
"Kamu sendiri, Re? Mama mana?" tanya Kiki pada Regina yang tampak sedang melamun.
"Handphone kalian nggak aktif ya? mama hubungi berkali-kali nggak bisa. Mama sudah pulang sama Pak Min."
"Handphone kutinggal di dalam tas, Handphone kak Eja juga sedangkan tas tadi ku titip mama." jawab Kiki.
"Ini tas kamu, Ki." Regina menyerahkan tas Kiki yang dipangkunya sedari tadi. Kiki mengambil handphone milik Reza lalu menyerahkan pada suaminya.
"Mama menyusul Papa ke kantor. Rupanya Rekanan Papa membawa Istrinya, mau dikenalkan dengan Mama." Reza menjelaskan setelah membaca pesan dari Mama.
Lalu mereka beranjak meninggalkan coffeshop, sementara sepasang mata tampak sedih memandang punggung Kiki, Reza dan Regina. Mata milik Sheila tampak sedikit basah. Hati kecilnya tak ingin mengganggu kebahagiaan Reza, tapi ocehan Retno membuat Sheila bergerak sesuai keinginannya, ia yang tak rela melepas Reza begitu saja ingin Sheila bersama Reza.
Perjalanan dari Mal menuju Warung Elite tak memakan waktu lama. Saat tiba diruang kerja tampak Mario sedang sendiri diruangan, tersenyum sumringah menyambut istri dan sahabatnya.
"Wow belanja apa?" katanya tersenyum lebar melihat tangan Regina yang penuh dengan kantong belanja. Regina ikut tersenyum menghampiri Mario yang merentangkan tangan seakan ingin memeluk Regina. Benar saja, Mario langsung menarik Regina duduk dipangkuannya dan memeluk istrinya. Kiki terperangah melihatnya, memandang Reza yang tampak cengar-cengir. Sepertinya Reza menyampaikan sesuatu pada sahabatnya tanpa sepengetahuan Kiki.
Regina tampak salah tingkah, sempat ingin berdiri tapi Mario menahannya, lalu ia mengintip isi kantong belanja Regina.
"Aku dibelikan apa?" katanya sambil menatap Regina mesra. Mario kenapa ya? Regina tampak bingung, baru kali ini Mario memeluknya dan menatapnya dengan mesra.
"T-shirt dan Polo Shirt." jawab Regina menunjuk salah satu kantong belanja yang berisi dua buah kaos.
"Makasih ya." Mario mengecup pipi Regina dan mengerlingkan mata pada sahabatnya. Kiki bersikap seakan biasa saja lalu memilih duduk di sofa, Reza mengikuti menghempaskan badan di sebelah Kiki, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan istrinya. Aih kenapa sih mereka, batin Kiki menatap Reza dan Mario bergantian.
"Ngantuk aku dek, bobo sebentar ya." Reza memejamkan matanya dan tak lama terpulas.
"Habis kerja keras ya?" Mario menggoda Kiki.
"Mungkin dia lelah, dari kantor menyusul ke Mal, terus lanjut kesini." jawab Kiki memandang suaminya yang selalu terlihat tampan dan klimis.
Regina segera menggerakkan badannya ingin beranjak. "Nanti kakimu keram." katanya pada Mario.
"Sebentar saja begini, aku masih kuat." jawab Mario kembali mengeratkan pelukannya.
"Jadi kamu ingin hamil masal Ki? Sudah janjian juga sama Intan dan Monik?" tanya Mario membuat Kiki membelalak. Rupanya Reza sudah membocorkan pada sahabatnya.
"Iya, biar anak kita seumuran, seru kan?"
"Kamu sudah siap, Re? Aku tergantung kamu." Mario tersenyum nakal memandang Regina yang kembali merah merona.
"Hei, aku tanya?" desak Mario.
"Langsung sikat aja friend." sahut Reza dengan mata terpejam. Kiki jadi mencubit pipi Reza gemas.
Rencana Reza untuk menyelesaikan pekerjaannya di Warung Elite ternyata tak terlaksana. Sedang asik tidur dipangkuan Kiki, Andi dan Erwin datang. Andi tampak biasa, tak terlihat sedih atau galau.
"Mau nanya apa, Ki? Cindy curhat apa?" tanya Andi pada Kiki. Tanpa ragu Kiki menceritakan apa yang Cindy katakan via telepon tadi pagi.
Andi POV
Pesawat mendarat dengan sempurna di Kuala lumpur, Supir kenalan Papa yang menjemput dibandara dan kami langsung menuju alamat yang sudah diberikan Cindy. Perjalanan tak butuh waktu lama karena Cindy dan keluarga tinggal di sekitar daerah Putra Jaya, yang dekat dengan bandara.
Cindy menyambut dengan senyum sumringah, terlihat sangat bahagia.
"Selamat datang di Kuala Lumpur." katanya sambil melebarkan tangan, Rasanya ingin memeluk, tapi apa kata Orang Tuanya nanti.
"Mama, Papa, mana?" langsung saja kutanya karena kesini ingin berkenalan dengan mereka.
"Jadi Nak Andi punya restauran di Jakarta?" Sebenarnya tak bermaksud berbangga diri dengan menceritakan apa yang aku miliki, tapi memang itu saja kegiatanku saat ini yang menghasilkan uang.
"Iya Om."
"Keluarga kamu berarti pengusaha ya, apa ada yang bekerja di bidang pemerintahan?"
"Ga ada Om, semua berbisnis."
Karena hari sudah malam, setelah Sholat magrib Aku diajak makan malam bersama. Sekali lagi, sambutan orang tua Cindy sangat ramah bahkan cenderung hangat. Sepertinya akan mendapat lampu hijau kalau begini.
"Kamu menginap dimana, Nak?" tanya Papa Cindy.
"Rencana di hotel sekitar sini saja, Om."
"Menginaplah disini, banyak kamar kosong. Tak usah menginap di hotel." Papa Cindy menawarkan, walaupun tak enak hati akupun akhirnya mengiyakan. Kemudian aku meminta supir yang mengantarku untuk pulang, karena aku tak jadi mencari hotel. Tapi kuminta handphonenya standby, khawatir aku membutuhkan untuk nanti malam, siapa tahu Cindy ingin jalan-jalan. Sudah disuruh menginap apa tak lampu hijau? Harapanku melambung tinggi, dengan penuh percaya diri setelah makan malam aku mulai menyampaikan niatku datang ke Kuala Lumpur.
"Om, Tante, tujuan saya kesini, ingin meminta restu Om dan Tante, karena saya serius menjalin hubungan dengan Cindy." kataku dengan hati-hati. Sementara Cindy sibuk didapur, mungkin membereskan meja makan yang masih berantakan saat kami kembali ke ruang tamu.
"Berteman saja tak masalah, Nak Andi. Kalau jodoh kita serahkan sama Allah." jawab Papa Cindy.
"Begini, Nak Andi. Keluarga kami ini kebanyakan dari Birokrat. Tentunya kami berharap Cindy juga bekerja dan mendapatkan jodoh yang bekerja di sana. Pendapatannya lebih jelas, kalau pengusaha pasti akan ada pasang surut, tak selamanya di atas." Mama Cindy langsung mengambil alih dengan wajah tersenyum menyampaikan pendapatnya.
"Saya memang hanya pengusaha, tapi In Syaa Allah saya mampu menghidupi Cindy jika kami menikah nanti, Tante." aku berusaha meyakinkan.
"Bukan itu saja, Nak Andi. Keluarga kami juga harus menikah dengan suku yang sama, kami harus meneruskan garis keturunan kami. Itu yang paling sulit kami langgar, jika di langgar maka Cindy harus dicoret dari keluarga kami. Apa nak Andi tega Cindy kehilangan keluarganya?" lanjut mama Cindy menjelaskan dengan halus. Ah dijaman modern seperti ini dan mereka sudah merantau ke negeri seberang, mereka masih saja mementingkan silsilah keluarga. Rasanya tak masuk akal.
Akhirnya kuputuskan untuk pulang secepatnya. Rasanya tak perlu lagi memperjuangkan cintaku untuk Cindy. Rencana kami untuk berkeliling Kuala Lumpur esok hari kubatalkan sepihak, langsung kurubah jadwal kepulanganku menjadi besok pagi dengan alasan ada urusan. Aku tak mau ada kenangan yang membekas jika kami melanjutkan rencana kami. Akupun tak mau memberi harapan lebih lagi pada Cindy, karena aku tak mau Cindy melawan pada orang tuanya terutama Ibu. Jika aku melanjutkan hubungan kami dibalik layar, sudah terbayang hubungan itu pasti hanya akan terasa melelahkan.
POV OFF
"Sabar ya kak Andi, tapi mestinya Cindy dijelaskan permasalahannya, jangan pergi begitu saja, dia jadi bertanya-tanya." Kata Kiki pada Andi.
"Nantilah, sekarang gue menata hati dulu."
"Pakai ditata memang berantakan hati lu, friend?" tanya Reza menggoda Andi.
"Kusuuutttt." sahut Erwin terkekeh.
"Siaul, tetap terlihat ganteng kan?"Andi mengangkat kedua alisnya.
"Ganteng." sahut Kiki dan Regina bersamaan, seketika mendapat cubitan halus dari suami mereka tak rela pria lain di bilang ganteng.
"Jodoh ga kemana friend." Reza menyemangati sahabatnya.
"Iya, gue santai kok. Jangan khawatir."
"Kak Andi sih aku ga khawatir, Cindy yang aku pikirkan." kata Kiki yang tahu bagaimana Cindy.
"Kamu jelasin pelan-pelan dek."
"Harusnya Kak Andi, bukan aku." suara Kiki mulai meninggi.
"Hei, iya nanti gue yang jelasin. Kalian tenang saja." Andi tertawa melihat keresahan yang ada didepan matanya.