I Love You Too

I Love You Too
Halu



"Ma, Regina mau ikut ke Mal ga papa kan?." Kiki melapor pada Mama Nina ketika akan berangkat ke Kampus.


"Dengan senang hati sayang, malah enak kan, jadi ramai yang temani Mama." Nina tak keberatan sama sekali.


"Jadi nanti Pak Min habis antar aku, jemput Rere, baru jemput mama ya, trus jemput aku lagi baru kita ngemal."


"Duh muter-muter gitu Pak Min nya, kasihan dong Ki, Mama nanti diantar Papa aja, kita ketemu disana, jadi kamu selesai kuliah jemput Rere, langsung ke Mal. Bisa kan Pa antar Mama?"


"Mau di antar atau di drop?" tanya Dwi meminta kepastian. Karena kalau antar, berarti Dwi harus ikut keluar masuk toko.


"Antar dong Pa, mau kan?"


"Kan sudah ditemani Kiki ma, drop aja ya. Setelah drop Mama, Papa langsung mampir ke Kantor. Mau lihat suasana kantor dulu."


Sesuai saran Mama sepulang kuliah, Kiki menjemput Regina dan mereka langsung ketempat tujuan. Sepanjang jalan Kiki sudah saling berhubungan dengan Mama Nina via telepon. Rupanya Mama Nina diantar supir karena Reza tiba-tiba saja menghubungi Papa Dwi meminta untuk segera ke Kantor. Salah satu rekanan mereka yang mendengar Dwi lagi ada di Jakarta ingin makan siang bersama sekaligus membahas perkembangan usaha mereka.


Kiki dan Regina lebih dulu sampai, sementara Nina masih terjebak macet di jalan, mereka menunggu di salah satu coffee shop yang dekat dengan pintu masuk.


"Re, kamu mau langsung punya anak atau ditunda dulu?" tanya Kiki ingin tau, Regina tersenyum lebar sambil menunjuk Kiki.


"Kamu hamil Ki?" tanya Regina masih sambil tersenyum menggoda Kiki.


"Belum," Kiki mengusap perutnya. "Aku mau tau aja, Kak Eja ingin sekali punya anak, hamil bareng yuk." ajak Kiki membuat Regina membelalakkan matanya.


"Ck mengajak hamil seperti mengajak senam. Bikin dulu lah. Kalau belum bikin mana bisa jadi anak."


"Sudah kan? Eh Re kamu sudah mulai bikin belum? Kiki mulai Kepo, mengerlingkan matanya pada Regina mulai mengorek urusan kamar orang. Regina terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.


"jawab yang benar Re, sudah belum?" Kiki setengah memaksa. Ia tahu mario dan Regina baru saling mengenal. Tapi mereka selalu terlihat mesra. Apalagi cara Mario menatap Regina dan juga Mario sangat perhatian.


"Belum saatnya Ki, belum ada cinta diantara kami, kalau tanpa cinta berarti hanya nafsu. Aku ga mau kalau hanya nafsu."


"Kamu belum cinta kak Mario, Re? Aku lihat Kak Mario sudah mulai mencintaimu. Kalau kamu khawatir itu hanya nafsu, kurasa dia sudah jatuh cinta sama kamu Re. Percayalah."


"Ki, kamu cuma lihat tampak luarnya aja, didalamnya kami yang menjalankan dan yang merasakan." Regina menghela nafas panjang.


"Duh aku sama kak Eja apa hanya nafsu ya? disaat aku masih ragu sama perasaanku, kami sudah melakukannya." Kiki menutup mulutnya, malu sendiri dengan kelakuannya.


"Hei kalian saling mencintai, aku tau itu. Bahkan dihari pertama menikah pun sudah terlihat love love bertebaran dimata kalian."


"Nah itu sore pertama kami." Kiki tertawa malu-malu.


"Nah apa yang bikin kamu ragu, Ki? aku iri sama kamu."


"Iri kenapa, suamimu juga luar biasa, Re. Kita beruntung punya suami yang menyayangi kita. Apa yang bikin kamu iri?"


"Kamu dan Reza ga ada bayang-bayang masa lalu, tapi kami punya. Aku putus terpaksa dengan kekasihku, Mario pun begitu wanita yang dicintainya menghilang tanpa kabar."


"Nyo, kata siapa kami ga ada bayang-bayang masa lalu. Aku masih khawatir dengan Sheila dan ibunya. Apalagi Sheila terakhir ketemu sangat menyebalkan." Kiki bersungut mengingat Sheila.


Sebenarnya Regina ingin bertanya lebih lanjut tentang Sheila, tapi Mama Nina keburu datang sehingga mereka langsung berkeliling Mal masuk dari toko satu ke toko yang lain, seperti biasa yang katanya hanya mencari baru untuk Kenan, merembet membeli baju untuk Mama, Papa, Reza bahkan Kiki. Regina pun tak ketinggalan ikut berbelanja, masuk butik keluar butik.


"Kamu lelah Nyo?" tanya Kiki pada Regina. Khawatir Regina kelelahan, karena Kiki merasa urat kakinya sudah mau putus.


"Nyo, mau ke lantai dua sama tiga pun aku masih sanggup." Jawab Regina santai, rasanya Kiki mau pingsan mendengarnya.


"Wah mama dapat partner nge Mal yang oke nih. Kiki kalau mau istirahat di cafe, mama antar dulu yuk nak, nanti mama biar keliling sama Regina." Kata Nina yang sudah melihat Kiki sebentar-sebentar pegang pinggang.


"Kiki ke toko buku aja ya Ma, nanti mama telepon aja kalau sudah selesai." kata Kiki yang sudah tak sanggup mengikuti cara shopping Mama Nina dan Regina.


"Re, sepertinya sekarang aku yang iri sama kamu." kata Kiki tertawa sambil meninggalkan Mama Nina dan Regina menuju toko buku.


Semenjak menikah Kiki tak pernah membaca buku lagi, kecuali buka yang berhubungan dengan kampusnya. Kiki ingin melihat buku best seller yang ada bulan ini. Kalau ada yang cocok Kiki ingin membelinya. Handphone Kiki berdering, tampak nama "Pujaan hatiku." pada layar. Siapa lagi kalau bukan Reza. Kontak nama yang awalnya "Kak Eja" dirubah oleh suaminya. Kalian kira Kiki yang merubah??? tentu tidak saudara😁.


"Kata mama kamu mencar dek? Kemana? Kan aku sudah bilang jangan sendirian." Reza langsung mencecar Kiki dengan banyak pertanyaan.


"Iya kak aku capek, jadi aku nunggu di toko buku aja."


"Ya udah di toko buku aja jangan kemana-mana. Tunggu aku disana." Reza mematikan sambungan teleponnya, sementara Kiki hanya bisa terbengong. Lebay deh Kak Eja, batin Kiki, langkah kakinya menuju area buku-buku terpopuler bulan ini. Satu persatu buku yang ada Kiki amati. Mulai dari membaca judul buku, penulis dan halaman belakang yang menceritakan garis besar dari isi buku tersebut.


Mata Kiki terpaku saat melihat buku dengan sampul berwarna biru muda sebuah novel dengan judul "Cinta tak berujung." nama penulisnya menggangu pikiran Kiki, "Sheila". Novel itu menceritakan tentang persahabatan pria dan wanita, dimana mereka saling mencintai akan tetapi harus terpisah karena sang lelaki menikah dengan wanita pilihan ibunya.


Ceritanya klise banyak Novel seperti ini yang Kiki baca. Tapi Kiki teringat curhatan Kenan pada Reza dimeja makan. Apa ini novelnya kak Sheila ya? pikir Kiki. Tapi yang namanya Sheila bukan dia aja kan. Bisa jadi orang lain, pikir Kiki lagi.


"Ini novel terbaru aku, Ki." Kiki menoleh pada suara wanita yang berdiri disebelahnya.


"Kak Sheila, lagi disini juga. Selamat novelnya best seller." Senyum Kiki dibuat semanis mungkin untuk menutupi keterkejutannya.


"Makasih Ki." Sheila membalas senyum Kiki.


"Novel ini kisah aku dengan Bang Eja." sambungnya lagi masih dengan senyum yang teramat manis, tapi sungguh terasa menyakitkan untuk Kiki. Serasa jarum sedang berjalan menusuk dadanya. Lagi-lagi membuat Kiki muak dengan keadaan ini.


"Kamu harus baca Ki, kamu akan tau apa yang aku rasakan, dan kamu juga akan tau bagaimana Reza memperlakukan aku layaknya ratu selama ini. Sayangnya nasib baik tak berpihak padaku. Tante Nina lebih memilih kamu. Padahal tante Nina tau seberapa dekat aku dengan Bang Eja. Seberapa sayangnya Bang Eja sama aku."


"Nanti akan ku baca." Kiki memasukan buku tulisan Sheila kedalam keranjang bukunya.


"Isi buku ini aku baca ataupun tidak, ga akan berpengaruh untuk kami. Bagaimanapun kamu masa lalu Kak Eja dan aku yang ada sekarang hingga kedepannya nanti." Kiki berusaha sesantai mungkin.


"Kak Sheila, yang aku bingung, kalau kamu tau kalian saling mencintai, kenapa kamu ga mempertahankan dan memperjelas hubungan kalian. Kenapa justru kamu membiarkan Kak Eja mengantar aku pulang sementara kamu diantar Kak Erwin, hubungan macam apa itu? Cinta bertepuk sebelah tangan menurutku."


"Kamu bermain dengan perasaan kamu kak. Sorry menurut aku kamu halu." Kiki bergegas meninggalkan Sheila. Moodnya untuk membeli banyak buku hilang seketika, hanya buku Sheila yang dibayarnya saat tiba dikasir.