
"Balen!!!" sapa Winner saat melihat Balen bersama Nanta dan Nona memasuki ruang meeting Unagroup.
"Aban Winei." langsung bersorak senang melihat Winner, Lucky dan Lulu sudah duduk manis disana.
"Selamat datang adik cantik." sapa Aditia pada Balen.
"Ini tan Om yan di Oten ya." katanya pada Nanta.
"Iya." jawab Nanta tersenyum.
"Tapan Baen masuk tipina Om?" tanya Balen tidak sabar. Aditia dan yang lain langsung tertawa.
"Syuting dulu dong." kata Aditia sambil tersenyum lebar.
"Silahkan duduk Ibu Nona dan Mas Nanta." katanya persilahkan Nona dan Nanta untuk duduk.
"Baen?" tanya Balen bingung karena tidak dipersilahkan duduk. Kembali Aditia tertawa ingin sekali mencubit pipi Balen.
"Iya Baen duduk juga dong." jawab Aditia terkekeh. Lalu menggeser bangku disebelah Nona untuk Balen duduk.
"Sini Baen." kata Nona pada gadis kecilnya.
"Yah." jawab Balen menurut langsung duduk disebelah Mamon.
"Aban, tok Aban Leyi beum datan?" tanyanya pada Nanta, semua teman Nanta belum ada yang terlihat.
"Tadi aku lihat Bang Larry lagi terima telepon." kata Lucky pada Nanta yang celingak celinguk.
"Oh sudah datang ya." Nanta tersenyum dan menarik nafas lega.
"Mama Lulu diantar siapa tadi?" tanya Nanta pada Ibu mertuanya.
"Tomson, antar kami terus jemput Dania tuh." kata Lulu, Nanta anggukan kepalanya memang Dania ada kuliah siang ini.
"Nanti kita antar pulang saja." kata Nona pada Lulu.
"Tidak usah, nanti Tomson jemput lagi setelah antar Dania. Kamu sama Balen saja yang kami antar pulang, biar Nanta bisa jemput Dania nanti." kata Lulu pada Nona.
"Begitu Nan?" tanya Nona pada Nanta.
"Boleh juga, terserah bagaimana baiknya saja." kata Nanta tersenyum pada Nona dan Lulu.
"Haooo..." sambut Balen ketika melihat Larry, Mike dan Doni memasuki ruangan.
"Assalamualaikum..." Salam Larry pada semuanya.
"Waalaikumusalaam..." jawab Nona, kemudian para sahabat Nanta menyalami semua yang ada diruangan.
"Baen..." Larry mencubit pipi Balen gemas. Balen langsung cengengesan sambil mengusap pipinya yang dicubit Larry.
"Duh ini ya model ciliknya." sapa seorang wanita cantik memasuki ruangan meeting.
"Haooo..." sapa Balen pada wanita tersebut.
"Ya ampun menggemaskan." katanya sambil tersenyum pada Balen.
"Selamat pagi menjelang siang Ibu, Mas-mas ganteng dan adik cantik. Perkenalkan saya Rumi, Marketing Communication Manager Dari Unagroup, blaa...blaa...blaa..." begitulah Rumi memperkenalkan diri Dan memberikan sambutan untuk pertemuan mereka. Selanjutnya Rumi menyampaikan semua yang berkaitan dengan iklan dan proses syuting.
"Seperti Video yang diambil sama Pak Aditia, mohon maaf sebelumnya rekan saya sempat merekam aktifitas Adik Baen bersama dengan Mas Larry di kolam berenang saat di Semarang dan Nanti pada saat syuting kurang lebih aksi dan gayanya akan seperti itu ya. Hanya saja akan ditambah kalian saling berebut makanan sehat yang Baen dan Mas Larry makan karena mereka terlihat begitu energik. Yang lainnya juga ingin seperti mereka berdua. Kurang lebih seperti itu ya skenarionya." Rumi menjelaskan pada semua yang ada disana.
"Kedalaman kolam berapa meter?" tanya Larry pada Rumi untuk persiapan, karena ia selalu memastikan itu untuk Balen.
"Nanti lokasinya dimana ya?" tanya Rumi pada Aditia.
"Saya mesti tanyakan Bos saya dulu ya, kolam renang dirumahnya kedalaman berapa meter." jawab Rumi pada Larry.
"Tapi amannya berapa meter Mas Larry?" tanya Rumi pada Larry.
"Sebenarnya kalau hanya untuk sepuluh kali ujung ke ujung saja kemarin di kedalaman 1,8meter Balen masih mampu." jawab Larry pada Rumi, yang lain menyimak saja.
"Hanya saja yang saya khawatirkan jika proses syuting memakan waktu lama dan Balen harus berenang lebih lama dari biasanya. Itu saja sih." lanjut Larry lagi, ia betul-betul memikirkan daya tahan Balen.
"Oke Mas Larry akan kami usahakan agar syuting lebih banyak dipinggir kolam dari pada di dalam airnya sendiri." kata Rumi tersenyum pada Larry.
"Terima kasih, Bu." jawab Larry sopan.
"Ups jangan panggil Ibu dong, memang saya terlihat tua ya." protes Rumi membuat yang lain terbahak.
"Masih muda kok, masih single apa sudah sold nih" celutuk Nona mengangkat alisnya pada Larry. Yang lain langsung rusuh, sementara Larry tertawa sambil gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Mamon menggoda Larry saat ini.
"Saya, Alhamdulillah kalau ada yang mau dekati masih available." jawab Rumi kembali Nanta dan sahabatnya bersorak rusuh menyebut nama Larry. Semua terbahak, Winner dan Lucky malah ikut-ikutan.
"Apa nanti ada model cewek seumuran kami?" tanya Winner membuat Lulu memukul bahu anaknya.
"Mama, siapa tahu jodohku ada di iklan ini." kata Winner bercandai Mamanya.
"Sekolah dulu yang benar, minta jodoh saja." kata Lulu, yang lain tertawakan keduanya. Lucky senyum-senyum saja sambil menjahili Balen, melemparnya dengan bungkus permen. Balen terkikik geli merasa dikerjai Lucky, dikiranya permen betulan yang dilempar Lucky.
"Oke untuk kontraknya, adik Balen kata Pak Steve nanti Pak Mario yang akan hubungan langsung dengan Pak Kenan. Ada beberapa hal yang akan Pak Mario bicarakan dengan Pak Kenan." kata Rumi pada Nona.
"Oh baik." jawab Nona anggukan kepalanya.
"Mas Larry boleh ikut saya keruangan ya, Mas yang lain nanti dibantu oleh Pak Adit dan rekan kami juga." kata Rumi pada ke lima pria tampan diruangan itu..
"Leyi pagi dilamar bocah, siang ini ada pencerahan sepertinya." bisik Nanta pada Larry.
"Rese..." balas Larry meninju pelan bahu Nanta.
"Waduh beneran itu Larry sama Mbak Rumi?" tanya Mike terkekeh. Aditia ikut tertawa mendengarnya.
"Cantik ya Mbak Rumi, boleh lah mas Larry juga ganteng." kata Aditia ikut berkomentar. Nanta tertawa saja mendengarnya.
"Jodohin Nan." kata Doni pada Nanta.
"Larry sih tidak usah dijodohkan juga bisa tangkap sendiri." jawab Nanta terkekeh.
"Oke Mas Nanta, Mas Mike, Mas Doni, sekarang ikut saya ya." ajak Aditia pada ketiganya. Ketiganya keluar ruangan mengikuti Aditia.
"Mas Winner dan Mas Lucky karena belum tujuh belas tahun masih didampingi orang tua ya." kata Rosa rekan Aditia pada kedua remaja tanggung ini.
"Jadi ikut kemana?" tanya Winner pada Rosa.
"Disini saja ya Bu Lulu, kasihan Ibu Nona dan Adik Balen kalau kita tinggal." Rosa minta persetujuan Lulu.
"Iya disini saja tidak apa, tidak rahasia toh." jawab Lulu tertawa.
"Dibaca dulu sebelum di tanda tangan ya bu, biar sama-sama enak kedepannya." Rosa mengingatkan.
"Duh aku pusing nih kalau suruh baca." Lulu tertawa.
"Ih Mama, sini deh aku yang baca nanti Mama tanda tangan saja." kata Winner pada Mamanya.
"Tidak apa, Mama baca saja. Lagi pula Mario tidak mungkin curang." kata Lulu terkekeh, Rosa pun ikut tertawa, ia sudah dipesankan oleh Steve jika model iklan kali ini masih kerabat keluarga owner, meskipun mereka mendapatkan tawaran iklan bukan karena kekerabatan.