I Love You Too

I Love You Too
Belanja



"Dicari fans lu tuh." kata Doni saat melihat Larry dan Mike menyusul mereka.


"Siapa?" tanya Larry celingukan.


"Balen hahaha." Doni terbahak.


"Lu telepon dia tadi?" tanya Larry pada Nanta sambil senyum lebar.


"Balen videocall gue." jawab Nanta terkekeh.


"Kok bisa sih? disini mana bisa video call." kata Mike yang rupanya kesulitan mau Videocall keluarganya.


"Bisa dong, pakai apa dulu." Nanta terkekeh, ia dan Doni bisa karena sudah diberitahu caranya tadi saat bertemu pengusaha Indonesia. Kalau mengandalkan provider setempat saja memang tidak bisa Videocall ke nomor luar, entah kalau kesesama negara mereka.


"Curang." sungut Larry membuat Nanta dan Doni tertawakan kedua sahabatnya.


"Dona sini." teriak Dini saat melihat mesin ATM yang dilapisi emas. Langsung saja Dona menarik suaminya, minta kartu ATM untuk membeli Logan mulia.


"Mana bisa pakai kartu Indonesia." kata Doni malas.


"Coba dulu, itu ada logo visa master pasti bisa." rengek Dona pada suaminya


"Begini nih kalau jalan sama istri ada saja yang bikin uang mau keluar." jawab Doni bercandai istrinya sambil menyerahkan kartu ATMnya. Yang lain tertawakan Doni jadinya.


"Kamu tidak beli?" tanya Nanta pada istrinya.


"Tidak, repot jaganya." jawab Dania terkekeh.


"Jagain aku saja ya." kata Nanta ingin sekali mencubit Dania gemas, tapi tidak berani, aturan disana tidak boleh umbar kemesraan dimuka umum, bahkan bergandengan tangan pun tidak boleh, Salah pilih tempat honeymoon deh Om Deni.


Ke Dubai hanya berkeliling kota melihat keunikan kota Dubai, bukan unik sih sebagai negara terkaya sudah tidak heran jika mereka melihat mobil sekelas ferari, Bugatti, Lamborghini dan yang lainnya berseliweran dijalan. Setelah memborong banyak mereka juga melihat taxi air yang ada disungai kecil khor dubai yang berada di dekat pantai.



Tidak ada yang mau naik hanya senang melihat saja. Mereka mengejar waktu karena besok sudah kembali ke Indonesia.


"Pesan Balen sudah disampaikan pada Bang Larry?" tanya Dania pada Nanta.


"Tidak usah, kita saja yang beli." jawab Nanta tersenyum pada istrinya.


"Balen pesan apa?" tanya Larry yang ternyata mendengar percakapan suami istri itu.


"Ah dengar lagi." keluh Nanta malas.


"Kenapa lu?" langsung saja Larry mendorong bahu sahabatnya.


"Cemburu dia." Doni terbahak, Larry ikut tertawakan Nanta.


"Sayangnya Balen sama gue ya sekarang?" tanya Larry senang.


"Rese..." sungut Nanta tapi tersenyum juga.


"Adik kita itu, jangan posesif." kata Larry pada sahabatnya.


"Adik gue." kata Nanta pada sahabatnya.


"Pelit." sungut Larry, Deni tertawakan keduanya.


"Pesan apa Balennya? Onta kan? nanti merajuk lagi kalau tidak dibelikan." kata Mike pada Nanta.


"Iya nanti gue belikan." jawab Nanta pada sahabatnya.


"Rese nih Nanta, yang hamil elu apa bini lu sih?" Larry jadi kesal juga Nanta tidak mau sampaikan pesan Balen.


"Ih, marah lagi. Ontanya kalau tidak ada yang keriting belikan yang warna pink saja atau ungu." kata Nanta akhirnya menyampaikan pesan Balen.


"Buset, Onta warna ungu." Larry terbahak.


"Ada kali, yuk cari." langsung saja Abang Mike semangat.


"Aku capek." kata Dania yang tidak sanggup lagi untuk berkeliling.


"Ya sudah kamu sama Nanta duduk disini saja, nanti kita kembali kesini kan." kata Mike pada sepupunya.


"Iya..." jawab Nanta mengusap dahinya.


"Om jalan saja, kami biar disini." kata Nanta pada Om Deni.


"Betul tidak apa ditinggal?"


"Iya, duduk disini kamu nyaman kan?" tanya Nanta pada istrinya. Dania menganggukkan kepalanya.


"Kalau tidak nyaman kita tunggu di tempat lain." Nanta menawarkan.


"Disini saja, Mas." jawab Dania, hampir saja ia merebahkan kepalanya dipaha Nanta.


"Eits, tidak boleh." Nanta mengingatkan.


"Iya aku lupa." Dania terkekeh. Deni dan yang lain sudah berkeliling kembali mencari oleh-oleh.



"Dapat juga boneka Onta ikal." Larry terbahak menggendong boneka yang lumayan besar itu, sementara Mike memegang boneka Onta kecil yang berwarna Pink, mereka sudah cari yang warna ungu tapi tidak ada.


"Belikan kaos warna ungu nanti kita pasang untuk boneka ikal ini." kata Larry pada Mike. Deni jadi terharu melihat sahabat Nanta yang sangat perhatian maksimal pada Balen, padahal bukan saudara kandung mereka.


"Kalian repot-repot, biar Om yang beli." kata Deni pada Larry dan Mike.


"Tidak usah Om, Balen itu pelipur Lara." kata Larry menolak.


"Iya sudah seperti adik sendiri juga, gemas sekali." kata Mike ikutan.


"Richi juga belikan dong." kata Doni pada Larry dan Mike.


"Sudah Om belikan kaos Dubai tadi." jawab Deni cepat. Lucu sekali mereka sibuk cari oleh-oleh untuk duo bocah. Kalau Doni jangan ditanya, setelah perdebatan panjang Deng kedua sahabatnya tadi akhirnya Doni tidak berbelanja apapun. Tadinya Doni ingin beli karpet Dubai, tapi Mike melarang karena akan repot sekali membawa karpet.


"Kalau karpet beli di Jakarta sajalah, dipasar baru juga banyak." kata Larry pada sahabatnya.


"Yang kecil saja beli disini." kata Doni penasaran.


"Kirim pakai jasa pengiriman tapi ya, jangan elu yang bawa."


"Mau belanja saja repot." dengus Doni kesal.


"Ye, kalau elu keseleo yang bawa karpetnya siapa? terus tidak bisa main basket lagi mau?" Omel Mike pada Doni.


"Ngomong tuh yang benar, jangan asal bicara nanti jadi doa."


"Hahaha takut kan lu, makanya beli dipasar baru saja." kata Larry terbahak. Padahal biarkan saja Doni belanja yang repot kan Doni sendiri nantinya. Tapi karena sahabat saling sayang maka mereka mengingatkan.


Perjalanan pulang ke Abu Dhabi dengan segala tentengan yang pasti membuat bagasi bus dan Mobil penuh dengan belanjaan mereka. Padahal di Abu Dhabi sudah belanja, disini belanja lagi.


"Aku naik bus ya." kata Nanta pada istrinya.


"Kenapa?" tanya Dania tidak suka.


"Kamu kan capek, perlu tempat duduk yang lega jadi bisa selonjoran." kata Nanta menyampaikan alasannya.


"Tidak boleh tidur dipaha mas Nanta ya, kan di Mobil." pinta Dania pada suaminya. Nanta tampak berpikir.


"Aku tidak tidur deh, Mas Nanta jangan di bus." pinta Dania manja.


"Ya sudah terserah kamu deh, aku hanya mau kamu dan adek bayi nyaman." kata Nanta lagi.


"Om sama Doni saja yang di Bus." kata Deni yang mendengarkan percakapan keduanya.


"Jangan Om, kita harus satu mobil semua seperti saat berangkat tadi, tidak ada yang boleh pindah mobil." tegas Dania pada semuanya.


"Kenapa begitu?" tanya Nanta bingung


"Ya jangan saja, pamali." kata Dania santai.


"Orang London tahu pamali." Nanta terbahak mendengar perkataan istrinya, ada-ada saja.


"London Sukabumi." jawab Dania terkekeh, sudah bisa bercanda lagi. Sepertinya capeknya sudah hilang. Hanya Nanta dan Dania yang tidak belanja tadi. Bawa badan saja rasanya sudah lelah hari ini. Semua sudah duduk manis di Mobil seperti semula, mereka pun kembali Ke Abu Dhabi bersiap packing untuk keberangkatan esok hari kembali Ke Jakarta.