I Love You Too

I Love You Too
Tarik ulur



Kenan tersenyum tipis saat Nona mengenalkannya dengan Kevin, mereka sudah duduk di cafe yang telah ditentukan sebelumnya. Nanta langsung saja sibuk berinteraksi dengan Kevin. Tampak sekali putranya sangat mengidolakan Kevin dan begitu bangga menyebutkan segala prestasi Kevin di dunia basket pada Papanya.


"Aku bisa tidak ya nanti seperti Kak Kevin?" gumam Nanta dengan mata menerawang.


"Bisa, malah Kak Kevin yakin kamu bisa lebih hebat dari Kakak." Kevin memberi semangat pada Nanta.


Tak pakai berbasa-basi, Kenan langsung mengajak Nanta dan Nona menyudahi pertemuan mereka.


"Ayo." ajak Kenan pada keduanya sambil melihat jam dipergelangan tangannya. Satu jam dirasa lebih dari cukup untuk serah terima buku dan ngobrol ngalor ngidul.


"Wah buru-buru ya, Mas?" tanya Kevin pada Kenan, Kenan tersenyum saja.


"Senin jadi ke Kantor gue?" tanya Nona pada Kevin.


"Sore ya, gue ada meeting dulu. Pagi juga mesti antar Manda fitting baju." katanya pada Nona.


"Manda calon istri Kevin." Nona menjelaskan pada Kenan.


"Nanti datang ya, Mas Kenan. Nanta kalau lolos ke Jakarta, tidak bisa hadir acara Kak Kevin deh." kata Kevin tersenyum.


"Aku di Jakarta lama?"


"Sampai selesai pertandingan, lumayan beberapa bulan."


"Bagaimana, Pa?" tanya Nanta meminta persetujuan Kenan.


"Ikuti saja alurnya, toh kamu juga belum terima surat resmi." jawab Kenan tersenyum.


"Iya juga sih, belum juga minta ijin Mama." kata Nanta tertawa sendiri.


"Oke, masih ada lagi?" tanya Kenan pada semuanya.


"Tidak." jawab Nona dan Kevin bersamaan. Kompak sekali, batin Kenan dalam hati.


Nanta berjalan lebih dulu bersama Kenan, sementara Nona dibiarkan ngobrol bersama Kevin sambil mengikuti dari belakang.


"Ganteng ya bokapnya Nanta." kata Kevin pada Nona.


"Duda tuh." kekeh Nona menatap Kevin.


"Saudara dari mana sama mereka?" tanya Kevin mau tahu.


"Hmm..." Nona menggaruk kepalanya bingung bagaimana menjelaskan pada Kevin.


"Jangan bilang kalian pacaran." Kevin langsung saja menebak-nebak.


"Eh..."


"Hmmm beneran? buy one get one?"


"Kalau jodoh ya terima saja, enak lagi dapat bonus." tawa Nona meledak.


"Gila lu." Kevin ikut tertawa.


"Idenya bokap gue tuh." kata Nona sambil terus menatap punggung Kenan. Keren betul sih dari belakang, pikir Nona. Terlalu mengagumi Kenan.


"Percaya tidak? Bokap, Deni dan Samuel semua mendukung. Pengen bebas betul dari gue ya mereka." kata Nona kemudian.


"Hahaha habis anak gadisnya rese." Kevin terbahak.


"Mas Kenan juga pasrah waktu bokap minta dia jaga gue. Nurut lagi sama Bokap."


"Emang sudah naksir kali."


"Lu tahu, gue sempat ditolak Mas Kenan, waktu Bokap bilang dia cocok jadi suami gue."


"Masa?"


"Hu uh."


"Sekarang masih ditolak?"


"Sekarang dia cemburu sama elu, Kev." Nona polos tawanya kembali meledak.


"Lu gila, sana jalan sama Mas Kenan." Kevin langsung panik, tidak mau Kenan salah sangka. Nona masih saja tertawa


"Mas Kenan." panggil Kevin. Kenan dan Nanta berbalik dan menghentikan langkahnya.


"Saya pamit ya. Jangan lupa datang ya acara saya, undangan menyusul." kata Kevin sopan.


"Oh iya In syaa Allah, kalau bisa pasti datang." jawab Kenan.


"Nanta semangat ya. Saya pantau terus deh infonya." kata Kevin pada Nanta.


"Menyalahi aturan tidak ya, Jangan sampai jadi masalah untuk kamu." kata Kenan khawatir.


"Tidak, Mas. Saya bukan pengambil keputusan. Tidak bisa intervensi juga. Jadi santai saja." Kevin terkekeh.


"Oh itu tidak sengaja melihat." kata Kevin santai. Kenan terkekeh dibuatnya.


"Ok ya Kevin, terima kasih. Nanta senang sekali bisa kenal kamu." Kenan tersenyum ramah, setelah mengamati dan menyadari Kevin bukanlah pesaing Kenan. Jadi bisa santai jalan didepan dan membiarkan Nona ngobrol santai dengan Kevin.


Sekarang mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Baron. Sebelumnya membeli banyak titipan untuk Baron. Kesempatan sekali mengerjai Kenan, setelah dapat bocoran dari Papa Dwi kalau Kenan mulai bertekuk lutut pada Nona. Mobil Kenan tampak penuh dengan belanjaan mingguan Mita dan Baron.


"Papa seperti tidak punya orang yang disuruh saja." Kesal Nona pada Papanya.


"Biarkan saja, Papamu memang suka begitu." Kenan terkekeh, tahu dia sedang dikerjai saat ini.


"Kamu tahu tempat martabak kesukaan Papamu?" tanya Kenan pada Nona.


"Antri, pesan online saja." kata Nona tak sanggup membayangkan betapa lamanya harus menunggu kalau langsung membeli disana.


"Papamu maunya kita yang membawa langsung." Kenan terkekeh, dasar Baron, untung saja calon mertua, pikir Kenan.


"Martabak apa sih?" tanya Nanta. Nona langsung menyebut salah satu merk martabak idola kesukaan Papanya.


"Oh itu punya Pakde Akmam, Pa. Telepon saja." kata Nanta. Pakde Akmam kakak Tari yang paling besar.


"Aku telepon ya, nanti kita tinggal ambil." Nanta menekan tombol pada handphonenya dan mulai menghubungi salah satu pegawai yang dikenalnya. Benar saja begitu sampai di lokasi, pegawai yang ditelepon Nanta sudah berdiri didepan pintu masuk dengan dua box Martabak yang dipesan tadi.


"Nanti aku transfer." kata Nanta pada sang pegawai.


"Iya, Mas." jawab pegawai sopan. Ia sudah hafal kebiasaan Nanta. Pesan dan bayar via transfer. Tidak suka antri yang pasti. Makanya harus selalu menunggu dipintu masuk. Baron tidak berhasil membuat Kenan lumutan antri martabak kali ini.


"Hebat juga Pakdemu. Papa baru tahu loh." kata Kenan mengagumi usaha mantan Iparnya.


"Sudah lama, Pa. Sudah beberapa tahun ini." kata Nanta maklum, komunikasi Papa dan Keluarga Mama terputus sejak mereka pisah.


Baron dan Mita menyambut kehadiran Kenan, Nona dan Nanta dengan banyak masakan. Membuat Nona takjub, Walaupun sempat kesal karena mendadak harus keliling Mal berbelanja kebutuhan Papa dan Tante Mita.


"Cepat sekali." kata Baron terkekeh melihat Martabak yang diserahkan Nanta padanya.


"Untung saja ada Nanta." kata Kenan melirik Baron tertawa.


"Kenapa memangnya, Nanta yang antri tadi?"


"Aku tidak antri Padeh, telepon saja mereka langsung menunggu didepan pintu."


"Memang bisa begitu?"


"Bisa kalau aku yang beli." kata Nanta bangga.


"Bude tahu kan ini punya Pakde Akmam?" kata Nanta pada Mita.


"Iya." jawab Mita terkekeh.


"Wah kamu tidak bilang mereka kenal sama yang punya." protes Baron pada Mita.


"Aku lupa." jawab Mita kembali terkekeh.


"Makanya jangan punya pikiran tidak benar, Kita yang tulus iklas jadi dimudahkan Allah." kata Kenan tertawa puas.


"Kyai tuh kalau sudah ceramah." Baron menunjuk Kenan dengan dagunya pada Mita. Mita tertawa melihatnya.


"Ayo Nona, Tante bikin masakan kesukaan kamu nih." Mita menarik Nona ke meja makan.


"Banyak sekali Tante masak."


"Tante bingung kamu lagi maunya apa, ya sudah bikin saja beberapa macam yang kamu suka."


"Memang Tante tahu aku ikut?"


"Tadi sebelum berangkat Kenan bilang kamu dan Nanta ikut." jawab Mita tersenyum.


"Cepat juga Tante masak." kata Nona kagum.


"Ada yang bantu, jadi cepat."


"Terima kasih ya Tante." Nona tampak terharu dan kekesalannya karena Papa menikah lagi menguap entah kemana. Baron senang sekali melihat Mita dan Nona berbincang akrab dimeja makan.


"Terima kasih ya Ken, Nona sangat menyenangkan akhir-akhir ini. Sudah tampak dewasa berkat kumpul dengan keluarga kamu." kata Baron pada Kenan.


"Nona cuma kurang perhatian waktu itu. Dasarnya memang anakmu itu menyenangkan." jawab Kenan pada Baron.


"Jadi kapan mau dihalalkan?" tanya Baron menuntut.


"Tanya saja pada Nona, dia masih pikir-pikir mau jadikan saya calon suami." kekeh Kenan mengingat Nona yang sedang tarik ulur.


"Masa?" Baron tidak percaya, setahunya Nona kemarin yang mengeluh karena Kenan menolak Nona.


"Biarkan saja mengalir, jangan dipaksakan." Kenan mengingatkan.


"Tenang saja, akan saya buat mengalir tanpa hambatan." Baron mulai bergaya akal-akalan.