
Kenan masuk ke ruangan Tari begitu selesai menghubungi Farhan. Ia memberikan informasi tentang Sheila pada Farhan sedetail mungkin berikut nomor handphone Sheila yang ia dapat dari Nanta. Selanjutnya biar Farhan dan Sheila yang menyelesaikan urusan rumah tangga mereka.
"Dari mana sih?" tanya Mama Nina ingin tahu.
"Melihat Sheila ternyata sedang dirawat disini juga." jawab Kenan santai, sementara Mama Nina membesarkan bola matanya, kode agar Kenan tidak cari masalah.
"Saya sudah hubungi Farhan." kata Kenan pada Nona, kemudian tersenyum pada Mama yang tampak khawatir.
"Bagaimana? Mas Farhan ke Malang?" tanya Nona.
"Sepertinya iya." jawab Kenan tersenyum lebar. Mama Nina menarik nafas lega, sepertinya tidak akan terjadi baku hantam begitu mendengar percakapan Nona dan Kenan.
"Kalian masih berhubungan?" tanya Tari dengan wajah sedikit kesal. Ia teringat masa lalu yang menyebalkan, tapi juga bingung kenapa Nanta yang menjemput Kenan menemui Sheila.
"Tidak, baru bertemu tadi. Tenang saja saya hanya menyelesaikan sedikit Masalah, Nona dan Nanta mendukungnya." Kenan menjelaskan.
"Syukurlah, jangan sampai rusak kebahagiaan kita ya Non." kata Tari pada Nona.
"Hahaha tenang saja Mbak Tari. Mas Kenan hanya membantu orang kemudian Nanta membantu Papa." kata Nona membela Kenan. Tari menganggukkan kepalanya sementara Papa Dwi dan Bagus menyimak.
"Kami pamit ya Tar, kamu mesti istirahat juga." kata Mama Nina pada Tari, mereka sudah cukup lama disana.
"Oh iya Ma, Pa. Terima kasih sudah datang." kata Tari sambil berusaha bangun dari duduknya. Mama memeluk Tari disusul Papa, bagaimanapun Tari sudah seperti anak mereka sendiri.
"Sudah tidak usah diantar." kata Mama Nina menepuk bahu Bagus yang akan mengantar mereka keluar.
"Saya antar Mama dulu, Nanta biar saja disini, nanti sore Saya dan Nona jemput." kata Kenan ikut pamit. Begitu Oma dan Opa keluar, gantian Raymond dan Roma yang masuk untuk berpamitan.
"Kamu disini dulu kan Nan? Nanti sore Papa jemput." kata Kenan pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta santai.
"Papa sudah hubungi keluarganya?" tanya Nanta pada Kenan.
"Sudah, tadi Papa hubungi suaminya." jawab Kenan yang sudah tahu maksud pertanyaan Nanta, ia menepuk bahu anaknya.
"Kalau mau menginap disini kabari juga, nanti Papa bawakan baju ganti." kata Kenan pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta kemudian masuk kedalam kamar rawat menemui Mama, Om Bagus dan Adik bayinya.
"Kita kemana lagi nih Om?" tanya Raymond pada Kenan begitu semua sudah di mobil.
"Kerumah Baron saja yuk." ajak Papa Dwi yang sepertinya belum mau pulang.
"Let's go." kata Nona terkikik geli sendiri.
"Senang sekali yang mau bertemu Papanya." kekeh Raymond melihat Nona dari spion.
"Tahu saja kamu Ray." kata Nona tertawa, Kenan ikut tertawa melihat istrinya bahagia.
Mereka tiba dirumah Baron menjelang makan siang, sengaja tidak memberitahu Baron karena tidak mau merepotkan, sebelumnya mampir dulu ke Restaurant membeli lauk pauk untuk dimakan bersama di rumah Baron.
Kedatangan keluarga besan secara mendadak membuat Baron dan Mita sibuk meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan menu makan siang, karena sebentar lagi waktunya.
"Kami bawakan lauk kalian tidak usah masak lagi." kata Mama Nina terkekeh.
"Kenapa repot-repot, asisten sedang menyiapkan." kata Mita pada Mama Nina.
"Kenapa juga tidak bilang mau datang, Mita bisa siapkan makanan kesukaan Mbak Nina." kata Baron pada Nina.
"Sengaja biar kalian tidak repot." jawab Papa Dwi terkekeh.
"Mana ada repot, tiap hari pasti masak." jawab Mita tersenyum ramah.
"Nona, kamu sudah mau lahiran masih jalan-jalan saja." kata Baron melihat perut Nona seakan sudah mau tumpah.
"Masih bulan depan lahirannya. Papa dan Tante Mita nanti ke Jakarta kan?" tanya Nona pada keduanya.
"Nanti malam kami ke Jakartanya." jawab Papa yang masih saja sibuk dengan segala urusan bisnisnya. Kenan mengernyitkan dahinya, tumben sekali Baron ke Jakarta.
"Ada apa? kok tidak bilang mau ke Jakarta, kami malah kesini."
"Kalian juga tidak bilang mau kesini." gerutu Baron pada menantunya.
"Maksud hati mau kasih surprise." Kenan terkekeh memandang Bang Baronnya itu.
"Gagal kan jadinya. Kalian kapan kembali Ke Jakarta?" tanya Baron.
"Ya kalau Bang Baron ke Jakarta malam ini, berarti besok malam kami kembali bersama Nanta, Mama dan Papa." jawab Kenan pada mertuanya.
"Tentu saja boleh, pesawat jam berapa, nanti Pak Atang yang jemput Bang Baron dan Mbak Mita." kata Kenan tertawa, banyak sekali drama mertuanya ini. Pakai tanya boleh menginap apa tidak. Baron menyebutkan jam keberangkatannya.
"Dari mana tadi? tumben sekali ini serombongan." tanya Baron penasaran.
"Menjenguk Tari lahiran, terus kesini deh." jawab Mama Nina.
"Ke Malang hanya menjenguk Tari, kalau Tari tidak lahiran mereka tidak lihat Kita." dengus Baron melirik Mita.
"Mulai drama. Kami sekalian menemani Nanta, kebetulan senin hari kejepit. Tapi karena Abang saya jadi berubah rencana." kata Kenan ikutan drama. Baron terkekeh.
"Mau sholat dulu apa makan dulu?" tanya Baron begitu adzan berkumandang.
"Sholat dulu saja." jawab Papa Dwi kemudian beranjak menuju toilet.
Sementara yang laki-laki sholat dimesjid, para wanita juga ikut sholat dirumah. Mereka sholat berjamaah, Mama Nina menjadi Imamnya.
"Alhamdulillah bisa berjamaah sama Mama." kata Nona mencium tangan Mama.
"Iya aku juga baru kali ini berjamaah sama Oma." jawab Roma, Mama Nina tertawa saja.
"Perut Nona besar sekali ya, Mama pikir ini kembar." Mama Nina kembali tertawa membelai perut Nona.
"Ray juga kira kembar Oma." Roma ikut-ikutan nyelutuk.
"Tidak, sudah berapa kali usg tidak terlihat kembar, jangan pada maksa deh." Nona tertawa ikut membelai perutnya.
"Bisa saja yang satu ngumpet, Non." kata Mita sedikit mengernyit.
"Tante lagi ikutan maksa."
"Aamiinkan saja siapa tahu jadi kenyataan." kata Mama Nina lagi.
"Aamiin." Nona mengangkat kedua tangannya. Roma tertawa saja dibuatnya.
"Kak Nona bagaimana rasanya hamil?" tanya Roma lagi sambil membereskan mukenah dan sajadah yang dipakainya.
"Engap." jawab Nona terkekeh kembali mengusap perutnya karena dirasa bayinya menendang di perutnya.
"Lucu sekali ada yang muncul." Roma terkikik melihat ada yang menonjol diperut Nona.
"Komplen kubilang engap." Nona ikut terkikik.
"Hamil itu rasanya enak sekali tidak engap." kata Roma kemudian, seketika bayinya tenang.
"Dasar ini adiknya Nanta, tidak bisa dikomplen sedikit." Nona tertawa sendiri jadinya.
"Aku juga mau hamil." kata Roma pada Nona.
"In syaa Allah nanti juga hamil. Nikmati saja sekarang, belum dua tahun juga menikah. Ray dan kamu masih muda ini, tidak ada yang dikejar. Kalau aku sama Mas Kenan kejar tayang." kata Nona pada Roma.
"Kejar tayang apa?" tanya Kenan yang sudah kembali dari mesjid.
"Setelah baby lahir, mau hamil lagi. Targetku kita punya dua anak." jawab Nona membuat Kenan membesarkan bola matanya.
"Papa tidak mau?" Nona kembali merengek.
"Ish saya sudah bilang jangan panggil Papa dengan nada seperti itu." bisik Kenan sementara Roma terkikik geli. Oma dan Tante Mita sudah di meja makan sedari tadi.
"Jawab dulu, Papa mau tidak?" Nona masih saja merengek.
"Mau sayang, mau." Kenan mengelus rambut istrinya.
"Terima kasih Papa, I love you." Nona berteriak senang memeluk suaminya. Tentu saja mengundang perhatian yang lain. Sambil tertawa Roma berjalan lebih dulu kemeja makan.
"Tuh kamu membuat Roma risih." kata Kenan pada Nona.
"Ah Papa jawab dulu. I love you Papa."
"I love you too." jawab Kenan mengecup cepat bibir Nona. Sedikit gemas bisa-bisanya merengek manja dengan suara menggelegar.
"Kenapa sih heboh sekali?" tanya Baron ingin tahu.
"Minta punya anak lagi setelah melahirkan." jawab Kenan menggaruk kepalanya, sementara yang lain terbahak mendengarnya.
"Biar saja yang hamil kan Nona, kamu bagian enaknya saja." jawab Baron sambil tertawa.
"Ayo makan, saya lapar." kata Kenan dengan wajah memerah, entah kenapa tiba-tiba Kenan jadi pemalu begini.