertawa mendengarnya.


"Kamu juga main TikTok ya?" tanya Nona pada bungsunya.


"Ndak lah, atu tan atet, maen boa don sama beenang." Richie gelengkan kepalanya.


"Permisi..." perhatian seisi rumah pada Richie teralihkan pada penjaga rumah yang masuk membawa bungkusan lalu berikan pada Nanta.


"Oh sudah datang ya, orangnya masih diluar Pak?" tanya Nanta.


"Sudah pergi lagi." jawab penjaga rumah.


"Apa tuh Aban?" tanya Balen pada Nanta.


"Celananya Kak Dania untuk acara Bang Ando." jawab Nanta pada Balen.


"Ganti bajunya sekarang saja, sebentar lagi kita jalan." kata Nanta pada istrinya.


"Iya." Dania menurut.


"Papa, Mamon aku ganti baju dulu." pamit Dania pada mertuanya, Kenan anggukan kepalanya.


"Ini ada dua pakai yang mana?" tanya Dania takut salah lagi saja.


''Coba saja dulu." jawab Nanta.


"Temani dong, Nanti Dania pakai yang satu kamu suruh ganti lagi." kata Nona pada Nanta. Dania menahan tawa, Mamon seperti mengerti saja. Nanta jadi nyengir lebar.


"Aku ke kamar dulu ya." pamit Nanta, Kenan jadi senyum sendiri melihat Nanta dan istrinya.


"Atu tapan sih puna isti?" tanya Richie pada Nona.


"Duh ketularan Balen." desis Nona menatap suaminya.


"Nanti, Boy. Kalau sudah besar dan sudah bisa cari uang sendiri." jawab Kenan pada Richie.


"Boina Papa masut tamal tuh." tunjuknya pada Nanta, Kenan jadi kembali tersenyum.


"Kamu itu Boy juga, Ichie." Nona mengacak anak rambut Richie.


"Semuana Boi, Baban Lemon Boi, baban Nanta Boi, masa atu juda Boi, sama-sama." protes Richie rupanya tidak mau disamakan.


"Jadi Papa call you apa dong?" tanya Nona.


"Tol me Ichie." jawabnya mantap, hanya mau dipanggil Ichie.


"Ote, Ichie Boi..." Balen tergelak menggoda Ichie.


"Baen..." Ichie besarkan kedua bola matanya, maksud hati mau melototi Balen.


"Iya Ichie Boi." jawab Balen kembali tergelak geli sendiri.


"Tamu janan macam-macam, nanti atu biangin aban Leyi loh tamu tesalna tenapa." ancam Richie pada Balen.


"Eh Ichie itu wahasia tita bedua. Tamu ih." kesal Balen karena Richie mau bocorkan rahasianya.


"So, don tol me boi." kata Richie yang mulai bisa bahasa Inggris.


"Iya. Ichie tamu danten deh." langsung rayu Richie bilang ganteng.


"Papa juga ganteng, cerita dong rahasianya apa." bisik Kenan pada Balen.


"Oh itu..." Balen mulai bisikkan sesuatu pada Kenan.


"Eh janan bisik-bisik don atu mo denal." kata Ichie pada Balen.


"Kalian ini kenapa sih." protes Nona.


"Mo tau ndak Mamon, Baen malah sama Aban Leyi tenapa?" Ichie langsung saja cengengesan menatap Balen.


"Susah deh ceita sama anak tecil." kata Balen kesal.


"Tamu ceita sama Papa." kata Richie pada Balen.


"Tamu eman tau Baen ceita apa? Butan yan itu tau." kata Balen polos, tadi dia memang bisikan cerita yang lain pada Kenan. Kenan jadi terbahak, tetap saja rahasianya disimpan Balen.


"Jadi apa yang kamu bisikkan ke Papon berbeda dengan rahasia itu?" tanya Kenan pada Balen.


'Iya don." jawab Balen bangga.


"Padahal Papa mau tahu rahasia kalian berdua." sungut Kenan merasa dikerjai Balen.


Soalna Aban Leyi sih ditu." Richie terkekeh.


"Ichie!!!" Balen membesarkan bola matanya.


"Tan atu cuma bilan ditu Baen." Richie membela diri.


"Gitunya kenapa si Larry, ganggu anak Mamon ya? awas saja besok kalau kesini tidak Mamon kasih masuk." Nona pura-pura marah.


"Mamon janan ditu, Aban Leyi mo ajain Baen beenang." bujuk Balen pada Nona.


"Terus kenapa dia bikin kamu kesal?" tanya Nona pasang wajah garang.


"Butan Aban Leyi yan saah Mamon. Baenna aja yan ladi tesel." kata Balen menghela nafas panjang.


"Kenapa bisa kesal."


"Yah abisna Aban Leyi sih ditu." bersungut sambil beranjak turun dari kursi makan.


"Ichie, mo maen ndak." ajaknya disusul Richie yang berlari mengejar Balen.


"Dasar, tetap saja rahasia." Nona terkekeh. Kenan ikut terkekeh.


"Bisik apa dia tadi?" tanya Nona.


"Papon ganteng, Abang Ganteng, Abang Larry juga ganteng." begitu katanya Kenan mengulangi bisikan Balen tadi yang terhenti karena Ichie mau ceritakan sesuatu pada Nona. Dasar anaknya Kenan.