
Pukul satu siang Nanta dan rombongan baru tiba di
rumah, rasa kantuk mereka rasakan luar biasa, lumayan masih bisa tidur siang dulu sebelum bersiap ke Bandara Juanda.
Sore harinya setelah istirahat cukup semua bersiap untuk kembali ke Jakarta, termasuk Micko dan keluarga yang tadi beristirahat di rumah Kenan.
"Jadi aku tidak usah antar?" tanya Raymond yang sebenarnya sudah siap juga untuk mengantar ke Surabaya.
"Tidak usah, Boy. Ada dua mobil berikut supir, sudah cukup." kata Ayah Eja pada putranya.
"Ayah dan Bunda kapan kesini lagi?" tanya Roma membuat Reza terkekeh, belum juga berangkat sudah ditanya kapan ke Malang lagi.
"Tunggu kamu lahiran." jawab Kiki, langsung saja Raymond menggelengkan kepalanya.
"Terlalu lama." jawabnya mengingat Roma baru hamil semester awal.
"Dua bulan lagi aku pesankan tiket." kata Raymond lagi pada Ayah dan Bundanya.
"Oma saja yang ke Jakarta, Ayah dan Bunda tinggal disini." Oma menawarkannya pada Raymond.
"Enak saja, tidak boleh." jawab Roma cepat, semua terbahak mendengarnya seperti anak kecil saja kalau lagi begini.
Akhirnya, sampai juga di Jakarta, sudah pukul delapan malam. Ando sudah dijemput oleh kedua orang tuanya, tentu saja mengikuti skenario Wilma, Ando dan orangtuanya mengantar Wilma pulang dulu ke rumahnya.
"Titip, Dania ya Ken." kata Micko pada Kenan, ia tidak mengantar putrinya pulang ke rumah Nek Pur, karena Micko belum tahu, apakah Nek Pur bersikap netral atau tidak. Sebisa mungkin Micko meminimalisir masalah yang ada. Walaupun sudah terbiasa dengan berbagai macam intrik, tapi sekarang menyangkut Dania yang harus ia jaga, tidak mau lagi kehilangan komunikasi dengan anak gadisnya.
"Telepon Papa kalau sudah sampai dirumah." Micko menepuk bahu gadis kecilnya yang sudah menjelang dewasa.
"Iya." jawab Dania tersenyum pada Papanya.
"Telepon aku juga." kata Winner tidak mau kalah dengan Papanya.
"Undang saja ke group keluarga nanti langsung bisa telepon kita semua." Lucky simple saja pikirannya.
"Nanta, jangan lupa." pesan Micko membuat Nanta terkekeh, bagaimana bisa lupa Om Micko tadi memberikan berbagai macam opsi pada Nanta agar mau menerima rencana perjodohan ini.
"Anak lu lama juga mikirnya ya, mau gue kasih enak juga." kata Micko pada Kenan ketika Nanta menjauh, langsung saja Kenan terbahak dibuatnya.
"Nanta ini terbiasa menjalankan semuanya serba mengalir, tiba-tiba harus berpikir keras untuk satu keputusan yang tidak main-main. Abang kira menikah itu seperti ganti baju bisa diganti seenaknya, apalagi dia juga pernah merasakan hidup sama single parent. Gue ngerti sih kenapa Nanta begini." kata Kenan, sementara Nanta sedang menemui orang tua Ando dimobil, sekaligus membantu Wilma yang sedikit repot dengan barang bawaannya.
"Iya loh, Mick. Lu juga mau jodohin anak grasak grusuk, anak gue di push terus, kasihan jadi melamun itu." Reza ikutan bersuara.
"Tahu sendiri kondisi keluarga gue seperti apa, Ja. Hidup kami tuh berbeda dengan keluarga kalian yang tenang, semua serba mengalir, Kalau ada masalah tidak serumit masalah kami. Gue sama Mama terbiasa harus berpikir cepat bagaimana cara mengatasi situasi darurat. Jadi kalau Nanta jadi menantu gue dia juga mesti begitu, seperti naik roller coaster. Harapan gue, Dania yang bisa hidup tenang kalau sudah jadi bagian keluarga kalian." Micko terkekeh.
"Pelan-pelan ya, tidak bisa diputuskan dalam sekejap mata. Sabar!" Kenan menepuk bahu Micko.
"Tapi lu setuju, kan?" Micko memastikan.
"Gue apapun keputusan Nanta pasti setuju." jawab Kenan bijak.
"Bantu gue push Nanta." kata Micko lagi, Reza terbahak dibuatnya.
"Yang Nanta tidak siap itu, Bang Micko meminta Nanta menikah dalam waktu dekat." kata Nona bersungut, inginnya Nona, Nanta menyelesaikan kuliahnya sambil belajar berbisnis dulu sesuai rencana awal.
"Hanya menikah, tinggal satu rumah, mau pisah kamar sementara tidak masalah, ikuti saja maunya Nanta dia mau fokus kuliah dan bekerja kan, anggap saja dua tahun ini Dania itu bukan istrinya, tidak usah dia sentuh dulu. Yang penting anak gue aman bersama Nanta. Mamanya tidak bisa tarik dia pindah ke London lagi, karena sudah punya suami. Kalian tahu terakhir Maya ancam gue, kalau sampai gue menemui Dania tanpa setahu Maya, dia akan pindahkan Dania ke kota lain." tadi itu opsi yang sudah Micko sampaikan pada Nanta.
"Miris." suara Nona terdengar lirih, benar-benar rumit masalah Bang Micko, pikirnya.
"Itulah." Micko ikutan lirih.
"Sorry Ken, jadi menyeret Nanta." kata Micko jadi tidak enak hati sendiri.
"Santai Bang, gue juga sorry tidak bisa push Nanta, tapi gue dukung deh apapun itu. Biarkan Nanta berpikir dulu ya." kata Kenan pada Micko. Tidak habis-habis pembahasan ini kalau diteruskan, mereka menghentikan percakapan ketika Nanta dan ketiga anak Micko kembali bergabung bersama mereka.
"Jemputan kita sudah dekat, Pa." kata Winner pada Papanya.
"Oke, kami duluan ya." Micko melambaikan pada semuanya diikuti oleh yang lain, tidak lagi peluk atau cium pipi karena tadi sudah saat turun dari pesawat.
"Kamu antar Dania, Papa duluan sama Ayah." kata Kenan pada Nanta, dua Mobil jemputan mereka sudah tiba.
"Om, Tante, Ayah Bunda terima kasih." kata Dania sopan.
"Panggil Papon sama Mamon saja seperti Ando dan Wilma." kata Nanta pada Dania, Kenan terkekeh, ia menganggukkan kepalanya setuju.
"Iya panggil Mamon saja. Hati-hati ya kalian, kami duluan karena krucil sudah mengantuk." kata Nona pada Dania.
"Iya Mamon." jawab Dania melambaikan tangan.
"Jemputan Mas Nanta, mana?" tanya Dania.
"Itu dibelakangnya, ayo." Nanta membantu Dania membawakan kopernya, tidak sebanyak bawaan Wilma karena Dania tidak lagi membeli oleh-oleh. Hanya menenteng Pempek pemberian Tari saja.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, Dania tertidur pulas, mungkin terasa lelah. Nanta ngobrol saja bersama Pak Atang yang menyupirinya.
Tidak perlu diberitahu lagi alamatnya, Pak Atang sudah tahu harus mengantar Dania kemana.
Sampailah mereka dirumah Nek Pur, Dania sudah dibangunkan tapi entah kenapa seperti minum obat tidur, tidak bergerak sama sekali. Apa Pingsan, pikir Nanta mulai panik. Nanta menepuk pipi Dania yang tertidur dikursi penumpang belakang, tidak juga bangun. Sementara Nanta tidak enak jika harus membangunkan Nek Pur yang sudah tua.
Setelah satu jam menunggu Dania bangun, Nanta memutuskan untuk membawa Dania pulang kerumahnya, ia khawatir terjadi sesuatu dengan Dania. Mau dibawa ke rumah sakit tapi terdengar dengkuran halus, pulas sekali tidurnya bukan pingsan.
"Loh, kenapa Boy?" tanya Kenan begitu melihat Nanta menggendong Dania ala bridel masuk kedalam rumah. Ia terkekeh melihat anaknya sibuk dan sedikit panik.
"Seperti yang aku ceritakan ditelepon tadi." jawab Nanta langsung membawa Dania masuk ke kamar tamu. Ia sudah menghubungi Papanya, minta ijin membawa Dania pulang kerumahnya tadi.
Nanta menidurkan Dania dikasur, melepaskan sepatu dan kaos kaki Dania perlahan agar Dania tidak terbangun. Setelah menghidupkan Ac, Nanta pun menyelimuti kaki Dania, badan tidak karena Dania memakai jacket. Nanta menarik nafas panjang, lama sekali ia berdiri disamping kasur dikamar tamu, menatapi Dania yang tampak seperti putri tidur.
"Baru juga seminggu kita kenal, tapi langsung banyak kisah kok ya." gumam Nanta terkekeh, ia membelai rambut Dania dan mengetuk jidat Dania dengan ujung telunjuknya gemas, kemudian mematikan lampu sebelum keluar dari kamar membiarkan Dania beristirahat.
Tanpa Nanta tahu sepeninggalan Nanta, Dania membuka matanya dan tersenyum tak habis pikir ia bisa mengikuti saran gila dari Wilma tadi, agar pura-pura tertidur pulas, ingin tahu apa yang akan Nanta lakukan jika Dania tidak juga terbangun. Dania mereka akan dimobil sepanjang malam, ternyata Dania Salah.
Disinilah Dania sekarang, dibawa pulang kerumah orang tua Nanta, Nanta benar-benar perhatian, melindungi dan menjaga Dania. Apa Dania bisa menjalani keputusannya menjaga jarak jika Nanta menolaknya nanti? Dania menghela nafas panjang, repotnya, ia benar-benar sudah ketergantungan pada Nanta.