
"Aban mah maah-maah." Balen memonyongkan bibirnya membuat Nanta gemas.
"Balen sih cari Abang Larry terus, memang tidak rindu Abang ya?" tanya Nanta melunak.
"Indu, matana tepon Aban." jawab Balen tersenyum.
"Tapi carinya Abang Larry." protes Nanta seperti anak kecil.
"Baen mo ngobolin Onta Aban." jawab Balen membuat semua yang dikamar tertawa.
"Kenapa Ontanya?" tanya Nanta terkekeh.
"Talo ndak ada yan titing, beiin wana pin aja."
"Onta warna pink?"
"Yah."
"Hahaha oke, kalau tidak ada yang pink bagaimana?" tanya Nanta terbahak.
"Wana unu deh." jawab Balen lagi-lagi membuat tertawa.
"Warna coklat pasti ada, coklat saja ya?"
"Ndak." langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Hahaha ya sudah nanti Abang cari." kata Nanta terbahak.
" Ndak usah Aban, Ban Leyi aja." jawabnya membuat Nanta lagi-lagi kesal.
"Kenapa harus Larry sih?"
"Aban tan jadain Tania." jawab Balen membuat Nanta jadi terharu, rupanya Balen memikirkan Dania.
"Kan bisa sambil cari Onta." jawab Dania ikut terharu.
"Tata Papon tasian adek bayina, Bianin ya Aban Leyi." pesannya pada Nanta dan Dania.
"Hahaha iya nanti Abang cari." jawab Nanta terbahak.
"Eh, Aban Leyi aja." teriak Balen jadi kesal.
"Hahaha iya singkong rebus. Jitak juga nih." kata Nanta gemas.
"Janan don, tis aja." jawabnya menggemaskan.
"Baleeen, gemas ih nanti nginap rumah Kak Dona ya. Kak Dona pelukin terus deh." kata Dona gemas sekali mendengar celoteh Balen.
"Yah, Tapan ninapnya?" tantang Balen, seperti yang boleh saja sama Papon dan Mamonnya.
"Nanti kalau Kak Dona sudah di Jakarta, Kak Dona jemput ya. Tanya Papa sama Mama dulu tapi boleh apa tidak."
"Boeh tan Mamon?" langsung saja ijin pada Nona yang disebelahnya.
"Nanti kamu cengeng lagi, merepotkan " jawab Nona terdengar oleh yang lain.
"Ndak tok, ndak nompol ladi tan. Boeh?"
"Tanya Papon saja nanti, masih lama juga kan." jawab Nona mengulur waktu.
"Tutup duu ya, Baen mo tepon Papon." kata Balen langsung mematikan sambungan telepon, semua lagi-lagi tertawa karena ulah Balen.
"Tanggung jawab lu Don, Balen pasti telepon bokap minta ijin tuh." kata Nanta pada Dona.
"Hahaha ya pasti aku jemput sih, boleh kan sayang kita pinjam Balen beberapa hari." Dona meminta ijin suaminya.
"Boleh dong, seru deh pasti." Doni langsung saja berhayal.
"Jangan berharap ya, pengalaman di Malang waktu mau gue ajak menginap dirumah nyokap tuh tidak berhasil." kata Nanta terkekeh.
"Tidak diijinkan?" tanya Doni.
"Selalu ada cara bokap membujuk Balen, jadi Balen sendiri yang membatalkan. Bokap sih kasih ijin tapi ya gitu deh." Nanta terbahak.
Tepat pukul dua Nanta, Doni, Dania dan Dona sudah menunggu di Lobby, mereka akan jalan-jalan ke Dubai, perjalanan sekitar satu jam lebih sedikit. Semua sudah naik ke dalam bus, berhubung Dania tidak mau naik Bus, Nanta dan Doni bergabung dengan rombongan Om Deni.
"Kenapa ikut disini?" tanya Dini menggoda keduanya.
"Mau temani istri dong, boleh kan?" jawab Doni terkekeh. Kendaraan mulai melaju ke kota Dubai.
"Maunya dekat-dekat terus." goda Deni pada keduanya.
"Ish memangnya Om Deni tidak begitu?" Nanta terkekeh. Deni jadi ikut tertawa lupa kalau dia juga begitu.
"Tadi kemana saja?" tanya Doni pada Kakaknya.
"Fish market minum kelapa muda." jawab Dini tersenyum puas.
"Beli ikan?" tanya Nanta lagi.
"Mana ikannya?" tanya Dania jadi mau.
"Duh kamu takutnya tidak suka, bumbunya beda sama di Jakarta, jangan deh ya. Kalau mual repot lagi." kata Dini pada Dania.
"Ya sudah aku makan Pepes lagi saja." jawab Dania membuat Nanta tertawa.
"Kamu tidak bosan ya makan Pepes terus?" tanya Nanta mengacak anak rambut istrinya.
"Tidak sih." jawab Dania tersenyum manis
"Dania sepertinya betah disini, tidak ada keluhan." kata Deni pada Dania.
"Aku memang suka travel." jawab Dania terkekeh.
"Sebenarnya bulan lalu aku ke Turki, tapi kondisi badan lagi tidak enak, awal-awal hamil itu Om. Batal deh, untung saja diganti Mas Nanta ikut kesini " cerita Dania senang, Nanta senyum saja mendengarnya.
"Kalau sudah punya anak, bagaimana travelnya, libur dulu beberapa tahun ya sampai bisa diajak travel bersama." kata Dona pada Dania.
"Bisa saja asal Mas Nanta mau gendongin adek bayinya terus " Nanta tertawa mendengar jawaban istrinya, niat sekali travel bawa anak bayi.
"Memang kamu mau travel kemana sama anak kita nanti?" tanya Nanta pada istrinya.
"Kita belum berburu songket. Keliling sumatera." tagih Dania membuat Nanta membelalak, yang benar saja mau keliling sumatera bawa anak yang masih bayi.
"Kenapa?" tanya Dania manja.
"Bantu gue mikir deh Don, bagaimana caranya gue keliling sumatera sama baby." kata Nanta pada Doni.
"Jalan darat deh, memang mau kemana saja?" tanya Doni pada Dania.
"Medan, Padang, Palembang. Minimal itu dulu. sebenarnya mau ke Aceh, Bengkulu dan Riau segala." jawab Dania membuat Deni terkekeh.
"Ke Cirebon saja, berburu batik." kata Deni pada Dania.
"Boleh, destinasi kita bertambah, Mas." Dania semangat, Nanta jadi meringis. Ditawarkan Cirebon untuk pengganti malah jadi tambah kota tujuan.
"Setelah dari Abu Dhabi, Tim Basket mau kemana lagi?" tanya Dini ingin tahu.
"Sampai Jakarta kami dikembalikan ke club masing-masing. Biasanya sih pertandingan antar club tuh, jadi nanti bisa keliling Indonesia deh kita." jawab Doni pada Kakaknya.
"Nan bisa tuh siapa tahu sumatera jadi tuan rumah." kata Deni pada Nanta.
"Iya bisa juga begitu." Nanta terkekeh.
"Sudah ada jadwalnya Mas?" tanya Dania semangat.
"Semangat sekali langsung tanya jadwal." Nanta terkekeh.
"Lagi hamil semangat travel masih tinggi ya, berarti kondisi badan Bagus tuh." kata Dini pada Nanta.
"Sok tahu ah." Deni terkekeh memandang istrinya.
"Ih kalau sakit pasti tidak semangat mau apapun." jawab Dini tertawa menepuk bahu Deni, Deni senyum saja dengan wajah sumringah.
"Ini sudah masuk Dubai, Pak?" tanya Deni pada Pak Supir.
"Sudah."
"Ah cepat sekali, tidak terasa ya." Deni terkekeh.
"Ya iyalah tidak terasa, dari tadi pandangi istrinya terus." goda Nanta pada Om Deni.
"Begini ya ternyata kalau punya istri, pantas saja kamu begitu." jawab Deni balas menggoda Nanta.
"Begitu bagaimana?" tanya Nanta terkekeh.
"Ya begitu lah pokoknya." jawab Deni.
"Hahaha Om Deni tidak jelas deh." Nanta terbahak.
"Kalau disini boleh gandengan tangan tidak ya?" tanya Nanta ketika mereka sudah turun Mobil.
"Setahu Om sih, tidak boleh mengumbar kemesraan didepan umum." jawab Deni pada Nanta.
"Waduh sayang, aku tidak bisa rangkul kamu deh." kata Nanta pada Dania.
"Tidak apa, aku gandengan sama Kak Dini dan Dona saja." jawab Dania segera menggandeng Dini dan Dona meninggalkan ketiga lelaki itu.
"Terus kita gandengan juga nih seperti mereka?" tanya Doni pada Nanta dan Deni.
"Tidak usah." jawab Nanta cepat. Dasar Doni langsung saja merangkul Nanta, tidak gandengan malah rangkulan.
"Dilarang mengumbar kemesraan didepan umum Mas." kata Dania pada suaminya ketika ketiganya mendekat
"Kami malah terlihat lebih mesra ya. Ampun deh." Nanta terbahak lalu menoyor kepala Doni pelan.