I Love You Too

I Love You Too
Ke Jakarta



"Menurut Papa, bagaimana? kalau Mama sih oke saja " Nanta meminta pendapat Papanya mengenai hari pernikahannya.


"Minggu depan saja ya Boy? cuma kasihan kamu cuma satu malam tidur ditemani istrimu nanti, selanjutnya langsung masuk asrama." kata Kenan terkekeh.


"Tidak masalah sih Pa, malah rencana semula tinggal terpisah sampai lulus kuliah kan." Nanta santai saja menanggapinya.


"Apa iya tidak masalah?" Nona menggoda Nanta.


"Barusan kulihat ekspresi Balen diwajah Mamon loh." Nanta terbahak ingat Balen tadi sore.


"Iya lah anakku." jawab Nona terbahak.


"Butan." jawab Balen sambil mengunyah makannya.


"Anak siapa kalau bukan anak Mamon?" tanya Nona.


"Anak Aban." jawabnya terkekeh, ia malah menggoda mamonnya.


"Ya sudah sana ikut Abang." kata Nona pura-pura merajuk.


"Itut Amika ya, Ban." kata Balen senang, Kenan terbahak mendengarnya, masih saja minta ikut ke Amerika.


"Kopernya tidak muat untuk masukkan Balen." jawab Nanta membuat semua terbahak.


"Baen masuk topel?" tanya Balen dengan mulut ternganga.


"Iya kan tidak punya passport." jawab Nanta, aih Nanta cari gara-gara, padahal tadi sore Kenan senang mendengar Balen ingin menjaga Kak Dania kalau Abangnya berangkat.


"Papon, mana papot Baen?" tagih Balen pada Kenan.


"Ish si Abang ini mengingatkan saja." keluh Kenan pada Nanta. Nanta langsung menutup mulutnya, tidak sadar menyebut passport didekat Balen.


"Mesti diurus dulu kan, memangnya kamu kira toko buku begitu datang langsung dapat passport." Nona menjelaskan dengan gayanya.


"Uwusna dimana?" tanya Balen sok tahu.


"Di Imigrasi." jawab Nona.


"Imigasi mana sih? ayo Papon..." ajaknya bersiap mau ke Imigrasi.


"Sudah tutup jam segini, nak." jawab Kenan.


"Apamat masih buta sih Papon." katanya dengan dahi berkerut, semua terbahak lagi mendengarnya.


"Alfamart tidak jual passport." jawab Nanta menggoda Balen.


"yaaah... manasih, Baen mau bei juda." keluhnya.


"Katanya mau jaga Kak Dania, kenapa minta passport lagi?" tanya Kenan pada Balen.


"Oh iya, upa Baen." Balen menepuk dahinya, benar-benar membuat Nanta gemas dan kembali menyekapnya.


"Ah Aban, citain Papon nih." ancamnya membuat Nanta melepas sekapannya sambil terkekeh, Kenan dan Nona jadi terbahak Balen membuat Nanta mati gaya.


"Kapan mau telepon Oma?" tanya Nanta pada Papa.


"Kita telepon saja sekarang." jawab Kenan, menekan sambungan video group di handphonenya hingga handphone Nanta dan handphone Nona ikut berdering.


"Kita satu bertiga saja." kata Nona mematikan sambungan teleponnya.


"Aku dikamar saja ya, biar suaranya tidak bising." jawab Nanta.


"Kamu heningkan saja suaranya, dengarkan suara dari handphone Papa." kata Kenan pada Nanta. Nanta mengikuti arahan Kenan. Ia berdua Balen dalam satu camera.


Satu persatu wajah bermunculan, Oma, Opa, Ayah, Bunda, Bang Raymond, Kak Roma ditambah lagi Papa menyambungkan Mama dan Om Bagus.


"Duh yang mau menikah, sombong sekali tidak pernah telepon Oma." tegur Oma saat melihat wajah Nanta.


"Nanta kamu bikin Ame Enji patah hati loh." kata Kiki lagi saat melihat Nanta.


"Hahaha bisa saja Bunda, Oma Nanta sibuk persiapan Training Camp." jawab Nanta agar Oma tidak merajuk.


"Sibuk apa memangnya sampai lupa sama Oma." ketus Oma pada cucunya.


"Ih Oma kalau dekat Nanta peluk nih."


"Sinilah ke Malang, Oma juga rindu loh mau peluk kamu." sahut Opa cepat.


"Tidak bisa ke Malang. Kemarin Nanta sudah bilang Mama, pulang dari Amerika baru bisa ke Malang. Dua minggu di Indonesia Nanta berangkat lagi Ke Uni Emirate Arab." Nanta menjabarkan kegiatannya.


"Iya Ayah, ayo ikut." Nanta terkekeh.


"Baen mau itut." sahut Balen semua tertawa.


"Jadi bagaimana baiknya, Papa, Mama? Bang Micko minta jumat ini saja Nanta menikah, Kalau aku pikir Jumat depan saja. Menurut Mama, Papa dan Abang? Kalau Tari ikut saja kan?" Kenan mulai meminta pendapat orang tua dan Abangnya, juga Tari mantan istrinya.


"Apa bedanya jumat ini atau jumat depan?" tanya Reza pada Kenan.


"Bedalah, kita tidak tahu jadwal kerja Raymond disana bagaimana, Orangtua Tari apa mau diminta ke Jakarta mendadak begini? belum lagi melamar virtual ke London, Mamanya Dania." jawab Kenan.


"Orangtuaku tidak masalah, karena mereka kemungkinan tidak datang." jawab Tari, Kenan mengangguk mengerti, masih ada rasa marah orang tua Tari pada Kenan dan keluarganya.


"Ray juga tidak masalah Om, hanya ke Jakarta beberapa hari." jawab Raymond.


"Seminggu di Jakarta, boleh kan Ayah?" pinta Roma pada Reza.


"Eits bossnya siapa, bukan Ayah lagi." kata Reza terkekeh.


"Om Kenan boleh kan seminggu di Jakarta." Roma rusuh membujuk Kenan agar libur lebih lama.


"Boleh." jawab Kenan, Roma bersorak senang.


"Tata Yoma, bobo sama Baen ya." kata Balen ikut senang.


"Semua disuruh bobo sama kamu, bagaimana sih." Nona mencubit Pipi Balen gemas.


"Ih Mamon nih natal." Balen menghapus pipinya.


"Kalau Nanta saja yang cubit, tidak pernah dibilang Nakal." Nona terkekeh melihat Balen.


"Mamon sayang tahu." kata Nanta pada adiknya.


"Baen juda sih." katanya menghampiri Nona dan menciuminya. Nona tersenyum saja, pipinya basah sudah karena ciuman Balen.


"Balen, Oma juga mau dicium dong." kata Oma melihat Balen.


"Oma jatata duu don" kata Balen membuat semuanya terkekeh.


"Nah jadi tidak ada masalah kalau minggu ini Nanta menikah ya, sebaiknya kamu koordinasi dengan Mamanya Dania, boy." kata Kenan pada Nanta.


"Iya, besok Dania kabari aku." jawab Nanta.


"Dek, kamu serius kah De, muda sekali sudah menikah." Raymond seperti tidak percaya keputusan Nanta menikah muda.


"Jangan provokasi, Boy." kata Reza pada Raymond.


" Aku tidak percaya saja Ayah, Nanta gitu loh." kata Raymond lagi.


"Hehehe gara-gara Oma sih." Nanta menyalahkan Oma.


"Ih kenapa Oma, kamu kan yang menjalankan." kata Oma tidak mau disalahkan.


"Oma bilang kalau ketahuan pegangan tangan aku dinikahkan."


"Iya lah, habis pegang tangan kalau didiamkan bisa merembet ke yang lain, cium pipi, cium yang lain. Lebih baik dinikahkan saja." jawab Oma.


"Aban tium Tania Oma." teriak Balen yang sedang dipangku Kenan.


"Eh Singkong Rebus, memangnya kamu lihat?" Nanta melotot pada Balen, Kenan dan Nona terbahak dibuatnya.


"Tan Aban tepon Tania tium ditu." kata Balen tidak mau disalahkan Abangnya.


"Nanta!!! sudah jumat ini saja menikahnya, gawat ini." kata Oma pura-pura marah, walaupun rasanya ingin tertawa juga melihat ekspresi Nanta. Semuanya terbahak, riuh sekali suasana saat itu, semua berebut ingin menggoda Nanta yang memerah wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Repot ini bicara ditelepon dekat Balen, pikir Nanta.


"Ken, besok saat lamaran virtual langsung kamu sampaikan saja supaya mereka menikah jumat ini, besok malam kami ke Jakarta." kata Opa pada Kenan.


"Wah cepat sekali Papa ke Jakarta." Kenan terkekeh, senang menyambut kehadiran Papa dan Mamanya.


"Kita hari kamis malam ke Jakarta." kata Bagus menginfokan jadwalnya.


"Asik aku dan Dania yang jemput deh Nanti." kata Nanta senang.


"Tidak ya, kamu dan Dania tidak boleh bertemu sampai halal." tegas Tari pada bujangnya.


"Ah Mama." Nanta terkekeh jadinya, Mama mulai ketularan Oma.