I Love You Too

I Love You Too
Pengantin Baru



Setelah membaca Bismillah dan istighfar Micko tersenyum memandang Nanta, tangan mereka sudah saling menjabat sedari tadi, juga sudah ditemani penghulu dan dua orang saksi. Nanta membalas senyuman Micko. Deg-degan? sudah pasti, tapi Nanta terus beristighfar tanpa henti didalam hati, sehingga rasa tenang saja yang didapatnya, sesekali ia menghela nafas.


"Ananda ....... saya nikahkan dan kawinkan........ dibayar tunai." Micko mengucapkan kalimat tersebut dengan suara bergetar, ada rasa haru dan bahagia dihatinya.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya...... dibayar tunai." Nanta menjawab kalimat yang Micko ucapkan dengan lantang dan lancar, semua menarik nafas lega saat penghulu bertanya,


"Sah?"


"Sah." jawab semua yang hadir disana. Suasana haru dan berurai air mata itu sudah pasti ada saat ini. Tari apalagi, terus saja menangis, tidak menyangka bujangnya kini sudah beristri.


Terlalu muda? tidak. Nanta tidak sendiri, banyak yang menikah lebih muda dari Nanta, dari pada mereka melakukan zina, lebih baik menikah. Tapi bukan hanya itu saja alasan Tari mengijinkan Nanta untuk segera menikah, ia tidak ingin anaknya yang populer dikalangan wanita dan pencinta basket salah jalan dan menemukan wanita yang tidak tepat. Apalagi Nanta sudah punya penghasilan sendiri, walaupun masih kuliah.


Banyak contoh nyata anak muda yang bergelimang harta, terkenal, tampan juga dikelilingi oleh gadis muda dan cantik juga seksi, akhirnya mereka salah jalan, itu yang Tari hindari.


Nanta terus saja menebar senyumnya, ia terlihat tenang sekali, padahal semua tidak tahu saja Nanta lumayan gugup, semalam saja sempat berpikir apa ini pilihan yang tepat. Walaupun sudah mantap dan memutuskan tetap saja rasa ragu sempat hadir dihatinya.


Micko pun begitu, ia sedikit tegang tadinya, sekarang sudah lega maka bisa dengan santai menaikkan alisnya saat matanya dan Kenan beradu pandang. Kenan terkekeh, ia tidak menyangka Micko yang akan menjadi besannya. Semua memang tidak pernah bisa menduga hal ini.


Nanta menyambut kehadiran Dania yang sedang dituntun berjalan kearahnya, Dania yang selalu terlihat cantik di mata Nanta. Mereka berdua saling tersenyum saat sudah berdiri berhadapan, terlebih saat Dania menyalami Nanta dan mencium tangannya. Nanta terkekeh, malu juga Dania mencium tangannya dihadapan semua orang, wajah kedua pengantin bersemu merah.


"Mamon, tok Tania cium tanan Aban? Boeh Mamon?" tanya Balen pada Nona.


"Boleh, Mamon juga cium tangan Papon kan? Mereka sudah suami istri." Nona menjelaskan.


"Tuami iti bobona ditamal Aban don?"


"Iya."


"Baen juda." jawab Balen tersenyum senang, ia bisa tidur bersama Nanta dan Dania seperti ia tidur bersama Raymond dan Roma nantinya.


"Eh kapan-kapan saja tidur sama Abang dan Kak Dania, sekarang belum boleh." jawab Nona cepat.


"Napa memanna?" tanya Balen.


"Ada Opa dan Oma, kasihan tidak Balen temani." alasan Nona pada Balen.


"Oo." jawab Balen seakan mengerti.


"Mamon, Aban kiss Tania tuh!!!" teriak Balen saat melihat Nanta mengecup dahi Dania, semua terbahak mendengar teriakan Balen.


Setelah semua urusan selesai, Buku nikah sudah didapat, acara photo-photo dan tangis haru juga sudah. Kini semua tampak ngobrol santai, seru-seruan dan saling bercanda, juga bersantap makanan ringan sedikit berat, karena belum waktunya makan siang. Penghulu pun sudah diantar pulang oleh supir pribadi Micko.


"Sholat jumat." Nanta mengingatkan Papa yang sedang ngobrol bersama Ayah, Om Bagus, Om Micko dan Opa. Sementara Raymond asik bercanda bersama Ando, Wilma dan Roma.


"Masih lama, boy. Mana istrimu?" tanya Kenan yang tidak melihat Dania.


"Ah...?" Nanta terbengong, sedikit aneh saat Papa menyebut kata istrimu, kemudian terkekeh sambil matanya berkeliling, ia juga tidak tahu dimana Dania.


"Bagaimana sih, kamu sudah punya istri loh sekarang." Micko terbahak karena melihat Nanta masih gugup.


"Itu." tunjuk Nanta saat melihat Dania sedang duduk dan bicara dengan Oma Misha, Nek Pur dan Oma Nina. Reza terkekeh menepuk bahu Nanta.


"Ayo sholat jumat." katanya kemudian merangkul Nanta


"Anak Ayah sudah punya istri." katanya menngacak rambut Nanta yang tersenyum saja mendengarnya. Yang lain pun berdiri menyusul Reza dan Nanta.


"Kamu sholat jumat seperti itu Boy?" tanya Kenan karena Nanta masih menggunakan songket dan jas tiga kancingnya. Nanta dan semua terbahak, kemudian Reza membantu Nanta melepaskan songketnya, Nanta segera melepas jas yang dipakainya, kini sudah terlihat santai dengan kemejanya.


"Dania..." panggil Micko mengulurkan songket dan jas Nanta, agar Dania merapikan dan menyimpannya, Micko mulai mengajarkan Dania untuk mengurusi suaminya. Dania pun menghampiri Papanya dan mengambil songket dan jas yang tadi dipakai Nanta, ia sudah mengerti maksud Papa.


"Iya." jawab Dania canggung karena semua mata menatap kearahnya. Micko menepuk bahu Dania sambil tertawa kemudian berpamitan pada yang Mama, Lulu dan yang lainnya. Mereka bersiap menuju ke mesjid untuk sholat jumat.


"Duh aku harus ke GBK." kata Nanta pada Papa saat membaca pesan di group basketnya, mereka dalam perjalanan ke Mesjid saat ini.


"Latihan?" tanya Ayah, Nanta menganggukkan kepalanya.


"Tidak bisa ijin?" tanya Micko.


"Aku coba tanya." jawab Nanta, tidak lama menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa, Om. Ini penting." jawabnya. Micko pun mengangguk tanda mengerti.


"Jam berapa?" tanya Ando.


"Jam tiga." jawab Nanta pada Ando.


"Habis makan siang langsung pulang saja kita, kamu harus pulang kerumah kan Boy, berganti pakaian." kata Kenan pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta memandang Micko meminta persetujuan, karena tadi Micko sudah bilang agar beberapa hari ini Nanta menginap dulu dirumahnya. Inginnya sih sampai Nanta masuk training camp. Tapi Kenan keberatan, ia juga ingin bersama Nanta sebelum berangkat ke Amerika. Micko mengangguk saja, ia mengerti kesibukan Nanta, Micko saja yang memaksa agar Nanta menikah ditengah kesibukannya.


"Aku pulang dulu, karena sore ini harus latihan di GBK." kata Nanta pada Dania sepulang mereka dari sholat jumat, Dania sudah bergaya santai saat ini, tapi tetap terlihat cantik.


"Sampai jam berapa?" tanya Dania.


"Tidak tahu, kalau kumpul bisa sampai jam sepuluh, tidak ingat waktu." kata Nanta apa adanya.


"Nanti pulang kesini atau bagaimana?" tanya Dania.


"Maunya?" Nanta menggoda Dania.


"Terserah Mas Nanta." jawab Dania terkekeh, ia masih belum berani menuntut Nanta untuk tidur bersamanya.


"Betul terserah aku?" Nanta terkekeh.


"Hehehe pikir saja sendiri." jawab Dania tersenyum lebar.


"Pulang kesini lah, masa pisah rumah." celutuk Oma Misha yang kebetulan lewat dan mendengarnya.


"Hehehe iya Oma, tapi Nanta pulang malam, tidak apa ya." ijin Nanta.


"Tidak apa sayang, Oma tunggu." jawab Oma Misha pada Nanta.


Setelah makan siang, Kenan dan keluarga termasuk Nanta pun pamit pulang, Dania melepaskan kepergian suaminya dengan tersenyum lebar.


"Jangan lupa pulang kesini." katanya saat menyalami Nanta dan mencium tangannya.


"Iya." jawab Nanta terkekeh.


"Cium dong, masa suami mau pergi tidak cium kening istri." kata Oma Misha pada Nanta.


"Eh..." Nanta terperangah mendengar perkataan Oma Misha, yang lain tertawa karena wajah kedua pengantin memerah.


"Itu biasa, Boy. Lakukan saja." kata Kenan terkekeh.


"Iya." jawab Nanta kembali mengulurkan tangannya agar disalami dan dicium Dania lagi, meskipun bingung Dania menuruti keinginan Nanta, kemudian Nanta mencium dahi istrinya.


"Mesti ya salamannya diulang." kata Raymond terbahak, yang lain ikut mentertawakan pengantin baru.