
"Apa kabar?" Kripto menyalami adik tirinya, ia hanya sendiri tidak ditemani Peter atau siapapun.
"Seperti yang kamu lihat, selalu baik." jawab Oma Misha membalas uluran tangan Kakak tirinya itu.
"Ini cucuku Dania dan suaminya Nanta." Oma Misha mengenalkan keduanya pada Kripto, Nanta dan Dania menyalaminya dengan sopan.
"Senang bisa bertemu langsung dengan kalian." kata Opa Kripto pada keduanya.
"Langsung saja tidak usah basa-basi." kata Oma Misha menatap Kripto tajam, ingin tahu apa maksud Kripto ingin bertemu dengannya.
"Tidak boleh ya saya mengakrabkan diri dengan cucu kamu?" tanya Kripto tersenyum.
"Untuk apa akrab kalau pada akhirnya kamu sakiti juga." Oma Misha tersenyum miris.
"Misha saya mau hubungan kita membaik, saya minta maaf sudah berlaku jahat selama ini." Oma Misha hanya mendengarkan dengan wajah datar, ia ingin mendengar kelanjutan dari kalimat Kakaknya.
"Saya sudah tidak peduli dengan keadaan perusahaan, kalau kamu mengira saya minta maaf karena perusahaan Peter bangkrut." kata Kripto sungguh-sungguh.
"Saya benar-benar menyesal, tolong maafkan saya." kata Kripto lagi.
"Aku sudah maafkan dari dulu, tapi aku tidak mungkin lupa." jawab Oma Misha.
"Iya saya tahu itu, kami terlalu sering mengganggu kalian dan bahkan menjauhkan kamu dari Papa." Kripto menghela nafas panjang.
"Apa yang harus saya lakukan agar hubungan kita membaik, seperti layaknya adik dan Kakak. Mungkin sudah terlambat, tapi setidaknya diakhir hidup saya, saya tidak lagi punya dendam yang tidak beralasan."
"Opa, aku mau Om Peter tidak lagi mengganggu Mamaku dan Kakek Nenekku." Dania tiba-tiba saja bersuara, Oma Misha memandang cucunya. Kripto menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu juga diganggu?" tanya Kripto pada Dania.
"Iya, aku terpisah dengan Papaku selama sepuluh tahun dan sekarang aku tidak bisa menghubungi Mamaku, aku tidak tahu kabarnya. Biasanya kami saling telepon setiap hari." jawab Dania gusar.
"Akan Opa bicarakan pada Peter. Dia Papamu juga, Dan."
"Maaf Papaku hanya Micko, aku bingung kenapa Om Peter merasa aku anaknya, padahal sudah jelas hasil test DNA kalau Micko Papa kandungku." Kripto mengerutkan alisnya, seperti ada yang dia tidak terima.
"Iya, Dania anak Micko. Apa Peter menunjukkan hasil test DNA palsu sama kamu?" Oma Misha tersenyum sinis.
"Saya tidak tahu mana yang asli mana yang palsu." Opa Kripto kembali tersenyum.
"Kalaupun Dania anak kandung Micko, tetap saja Dania cucu saya juga." katanya kemudian.
"Apa Opa bisa dipercaya?" tanya Dania.
"Maksud kamu?"
"Apa aku bisa menganggap Opa adalah Opaku juga dan tidak akan dijahati?" Kripto terkekeh mendengar pertanyaan Dania.
"Opa tahu, pasti sulit untuk dapat kepercayaan kembali setelah apa yang kami lakukan terhadap keluarga Oma kamu. Sekuat apapun kami berusaha dulu tetap saja perusahaan Suryadi Corporate jatuh ketangan Oma dan Papa kamu."
"Karena itu kamu mengajak aku berbaikan?" tanya Misha tertawa.
"Saya sudah bilang, saya sudah tidak peduli lagi soal perusahaan. Saya sadar kami sekeluarga terlalu serakah ingin menguasai semua perusahaan Papa, sampai lupa ada perusahaan milik kami yang harus kami perhatikan."
"Kamu mungkin tidak peduli, tapi anak dan cucu kamu pasti masih peduli, Kripto saya sudah lama tidak mau berurusan dengan keluarga Suryadi, kamu tahu tanpa Suryadi Corporate kami tetap hidup. Pembagian hasil yang kami terima selama ini tidak pernah kami harapkan, mobil-mobil yang dikirim Papa untuk Micko pun tidak pernah aku minta." kata Oma Misha sengit.
"Kamu urus saja Suryadi Corporate dengan benar, tapi tolong biarkan anak keturunanku bergerak bebas tanpa adanya gangguan dari keluarga kamu." tegas Oma lagi.
"Saya hanya ingin berbaikan, saya tidak minta perusahaan." kata Kripto pada adiknya.
"Tapi tidak bisakah kita seperti keluarga pada umumnya?"
"Kamu berharap seperti keluarga yang bagaimana Kripto? selama ini sudah bagus kita tidak saling kenal."
"Saya juga mau seperti Kris yang mendapat perhatian dari kamu dan anak cucumu. Mungkin saya tidak tahu malu, setelah menghasut anak dan istri saya hingga mereka membenci kamu sekeluarga, sampai kalian mendapat perlakuan yang tidak layak."
"Aku tidak terganggu, terbukti kami tetap berdiri tegak."
"Iya aku tahu kalian tidak terpuruk sedikitpun, malah keluarga kami yang terpuruk, Peter semakin tidak terkendali, keluarganya hancur-hancuran, anak istrinya entah dimana." Opa Kripto tersenyum miris. Dania jadi kasihan melihat orang tua dihadapannya. Mungkin dia memang jahat tapi Dania yakin Opa Kripto masih punya hati nurani.
"Aku mau peluk Opa." kata Dania tiba-tiba berdiri dan memeluk erat Opa Kripto. Nanta tidak menyangka bisa melihat Opa Kripto menangis sesenggukan saat dipeluk Dania. Oma Misha hanya memandang nanar.
"Aku akan anggap Opa seperti Opaku sendiri." kata Dania tersenyum setelah melepaskan pelukannya, lalu mengambil tissue dan menghapus air mata Opa Kripto. Manis dan sangat menyentuh. Dari kejauhan Oma Nina malah sibuk menghapus air matanya, ia ikut menangis melihat Kripto menangis.
"Maafkan Opa." Opa Kripto menepuk bahu Dania pelan masih menangis.
"Maaf Opa cengeng." katanya lagi malu karena menangis. Dania tertawa memandang Opa Kripto
"Kapan aku bisa bertemu Om Peter Opa, tapi aku mau Opa temani." pinta Dania pada Kripto.
"Opa akan hubungi kamu." kata Kripto pada Dania.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika terjadi sesuatu pada Dania saat bertemu Peter." tegas Oma Nina pada Kripto.
"Saya akan jamin, Dania tidak akan tergores sedikitpun, bahkan saya berani menjamin dengan nyawa taruhannya." kata Opa Kripto membuat Nanta bergidik ngeri, ia hanya menjadi pendengar yang baik saja dari tadi sambil memastikan Oma Misha dan Dania baik-baik saja.
"Masih ada yang mau dibahas?" tanya Misha pada Kripto.
"Tidak ada, hanya itu saja. Senang sekali permohonan maaf saya kamu terima. Minggu depan datanglah kerumah Papa, kita kumpul keluarga besar." pinta Kripto pada Misha.
"Akan aku pertimbangkan."
"Kalian juga datang ya, saatnya berkenalan dengan keluarga Suryadi. Opa harap Papamu Micko dan anak istrinya mau bergabung." kata Kripto pada Nanta dan Dania.
"Kalau begitu aku pamit, keluarga Nanta menunggu kami disana." tunjuk Oma Misha pada Opa Dwi dan rombongannya.
"Saya boleh temui mereka ya, bagaimanapun mereka juga besan saya."
"Ingin sekali akrab dengan besanku." kata Oma Misha.
"Saya mau sampaikan terima kasih pada Dwi." kata Opa Kripto berjalan lebih dulu meninggalkan Misha dan cucu mantunya.
"Pak Dwi..." panggilnya saat mendekati Opa Dwi.
"Hai Pak Kripto." Opa Dwi berdiri dan menghampiri Kripto.
"Terima kasih selalu melindungi Misha selama ini. Pasti akan jadi penyesalan diakhir hidup saya kalau saja dulu Misha dan Micko benar-benar celaka." kembali Opa Kripto menangis.
"Allah yang melindungi Misha dan Micko bukan saya." jawab Opa Dwi menepuk bahu Opa Kripto yang kembali sesenggukan dibahunya.
"Semakin tua memang semakin gampang menangis ya." bisik Dania pada suaminya.
"Kamu saja belum tua gampang menangis." Nanta balas berbisik membuat Dania mencubit perutnya
"Memang keturunan kamu begitu sepertinya." bisik Nanta lagi sambil meringis mengusap bekas cubitan kecil istrinya dan kembali meringis saat kembali mendapat cubitan dibagian yang lain.