
"Aban..." panggil Balen saat melihat Nanta dan rombongannya mendekat, bocah centil sedang memakai sunblock yang diberikan Mamon padanya, yang membuat Nanta dan sahabatnya tertawa wajah Balen seperti topeng, ia menggunakan sunblock terlalu banyak pada wajahnya.
"Napa tawa sih?" tanyanya bingung.
"Wajah Balen celemotan." kata Nanta pada adiknya, membantu rapikan sunblock yang tidak karuan.
"Cemotan dimana sih?" tanyanya kenes.
"Seperti badut." jawab Larry terbahak. Balen memonyongkan bibirnya.
"Tania taca don." katanya langsung saja minta kaca sama Kakak Iparnya. Dania tertawa Dan memberikan kaca yang ada pada bendak compact miliknya di tas.
"Ya ampun Mamon, muta Baen napa dini." protesnya pada Mamon, Nona yang awalnya tidak ngeh karena mengurus Richie jadi terpingkal hingga sakit perut.
"Mamon tasih kim te Baen taya dini sih." langsung ngomel seperti ibu-ibu.
"Itu bisa dibersihkan kok, kamu lagian kenapa pakai diwajah, itu kan untuk tangan dan kaki kamu Balen." kata Nona disela tawanya.
"Mamon tan ndak biang tadi, besihin don Tania." pintanya pada Dania, wajahnya masih saja cemberut kesal.
"Tetap cantik kok walau celemotan." kata Mike menghibur Balen.
"Matatih Aban Maik." langsung saja cengengesan karena dibilang cantik.
"Dibohongi sama Maik, mana ada celemotan cantik." kata Nanta pada adiknya.
"Iih Aban, janan ditu." memukul perut Nanta yang sibuk rapikan wajah Balen dengan tissue perlahan.
"Pukul lagi." Nanta terkekeh, sementara Balen memegang bedak compact sambil mengarahkan kaca pada wajahnya. Seperti artis saja gayanya.
"Udah deh ah, biain aja. Baen mo beenang sekaang. Baen udah panasan Aban Leyi." katanya pada Larry setelah melihat wajahnya sudah mulai tampak, tidak lagi tertutup sunblock.
"Oke Aban juga sudah, ayo kita melompat." ajak Larry langsung nyebur kedalam kolam, sebelumnya ia sudah memastikan tingkat kedalaman kolam supaya aman untuk Balen dan Richie. Balen langsung saja melompat mengikuti gaya Larry, ia sudah mulai pintar berenangnya, Balen memang tidak ada takutnya, kolam itu cukup dalam untuk Balen sementara Larry menyambut Balen yang sudah bergabung bersamanya di air.
"Water treading Balen." perintah Larry pada Balen agar melakukan gerakan water trap atau menginjak-injakan kaki diatas air. Balen sudah Larry ajari tehnik water trap agar bisa berenang di kolam yang dalam dan Balen bisa mengapung. Balen mengikuti perintah Larry mengapung dengan Water Trap.
"Aban, Baen beenangna dimana?" tanyanya pada Larry sambil mengapung.
"Dari ujung kiri ke ujung kanan ya, ingat kaki bergerak dua kali kemudian ambil nafas. Tenang saja santai jangan terburu-buru." kata Larry pada Balen.
"Yah." jawab Balen menurut dan mulai melakukan gerakan seperti yang Larry minta.
"Ambil nafasnya cepat Balen hanya satu detik, karena nanti Aban tidak temani lagi." kata Larry pada Balen.
"Yah napa ditu." protes Balen.
"Kalau sudah pintar tidak lagi ditemani di kolam." kata Larry terkekeh.
"Nafasnya jangan tinggi-tinggi." kata Larry mengingatkan Balen yang mengeluarkan kepalanya terlalu tinggi.
"Lakukan berulang, ayo dua puluh kali." perintah Larry lagi setelah Balen berhasil mencapai ujung kanan.
"Yah." jawab Balen.
"Kalau gagal tidak Aban hitung ya." kata Larry lagi.
"Pedanin badan Baen Aban." pinta Balen pada Larry.
"Aban jaga kok tenang saja." Larry terkekeh.
"Balen tangannya jangan banyak bergerak, sekali saja saat ambil nafas." Larry mengingatkan Balen.
"Aban janan dua puuh deh, sepuuh aja." pinta Balen pada Larry, ia baru menyelesaikan dua kali ujung ke ujung.
"Ya sudah sepuluh saja." Larry menurut yang membuat Balen nyaman saja. Ia sabar menghadapi Balen, tidak mau juga Balen bosan, karena Larry sangat berharap Balen berhasil berenang dengan baik.
"Aban Ichie tuh beenangna di tolam anak tecil." katanya pada Larry sombong karena ia sudah bisa ditempat dalam.
"Iya kan Ichie lagi diajari, nanti juga pintar." jawab Larry terkekeh.
"Aban beenangna tanem don." Balen langsung melompat dipunggung Larry, rupanya ia minta berenang tandem, lagi-lagi Larry mengikuti keinginan singkong cantiknya.
"Pegang yang benar ya." katanya pada Balen, lalu mulai berenang dengan posisi Balen ada dipunggungnya. Ini gerakan yang paling Balen sukai berenang sambil digendong Larry.
"Yah." jawab Balen senang sambil tertawa melambaikan tangannya pada Nanta.
"Pegang Abang Leyi yang benar Balen." Nanta mengingatkan.
"Yah." teriaknya kemudian konsen memegang Larry.
"Pintar adik Abang, berenangnya ya." Nanta mengacungkan jempolnya saat Balen mendekat.
"Tapi cuma sepuuh Aban, beum dua puuh." katanya pada Nanta.
"Tidak apa, nanti kan bisa dua puluh." jawab Nanta membungkus badan adiknya dengan handuk.
"Sudah jauh kepandaiannya bertambah ya." kata Nanta pada sahabatnya.
"Eits siapa dulu yang ajarkan." Larry berdehem bangga, Nanta tertawa melemparkan handuk untuk Larry.
"Kalian tidak berenang?" tanya Larry pada Nanta dan Doni.
"Kita berenangnya nanti malam." jawab Doni menaikkan alisnya.
"Rese..." Larry melengos membuat sahabatnya terbahak. Sedang asik bercanda tiba-tiba perhatian mereka teralihkan,
"Halo adik cantik." seorang Pria menyapa Balen yang sedang memakai kimono handuknya. Balen menaikkan alisnya saja tengil, ia merasa tidak kenal dengan Om yang menegurnya.
"Balen." panggil Nanta pada Balen agar mendekat dengannya.
"Aban, oang itu pandil Baen cantik." katanya tersenyum dengan hidung mengembang.
"Siapa?" tanya Nanta merasa tidak kenal juga dengan pria tersebut.
"Ndak tau." jawab Balen malas.
"Sore Mas, saya Aditia. Adiknya cantik dan pintar sekali berenangnya, boleh tidak kalau saya jadikan model cilik di perusahaan tempat saya bekerja?" tanya pria tersebut perkenalkan dirinya pada Nanta.
"Waduh adik saya masih kecil." jawab Nanta terkekeh."
"Justru kami mau libatkan adik cantik ini untuk iklan makanan kesehatan perusahaan kami." kata Aditia pada Nanta.
"Coba bicarakan dengan orang tua kami saja ya, saya tidak bisa memutuskan." kata Nanta persilahkan Aditia hampiri Kenan yang sedang bicara dengan Nona.
Nanta temani Aditia hampiri Papa dan Mamonnya, Balen sudah disana lebih dulu, Nanta sampaikan maksud dan tujuan Aditia pada Papa dan Mamon, kemudian Aditia pun memberikan kartu namanya pada Kenan.
"Unagroup?" Kenan tersenyum ingat Steve dan Mario.
"Betul, kami dari divisi Marketing komunikasi, lihat anak Bapak dari tadi berenangnya lincah sekali. Karena itu kami tertarik jadikan adik ini sebagai model produk makanan kesehatan perusahaan kami, jika Bapak dan Ibu berkenan." kata Aditia dengan sopannya.
"Saya tidak pernah terpikir sih jadikan anak saya model iklan. Anaknya juga mau apa tidak ya?" Kenan tertawa memandang Balen, ingat Kiki dulu juga pernah jadi bintang iklan produk dari Unagroup.
"Kami pikirkan dulu ya." kata Kenan pada Aditia.
"Baik Pak, minggu depan boleh saya hubungi Bapak? atau Saya tunggu kabar baik dari Bapak." kata Aditia pada Kenan.
"Saya yang akan hubungi Mas Aditia." kata Kenan tersenyum sebelum Aditia berlalu dari hadapan mereka. Setelah Aditia berlalu Kenan mengacak anak rambut Balen yang masih basah sambil terkekeh, ada juga rupanya yang tertarik jadikan Balen bintang iklan.