
Acara akad nikah berlangsung dengan lancar dan mengharukan. Wilma yang tidak pernahnya terlihat menangis pagi ini terisak saat membaca ucapan terimakasih dan permohonan maafnya pada Mommy dan Daddynya. Kedua orang tua Wilma pun jadi ikut terisak.
"Duh aku jadi terharu." Bisik Dania pada suaminya.
"Hu uh." Nanta menganggukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca.
"Kok sedih sekali sih." Ah istrinya mulai melankolis. Nanta tersenyum merangkul Dania. Maklum Ibu hamil cepat sekali melow walaupun memang suasana sakral hari ini sangat mengharukan. Tidak terlihat Wilma yang tomboy dan semau gue. Cepat sekali berubah, padahal baru berapa hari yang lalu bicara ditelepon minta angpau dimuka. Untung saja mukanya tidak seperti angpau hari ini, pikir Nanta tertawa sendiri.
"Kenapa tertawa sendiri?" tanya Dania pada Nanta.
"Lihat Wilma lucu deh, tidak kelihatan tomboy hari ini." jawab Nanta. Dania anggukan kepalanya setuju, Wilma memang tampak beda hari ini.
"Cantik ya Wilma." gumam Dania tersenyum memandang sahabatnya yang penuh ide saat ia sedang berusaha mendapatkan hati Nanta. Kalau tidak ada Wilma apa bisa Nanta jadi suamiku, Dania jadi pandangi suaminya dan pandangi Wilma bergantian.
"Kenapa?" tanya Nanta bingung.
"Kalau tidak ada Wilma kita bisa seperti ini tidak ya?" Dania tersenyum pada suaminya.
"Bisa saja, semua kan sudah diatur Allah, kebetulan Wilma yang jadi perantara. Senang kan punya suami aku?" mulai tengil lagi suami Dania.
"Senang." jawab Dania terkekeh.
"Alhamdulillah aku juga senang." jawab Nanta menggenggam jemari istri.
"Sah!" teriak para hadirin membuat percakapan Dania dan Nanta terhenti, Ando dan Wilma sudah sah menjadi suami istri. Tercapai cita-cita Wilma menikah muda seperti Bunda Kiki.
Rombongan Bunda Kiki tampak duduk manis didalam, begitu juga Papi Mario dan yang lainnya, hanya Ayah Eja tidak hadir karena menemani Papa keluar kota.
"Hai Nan." sapa Chico yang baru keluar, Nanta dari tadi memang belum masuk, ia duduk disebelah Arkana bersama Romi juga.
"Bang Chico dari tadi di dalam terus." Nanta menyalami Chico.
"Iya tuh Ando tegang, tidak ada yang temani, kamu sih tidak masuk." kata Chico pada Nanta.
"Gue tahan disini, elu kan lagi kasih dia training." kata Arkana pada adiknya.
"Training apa sih, hanya menemani saja didalam, training kan bagian elu." Chico terbahak.
"Jadi elu ama Naka ngapain saja di dalam?" tanya Arkana heran.
"Ngobrol biasa saja, biar Ando santai." jawab Chico.
"Aish, gue kira sekalian kasih training. Nan nanti temani gue kasih training singkat sama Ando, elu masih ingat kan apa yang gue ajari?" kata Nanta membuat Nanta nyengir lebar.
"Aku belum bisa jadi guru ah, Bang Atan saja." kata Nanta tertawa.
"Kita berdua deh, Romi lagi teler soalnya." Arkana menepuk bahu Romi yang mulai mengantuk.
"Sana kembali kekamar." kata Arkana pada Romi.
"Iya gue tidur dulu ya, ngantuk berat nih." pamit Romi pada semuanya.
"Iya." jawab yang lain lambaikan tangan pada Romi.
"Kasihan betul Kak Anggita, Wilma menikah tapi lagi tepar." kata Nanta pada Arkana.
"Anggita kuat kok." kata Sarah pada Nanta.
"In syaa Allah." jawab Arkana tersenyum mengangkat alisnya.
"Foto keluarga tuh, Bang." tunjuk Nanta, semua sudah berbaris rapi didekat Ando dan Wilma. Arkana dan Chico segera beranjak.
"Ayo sayang." Ajak Arkana pada Sarah ia menggandeng istrinya dengan mesra.
"Mereka so sweet sekali." bisik Dania pada Nanta.
"Memangnya kita tidak?" tanya Nanta tertawa.
"Tidak tahu, kan kalau kita aku tidak bisa lihat." jawabnya pada Nanta.
"Tapi kan bisa merasakan." kata Nanta sambil matanya berkeliling mencari keberadaan Papa Micko yang belum terlihat.
"Iya." jawab Dania, main iya saja.
"Mas Nanta cari siapa?" tanya Dania.
"Papa Micko kok belum datang, ini staff kesayangannya loh yang nikah." kata Nanta pada Dania.
"Macet boy." jawab Micko yang ternyata sudah duduk disebelah Nanta.
"Papa sendiri?" tanya Nanta.
"Iya, Mama Lulu temani Oma Misha, Kakek Suryadi sakit." jawab Papa Micko.
"Sakit apa? dirawat?" tanya Dania khawatir pada Kakek Buyutnya.
"Tidak, dirawat dirumah saja. Demam dan sedikit sesak nafas."
"Mau besuk?" Nanta menawarkan.
"Jangan sekarang boy, terlalu ramai malah menganggu istirahatnya. Nanti malam saja." kata Micko pada Nanta.
"Ya sudah aku latihan basket dulu kalau begitu." jawab Nanta, tadinya mau batalkan latihan basket, karena Mike pun pasti akan besuk Kakek Suryadi.
"Latihan terus." Micko gelengkan kepalanya.
"Sekarang sih hanya mengawasi." jawab Nanta tersenyum.
"Dania bagaimana?" tanya Micko.
"Apa Tomson perlu standby? kalau Dania lelah bisa langsung antarkan pulang."
"Tidak usah Pa, aku memang mau lihat bagaimana sih latihan Mas Nanta." kata Dania pada Papanya.
"Baiklah, Kalau begitu setelah ini Papa ke rumah Kakek Suryadi deh." kata Micko.
"Loh tidak bareng aku nanti malam." Nanta jadi bingung.
"Nanti malam kamu sama Mike saja." kata Micko pada Nanta.
"Ya sudah." Nanta pasrah saja ikuti perintah mertuanya.
"Ayo kita salaman, sudah sepi tuh." kata Micko pada Nanta. Mereka bertiga pun masuk hampiri Ando dan Wilma. Tentu perjalanan tidak mulus karena Papa Micko sibuk berbasa-basi dengan yang lain, walaupun teman Papa Kenan dan Ayah Eja tapi semua kenal Papa Micko.
"Salaman dulu nanti ngobrol lagi." pamit Micko pada Arkana dan Mario.
"Kesini lagi ya Om, banyak yang harus kita bahas." kata Arkana pada Micko.
"Siap, tenang saja." jawab Micko, merangkul Nanta sementara Nanta merangkul Dania.
"Lucu sekali mereka." tunjuk Mario pada ketiganya yang saling merangkul.
"Nanta kesayangannya Om Micko." kata Arkana.
"Jangan salah Tan, Nanta kesayangan kita semua, terutama ini nih." tunjuk Erwin pada Mario yang terbahak mendengarnya.
"Jangan begitu, nanti Steve cemburu." kata Mario kembali terbahak.
"Aku juga cemburu dong." kata Arkana pada Mario.
"Apa yang mau dicemburukan?" tanya Mario terkekeh.
"Papi lebih sayang Nanta daripada kita." sungut Arkana.
"Aih Popomu ini, Papi sayang kalian semualah. Mana ada paling sayang." Mario langsung merangkul Arkana.
"Nah gitu dong, aku jangan diabaikan." kata Arkana terkekeh.
"Bisa juga dia cemburu sama Nanta, aku kira Steve yang akan cemburu. Kemarin malah Steve tampak santai." kata Mario pada Erwin dan Andi.
"Aku wakilkan Steve, Papi." jawab Arkana, mereka jadi terbahak.
"Mau bahas apa sama Micko?" tanya Mario pada Arkana.
"Urusan pekerjaan, Suryadi Corporate kan Om Micko yang pegang, kita ada kerja sama." jawab Arkana. Masih saja bahas pekerjaan saat weekend begini.
"Senin saja kenapa sih, ini weekend loh." Erwin mengingatkan Arkana.
"Iya hanya cocokan waktu kok." kata Arkana pada Poponya.
"Iya, pokoknya weekend jangan bahas pekerjaan, masa mau kerja terus." kata Erwin.
"Betul itu." kata Andi setuju.
"Micko, sini." panggil Andi menarik tangan Micko lalu mereka bicara serius berdua.
"Menurut Papi, Papa Andi bahas apa?" tanya Arkana.
"Bahas pekerjaan." Jawab Mario terkekeh.
"Dasar, aku saja dilarang, malah Papa Andi yang bahas." Arkana ikut terkekeh.
"Senin boleh Ndi, jam sembilan." kata Micko pada Andi.
"Ish Papa Andi bikin janji lebih dulu."
"Loh ini beda, silahkan kamu kalau mau." Andi tertawa geli.
"Om Micko jadi kapan?" tanya Arkana tembak langsung.
"Om kekantor kamu atau kamu yang ke kantor Om?" tanya Micko.
"Aku saja, kantor yang mana nih?" tanya Arkana.
"Syahputra dong, saya belum pernah ke Suryadi." jawab Micko tertawa, selama ini selalu minta Ando dan Tomson yang datang kesana. Kalau staff Suryadi butuh, mereka juga datangi Micko ke Syahputra.
"Parah, kapan mau kesana?" tanya Mario.
"Tunggu Nanta lah." jawab Micko.
"Eih Nanta sibuk di Warung Elite, bagaimana sih." protes Erwin.
"Hahaha betul ya berarti Nanta kesayangan semuanya." Arkana langsung terbahak, Nanta cengar-cengir saja. Yang pasti Popo memang benar Nanta sangat sibuk di Warung Elite. Walaupun terkesan santai.
"Seminggu sekali bolehlah datangi Syahputra, anak gue." kata Micko mulai nego mumpung Reza tidak ada.
"Boleh saat weekend." jawab Andi terkikik geli.
"Weekend kantor tutup Ndi, yang benar saja. Gue minta satu hari kerja deh setiap hari apa nih." kata Micko pada ketiga petinggi Warung Elite kalau sama Reza sudah pasti langsung ditolak.
"Sorry Micko, untuk setahun dua tahun kedepan Nanta jangan dipecah konsentrasi dulu." tegas Mario tersenyum jahil.
"Sama saja kalian sama Reza." gagal usaha Micko untuk Nego dengan petinggi Warung Elite. Mereka semua terbahak jadinya.
"Mike saja Pa." kata Nanta pada Papa Micko.
"Nantilah Papa pikirkan dulu, diotak Papa cuma kamu sih." jawab Micko kembali merangkul Nanta.