I Love You Too

I Love You Too
Tidur bertiga



"Aban bobo sini ya, Tania sini." Balen mengatur posisi tidur Nanta dan Dania. Ia sudah dikamar Nanta dengan baju piyamanya, sementara Dania juga sudah memakai setelan piyama celana pendeknya.


"Iya." kata Nanta menuruti Balen tidur diposisi yang Balen tunjuk.


"Aban peuk." Balen minta dipeluk Abangnya, membuat Nanta langsung mengikuti keinginan adiknya.


"Tania sini don." meski sudah dipeluk Abangnya tetap saja rusuh mencari Dania dan menyuruhnya agar segera tidur disebelah Balen.


"Sebentar ya Balen, kakak bersihkan wajah dulu." kata Dania pada Balen.


"Janan lama-lama ya." pesan Balen.


"Iya." jawab Dania terkekeh.


"Abang saja yang ditengah ya, Balen dekat tembok bagaimana?" tanya Nanta minta persetujuan Adiknya.


"Janan." jawab Balen menolak.


"Kenapa?" tanya Nanta.


"Tania detat tembok aja. Baen tenah, Abang pinggil. Aban jadain Baen sama Tania." Balen menjelaskan.


"Ok deh." Nanta terkekeh dan kembali mencium adiknya.


"Sudah pakai pampers belum?" tanya Nanta lagi takut Balen ngompol."


"Udah." jawab Balen.


"Susu Balen sudah diantar belum ya?" tanya Nanta pada Dania.


"Sudah tuh." tunjuk Dania pada Nakas.


"Ok, Balen mau minum susu?" tanya Nanta, biasanya menjelang tidur Balen menggunakan botolnya sambil kriep-kriep.


"Ndak, Baen tan udah dede, ndak pate botol ladi." jawab Balen.


"Sejak kapan?" Nanta terkekeh.


"Tau." Balen mengedikkan bahunya. Nanta semakin gemas saja langsung membekap Balen, membuat bocah itu tertawa geli.


"Aban..." teriaknya rusuh karena Nanta menggoyangkan badan Balen.


"Iih Aban, Baen detat tembok aja." katanya kesal.


"Abang tengah?"


"Ndak Aban pinggiy, Tania tenah." Balen cemberut.


"Nanti Kakak Dania yang Abang peluk loh." kata Nanta pada Balen.


"Janan." Nanta terkekeh mendengar jawaban Balen.


"Ya sudah ayo bobo." ajak Nanta.


"Susu Baen mana Aban?" tanya Balen pada Abangnya.


"Katanya sudah besar, tidak minum susu di botol lagi." Nanta terkekeh.


"Pake delas aja." jawab Balen.


"Aku saja yang siapkan susu Balen." Dania segera menuju tempat peralatan susu Balen. Tidak ada gelas, hanya botol susu dan kotak susu.


"Mana gelasnya?" tanya Dania bingung.


"Dapul." jawab Balen santai.


"Minum pakai botol dulu ya, pakai gelasnya besok pagi." kata Nanta pada Balen.


"Yah." jawab Balen, Dania pun menyiapkan susu Balen dan memasukkanya kedalam botol.


"Matatih Tania." katanya saat menyambut botol susunya, lalu Balen pun menikmatinya dan mulai memejamkan mata, sebelah kakinya bertengger diatas perut Nanta.


"Baca doa mau tidur jangan lupa." bisik Nanta pada adiknya.


"Yah." mulut Balen kembali komat-kamit.


"Janan bicik ya." pesannya pada Nanta dan Dania sebelum tidur. Membuat keduanya tertawa, rupanya Balen tidak mau Nanta dan Dania bicara.


"Oke." jawab Nanta mencium pucuk kepala Balen dan merentangkan telapak tangannya minta Dania menyambutnya agar mereka bisa saling bergenggaman tangan seperti biasa. Dania mengikuti keinginan suaminya lalu ikut seperti Balen memejamkan matanya. Tidak lama keduanya pun tertidur, sementara Nanta masih belum bisa tidur.


Nanta segera beranjak dari kasurnya, begitu Balen merubah posisi tidurnya, kakinya sudah tidak dipinggang Nanta lagi. Karena belum bisa tidur ia bermaksud akan membereskan kopernya yang masih belum tersusun dengan rapi walaupun sudah komplit.


"Mau kemana?" tanya Dania saat Nanta melepaskan tautan jemari mereka. Rupanya Dania terbangun karena pergerakan Nanta.


"Rapikan isi koper dulu, belum tersusun masih sangat berantakan." jawab Nanta.


"Aku bantu ya." ijin Dania pada suaminya


"Kamu tidur saja temani Balen, kalau tidak ada orang disebelahnya dia bisa terbangun." Nanta menjelaskan. Dania menganggukkan kepalanya.


"Sayang..." Dania mengulurkan tangannya, Nanta pun menaikkan alisnya, kemudian tertawa saat Dania menunjuk bibirnya sendiri, Minta dicium rupanya. Untung saja badan Nanta tinggi, jadi dengan mudah menggapai bibir Dania tanpa mengganggu Balen. Cukup lama mereka berciuman membuat Nanta jadi berharap lebih dan langsung meringis dibuatnya. Berhubung ada Balen tidak mungkin Nanta melakukannya.


"Kenapa?" tanya Dania saat Nanta melepaskan ciuman mereka.


"Ada yang bangun." jawab Nanta segera berlalu meninggalkan Balen dan Dania dikasur. Dania menutup wajahnya, ia pun berharap lebih sebenarnya, ternyata aktifitas barunya bikin candu.


Nanta fokus melipat bajunya dan bawaan yang dengan konsentrasi tinggi, syukurnya ia bisa menahan diri, tidak harus berakhir di kamar mandi seperti kebanyakan orang. Dania juga kembali memejamkan matanya. Saat Nanta menoleh kearah kasur rupanya Dania sudah sama pulasnya dengan Balen, mereka saling berpelukan saat ini. Mungkin tadi Balen terbangun dan minta dipeluk.


Drrrtttt... Drrrtttt... handphone Nanta berdering, nama Tante Maya yang tertera dilayar handphonenya.


"Assalamualaikum Tante." jawab Nanta mengangkat sambungan teleponnya.


"Waalaikumusalaam Nanta, Dania sudah tidur?"


"Sudah Tante, mau dibangunkan?" tanya Nanta.


"Tidak usah, Tante hanya mau bicara dengan kamu, Dania tidak perlu tahu. Kalian sudah pernah bertemu Peter ya?" tanya Maya pada menantunya.


"Sudah Tante, Dania ngamuk saat Om Peter mengaku sebagai ayahnya dan minta aku tidak ikut campur." Nanta menjelaskan.


"Bisa bantu Tante ya, Nanta. Tolong bilang keluarga kamu untuk ekstra menjaga Dania saat kamu tidak berada di Jakarta. Tante khawatir karena Peter marah saat tahu Dania sudah bertemu dengan Papanya."


"Iya Tante."


"Satu lagi Nanta, Dania punya Kakek dan Nenek, orang tua Tante sekarang tinggal di Sukabumi. Dania belum pernah bertemu, Tante tidak tahu apa kamu sempat atau tidak karena sabtu kamu sudah harus masuk asrama. Tapi tolong amankan orang tua Tante, Peter mengancam keselamatan mereka." Maya terisak, antara sedih dan ketakutan.


"Nanti kasih alamatnya saja Tante, besok aku kesana." jawab Nanta pada mertuanya.


"Sembunyikan orang tua Tante dari Peter ya Nanta." pinta Maya.


"Iya Tante. Siapa sih Om Peter itu Tante?" tanya Nanta penasaran.


"Anak kakak tiri Mamanya Micko, sebelum menikah dengan Papanya Dania, Tante pernah menjalin hubungan dengan Peter, karena kebodohan Tante, Peter terus saja mengancam sampai saat ini agar Tante mengikuti keinginannya."


"Kenapa dia selalu mengganggu Om Micko?"


"Karena mereka tidak suka, Kakeknya selalu memperhatikan Micko. Apa saja Micko dapat walau tidak meminta, bahkan Micko diberikan saham dari perusahaan Inti sedangkan Peter hanya diberikan satu anak perusahaan. Padahal saham itu hanya sepuluh persen tapi Peter tidak terima, apalagi tanpa bekerja Micko terus mendapatkan hasil dari perusahaan itu. Micko terus saja dikirimi Mobil mewah seri terbaru. Peter merasa Micko di anak emaskan. Padahal Kakek merasa bersalah pada Ibu Misha, Mamanya Micko yang harus dibesarkan oleh orang lain saat Omanya Micko meninggal dunia." Maya menarik nafas panjang, sedih sekali.


"Papanya Om Micko ada dimana Tante?" tanya Nanta ingin tahu.


"Setahu Tante sudah meninggal sebelum kami menikah." jawab Maya.


"Oke Tante jangan lupa kirimkan alamat Kakek dan Nenek disukabumi." pesan Nanta saat Maya mengakhiri sambungan teleponnya.


"Terima kasih ya Nanta." Nanta menarik nafas panjang begitu menutup sambungan teleponnya, menatap Dania istrinya, berat sekali masalah keluarga Oma Misha karena seorang Peter.