I Love You Too

I Love You Too
Berpaling



Acara konferensi pers berjalan lancar, tidak ada satupun yang membahas tentang Dania yang melepas cardigan saat menonton basket, Dania boleh menarik nafas lega, padahal sudah menangis saja sepanjang malam hingga pagi ini matanya masih terlihat bengkak. Dania baru berhenti menangis saat Nanta memintanya berzikir dan mengelus perutnya, kasihan sekali adek bayi kalau ikutan sedih seperti Mamanya.


"Dania minta ke Dubai." kata Deni pada Nanta saat Nanta selesai konferensi Pers.


"Ikuuut." Larry dan Mike langsung saja mendaftarkan diri. Terus saja menempel pada Deni yang katanya punya stok dokter muda yang masih single di Cirebon.


"Kalian kenapa sih mau ikut terus?" tanya Dini terkekeh.


"Kan kita keluarga Kak, jangan sombong begitu lah." kata Larry melemah, semua langsung terbahak, kasihan sekali Larry takut tidak diaku sebagai keluarga.


"Kita tanya dulu Pak Jaya, masih ada tugas tidak?" kata Doni pada semuanya, ia yakin semua rombongannya pasti mau ikut jalan ke Dubai.


"Ayo Don, ajak saja. Kalau muat semua keluarga rombongan naik bus saja." kata Mike pada sahabatnya.


"Kami naik mobil sewaan saja." kata Dania, tidak kuat jika harus naik Bus.


"Iya Dania biar di mobil, nanti mabok lagi." kata Doni pada yang lain, lalu berjalan menghampiri Pak Jaya, menanyakan apa lagi tugas mereka hari ini.


"Kata Pak Jaya semua kembali Ke Hotel dulu, Pak Jaya mau minta temani aku dan Nanta memenuhi undangan pengusaha Indonesia yang berada disini." kata Doni menyampaikan laporan hasil pembicaraannya dengan Pak Jaya.


"Jadi?" tanya yang lain bingung.


"Nanti sehabis Dzuhur baru kita ke Dubai." jawab Doni tegas.


"Siap Kapten." jawab yang lain menurut pada Doni.


"Jangan lama-lama kapt, nanti kapal oleng." kata Larry pada Doni.


"Otak lu yang Oleng." kata Mike membuat Larry kembali memiting lehernya, mereka berdua tertawa bersama, yang lain cengar-cengir saja melihatnya.


Sementara Nanta dan Doni menemani Pak Jaya bertemu dengan pengusaha yang dimaksud, Dania beristirahat di hotel bersama Dona, sedangkan Om Deni menemani Kak Dini berkeliling. Kak Dini memang tidak ada capeknya. Semangat sekali mengajak suaminya menikmati Kota Abu Dhabi, bahkan mereka sampai ke fish market. Hanya melihat-lihat kondisi pasar ikan dan setelahnya minum kelapa muda khas gurun pasir yang berwarna kuning.


"Nanti di Dubai suami kita mesti dijaga betul." kata Dona pada Dania saat dikamar.


"Memangnya kenapa?" tanya Dania bingung.


"Aku pernah dengar disini ada iklan lowongan mencari suami." Dona terbahak.


"Ih jangan sampai suami kita melamar lowongan itu, kasih saja sama Mike dan Larry." Dania ikut terbahak, mulai ketularan gilanya rombongan Nanta, Dania ini.


"Don, kamu kenal Doni dimana?" tanya Dania ingin tahu.


"Kami pacaran dari TK." jawab Dona terkekeh. Dania jadi terbahak, masa iya pacaran dari TK, ada-ada Dona ini.


"Betul loh Dan, kami berteman dari TK dan mengaku-ngaku sebagai pacar. Terbawa sampai besar." Dona menjelaskan.


"Bisa begitu ya, friend zone." Dania terkekeh.


"Kamu sama Nanta?" tanya Dona yang tidak tahu cerita.


"Kami kenalan dibandara waktu di Malang." jawab Dania tersenyum teringat kisah pertama pertemuannya dengan Nanta.


"Langsung naksir ya, hayo ngaku." tebak Dona sambil tertawa.


"Tidak, Mas Nanta awalnya agak judes tapi baik." kata Dania menyampaikan kesan pertamanya.


"Oh terus kenapa berlanjut?" tanya Dona.


"Mas Nanta Kirim aku pesan berharap bisa terus bertemu. Kalau tidak salah begitu deh." kata Dania kembali tersenyum.


"Wah Nanta dong yang duluan naksir kamu." tebak Dona senyam-senyum.


"Siapa yang tanya nomor handphone duluan?" tanya Dona.


"Mas Nanta sodorkan handphonenya minta aku tulis nomorku." Dona tertawa geli mendengarnya.


"Fixed Nanta yang suka kamu lebih dulu." kata Dona yakin. Dania mengedikkan bahunya tidak perduli.


"Mungkin sama-sama tertarik. Aku malah duluan minta nomor rekening Mas Nanta." kata Dania terbahak. Dona ikut terbahak, senang sekali membahas masa-masa pertama kali jumpa dengan suami mereka. Semua cerita mengalir begitu saja seperti sahabat lama. Dania tidak sungkan menceritakan apapun termasuk kenapa matanya bengkak menangis semalam. Dona tertawa lucu mendengarnya.


"Kapok deh aku pakai baju seksi, dimanapun itu." kata Dania pada Dona.


"Pakai jilbab harusnya kita." timpal Dona.


"Iya ya, semoga kita dapat hidayah." jawab Dania mendoakan dirinya sendiri.


Keasikan ngobrol sampai akhirnya mereka tertidur pulas, mungkin capek juga semalaman melayani suami masing-masing, keduanya jadi kurang tidur juga. Untung saja dikasih istirahat sampai setelah Dzuhur.


Nanta dan Doni memasuki kamar yang ditempati istri mereka setelah urusannya selesai, langsung saja Nanta tertawa melihat Dona dan Dania tertidur dengan gayanya masing-masing. Mereka berpakaian lengkap karena sudah dipesan bahwa Doni dan Nanta akan menyusul ke kamar begitu kembali Ke hotel. Karena tidak mau dikamar sendirian keduanya bergabung di satu kamar.


"Jam dua kan berangkatnya?" tanya Nanta pada Doni.


"Hu uh." jawab Doni memandangi Dona.


"Rebahan dulu ah." Nanta langsung merebahkan diri disebelah Dania lalu memeluknya tanpa malu pada sahabatnya. Aksi Nanta pun ditiru oleh Doni mulai membaringkan badannya disebelah Dona, ikut memeluk istrinya bahkan menciuminya dengan gemas. Dasar Dona sudah diciumi begitu tetap saja tidur tanpa terganggu. Sepertinya rasa kantuk menular hingga Nanta dan Doni ikut tertidur sambil memeluk istri masing-masing.


Nanta terbangun ketika handphonenya berdering, langsung tersenyum saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Aban..." singkong rebus yang selalu Nanta rindukan rupanya.


"Iya sayang."


"Tok bobo, duaan ladi sama Tania." protes Balen saat melihat kepala Nanta menempel dengan kepala istrinya yang masih tidur.


"Iya Abang istirahat sebentar, nanti mau pergi lagi." jawab Nanta.


"Oo, Aban Leyi mana?" ish kesal betul Nanta mendengarnya, sudah jelas yang terlihat wajah Nanta dan Dania malah tanya Larry, Doni dan Dona langsung terbahak mendengarnya.


"Bodo ah, telepon Abang tanya Abang Larry." kesal Nanta pada Balen.


"Baen mo ngobol aja." jawabnya tanpa dosa.


"Ngobrol saja sama Bang Nanta." ketus Nanta, terdengar Nona cekikikan.


"Tan udah ngobol ama Aban tadi. Ndak ada ya Aban Leyi?"


"Adanya Abang Doni sama Kak Dona Balen." teriak Doni, Nanta mengarahkan handphonenya pada Doni, Dona melambaikan tangan pada Balen sambil terkekeh.


"Aban Doni bobo Juda, emangna bobo aja disana?" tanya Balen sok tahu.


"Sebentar lagi kita mau jalan-jalan dong, Balen sih tidak ikut." kata Dona tertawa.


"Tadona, ada Aban Leyi ndak?" masih saja tanyakan Larry. Semua jadi tertawa melihat usaha Balen mencari idolanya.


"Tidak ada sayang, Abang Larry tidak tahu dimana." jawab Dona jujur.


"Abang Larry bobo juga kali." jawab Nanta.


"Tepon don Aban." Balen minta disambungkan dengan Larry.


"Tidak mau, telepon Abang ya bicaranya sama Abang, masa tanya Bang Larry, Abang marah nih." dengus Nanta cemburu, baru bicara sebentar tanya Abang Larry, berenang maunya diajari Abang Larry, padahal selama ini selalu merindukan dan mengidolakan Nanta, cepat sekali Balen berpaling.