
"Friend, kita langsung kesimpang lima, kalian nyusul ya, Cindy lapar nih." *Andi
pesan dari Andi di chat group dibaca Reza,Erwin dan Mario bersamaan.
"Gue dipingit ga sih?" *Mario
"Tanya nyokap lu lah Ja." kata Reza, tak menjawab pesan Mario di group chat. Mario menghampiri mami yang masih ngobrol bersama om, tante dan papinya. Belum ada diantara mereka yang menyerah beristirahat di kamar. Mungkin sedang melepas kangen dan juga rasa bahagia yang berlebih saat anaknya akan menikah dengan wanita pilihan mereka, membuat mereka tak mengantuk.
"Mi, aku boleh ke Simpang Lima?" tanya Mario pada mami.
"Ajak Regina Yo." jawab Mami yang aktifitas mengobrolnya terhenti karena pertanyaan Mario.
"Ga dipingit Mi?"
"Sudah ga usah pakai pingit-pingit. Tapi jangan kemalaman ya, besok shubuh Regina sudah harus didandani."
"Regina ga usah ikut aja Mi? nanti dia lelah."
"Ajak!!!" jawab mami tak mau dibantah. mario pun menurut langsung menelpon Regina yang sedari tadi sudah ijin ke kamar.
"Aku mau ke Simpang Lima sama yang lain, Cindy dan sepupumu lapar, kamu mau ikut?" tanya Mario ketika Regina mengangkat teleponnya.
"Mau."
"Ya sudah aku tunggu di lobby."
"Ok."
Mario menutup sambungan teleponnya, lalu pamit pada Mami, Papi, Om dan Tantenya, segera menghampiri sahabatnya lalu menghubungi supir yang akan mengantar mereka ke Simpang Lima.
"Parkirnya susah friend, jadi ajak supir aja ya." katanya setelah menghubungi pak supir. Ketiga sahabatnya mengangguk setuju.
Dilobby sambil menunggu Regina,
"Friend tadi bokap bahas kerjaan aja?" tanya Mario ingin tahu. Reza mengangguk tak mau membahas lebih lanjut.
"Bohong lu ya?" tanya Mario curiga Reza tak mau buka suara.
"Ga lah, nanya bokap gue, terus gue yang mulai terjun di perusahaan bokap, Kenan yang masih belajar diperusahaan bokap dimalang. Itu aja, harapannya lu juga mau mulai terjun di Unagroup."
"Hmmm..."
"Apa hmmm...???" tanya Reza memandang sahabatnya.
"Iya nanti kalau udah beres urusan sama Regina, dan cabang selatan udah beroperasi, baru gue terjun." jawab Mario.
"Sebenarnya dia udah terjun Ja, Tuh bantuin jingle iklan." sahut Erwin sambil tertawa.
"Nanti kalau iklan udah berhasil, baru gue bilang bokap." jawab mario sesekali menoleh kebelakang memastikan Regina sudah datang atau belum.
"Tuh calon istri lu." kata Erwin saat Regina melangkah keluar lift.
"Cantik Yo." kata Reza menggoda sahabatnya. Mario menganggukan kepalanya. Matanya tak lepas dari Regina, membuat Regina salah tingkah dan menundukan kepalanya.
"Ada koin dibawah?" tanya Mario saat Regina mendekat.
"Maksudnya?" tanya Regina tak mengerti. Reza dan Erwin tertawa. Bercandaan mereka belum begitu nyambung dengan Regina yang dibesarkan di S'pore.
"Apa sih?" tanya Regina penasaran. Tapi tak ada yang menjawab karena jemputan sudah tiba di Lobby. Erwin mengambil posisi duduk paling belakang, membiarkan Mario duduk di kursi tengah bersama Regina.
"Ga gandengan tangan Friend?" goda Erwin saat mobil melaju menuju Simpang Lima.
"Cindy kamu yang undang?" tanya Mario pada Regina.
"Iya, ga papa kan, karena om tante aku ga bisa datang, Cindy menemani Ema."
Mario mengangguk tak keberatan, hanya ingin tahu, Tadi melihat Andi yang sangat senang karena gebetannya ikut ke Semarang.
"Keluarga kamu cuma Ema yang datang?" tanya Mario lagi. Regina mengangguk.
"Kenapa ga datang?" tanya Erwin Kepo.
"Perusahaan hampir bangkrut, jadi om dan tante fokus urus perusahaan."
"Kasihan. Semoga pulih dan sukses lagi usahanya." Erwin turut prihatin. Reza santai saja karena sudah tahu cerita sebenarnya dari Papi tadi. Om dan Tante sengaja tak datang, supaya Regina benar merasa menjadi jaminan hutang dan menikah dengan sungguh-sungguh, Om dan Tante Regina juga tak tega melihat Regina menangis, meskipun tahu Regina sudah berada di keluarga yang tepat.
"Ga usah dipikirin om dan tante kamu." Kata Mario yang juga ikut prihatin.
"Nanti buka usaha bareng Kiki aja Re, Isi kesibukan, tuh anak banyak Rencana. Gimana Yo?" usul Reza.
"Terserah Rere aja." jawab Mario tak ambil pusing.
"Kiki udah sibuk kuliah sama endors, sekarang iklan lagi Ja." Erwin mengingatkan.
"Dia pengen buka usaha win, ga mau jadi artis."
"Sekarang kan sudah artis."
"Bukan katanya cuma bantu teman aja hahaha." Reza tertawa mengingat alasan Kiki saat Reza membantunya membuat video endors. Memang Kiki tidak seterkenal Monik, hanya yang aktif di medsos saja yang mengenal Kiki dan Intan.
"Regina jadi Nyonya Mario aja gue rasa bakal sibuk." kata Erwin lagi.
"Kenapa begitu?" tanya Regina.
"Nanti lu rasain aja Re." Jawab Erwin tak ingin menjelaskan. Reza dan Mario pun hanya diam tak meluruskan, sepertinya memang begitu batin Reza.
"Kak Eja kita sudah disimpang lima." pesan dari Kiki baru saja di baca Reza.
"Mereka udah sampe friend, Andi belum lihat handphone kayanya." Kata Reza mewakili menjawab pertanyaan Mario di chat group yang menanyakan posisi Andi. Mereka pun sebentar lagi akan sampai di Simpang Lima.
"Kalau sudah dapat parkir, susul aja mas, ikut makan." ajak Mario pada pak supir saat mereka sudah turun dari mobil. Sebelum bergegas menyusul sahabatnya yang sudah memberitahu posisi tenda yang sudah mereka tempati.
"Iya pak." jawab pak supir sopan, lalu melajukan kendaraannya mencari parkiran yang kosong.
Tampak Andi dan ketiga wanita cantik sudah duduk didepan ibu penjual makanan, duduk di lesehan, mereka sibuk menunjuk makanan yang dimau tanpa memperhatikan kedatangan sahabatnya.
"Loh calon manten ga dipingit dikamar?" Goda Andi saat melihat Mario dan Regina. Mario mencebikan bibirnya.
"Makan apa?" tanyanya pada Regina yang hendak menyapa sepupunya.
"Aku masih kenyang." jawab Regina lalu menghampiri sepupunya, memeluknya erat.
"Makasih sudah temani aku." Bisik Regina pada Ema, air matanya sedikit mengembang. Ema hanya menepuk bahu sepupunya ikut merasakan kesedihan sepupunya.
"You will be happy sis." bisiknya masih memeluk Regina.
"Sudah dramanya, pesan makan dulu, lapar nih." bisik Cindy pada Ema dan Regina. Cindy melihat Regina sangat beruntung mendapatkan Mario. Selain kaya, Mario ganteng dan ga banyak ulah. Semua bermimpi menjadi istrinya. Cindy hanya tahu Mario kaya dari cerita Ema. Hanya saja Cindy tahu kalau Mario tak banyak ulah dari Kiki. Sudah pasti siapa yang tak mau punya suami ganteng, kaya dan tak banyak ulah.
"Beruntung kamu Re." bisik Cindy pada Regina saat Regina memeluknya.
"I hope so." jawab Regina kemudian melepaskan pelukannya pada Cindy lalu mulai mencari tempat untuk duduk. Ada slot kosong disebelah Mario, rupanya sudah disiapkan untuk Regina, dilihatnya Mario menepuk slot kosong tersebut mengajak Regina duduk disebelahnya. Setidaknya walaupun belum ada cinta diantara mereka, Mario sudah memberikan perhatiannya pada Regina dan memperlakukan Regina dengan baik selama seminggu ini.