I Love You Too

I Love You Too
Kakek Kris



"Selamat makan." Dania merentangkan kedua tangannya saat Lulu dan Julia sudah duduk di meja yang Dania tempati.


"Wow banyak sekali." Lulu tersenyum senang dan mengajak Julia untuk langsung menikmati makanan yang ada.


"Kamu tidak makan, Dan?" tanya Julia.


"Aku sudah kenyang." jawab Dania tersenyum.


"Mike Dan Nanta sudah di Amerika ya." Julia mencari bahan untuk bisa bicara banyak dengan Dania.


"Iya, sudah seminggu ini. Tapi mereka tidak sekamar." kata Dania tetap tersenyum. Pikirannya bercabang antara Nanta dengan Maya, Mamanya yang sejak Dania menikah tidak bisa dihubungi, hubungi Jack juga tidak diangkat, hanya Kirim pesan bilang bahwa mereka baik-baik saja. Semoga baik-baik saja pikir Dania.


"Kakek Kris ingin bertemu kamu." kata Julia lagi.


"Iya, setelah ini kan?" tanya Dania, Julia menganggukkan kepalanya, masih agak kaku paling tidak Dania mau tersenyum jika diajak bicara.


Setelah makan dan berbelanja sebentar, Lulu dan Julia pun mengajak Dania kerumah Kakek Kris. Jika tidak ada Mama Lulu pasti Dania tidak akan mau bertemu keluarga Papanya. Di jalan pun Dania terus berkirim pesan dengan Papa, menanyakan apakah Papa akan menyusul kerumah Kakek Kris. Dania jadi ketularan Nanta khawatir malah dibawa kerumah Om Peter.


Ternyata kekhawatiran Dania tidak terjadi, saat sampai di rumah Kakek Kris tampak Mobil Papanya sudah terparkir Manis disana. Dania boleh menarik nafas lega. Saat memasuki ruangan Kakek Kris sudah tersenyum saja menyambut Tuan Putri keturunan Suryadi. Dania menyalami Kakek Kris dengan sopan Dan tersenyum manis, hanya itu yang Dania bisa mengingat Dania tidak bisa berbasa-basi.


"Bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Kakek Kris pada cucunya.


"Tanda apa?" tanya Dania bingung.


"Sepertinya belum sih Kakek." Mama Lulu menjawab mewakili, sementara Dania bingung mereka membahas apa. Micko tertawa saja, sudah mengerti.


"Om, jadi bagaimana Peter?" tanya Micko pada Kakek Kris, walaupun terbaring di kasur ala-ala rumah sakit, tapi Kakek Kris masih aktif mengurus semua pekerjaan dari kamarnya. Hanya karena tidak bisa berjalan saja, Kakek tidak bisa bergerak bebas, tapi otaknya masih bekerja dengan baik.


"Urusan apa ya sama Peter?" tanya Kakek Kris.


"Perusahaan Peter sedang butuh suntikan Dana." lapor Micko.


"Tidak ada urusannya sama kamu. Biarkan saja Peter dan Kripto selesaikan masalahnya, kalian senang-senang saja." kata Kakek Kris terkekeh.


"Masalahnya dia mengganggu banyak orang." keluh Micko.


"Mau saya bantu selesaikan?" tanya Kakek Kris.


"Tidak usah, sebenarnya aku malas melibatkan keluarga Mama."


"Saya orang tua kamu juga, jangan lupakan itu Micko."


"Kami terbiasa mengurus semuanya sendiri, tapi Peter saja yang selalu ganggu keluarga kami."


"Bagaimana bisa Peter jadi menyalahkan kamu dengan kondisi perusahaan saat ini?" tanya Kakek Kris, Dania dan yang lain menyimak saja.


"Jadi aku diminta Arkana Burhan untuk menilai kelayakan proposal yang diajukan Peter, setelah aku pelajari tidak akan menguntungkan bagi Burhan Company, untuk apa bekerja sama jika tidak ada untungnya, bikin raport merah saja." Micko menjelaskan. Kakek Kris menganggukkan kepalanya sambil terkekeh, bagi pengusaha yang Utama adalah keuntungan, apalagi mereka ingin uangnya berputar dan berkembang.


POV. On


Begitu mendapat kabar dari Arkana jika mereka tidak dapat bekerja sama, Peter langsung saja kerumah Oma Misha, berhubung tidak semua tamu bisa diterima disana, Maka Peter hanya bisa mengamuk di depan pagar.


"Mickooo keluar lu." teriaknya tanpa malu didepan pagar, security sudah sampaikan jika Micko tidak ada dirumah, masih saja tidak percaya. Oma Misha dan yang lain hanya menyaksikan dari dalam. Winner dan Lucky ingin keluar tapi dilarang oleh Lulu, mereka tidak boleh terlibat urusan Papa dan keluarga Omanya.


"Pak Micko sedang keluar, Pak."


"Jangan banyak bacot lu, gue tahu Micko sedang bersembunyi." amuknya pada security. Sudah dikasih tahu malah fitnah, entah kebetulan atau memang disuruh pulang, tidak lama Micko datang dan segera menemui Peter yang sedang menggoyangkan pagar seperti apa saja.


"Tuh kan Bapak diluar, saya sudah bilang Bapak tidak ada, malah marah-marah." lapor Pak Sodik security dirumah Micko.


"Bagus deh lu datang, gue tahu lu sengaja kan?" Peter langsung menunjuk muka Micko.


"Sengaja apa?" tanya Micko dengan kening berkerut.


"Lu sengaja tolak proposal gue, biar gue jadi gembel kan?" tuduh Peter pada Micko.


"Sorry Peter, memang perusahaan kamu tidak layak, banyak hal yang harus dibenahi." Micko menjelaskan apa adanya. Peter tersenyum sinis.


"Tahu apa lu soal perusahaan, Lu pikir lu sudah hebat betul bisa menilai perusahaan gue tidak layak?"


"Silahkan ajukan ke perusahaan lain, mungkin penilaian saya tidak obyektif, tapi cuma orang bodoh yang mau investasi segitu banyak tanpa hasil yang jelas, bahkan kecenderungan merugi."


"Brengsek Lu Micko, Lu sama Nyokap lu tuh memang sampah!!!"


Tanpa banyak omong Micko langsung saja meninju rahang Peter sampai ia terjatuh.


"Jangan coba-coba bilang nyokap gue sampah." tunjuk Micko kemudian masuk meninggalkan Peter yang terduduk di tanah.


"Sialan Lu Micko, awas saja gue hancurin anak lu Dania." ancam Peter membuat Micko berhenti dan membalikkan badannya.


"Coba saja sentuh Dania, bukan cuma saya yang akan bergerak. Kamu tahu keluarga Suryaputra? Kamu sentuh Dania berarti urusan kamu sama keluarga Suryaputra." Micko terkekeh.


"Lu kira gue takut, mau keluarga Suryaputra dibantu keluarga Burhan dan Keluarga Santoso gue tidak takut."


"Silahkan saja berbuat sesuka kamu, semakin banyak kamu bertingkah, semakin cepat kamu jadi gembel." Micko tersenyum sinis dan meninggalkan Peter masuk kedalam rumahnya.


"Dasar Sampah!!!" teriakan Peter masih terdengar oleh Micko, tapi tidak diabaikan, Micko sudah cukup puas membuat Peter terduduk di tanah dan meninjunya, walaupun tangannya jadi agak sedikit memar.


POV Of.


"Peter itu sama saja dengan Kripto." Kakek Kris menggelengkan kepalanya.


"Entahlah mereka kenapa, enak saja bilang Mamaku sampah." Micko masih saja sakit hati.


"Mau kamu ambil alih perusahaan Peter?" tanya Kakek Kris pada Micko.


"Aku tidak tertarik." Micko menggelengkan kepalanya.


"Sudah saatnya kamu mengurus Suryadi Corporate, balas perbuatan Peter." kata Kakek Kris lagi pada Micko. Micko mengedikkan bahunya malas.


"Minggu depan ada rapat pemegang saham, datanglah. Om sangat berharap jika kamu yang memegang kendali perusahaan. Kakekmu juga sangat mengharapkan kamu." bujuk Kakek Kris pada Micko.


"Aku tidak tertarik, aku sudah sangat menikmati apa yang aku dan Mama terima saat ini. Hanya saja nyamuk itu berkeliaran menggigiti kami terus." Micko terkekeh.


"Kalau disemprot atau tepuk takut mati saja ya Bang." Micko terkekeh mendengar komentar Julia.


"Bisa saja aku tepuk, tapi tidak tega sama Kakek Suryadi. Om Kripto putra satu-satunya Kakek Suryadi."


"Eh sembarangan, kamu kira saya siapa?" Kakek Kris langsung saja protes, tidak disebut Micko sebagai putra Kakek Suryadi.


"Om Kris kan anak dari istri yang tidak dianggap." Micko terkekeh mentertawakan Kakek Kris.


"Mamaku justru lebih dulu jadi istri Papa sebelum Mama Lani." sungut Kakek Kris membuat Micko kembali tertawa, sementara Dania memandang Kakek Kris tanpa ekspresi.