
"Aku sudah setor banyak modal untuk usaha ini, kalau aku minta kembalikan modalnya kasihan Kevin harus cari investor baru." kata Nona pada Kenan.
"Berapa banyak modal yang sudah kamu setor?" tanya Kenan, Nona menyebutkan sejumlah uang yang lumayan besar pada suaminya.
"Sementara kamu bisa sebagai penanam modal saja, tidak usah terjun langsung. Selanjutnya bicarakan saja pada Kevin, akan kembalikan modalmu pelan-pelan atau bagaimana bagusnya." kata Kenan pada Nona.
"Raymond mau tidak ya bantu Kevin, gantikan aku?" Nona tampak berpikir.
"Apa kamu tidak punya kandidat lain?"
"Ada."
"Siapa?"
"Mas Kenan, hahaha." Kenan terkekeh mendengarnya.
"Bisa tambah sibuk saya." kata Kenan pada istrinya.
"Kan aku ikut terus kemana Mas Kenan pergi, bagaimana?" Nona menaikkan alis matanya.
"Kenapa bukan Wawan saja?"
"Tante Gadis selalu ikut campur apa yang Wawan kerjakan. Malah bikin repot, bukannya membantu." sungut Nona kesal ingat Tante Gadis. Kenan hanya tersenyum lebar, tak ingin membahas Tante Gadis lebih lanjut.
"Saya tahu siapa yang bisa bantu bisnis kamu dan Kevin." kata Kenan kemudian.
"Siapa?"
"Bagus."
"Mas Bagus suami Mbak Tari?"
"Hu uh, dia biasa handel banyak event waktu di kampus dulu. Ajak saja Bagus bergabung, saya rasa Bagus tidak akan keberatan kalau kamu rekrut dia."
"Nanti aku bahas sama Mas Ke.. eh sama Kevin?" Nona menutup mulutnya karena salah bicara, pikirannya pada Kenan terus jadi jadi salah ucap.
"Mas Kevin???" Kenan mencibir kesal. Untung saja Baron meminta Nona untuk berhenti dan tidak melanjutkan kerja sama mereka.
"Salah bicara, di otakku Mas Kenan terus." kata Nona jujur. Tetap saja meski tahu begitu Kenan terlanjur kesal mendengarnya.
"Mantan kamu ada berapa sih?" tanyanya mulai mencari tahu siapa saja mantan Nona, mengingat Nona mudah sekali menjadikan mantannya sahabat.
"Aku lupa." jawab Nona sambil mengingat siapa saja mantan pacarnya.
"Banyak betul sampai lupa?"
"Semua kujadikan teman sampai lupa kalau kami pernah pacaran." jawab Nona polos. Tambah kesal saja Kenan mendengarnya.
"Mulai sekarang selain Kevin tidak boleh berteman dengan mantan." ketus Kenan pada Nona.
"Kenapa begitu?"
"Kamu ijinkan saya berteman dengan Sheila?" tanya Kenan menatap Nona dengan wajah tidak ramah.
"Kalian pakai hati, mana boleh berteman."
"Saya mana tahu, kamu dan mantanmu pakai hati apa tidak." dengus Kenan kesal.
"Nanta di Jakarta, dia tidak akan tahu kalau kamu tidak cerita. Jadi boleh ya?"
"Dasarnya Mas Kenan saja yang tidak bisa lupakan Sheila."
"Kata siapa?"
"Kata aku, buktinya Mas Kenan masih mau berteman dengan Sheila."
"Kamu juga berteman dengan Kevin dan mantan kamu yang lain, yang tidak saya kenal. Kalau kamu lagi jalan sama cowok apa saya tahu itu mantan kamu apa bukan? karena semua kamu bilang sahabat. Saya sama Sheila juga sahabat, saya larang kamu sama yang lain berteman kamu keberatan kan? Padahal saya masih berbaik hati mengijinkan kamu berteman dengan Kevin."
"Kamu juga lupa mantan kamu siapa saja, bikin kesal saja." omel Kenan lagi.
"Ah kenapa jadi ribut karena mantan sih? mereka mungkin malah lagi happy-happy. Mas Kenan kalau mantan itu ya mantan, tapi kalau kasih tak sampai berkedok sahabat itu yang bahaya."
"Apa bedanya mantan sama kasih tak sampai?"
"Bedalah, mantan itu sudah putus, kenapa putus? karena tidak cocok. Kalau kasih tak sampai bukannya masih penasaran dan ada rasa penyesalan kenapa tidak jadi sama dia." jawab Nona dengan kening berkerut.
"Buktinya Mas Kenan rela pisah sama Mbak Tari dulu karena masih berharap dengan kasih tak sampai kamu itu. Jadi jangan samakan cerita tentang mantanku dengan kisah kasih tak sampai kalian itu!!! Mas Kenan juga setiap hari bertemu Mbak Tari, jelas-jelas mantan istri, punya anak lagi. Beda kan rasa mantan sama kasih tak sampai???" tegas Nona ikutan kesal.
"Jangan cari alibi ingin dekat lagi dengan Sheila bawa-bawa mantan aku. Menyebalkan!!!" Nona segera turun dan membanting pintu Mobil dengan keras begitu Kenan memarkirkan kendaraannya di depan rumah. Kenan tertegun dibuatnya, kenapa jadi Nona yang marah, pikir Kenan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kenan turun dari Mobil menyusul Nona ke dalam. Bi Wasti sedang memasak, aromanya tercium hingga ruang keluarga. Kenan langsung masuk ke dalam kamar mencari keberadaan istrinya, gampang sekali meledak emosinya, padahal aku yang lagi kesal, pikir Kenan. Tidak tampak sosok Nona didalam kamar, dicari ke kamar mandi pun tidak ada.
Malas ribut lagi, Kenan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan dan langsung ke ruang kerjanya mengecek pekerjaan yang tertunda. Lebih baik kerja toh dari pada pusing pikir yang tidak-tidak. Banyak betul mantannya Nona sampai dia lupa ada berapa, pikir Kenan kesal lagi dan menarik nafas panjang.
Bi Wasti mengantarkan makan siang Nona ke rooftop tempatnya menenangkan diri saat ini, sesuai pesan Nona tadi saat baru sampai dan langsung naik keatas.
"Bapak makan disini juga, Non?" tanya Bi Wasti pada Nona yang sedang asik memainkan handphone menggunakan headset ditelinganya.
"Oh Bapak makan dibawah, Bi." jawab Nona senatural mungkin tidak ingin Bi Wasti tahu ia sedang emosi dengan suaminya.
"Tumben makannya pisah." Bi wasti mulai kepo.
"Saya lagi butuh inspirasi. Jadi harus disini dulu."
"Lagi bikin novel toh Non? butuh menyendiri." tanya Bi Wasti membuat Nona pusing ditanya-tanya terus, padahal ia ingin menyendiri.
"Hu uh." jawab Nona mengangguk setelah menatap Bi Wasti dengan ekspresi tinggalkan saya sendiri!
Berhasil, Bi Wasti segera meninggalkan Nona sendiri di rooftop. Bi Wasti mengantarkan makan siang Kenan keruang kerjanya, setelah melihat Kenan duduk didepan laptop saat melewati ruang kerja Kenan.
"Nona mana, Bi?" tanya Kenan heran melihat Bibi yang membawakan makanannya.
"Makan di rooftop, Pak. Lagi cari inspirasi katanya." jawab Bi Wasti apa adanya. Kenan terkekeh melihat ekspresi Bi Wasti yang tidak tahu kalau majikannya sedang pura-pura sibuk karena saling kesal.
Sampai sore, Nona belum juga muncul, padahal Kenan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan terbangun dari tidur siangnya. Apa tidak sholat diatas terus, pikir Kenan mengingat tidak ada mukenah di rooftop, Walaupun ada tempat yang bisa dipakai untuk sholat dan toilet berikut keran untuk berwudhu.
Berhubung emosi Kenan sudah mulai reda dan ia menyadari kekonyolannya karena emosi yang tidak jelas hanya karena Nona salah ucap, maka setelah mandi dan sholat ashar, Kenan menyusul istrinya ke rooftop. Tampak Nona sedang berdiri di pagar rooftop sambil menikmati pemandangan ke bawah. Terlihat taman bermain yang sudah disediakan komplek perumahan yang sepi, belum tampak anak-anak kecil bersepeda ataupun bermain ayunan.
Kenan segera mengurung badan Nona dengan kedua tangannya, meletakkan dagunya pada leher istri yang sedang emosi, Nona sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya, ia tidak mendengar langkah kaki Kenan karena sedari tadi telinganya menggunakan headset mendengarkan murotal untuk menenangkan diri, ia tidak ingin emosinya meledak berlebihan seperti biasanya.
Terima kasih untuk semua bentuk support, baca, like, komen, vote, hadiah dan lainnya. I Love you all 💕