I Love You Too

I Love You Too
Nervous



Dini meringis menarik nafas panjang dan meninggalkan rombongan tamunya secara tiba-tiba. Tentu saja Deni jadi nelongso, tanpa ada jawaban, Dini pergi begitu saja, Deni menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Ia berusaha untuk tenang, sudah lah berarti benar yang Samuel bilang kalau Dini lari berarti bukan jodoh.


Nanta menaikkan alisnya, memberi kode pada Doni yang masih duduk dikursi belakang Dini tadi.


"Lagi ke toilet." kata Doni pelan, semua menganggukkan kepalanya, tetapi Deni tidak percaya, Dini pasti bingung harus jawab apa, makanya menghindar.


"Biarkan Dini berpikir dulu ya. Kita kasih waktu setengah jam." kata Om Jonas pada Deni.


"Iya Om." jawab Deni tersenyum kaku.


"Kak Dini kalau panik atau stress biasanya mules." kata Doni memberitahu Deni.


"Asam lambung naik ya." kata Samuel terkekeh. Deni tertawa saja, sementara Om Jonas sibuk menghubungi keluarganya dan staffnya untuk mengurus pernikahan Deni dan Dini besok. Nanta jadi bingung, katanya keputusan ada pada Kak Dini, tapi kenapa Om Jonas sudah menghubungi beberapa orang untuk mengurus persiapan pernikahan besok pagi pukul sembilan.


"Besok menikahnya disini saja ya." kata Om Jonas.


"Dini belum jawab Om." kata Deni pada Om Jonas, tidak berani sebut calon mertua melihat sikap Dini seperti itu.


"Sudah pasti setuju." jawab Tante Jonas yakin. Nanta mengerutkan dahinya, yakin sekali Tante.


"Menurut gue juga begitu." kata Doni pada Nanta.


"Setuju tapi kenapa pergi? pembicaraan belum selesai." tanya Nanta bingung.


"Dia nervous." jawab Doni serius.


"Mungkin menghindar." kata Nanta. Doni menggelengkan kepalanya.


Setelah ditunggu selama setengah jam Dini belum juga muncul sementara Kenan dan Samuel saling berpandangan, Deni jangan ditanya lagi ia sudah pasrah saja, mungkin memang harus begini. Tidak ditolak tapi tidak diterima juga, sudahlah nanti di Abu Dhabi saja Deni dekati lagi.


"Kalau begitu kami pamit undur diri, mungkin Dini memang perlu waktu." kata Deni akhirnya, hari sudah malam, tidak mungkin juga menunggu Dini keluar lagi.


"Sebentar saya panggil Dini." Tante Jonas segera berdiri dari duduknya.


"Tidak usah Tante, biarkan saja Dini berpikir dulu." kata Deni pada Tante Jonas.


"Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih atas kunjungannya ya, lamaran kami terima." kata Om Jonas pada Kenan dan yang lainnya. Tante Jonas juga tersenyum terlihat bahagia. Doni pun melepas keluarga Nanta dengan gembira, padahal hati Deni sedikit menangis.


"Besok jam delapan pagi sudah disini semua ya, akad nikah pukul sembilan pagi. Semua sudah beres kalian tinggal datang saja." kata Om Jonas pada Deni dan yang lainnya.


"Loh Dini tidak bilang iya, Om. Saya tidak mau menikahi gadis yang tidak menerima lamaran saya." tolak Deni pada Om Jonas. Om Jonas terkekeh sambil menepuk bahu Deni. Ia menarik nafas kasar, kemudian kembali tertawa.


"Siapa yang menolak kamu sih, Dini hanya nervous." kata Om Jonas masih tertawa.


"Jadi Dini itu kalau tidak suka tidak akan pernah mau di antar jemput. Sama kamu mau toh, kalian sudah dua kali jalan." Om Jonas menjelaskan.


"Untuk laki-laki yang pernah kami jodohkan saat mereka datang melamar Dini tidak akan mau menemui." kata Om Jonas lagi.


"Maaf Om saya tidak mau di permalukan besok, saya masih menunggu jawaban dari Dini." kata Deni hati-hati, Ia tidak mau keluaga Jonas tersinggung.


"Baiklah, kita tunggu saja Dini menghubungi Deni ya." kata Om Jonas tertawa kemudian berbisik pada Kenan. Kenan jadi ikut tertawa dan menganggukkan kepalanya. Lucu juga pengalamannya melamar kali ini.


"Apa masih ada toko perhiasan yang buka jam segini?" tanya Kenan pada semuanya saat mereka semua sudah dimobil.


"Buat apa?" tanya Deni malas.


"Buat Mas Kawin, memangnya besok cuma modal badan?" Kenan terkekeh.


"Ah bikin sedih saja, sudahlah jangan bahas besok." sungut Deni melipat kedua tangannya menjadikan sandaran kepala. Handphonenya juga dari tadi tidak ada bunyi ataupun pesan masuk dari Dini, Deni menarik nafas panjang.


"Jangan sedih dong Om, kalau Om mau besok kan penghulu sudah siap." kata Nanta pada Om Deni.


"Menikah tanpa mempelai perempuan, yang benar saja. Kalaupun ada juga, dia datang dengan wajah cemberut, ah malas sekali melihatnya begitu. Itu harusnya jadi hari bahagia Om dan istri Om." kata Deni pada Nanta, terlihat jelas wajahnya kecewa.


"Terus Om tidak jadi ikut ke Abu Dhabi? nama Om sudah masuk loh."


"Ikut dong, itu kan kesempatan Om untuk meyakinkan Dini." kata Deni masih mau usaha.


"Syukurlah." Nanta menarik nafas lega.


"Tidak usah Mas Kenan." tegas Deni.


"Bersiap saja supaya besok pagi tidak terburu-buru." kata Nanta pada Om Deni sambil menyolek perut Om nya.


"Kamu ini bercandai Om terus." Deni menepuk bahu Nanta. Samuel tidak lagi bicara, ia sibuk menyetir.


"Tidak hubungi Papa, Den?" tanya Samuel


mengingatkan.


"Ck... bikin malu saja " kata Deni pada Samuel.


"Mungkin Dini belum jawab, karena belum minta restu Papa."


"Iya juga ya." Deni mengambil handphonenya dan menghubungi Papanya.


"Ih sudah jam berapa ini?" omel Baron pada putranya.


"Aku minta restu, doakan berhasil dong." kata Deni pada Papanya.


"Memangnya gagal?" tanya Baron membuat Kenan terbahak, handphonenya memang Deni loudspeaker.


"Ken, tertawa saja kamu." omel Baron pada Kenan.


"Bang, ayolah ke Jakarta, kumpul kita." kata Kenan tertawa.


"Iya, segera berangkat, siapa yang jemput ke Bandara?" tanya Baron.


"Mau apa ke Jakarta?" tanya Deni pada Papanya.


"Sudah lama tidak bertemu cucu kan, memangnya tidak boleh?" kata Baron sengit.


"Oh aku kira karena mendengar aku mau menikah." Deni terkekeh.


"Memangnya kamu mau menikah?" tanya Baron pura-pura tidak tahu.


"Kan aku minta restu tadi, memang tidak menyimak ya?" gerutu Deni, Baron terbahak.


"Den, emas peninggalan Mama kamu masih banyak loh, besok Papa bawakan."


"Untuk apa Pa, sudah Papa simpan saja."


"Mumpung ada lengkap, jadi besok bisa dibagikan untuk kamu dan Nona, kalau kamu tidak suka kan bisa kasih ke istri kamu besok.


"Kalau ada istrinya." sungut Deni.


"Kan sudah Papa doakan supaya lancar dan segera sah." Baron terkekeh.


"Aamiin, Papa sskarang dimana?" tanya Deni ingin tahu.


"Di Surabaya." jawab Baron tersenyum, tapi Deni tidak melihatnya.


"Oh kebetulan sekali, jadi Papa memang sudah niat lama mau ke Jakarta ya? Anak cucu papa kumpul semua nih dirumah Kenan."


"Iya makanya, sampai bertemu besok ya." kata Baron yang malam ini rencananya menggunakan pesawat terakhir ke Jakarta demi pernikahan putra sulungnya. Tadi Kenan sudah minta Baron melalui chat agar langsung ke Jakarta malam ini juga, saat mereka dalam perjalanan ke rumah keluarga Jonas.


"Sudah siap terbang, Bang?" tanya Kenan pada mertuanya.


"Iya, Atang jangan lupa jemput." kata Baron.


"Tenang saja. Semua sudah dikerahkan." kata Kenan kemudian, keduanya terbahak.


"Toko perhiasan sudah tutup semua, Pa." kata Nanta setelah sekian lama browsing internet.


"Ya sudah tidak apa." Kenan tersenyum penuh arti.