I Love You Too

I Love You Too
Minta maap



"Mamon..." Balen hampiri Mamon yang sedang duduk manis diruang keluarga.


"Ya sayang." duh Mamon manis betul deh, tidak naik satu oktaf seharian ini.


"Tan Aban Leyi mo puna isti." cerita pada Mamon yang dari tadi di dalam kamar.


"Oh ya? sama siapa jadinya? anak buah lu ya Den?" tanya pada Abangnya. Deni mengedikkan bahunya karena tadi Larry jawab sama Balen belum tahu.


"Sama Tatak Pemi." jawab Balen pandangi Mamon.


"Abang Larry bilang sama Balen?" tersenyum pandangi Balen, aman sudah anaknya tidak akan minta jadi istri Larry lagi.


"Aban yan bilan." jawabnya lagi sambil memeluk Mamon.


"Bagus dong, jadi teman Abangmu sudah menikah semua nanti, kakak Balen jadi banyak deh." jawab Nona bahagia.


"Yah." jawab Balen anggukan kepalanya.


"Nanti kalau Abang Larry sudah menikah kamu tidak bisa bebas hubungi abang Larry loh, nanti istrinya marah anak kecil ganggu-ganggu telepon terus." Nona ingatkan Balen.


"Yah, Baen tepon Aban Danil Baen aja." Nona langsung meringis sekarang bilang Abang Daniel Baen.


"Kamu telepon Abang Nanta saja sering juga tidak apa-apa." jawab Nona pada Balen.


"Eman napa tao tepon Aban Danil?" menatap Mamon dengan wajah tanpa dosa.


"Dia sekolah nanti terganggu." jawab Nona, bilang saja begitu padahal tidak mau gadis kecilnya pikirkan mau jadi istri lagi.


"Tasian Aban Leyi." tertawa geli.


"Kenapa kasihan?" tanya Nona bingung


"Istina butan Baen." Deni langsung tertawa geli, keponakannya benar-benar ajaib.


"Duh anak gue kenapa begini ya?" Nona pandangi Abangnya.


"Turunnya dari mana juga." Deni terbahak.


"Gue tidak begini." jawab Nona.


"Menurut lu, gue sama Samuel lama menikah karena siapa?" Deni ingatkan penderitaannya dulu harus hadapi kelakuan Nona yang selalu membuat mereka putus cinta sesering mungkin.


"Mamon duu mo jadi isti juda?" Nona pelototi Deni mendengar pertanyaan Balen.


"Iya kan jadi istri Papon." jawab Nona.


"Dai tecin mo jadi isti Papon?" tanya Balen lagi.


"Tidak, Mamon baru bertemu Papon setelah Mamon besar." jelaskan pada Balen."


"Jadina Mamon masih tecin ndak mo jadi isti ya?"


"Iya, waktu kecil Mamon belajar yang rajin." Deni mencibir mendengar jawaban Nona.


"Payah Mamon." malah bilang Mamon payah.


"Kenapa payah?"


"Hausna mo jadi isti Papon dai Mamon tecin."


"Mamon saja baru bertemu Papon setelah dewasa."


"Paponna numpet ya?" Kenan tertawa mendengarnya.


"Iya Papon masih sembunyi." jawab Nona tertawa.


"Aban Danil Baen don ndak numpet." malah balik lagi bahas Daniel.


"Kamu bicarakan Daniel terus, keselek dia nanti." kata Nona pada Balen.


"Eman ditu Om Deni, umah satit banak yan teseek soanna dipandiin namana?' konfirmasi pada Deni secara kesehatan.


"Belum ada yang begitu sih." Deni terbahak.


"Mamon ndak nelti ya Om Deni." kembali Nona meringis dianggap tidak mengerti.


"Duh banyak dosa sama Papa nih gue." kata Nona membuat semuanya tertawa.


"Minta maap don Mamon." nasehati Mamon.


"Iya sayang."


"Handphone Mamon mana deh, tita tepon Opon." minta handphone Mamon hubungi Opon. Nona serahkan handphonenya pada Balen.


"Samuel kenapa tidak ikut sih?" tanya Nona saat Balen sibuk hubungi Opa Baron.


"Kalau semua berangkat siapa yang urus rumah sakit." kata Deni pada Nona.


"Iya sih." Nona anggukan kepalanya.


"Opon..." wajah Opa Baron sudah terlihat pada layar.


"Baen..." tersenyum lambaikan tangan pada Balen.


"Mamon mo minta maap nih tatana banak dosa." langsung arahkan pada Mamon, Opa Baron terbahak mendengarnya.


"Kenapa kamu?" tanya Baron pada Nona. Nona ceritakan apa yang baru saja terjadi, Opa Baron tertawa mendengarnya.


"Harus minta maaf itu, benar yang Balen bilang." langsung manfaatkan kesempatan.


"Mesti sungkem dong Pa." melirik Kenan.


"Oh iya." jawab Baron anggukan kepalanya.


"Aku yang ke Malang apa Papa ke Jakarta?" tanya Nona pada Papanya.


"Karena kamu yang mau minta maaf, kamu saja ke Malang." tersenyum jahil.


"Mas Kenan..." Nona panggil suaminya.


"Hmm ..." mulai pijiti dahi, mesti cek jadwal kalau begini urusannya.


"Tita te Malan, Papon." joget-joget senang naik pesawat lagi.


"Jangan lama-lama Ken." kata Baron pada menantunya.


"Iya Bang."


"Jangan iya-iya saja."


"Ck... seperti tidak tahu saja jadwalku di kantor, Raymond sudah mau kutarik ke Jakarta." kata Kenan pada Baron.


"Siapa pegang disana?"


"Fero."


"Duh sepi deh gue, apa gue pindah Jakarta saja ya?" mulai berpikir keras.


"Kantor di Malang bagaimana?" tanya Nona pada Papanya.


"Seharusnya kan kamu, kamu malah enak-enakan di Jakarta." mulai ngomel sama anaknya.


"Matana Mamon minta maap." bicara pelan ajari Mamon karena Opa Baron marah.


"Iya maap ya Pa, semoga ada yang bisa Papa percaya disana." kata Nona menurut pada Balen.


"Duh manis betul anak gue." semua tertawa jadinya.


"Opon, Jatata aja deh, tasian Papon Baen." katanya pada Opa Baron.


"Sama Opon tidak kasihan?" tanya Opa Baron.


"Tasian juda, matana Jatata aja, Baen jadain." sok iye mau jaga Opa Baron.


"Kamu katanya mau jaga Oma Nina dan Opa Dwi." ingatkan Balen.


"Iya semuana Baen jadain." berjanji sambil angkat kedua jarinya.


"Nanti Opon bicarakan dulu sama Oma Mita ya."


"Janan ama-ama, Baen mo nobol nih."


"Ngobrol apa?"


"Oten Baen, uanna beum cutup." mengadu belum bisa beli hotel.


"Jadi maksudnya apa?" tanya Baron terkekeh.


"Puna uan ndak?" tanya sama Papon.


"Punya sih."


"Tasih Baen don bei Oten." Kenan terbahak gadis kecilnya melobby Opa minta belikan hotel.


"Opa Dwi dia lobby juga?" tanya Baron pada Nona.


"Tidak tahu." Nona terbahak.


"Cucu apa ini jajannya mahal." Baron terbahak.


"Uan Baen masih di Ban."


"Terus kenapa?"


"Pate uan Opon aja Bei otenna."


"Uang kamu utuh?"


"Ya don, Baen tan mo te Hio."


"Maksudnya apa Non?


"Dia mau ke Ohio, kuliah disana." Nona terbahak.


"Papon mu banyak uang minta saja sama Papon beli hotel."


"Papon bilan tundu Baen dedek."


"Ya sudah tunggu besar saja."


"Umah Baen ndak muat tao semuana Jatata."


"Semua beli rumah sendiri Balen, tidak di rumah Balen."


"Tok ditu?"


"Iya dong kan sudah tinggal di Jakarta."


"Ndak sayan Baen nih."


"Sayang kok."


"Tapi ndak beiin Oten."


"Nanti kalau Balen besar."


"Tao udah besan bisa pate uan Baen sendii don."


"Nah itu lebih bagus."


"Opon nih." bersungut kesal.


"Tidak boleh cemberut sama Opon."


"Baen ninap Oten aja deh tao ditu."


"Tidak jadi beli hotel?" tanya Kenan pada gadis kecilnya.


"Ndak, Opon sih ndak mo beiin." salahkan Opon sekarang.


"Kan Balen mau beli sendiri."


"Baen mo te Hio uanna ndak cutup don." ingin cepat ke Ohio saja rupanya ikut Abang Daniel, semua tertawa jadinya