I Love You Too

I Love You Too
Trauma



"Larry..." panggil Steve saat Larry sedang menuju ke booth makanan untuk sarapannya.


"Eh Pak Steve." Larry langsung salami Steve dan Ayu.


"Kamu kenapa disini?" tanya Larry pada Richie.


"Atu matan." jawab Richie tersenyum.


"Kok tidak sama Mamon dan Papon?" tanya Larry pada Richie.


"Iya nih, minta bangkunya terpisah jauh lagi." Steve terkekeh, rupanya bangku juga Richie yang pilihkan.


"Atu mo nobol sama Om, Ante." jawabnya membuat Larry tertawa.


"Duduk disini saja Larry, nanti makanan kamu biar diambilkan, mau sarapan apa?" tanya Ayu pada Larry.


"Ini baru mau pilih yang halal." jawab Larry terkekeh. Ayu langsung lambaikan tangannya pada petugas restaurant, minta diambilkan makanan halal untuk Larry. Petugas sebutkan beberapa Menu, Larry pun memilih sarapan yang diinginkannya.


"Terima kasih loh semalam temani Rumi." kata Steve pada Larry.


"Ih terbalik, Rumi yang temani kami." Larry tertawa.


"Kasat mata sih begitu, tapi sebenarnya justru kalian yang temani Rumi." Steve tertawa.


"Rumi sudah cerita kan kalau dia addicted?" tanya Steve pada Larry. Larry anggukan kepalanya.


"Salah pilih teman jadi begitu, awalnya sih pelarian karena Papanya galak luar biasa. Kasihan juga Rumi, Papanya kalau kesal bisa todongkan pisau pada anaknya." bisik Steve khawatir didengar Richie.


"Masa?" ekspresi Larry saat ini tidak beda dengan ibu-ibu yang habis dengarkan gosip terhangat. Steve anggukan kepalanya.


"Gue cerita sama elu juga karena dia sudah jujur kalau dia addicted." kata Steve pada Larry, bicara santai seperti dengan temannya.


"Kok Pak Steve tahu kalau Rumi cerita sama aku?" tanya Larry bingung.


"Panggil Abang saja, seperti Nanta panggil gue." pinta Steve pada Larry.


"Iya Bang." jawab Larry menurut.


"Atu pandilna Om, tan Papana Sein." jawab Richie tanpa diminta. Ayu jadi cekikikan dengar celotehan Richie


"Iya boleh panggil Om, panggil Papa juga boleh." jawab Steve jahil.


"Ote Papa Setip." jawab Richie setuju, yang lain kembali tertawa.


"Panggil ante apa?" tanya Ayu ingin tahu.


"Mama Ayu." jawab Richie mantap mereka kembali tertawa, entah apa yang dipikirkan Richie saat ini.


"Sekarang Rumi mana?" tanya Ayu pada Steve.


"Sepertinya masih tidur, tuh teman sekamarnya sendiri." tunjuk Steve pada Seiqa yang baru saja memasuki restaurant, tampak Seiqa ditemani Mike pilihkan makanannya.


"Mabok lagi?" tanya Ayu pelan sambil melirik Richie yang sedang mengunyah roti.


"Mungkin." Steve mengedikkan bahunya.


"Semalam aku ambil botol di tasnya." lapor Larry pada Steve.


"Iya kami tahu?" jawab Steve.


"Kami?" Larry jadi bingung.


"Sorry Steve, kemanapun Rumi selalu diikuti oleh orang suruhan Opa Santoso. Jadi setiap pergerakannya selalu saja kami tahu." jawab Steve santai.


"Padahal Papanya galak." gumam Larry, mestinya kalau Papa segalak itu, Rumi tidak berani macam-macam.


"Entahlah Rumi beda, curhat sama teman malah cekoki dia minuman, begitu terus sampai kecanduan." Steve menghela nafas.


"Temannya sekarang mana?" tanya Larry.


"Sudah di blacklist sama Opa, Rumi langsung dipindahkan ke Jakarta. Tapi tetap saja kebiasaan minum tidak bisa lepas. Hanya saja tidak berani ke club di Jakarta, karena pasti langsung di ciduk orang suruhan Opa." Steve kembali menjelaskan.


"Titip Rumi di Jakarta ya Larry, kamu kan sekarang temannya. Rumi sudah minta ijin Opa supaya boleh berteman dengan kamu dan Opa mengijinkan." kata Steve lagi.


"Hmm... tapi aku tidak bisa jaga Rumi maksimal, aku juga punya kesibukan." kata Larry pada Steve, bukan tidak mau direpotkan tapi memang begitu adanya.


"Iya kita mengerti, lagi pula Rumi ada yang awasi kok. Hanya saja mungkin kamu bisa bantu Rumi atasi ketergantungannya sama alkohol." kata Ayu pada Larry.


"Itu harus dari Rumi sendiri, aku memang bisa ambil botolnya semalam, tapi kan tidak tahu begitu kami sudah terpisah. Apa Rumi masih punya stock dikamar atau bagaimana." Larry tersenyum pada Steve dan Ayu.


"Iya kamu benar. Makan dulu deh." kata Steve saat makanan Larry datang.


"Aku makan Bang, Kak." kata Larry langsung nikmati makanannya dengan lahap. Steve dan Ayu kembali fokus pada Richie.


"Atu te Papon duu ya." ijin Richie pada semuanya.


"Mama Ayu antar." kata Ayu ikut berdiri, biarkan Larry dan Steve bicara berdua. Rumi memang krisis teman dan keluarga. Ayu berharap Larry bisa berteman baik dengan Rumi, hanya berteman baik saja sudah cukup, paling tidak jika suntuk Rumi tidak lari pada minuman.


"Larry kamu pernah punya teman pecandu alkohol? bisa bantu carikan info untuk terapi rehabilitasi atau semacamnya, supaya Rumi bisa kembali normal. Kasihan dia masih muda, dia pintar dan cantik juga. Kalau terus begini siapa yang mau nikahi Rumi, gue berharap dia bisa hidup normal dan bahagia. Menikah dengan lelaki baik-baik, bukan sesama pemabok seperti Rumi saat ini." kata Steve pada Larry.


"Nanti aku coba cari tahu ya Bang, nanti aku kabari lewat Nanta." janji Larry pada Steve.


"Catat nomor handphone gue Larry, lu bisa langsung hubungi gue kok." kata Steve pada Larry.


"Oke." Larry segera keluarkan handphonenya dan mencatat nomor handphone Steve.


"Pasti elu tidak sangka Rumi begini kan?" Steve terkekeh.


"Gue sih minta dia jujur sama elu, karena gue tahu Nanta mau jodohkan elu sama Rumi." Steve terkekeh.


"Makasih Bang." jawab Larry terkekeh.


"Bagaimana setelah elu tahu?" tanya Steve ingin tahu.


"Aku sudah bilang sama Nanta dari awal sih kalau aku mau berteman sama Rumi, belum pikirkan yang lebih jauh karena baru kenal, tidak mau terburu-buru. Bukan karena aku tahu Rumi ternyata addicted ya Bang. Tapi memang itu yang aku bilang sama sahabatku sebelum aku tahu tentang Rumi." jawab Larry jujur.


"Iya elu benar kok." jawab Steve terkekeh.


"Lu mau jadi temannya saja kami sudah terima kasih, apalagi elu berani sita botol Rumi semalam. Opa sudah senang sekali mendengar laporannya." Steve tertawa.


"Untung saja keluarga Bang Steve banyak duitnya, bisa Kirim orang ikuti Rumi." kata Larry pada Steve. Pikirnya kalau anak jalanan yang mabok, tergeletak ya tergeletak saja, siapa yang mau ikuti.


"Kalau tidak diikuti, sudah ditiduri berapa pria itu Rumi, berapa kali kejadian mau diperalat cowok kok, mereka cekoki dia minuman." Steve menghela nafas panjang.


"Gue berharap sama Elu dan Nanta deh. Kalian bisa jadikan Rumi teman baik juga. Opa juga berharap karena Rumi cucu dari satu-satunya adik Opa, kalau adiknya sedih sudah pasti jadi pikiran Opa juga." kata Steve kemudian.


"Nanti di Jakarta aku ajak olahraga deh, ikut berenang sama Balen dan Dania, boleh?" ijin Larry pada Steve.


"Boleh-boleh, sangat boleh." jawab Steve semangat. Larry terkekeh mendengarnya.


"Itu kalau Rumi mau, aktifitas aku sama Nanta dan yang lain ya itu saja. Paling nonton music saat kemarin ada acara di Warung Elite." kata Larry lagi pada Steve.


"Dia pasti mau, dia krisis keluarga dan sahabat. Sama Papi dan Mamiku dia takut, dalam pikirannya Papi sama seperti Papanya. Padahal beda jauh. Tapi Rumi sudah trauma duluan." kata Steve lagi. Kedua pria ini sibuk membahas soal Rumi yang masih sangat pulas dikamarnya.