
"Nanta besok harus kumpul jam berapa?" tanya Reza ketika Nanta sudah selesai mandi sehabis berenang.
"Jam dua belas siang Ayah." jawab Nanta tersenyum menghampiri Ayah Reza dan menyalaminya, ia baru saja bertemu Reza setibanya di Jakarta. Reza ikut tersenyum menyambut uluran tangan keponakannya.
"Kata Papa kamu suka sekali rumah barumu." Reza terkekeh memandang Nanta.
"Iya, rasanya malas sekali ke Asrama, ingin cepat saja pindah menikmati kamar baru." Nanta ikut terkekeh.
"Padahal di Malang pun kamu punya kamar sendiri." kata Reza menggelengkan kepalanya.
"Iya apanya yang membedakan? sama saja." Kenan ikut terkekeh.
"Suasananya berbeda Pa." kata Nanta pada Kenan.
"Mungkin sepertinya itu." jawab Kenan tertawa.
"Aku jadi penasaran." kata Nona menghela nafas, menyesal sekali tadi tidak diajak. Kenan menepuk-nepuk bahu istrinya sambil tertawa.
"Kalau sudah bersih baru boleh kesana." kata Kenan kemudian. Nona mengangguk.
"Kak Kiki dimana Bang?" tanya Nona pada Reza sedari tadi belum melihat Kiki lagi
"Masih dirumah Enji bersama temannya yang lain." jawab Reza, tanpa menjelaskan Nona tahu Kiki masih mempersiapkan acara kejutan untuk Nanta besok.
Esok harinya setelah sarapan, tidak ada satupun yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Nanta, bahkan Nanta juga tidak mendapatkan ucapan dari Tari. Malah pagi ini Ame mengajak Papa, Kak Nona, Ayah dan Bunda kerumahnya, Nanta juga diajak tapi Nanta malas ikut, mereka pun tidak memaksa.
Setelah satu jam sendiri di rumah, hanya ditemani Bi Tini dan Bi Tina, Nanta pun menyusul ke rumah Ame, ia ingin pamit saja berangkat lebih cepat ke Asrama?. Tampak Wilma sedang duduk santai di teras bersama Jelita. Nanta langsung tersenyum pada mereka, terlebih mereka langsung bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun menyambut Nanta yang tertawa geli, memang hanya abege yang mengerti ulang tahun sepertinya, pikir Nanta.
Tapi keduanya tidak berhenti bernyanyi padahal Nanta sudah mendekat masih saja terus bernyanyi, mau tidak mau Nanta berdiri memandangi keduanya sambil bersedekap, sambilntertawa memandangi keduanya yang tampak kocak.
"Selamat ulang tahun kami ucapkan..." lagu susulan berikut cake yang dipegang Kak Nona membuat Nanta tambah tertawa, terlebih dibelakangnya Bunda dan Ame disusul Papa, Ayah, Popo, Bang Chico dan Kak Risa juga ada dua orang lagi suami istri mungkin orang tuanya Wilma, yang wanita sedikit mirip dengan Ame, hanya tampak lebih kurus dan lebih tinggi.
Surprise dirumah Ame membuat Nanta terus tertawa haru, bisa-bisanya Papa membuat kejutan dirumah Ame, bukan dirumah Ayah dan Bunda. Nona menghampiri Nanta menoelkan krim kue ke hidung Nanta, semua tertawa dibuatnya. Tidak ada aksi lempar kue ke wajah dan juga tidak ada aksi tiup lilin. Nanta mematikan lilinnya dengan tepukan tangan. Wajahnya sangat sumringah.
"Nanta sayang sudah tujuh belas tahun, semakin sholeh semakin banyak amal ibadah kamu ya, berhasil disekolah, di prestasi dan juga dalam karir dan jodoh, semakin bermanfaat untuk orang banyak." doa dari Papa di Amiin kan oleh semua yang ada.
"Jangan lupa bersama kami terus menjaga adik bayi nanti kalau sudah lahir." kata Nona, Nanta pun terbahak menganggukkan kepalanya.
Jelita dan Wilma heboh memotong kue, mereka langsung saja memakannya sementara yang lain sibuk mendoakan Nanta.
"Nanta semoga kamu dan Wilma berjodoh." doa Enji mendapat Aamiin yang kencang dari keluarganya, konyolnya Wilma dan Jelita ikut bilang Aamiin. Nanta tertawa yang lain pun begitu.
"Wilma kuenya kamu makan berdua Jelita saja, kenapa tidak dipotong yang banyak sih bagi-bagikan ke yang lain." protes Wanita yang dikira Nanta, Mama Wilma.
"Nanta tidak suka cake, Mom. Nanta sukanya es krim, iya kan Nan?" Wilma memastikan memandang Nanta. Nanta mengangguk sambil tersenyum pada Wanita tersebut.
"Nanta ini Mommy Liana sama Daddy Leo, orang tua Wilma." Enji mengenalkan pada Nanta.
"Halo Om, Tante." Nanta menghampiri keduanya menyalaminya.
"Panggil Mommy dan Daddy, kita semua tidak kenal Om dan Tante." protes Leo pada Nanta. Nanta tertawa, memang semua lingkungan Ayah Eja tidak ada yang memanggil Om dan Tante, segitu dekatnya mereka, sehingga semua anak ikut memanggil sesuai panggilan anak-anak mereka.
"Papa aku tuh kesini mau pamit ke Asrama." kata Nanta pada Kenan.
"Nanti Papa antar, ini kado untuk kamu." Kenan memberikan kotak kecil yang di hiasi pita.
"So sweet sekali Papa kasih aku kado, Logam mulia ya?" tebak Nanta terkekeh. Yang lain senyum-senyum saja.
"Aku tahu Bang Nanta." teriak Jelita dengan mulut celemotan krim kue, dia berlari menghampiri Nanta.
"Ayay..." Jelita terhenti memonyongkan bibirnya memandang Chico yang tersenyum lembut padanya. Nanta sibuk membuka kotak, kemudian berteriak senang ketika kotak sudah dibukanya.
"Yess!!!" katanya berjingkrakan menggendong Jelita.
"Yang mana kado Abang?" tanyanya pada Jelita yang tertawa senang digendong Nanta.
"Itu..." tunjuk Jelita pada Mobil yang tertutupi cover Mobil berwarna merah didepan rumah Enji. Nanta menekan remote memastikan, benar saja lampu menyala terlihat. Dibantu Jelita dan Wilma mereka membuka cover mobil bersama.
"Terima kasih Papa, Kak Nona, Ayah, Bunda." teriak Nanta senang.
"Terima kasih Ame, Popo, Bang Chico, Kak Risa, Mommy dan Daddy." kata Nanta pada semuanya yang ikut merasakan kebahagiaan Nanta. Andi dan Pipit hanya menonton dari teras rumahnya, begitu juga Mario dan Regina.
"Test drive Nan." teriak Andi dari teras rumahnya.
"Boleh Test Drive, Pa. Ini Mobil yang aku mau juga warnanya memang aku suka. Papa pasti tahu dari Mama." kata Nanta memandang Papanya.
"Iya, Papa tanya Mama, jangan lupa bilang terimakasih sama Mama dan Om Bagus." Kenan mengingatkan Nanta.
"Iya, Pa."
"Kalian mau ikut test drive? hanya didalam komplek saja karena aku belum punya SIM." kata Nanta pada Jelita dan Wilma. Keduanya mengangguk dan langsung saja masuk kedalam Mobil.
"Nanta kalau kamu ke sekolah bawa mobil, jemput aku dulu lah." kata Wilma dengan cueknya, terdengar oleh yang lain karena Nanta belum menyalakan mesin kendaraannya, bahkan Nanta belum duduk dikursi kemudi.
"Tuh Nan, sudah minta diantar jemput." kata Nona terkekeh.
"Sekolahnya saja dimana aku belum tahu." Nanta ikut terkekeh kemudian memasuki Mobil dan mulai menyalakan mesinnya kemudian melajukan kendaraannya perlahan. Setelah mobil Nanta meghilang dari pandangan, mereka tidak langsung masuk tapi berdiri sambil ngobrol di depan.
"Undang-undang naik rumah baru ya." kata Liana pada Nona.
"Iya Kak Liana nanti aku kabari." Nona terkekeh menggandeng suaminya.
"Jadi bagaimana perjodohan Nanta dan Wilma, jadi dilaksanakan?" tanya Enji pada kedua orang tua yang sedang berdekatan. Leo tertawa memandang Kenan.
"Wilma agak unik sih cenderung tengil, mungkin karena masih kecil ya, tadi saja panggil Nanta main Nan, Nan saja, padahal sudah sering ditegur." kata Leo mengomentari putrinya.
"Itu sih tidak masalah." kata Kenan tertawa.
"Masalah perjodohan apa bisa ya kita kawal sampai berhasil." Kenan tampak ragu.
"Apalagi Nanta bilang kemarin kalau dijodohkan dia terpikir menikah dini." sambil Kenan sambil terbahak.
"Hahaha kalau begitu nanti saja kalau Wilma berusia tujuh belas tahun ya, jadi kalaupun menikah setelah Nanta lulus kuliah, tidak terlalu lama tunangan hanya tiga tahun." kata Leo lagi, sepertinya ia ikut Enji yang sangat menyukai Nanta.
"Bang Leo, apapun yang terjadi jangan sampai ada yang sakit hati ya, aku takut merusak hubungan baik ini." kata Kenan lagi.
"Tenang saja, kalau memang jodohnya pasti lancar, sayang saja kalau Nanta jatuh ke gadis lain. Aku suka anak yang berprestasi. Tinggal kita mengawasi supaya tidak salah pergaulan." kata Leo pada Kenan.
"Kita kan dulu tidak nakal." kata Kenan terbahak.
"Kamu mungkin tidak nakal, kalau aku sempat, makanya khawatir anakku dapat pasangan yang tidak benar." kata Leo setengah curhat.
"Duh aku juga dulu sempat nakal. Aku jaga betul Wilma supaya tidak salah jalan. Lebih baik cepat dijodohkan supaya tidak melirik cowok lain." kata Liana khawatir Wilma bisa meniru kebodohannya dulu jika bertemu orang yang salah. (baca Dear Angela ya kalau mau tahu bodohnya Liana seperti apa.)
"Sabar Kak Liana, aku juga perlu bahas sama Mamanya Nanta." kata Kenan terkekeh, ia tahu sedikit cerita Liana dulu, hingga tidak heran jika Liana begitu ketakutan.
Nanta kembali dari Test-drive, hanya saja kendaraan diparkirnya didepan rumah Reza, kemudian ketiganya berjalan menuju rumah Ame. Jelita yang kesenangannya melebihi Nanta berjingkrakan melompat dengan kaki kiri dan kanan bergantian sambil menuju rumah Ame. Kebahagiaan yang diberikan pada Nanta rupanya menular kepada yang lain.