I Love You Too

I Love You Too
Pindah



Selama dalam perjalanan ke rumah Nona, keduanya lebih banyak diam, sibuk dengan fikirannya masing-masing. Nona juga banyak melamun, memikirkan perasaannya pada Kenan, apa iya gue jatuh cinta sama Mas Kenan ya? Masa sih baper begitu saja. Banyak lagi fikiran lain yang berkecamuk di otaknya. Kemudian Nona menghela nafas panjang.


"Banyak fikiran?" tanya Kenan akhirnya buka suara.


"Tidak." jawab Nona sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa diam saja, biasanya bawel."


"Mas Kenan sukanya aku diam apa bawel?" pertanyaan Nona membuat Kenan tertawa.


"Apa adanya saja." jawab Kenan kemudian.


"Kamu tidak mau tinggal dirumah Papa?" tanya Kenan begitu memasuki perumahan tempat tinggal Nona yang tampak minim penerangan.


"Malas." sungut Nona.


"Ke kantor jauh loh ini. Punya sendiri atau sewa sih? Bang Baron tahu kamu tinggal disini?" Kenan mencecar Nona dengan banyak pertanyaan.


"Sewa." jawab Nona santai.


"Bang Baron pernah kesini?" tanya Kenan lagi. Nona menggelengkan kepalanya.


"Papa belum tahu alamat tinggalku, baru ketemu Papa saja waktu makan siang sama Mas Kenan."


"Kamu sih marah-marah terus sama Papamu. Pindah saja ya?" bujuk Kenan padahal belum sampai dirumah Nona.


"Kenapa memangnya kalau disini?" tanya Nona.


"Saya kan ditugasi menjaga kamu, tapi rumah kamu ini jauh dari rumah saya, kalau kamu kenapa-napa perlu waktu lama menuju kesini." jawab Kenan.


"Jadi aku harus cari rumah yang dekat rumah Mas Kenan?"


"Paling tidak, yang mudah dijangkau, tidak memakan waktu seperti sekarang." Walaupun perjalanan antara rumah Kenan dan Nona memakan waktu tiga puluh menit di saat libur, bisa dipastikan saat hari kerja akan lebih lama lagi.


"Nanti lah aku diskusikan dengan Deni dan Samuel, lagi pula aku juga bingung mau pindah kemana." sungut Nona.


"Mau tinggal di rumah Mama?" Kenan menawarkan.


"Mama?" tanya Nona bingung, sejak kapan ia memanggil Mita Mama.


"Mama saya, mama Nina. Kamu bisa tinggal di paviliun saya waktu kuliah dulu. Jadi tidak terganggu dengan aktifitas Mama dan Papa. Selain itu disana juga ada beberapa pekerja yang bisa menemani kamu, saat Mama dan Papa ke Jakarta." kata Kenan berharap Nona mau menerima tawarannya. Dari gerbang perumahan ke rumah Nona saja memakan waktu lama dan masih banyak tanah kosong.


"Paviliunnya disewakan?" tanya Nona membuat Kenan terkekeh.


"Tinggal saja disana, nanti saya bilang Mama."


"Kalau disewakan aku mau. Deni dan Samuel bisa menginap disana tidak kalau lagi di Malang? berapa biaya sewanya, aku transfer."


"Bisa, ada dua kamar di Paviliun itu. Kamarku dan Kamar Bang Eja."


"Nanti kalau Bang Eja ke Malang bagaimana?" tanya Nona bingung.


"Mereka bisa menginap di rumah Raymond. Mau? saya telepon Mama ya." Kenan mengeluarkan handphonenya dan mulai menekan tombol pada layar.


"Mana sih rumah kamu, belum sampai juga." keluh Kenan sambil fokus menyetir dengan satu tangan memegang handphone.


"Stop kiri." teriak Nona ketika Mobil sudah sampai diujung jalan. Suasana tampak sunyi ditemani suara jangkrik. Tak banyak lampu rumah yang menyala karena kebanyakan masih kosong belum ditempati.


"Itu Deni dan Samuel sudah datang." Nona tampak semangat melihat Deni dan Samuel duduk diteras rumah.


"Kamu turun dulu, saya mau menelepon Mama. Nanti saya turun." kata Kenan karena panggilan teleponnya tersambung.


Nona cengar-cengir melihat Deni dan Samuel yang tampak kesal menunggu kehadirannya.


"Ternyata kalian yang sampai lebih dulu." Kekeh Nona tanpa dosa.


"Mampir dulu tadi ya?" tanya Samuel.


"Iya dirumah Mamanya Nanta, itu loh yang suami istri waktu kita ketemu dirumah sakit." kata Nona pada Samuel kemudian berjalan membuka pintu rumah dan menyalakan lampunya. Samuel menganggukkan kepalanya, ia ingat Tari dan Bagus saat akan menjemput Nona pulang dari rumah sakit.


"Gue pindah kontrakan, tapi tidak ke rumah Papa ya." dengus Nona.


"Kenapa? Tante Mita, kamu kan sudah kenal." kata Deni pada adiknya.


"Iya, tapi kita tidak seakrab itu. Jadi gue belum nyaman. Mungkin kalau jadi gue sewa paviliun Tante Nina. Ada dua kamar disana. Mas Kenan lagi tanya Tante. Kalau bisa kan enak kalian tidak perlu khawatir dan tetap bisa nginap kalau lagi ke Malang."


"Mas Kenan tinggal disitu juga?" Deni menaikkan alisnya seperti jagoan.


"Tidak, mereka beda rumah. Gue juga belum pernah lihat tapi lokasinya tidak terlalu jauh. Puas?" tanya Nona pada Deni dan Samuel.


"Alhamdulillah." jawab Samuel lega.


Mereka kembali ke teras menunggu Kenan turun dari mobil. Rupanya Kenan sudah berkeliling dan tampak sedang melihat-lihat situasi rumah disekitar. Kemudian masuk sambil menggelengkan kepalanya, tersenyum pada Deni dan Samuel sambil mengangkat tangannya.


"Kapan mau pindah?" tanyanya pada Nona.


"Biayanya berapa?" tanya Nona pada Kenan.


"Tagihan langsung ke Mr. Baron." jawab Kenan terkekeh.


"Aku tidak mau dibayari Papa." dengus Nona.


"Sombongnya. Ngambek jangan lama-lama." Deni mengacak anak rambut Nona.


"Kalau tidak mau dibayar, aku cari tempat lain." kata Nona melipat tangannya didada. Seperti bocah kalau lagi ngambek.


"Kamu tanya langsung sama Mama ya. Itu kan rumah Mama bukan rumah saya. Telepon saja nanti. Ini jadi kalian duluan yang sampai." kata Kenan sambil tersenyum lebar.


"Mampir dulu dirumah Nanta ya tadi?" kata Deni yang mendengar penjelasan Nona pada Samuel tadi.


"Iya, suami Mamanya Nanta bikin pempek, jadi kita disuruh menyicipi dulu." kata Kenan apa adanya.


"Wah, Tante Mita juga bisa bikin tuh." kata Deni semangat.


"Iya Mbak Mita memang serba bisa. Kalian tinggal bilang mau makan apa."


"Masih saudara ya, Mas? tadi Nanta panggil tante Mita Bude." tanya Deni kepo deh kepo.


"Mbak Mita sepupu jauh Mamanya Nanta. Tapi kami lumayan akrab juga." jawab Kenan sabar.


"Kabari saya kapan mau pindah. Kalau Bang Baron lihat kamu tinggal disini langsung diangkut kamu, Non." kata Kenan serius.


"Betul, Mas Kenan hafal betul gaya Papa." Deni terkekeh.


"Saya tuh dari kuliah sudah sama Bang Baron terus. Sudah dua puluh tahun kenal kita, Bang Baron ke Cirebon, saya ke Jakarta, selalu begitu."


"Dari sebelum menikah sudah kenal Papa?" tanya Nona tertarik. Kenan mengangguk.


"Kita masih pada bocah." Kata Samuel pada Deni.


"Apa lagi aku." sahut Nona.


"Ya sudah ya, kalau ngobrol terus tidak pulang-pulang ini." Kekeh Kenan yang akhirnya benar-benar pamit.


"Mas Kenan terima kasih untuk hari ini." kata Nona saat Kenan akan menaiki mobilnya.


"Hanya hari ini?" tanya Kenan menggoda Nona.


"Terima kasih juga untuk yang kemarin, besok dan seterusnya." jawab Nona sambil tertawa lepas.


"Nona kalau nakal jewer saja, Mas." kata Deni pada Kenan.


"Hahaha tenang saja, selama ini Nona santun kok." jawab Kenan sambil tertawa.


"Oh tentu saja sama Mas Kenan tidak akan berani dia." kata Samuel tersenyum jahil pada Nona. Kenan tampak menyeringai melihat reaksi Nona menghadapi godaan Samuel. Nona jauh lebih kalem dibanding saat dirawat di rumah sakit dulu.