I Love You Too

I Love You Too
Sabun bayi



Sampai juga di Jakarta tengah hari dan sudah disambut jamuan makan siang dirumah Kiki. Seminggu ini atas permintaan Reza, rencananya Kenan dan Nona akan menginap dirumah Kiki, karena rumah mereka baru minggu depan siap huni. Sedangkan rumah Mama kosong karena Mama Nina dan Papa Dwi sedang Travelling keliling Sumatera. Bisa saja Kenan sekeluarga menginap dirumah Mama, tapi Reza bersikeras agar menginap dirumahnya saja. Lebih dekat bagi Kenan ke kantor dan ke rumah barunya.


"Capek?" tanya Kiki pada Nona yang tampak sedikit lesu.


"Hanya butuh kasur, mau rebahan." kata Nona terkekeh.


"Makan dulu, sholat baru istirahat." kata Kiki pada Nona.


"Tidak lapar Kak." jawab Nona merengek, membuat Kiki bingung melihat Nona seperti anak kecil, ia memandang Kenan yang hanya cengengesan.


"Kenapa?" tanya Kiki pada Kenan tanpa mengeluarkan suara. Kenan tidak menjawab hanya gerakan tangannya saja yang memberi kode bahwa Nona sedang hamil, langsung saja Kiki tersenyum lebar.


"Langsung saja istirahat ke Kamar tamu, nanti makanannya biar dibawa Tina." kata Kiki menunjuk kamar di dekat ruang keluarga. Segera meminta Tina menyiapkan makan siang untuk Nona.


"Kenapa tidak ada yang kasih kabar kalau Nona hamil?" tanya Kiki begitu Nona masuk kamar.


"Kemarin sibuk sekali dikantor, mau kabari Mama juga khawatir nanti tidak jadi travel mendengar Nona hamil." jawab Kenan apa adanya, Kiki tertawa jadinya. ia pun meminta Kenan segera menyusul Nona ke kamar, memastikan istrinya baik-baik saja.


"Mau makan?" tanya Kenan pada Nona yang baru saja berganti pakaian.


"Masih kenyang, boleh tidur dulu satu jam?" tanya Nona minta ijin Kenan.


"Kenyang atau malas makan? ingat ada baby diperut kamu, kalian butuh asupan yang baik." Kenan mendekati Nona yang bersiap merebahkan badannya di kasur.


"Ya sudah suapi tiga sendok saja ya, yang penting ada isi kan? Nanti bangun tidur baru makan kenyang." kata Nona, Kenan mengangguk lalu keluar kamar menunggu Tina atau Tini menyiapkan makanan untuk Nona.


"Tina kamu kurusan ya?" kata Kenan pada asisten rumah tangga Kiki yang sudah bekerja disana sebelum Raymond lahir. Ia sudah membawa baki makanan dan minuman untuk Nona.


"Makan hati Mas Kenan." jawab Tini menggoda kembarannya.


"Saya baru tahu makan hati bisa bikin kurus." jawab Kenan terkekeh.


"Tini nih sembarangan bicara." omel Tina pada kembarannya. Tini langsung saja mencebik.


"Mas istrinya ada pantangan tidak? kalau hamil biasanya kan begitu." tanya Tini pada Kenan.


"Oh tidak ada, cuma kalau mau dekat Nona jangan pakai parfume atau roll on ya, kalau wanginya tidak cocok bisa marah. Sementara kalian kalau mandi pakai sabun bayi saja. Sabun kalian wanginya terlalu mencolok untuk Nona." kata Kenan sambil menerima baki Dari Tina.


"Terima kasih Tin, kalian beli sabun minta uangnya sama Pak Atang ya, bilang saya yang suruh." kata Kenan segera berjalan menuju kamar.


"Ijin ke minimarket dulu Bu Kiki, mau beli sabun bayi." kata Tini pada Kiki yang sedang duduk di meja makan, harapannya makan siang bersama Nona pupus sudah, tapi tetap menunggu Nanta dan Kenan untuk makan bersama. Kiki menganggukkan kepalanya mengijinkan Tini ke minimarket.


"Tin, sekalian panggilkan Nanta diluar suruh makan, Pak Atang juga tuh." kata Kiki pada Tini.


"Iya Bu." jawab Tini sambil berlalu. Tak lama Nanta masuk bersama Pak Atang dan juga Enji.


"Pak Atang, makan dulu minta sama Tina." kata Kiki, Pak Atang menurut saat Tina membawanya ke belakang.


"Aih pantas saja Nanta lama diluar, Kak Enji tahan ya?" Kiki sedikit bersungut.


"Hanya ngobrol saja, ayo ganteng makan dulu." Enji menarik tangan Nanta.


"Iya Ame, Bunda menunggu Nanta dari tadi?" Nanta menuruti Enji duduk disebelahnya.


"Iya, Bunda sudah lapar ini menunggu kalian, Nona malah ingin tidur." keluh Kiki apa adanya.


"Kak Nona dari tadi memang tidur terus dimobil, bangun sebentar makan terus tidur lagi." Nanta menjelaskan.


"Bawaan hamil ya. Duh Papamu menikah dengan kakakmu Nan?" Enji terkekeh mentertawakan Nanta.


"Hei apa ini sebut Papa?" tanya Kenan yang baru saja keluar dari kamar setelah menyuapi Nona.


"Aku mentertawakan Nanta karena memanggil Nona Kakak. Nanta bilang kamu menikah dengan kakak angkatnya." Enji menceritakan ulang sambil tertawa. Kenan ikut tertawa dibuatnya.


"Kamu diam saja lagi Nona dipanggil Kakak." gerutu Enji pada Kenan.


"Yang menurut mereka nyaman saja Kak Enji, aku tidak mau mengatur, nanti juga akan berubah sendiri panggilannya." kata Kenan pada Enji.


"Bang Erwin mana Kak?" tanya Kenan pada Enji.


"Entah kantor atau Warung."


"Sudah aktif lagi ya, Kak Enji sudah tampak sehat sekarang." kata Kenan mengingat Enji sempat mengalami gagal ginjal sebelumnya, hingga akhirnya mendapatkan donor ginjal.


"Iya aku juga sudah mulai aktif, tapi tidak serepot dulu karena ada Risa yang urus." Enji tersenyum sambil melirik Kiki yang memberengut.


"Duh Bundanya Nanta kenapa itu cemberut saja." Enji terkekeh menyendokkan nasi menyerahkan pada Kiki yang sudah kelaparan.


"Maaf ya Bunda, jadi menunggu kelaparan." kata Nanta tersenyum manis pada Kiki, mulai menyendokkan makanan juga.


"Kalian ngobrol apa sih lama sekali? keluh Kiki.


"Biasalah Ame, menggoda aku terus." kata Nanta terkekeh.


"Kamu sih ganteng, santun lagi, jadi Ame tidak mau melepas kamu ke orang lain." kata Enji melirik Kenan. Kenan diam saja, menikmati makanannya.


"Ken, jangan pura-pura tidak dengar." kata Enji pada Kenan.


"Dengar, anakku ganteng dan santun kan?" kata Kenan terkekeh, Nanta dan Kiki ikut terkekeh.


"Ish, tak kan kulepaskan." kata Enji menaikkan alisnya.


"Memangnya mau diikat dengan siapa?" tanya Kenan.


"Anak Liana, Wilma. Mau kan Nan berteman dekat dengan Wilma?" Enji mengusap bahu Nanta.


"Kan sudah berteman Ame."


"Lebih dekat lagi. Kalian tidak ada komunikasi payah, Ame kira saling telepon."


"Aku jarang pegang handphone Ame, yang ada pesan orang jarang aku baca kecuali dari keluarga. Kak Roma lihat deretan pesan aku saja bilang, seperti pedagang online." kata Nanta polos membuat Kiki senyum-senyum sendiri. Nanta memang menyenangkan, mungkin seperti Ayah Eja masih muda, kenapa jadi terbalik Raymond yang seperti Kenan sedikit lebih jahil.


"Ken, aku lihat Nanta seperti Kak Eja muda ya, betul tidak?" tanya Kiki setelah memperhatikan Nanta sekian lama.


"Iya aku sama Bang Eja kan sama Ki." jawab Kenan membuat Kiki mencibir.


"Kamu sih dulu jahil, seperti Raymond sekarang." kata Kiki tertawa.


"Iya ya, Raymond kenapa jadi seperti Kenan hahaha." Enji terbahak.


"Mau seperti aku atau Bang Eja tetap menyenangkan, iya kan? Akui saja." kata Kenan percaya diri.


"Hmmm... mau bilang tidak bagaimana ya, Tetap lebih menyenangkan Nanta dan Reza sih." kata Enji mengetuk dagunya, membuat Kenan terbahak.


"Sebentar lagi Nanta jadi Abang loh Kak Enji. Nona lagi hamil." Kiki memberitahu kabar gembira pada Enji, padahal Enji sudah tahu dari Nanta tadi.


"Aih Nanta, Wilma bisa membantu kamu menjaga dedek bayi nanti." kata Enji membuat Kenan menggelengkan kepalanya, ada saja cara Enji membujuk Nanta.