
Mereka memilih salah satu restaurant cepat saji di bandara, yang cepat saja mengingat hari sudah malam. Nanta juga terus menghubungi Pak Atang yang masih terjebak di jalan tol walaupun sudah mendekati pintu keluar.
"Aku makan dulu, Pak. Pak Atang sudah makan belum?" tanya Nanta saat menghubungi Pak Atang.
"Sudah, tadi sebelum berangkat saya makan dulu." jawab Pak Atang.
"Ok kabari aku kalau sudah keluar tol." Kata Nanta sebelum panggilan telephone ia akhiri. Nanta baru menyadari kalau makanannya sudah tersedia dimeja. Sementara sang gadis belum terlihat batang hidungnya, mungkin sedang mencuci tangan.
"Mas Nanta, kenapa belum makan?" dia muncul dengan wajah sumringah, benar saja tangannya tampak basah.
"Ayo makan." ajak Nanta karena ia sudah mencuci tangan terlebih dulu. Baru saja akan menyuap nasi, handphonenya kembali berdering.
"Assalamualaikum, Pa."
"Kamu sudah sampai rumah?" tanya Kenan pada Nanta, ia ingin mengecek posisi Nanta saat ini.
"Pak Atang terjebak macet di Tol, jadi aku minta menunggu di depan Puri Mal, aku naik taxi kesana. Aku sudah kasih tahu di group, Papa belum baca ya?" Nanta menjelaskan.
"Papa belum baca group, Papa baru saja selesai pertemuan."
"Sekarang Papa sudah jalan pulang?"
"Iya, kabari Papa kalau sudah di rumah ya. Kabari juga Mama."
"Iya Pa aku makan dulu."
"Tumben makan di bandara?"
"Eh... iya lagi pengen sambil menunggu Pak Atang keluar Tol." Nanta memberi alasan, tidak menceritakan kalau ia sedang bersama seorang gadis yang ia sendiri tidak tahu siapa namanya.
"Sorry, Papaku telepon." kata Nanta kemudian mulai makan.
"Papanya Mas Nanta perhatian." kata gadis tersebut.
"Seperti para Papa pada umumnya." jawab Nanta santai.
"Tidak semua, buktinya aku tidak di telepon sampai sekarang, padahal aku perempuan, sudah malam lagi." ia tersenyum miris, tapi kemudian air mukanya kembali seperti biasa.
"Kalau Papa kamu tidak telepon, ya kamu saja yang telepon kasih kabar." kata Nanta tersenyum manis.
"Mestinya begitu ya, tapi memang kami tidak pernah saling telepon sih, dia sibuk sama istrinya." katanya lagi bercerita.
"Begitu ya?"
"Iya, bersyukur deh Mas Nanta Mama Papanya tidak berpisah, Punya Papa perhatian." celotehnya sok tahu, Nanta terkekeh mendengarnya.
"Beda sama aku keluarga broken home." katanya lagi.
"Kamu tinggal sama Mama kamu?"
"Tidak, aku tinggal sama nenekku, Mamaku juga sibuk sama suami dan anaknya."
"Kamu saja yang mendekat sama mereka, jadi tidak merasa punya keluarga broken home, ada juga kok yang mama Papanya pisah, punya keluarga masing-masing tapi bahagia."
"Bisa dihitung yang beruntung begitu dan aku tidak dapat yang seperti itu." katanya menghela nafas.
'Namaku Dania." katanya memperkenalkan diri setelah sedari tadi bercerita panjang lebar.
"Ok Dania, aku Nanta."
"Sudah tahu." jawabnya terkekeh.
"Mas jadi aku hutang empat ratus ribu ya, mana dua ratus ribu lagi, aku mau naik taxi." katanya menadahkan tangan.
"Puri Indah itu dekat Puri Mal bukan?" tanya Nanta pada Dania.
"Iya." Dania mengangguk cepat.
"Aku rencana naik taxi sampai Puri Mal, kamu ikut aku saja." Nanta menawarkan.
"Oh boleh, tapi terbalik Mas Nanta yang ikut aku, karena Mas Nanta turun lebih dulu." katanya yakin.
"Kita turun sama-sama di Puri Mal, nanti biar kami antar pulang." Nanta kembali berbaik hati. Ia tidak tega karena hari sudah malam.
"Kami?" tanya Dania bingung.
"Ya aku dan Pak Atang." Nanta terkekeh.
"Oh, kenapa tidak dijemput disini?" tanyanya heran.
"Macet total di tol." jawab Nanta.
"Ok, let's go. Jadi aku hutang dua ratus ribu, taxi Mas Nanta yang bayar." katanya konyol.
"Ok, makan juga tadi aku saja yang bayar." jawab Nanta yang memang niat ingin mentraktir Dania.
"Ups maaf aku sudah transfer." katanya menunjukkan bukti transfer pada handphonenya. Nanta jadi tertawa melihat gaya Dania.
"Keluarga kamu ada yang di Malang?" tanya Nanta ingin tahu dalam rangka apa Dania ke Malang.
"Tidak, aku hanya jalan-jalan, refreshing."
"Sendiri?" tanya Nanta heran.
"Mana enak jalan-jalan sendiri."
"Enak kok, buktinya aku sering."
"Nekat betul tidak bawa uang cash."
"Aku memang tidak suka bawa uang cash, biasanya tidak ada masalah, eh tadi tumben saja overload karena pesanan Nenekku banyak sekali, untung ada Mas Nanta. Allah memang Maha baik." katanya menarik nafas lega.
"Lain kali bawa uang cash, jadi kamu tidak jalan sama orang asing seperti sekarang." kata Nanta pada Dania.
"Tapi aku jadi punya teman baru." Dania tersenyum lebar.
"Tidak semuanya bisa kamu jadikan teman. Kamu kuliah di mana?" tanya Nanta pada Dania, ia menyebutkan nama salah satu universitas ternama disebelah kampus Nanta.
"Kita tetangga, aku semester tiga, kamu?"
"Aku adik kelas." jawabnya terbahak.
"Ambil jurusan apa?" tanya Nanta ingin tahu.
"Ekonomi dan Bisnis." jawabnya.
"Mas Nanta jurusan apa?"
"Sama Ekonomi dan bisnis juga, arahan Papa seperti itu."
"Anak Papa banget sih." Dania terkekeh.
"Anak Mama juga." jawab Nanta ikut terkekeh.
Tak terasa dari restaurant kemudian menunggu taxi hingga mereka sekarang sudah sampai di dekat Pak Atang memarkirkan mobilnya, banyak obrolan dan cerita bergulir, belum pernah Nanta seakrab ini dengan orang asing yang baru dikenalnya, apalagi seorang gadis.
"Pak Atang, antar temanku dulu ya." kata Nanta pada Pak Atang yang tampak lelah melawan macet.
"Iya." jawabnya tak semangat.
"Aku setirin sini, kasihan sekali kena macet, berapa jam tadi?"
"Lumayan Mas, tiga jam berhenti." jawabnya terkekeh.
"Ya sudah sini aku yang setirin." Nanta mengambil alih, Pak Atang pun bersiap turun dari mobil ingin duduk dibelakang, tapi rupanya Dania sudah duduk manis dibangku belakang, mau tidak mau Pak Atang duduk di kursi depan.
"Pacarnya Mas Nanta ya?" tanya Pak Atang setengah berbisik pada Nanta.
"Bukan." jawab Nanta mulai menjalankan kendaraannya.
"Aku anak luntang lantung yang di tolong Mas Nanta." katanya pada Pak Atang.
"Oh Mas Nanta memang superhero." kata Pak Atang promosi. Nanta menggelengkan kepalanya, Pak Atang mulai mengarang bebas.
"Bu Nona berapa kali telepon saya tanya Mas Nanta." kata Pak Atang pada Nanta.
"Kok Mamon tidak telepon aku, coba telepon Pak." Nanta memberi perintah pada Pak Atang.
"Eh alamat kamu dimana, Dania?" tanya Nanta baru sadar. Dania menyebutkan alamat lengkapnya.
"Aku juga baru tinggal disini, jadi belum hafal juga jalannya." kata Dania pada Nanta.
"Sebelumnya dimana memang?"
"Ikut Mama di London."
"Kenapa tidak kuliah disana, malah ke Jakarta."
"Aku tidak cocok sama suami Mama."
"Kamu ngelawan kali."
"Iya, kalau disalahkan untuk hal yang tidak aku lakukan, aku melawan."
"Ini Nenek dari Mama?" tanya Nanta sedikit kepo, entah kenapa ia ingin tahu lebih banyak tentang Dania. Pantas saja dia acuh dan santai saja bertemu Nanta, rupanya baru beberapa bulan di Jakarta, tentu saja tidak mengenal Nanta. Lagi pula yang histeris saat melihat Nanta hanya pencinta basket dan kebanyakan anak-anak sekolah.
"Bukan ini nenek angkatku alias Ibu kos." Dania terkekeh.
"Bingung ya." katanya masih tertawa.
"Iya." jawab Nanta jujur.
"Kalau mau tahu lebih banyak tentang aku, kita harus sering bertemu." kata Dania terbahak. Nanta menghentikan kendaraannya disebuah rumah besar yang tidak terlihat seperti kos-kosan.
"Ini rumahnya?" tunjuk Nanta sambil bertanya.
"Iya, Nenek juga sebatang Kara, jadi angkat aku jadi cucunya, lain kali aku kenalkan, kalau kita bertemu lagi." kata Dania pada Nanta, bersiap turun dari Mobil.
"Dania ini." Nanta menyerahkan handphonenya pada Dania. Dania sudah mengerti kalau Nanta minta nomor handphonenya.
"Sudah ya." kata Dania menyerahkan handphone Nanta kembali.
"Terima kasih." kata Nanta melambaikan tangan pada Dania kemudian melaju meninggalkan Dania yang masih berdiri di depan pagar Kosannya, ia masuk kedalam rumah sambil tersenyum lebar setelah membaca pesan dari Nanta.