I Love You Too

I Love You Too
Menghayal



Nanta bersiap ke Bandara, sebelumnya ia meminta Papa mengirim supir untuk mengembalikan mobil Opa, mengingat Om Micko sudah memfasilitasi satu mobil berikut supir untuk digunakan Dania bersama teman-temannya.


"Aku berangkat dulu, Ma." kata Nanta pada Mamanya, sementara Wulan sibuk dengan buku yang Nanta belikan, berhubung Nanta lupa membelikan pinsil warna untuk Wulan, tadi ia sempatkan ke toko buku terdekat untuk membelikan Wulan crayon, hanya ada itu di toko buku dekat rumah.


"Masanta jalan dulu ya ulan." kata Nanta pada adiknya. Ulan menganggukkan kepalanya. Om Bagus sudah ke kantor sedari pagi, ia sudah mengingatkan agar Nanta dan sahabatnya hadir jamuan makan malam bersama pengisi acara nanti.


"Hati-hati ya, Nan. Jangan lupa kenalkan sama Mama." kata Tari tersenyum penuh arti.


"Iya, besok Mama hadir di acara kan? aku akan kenalkan mereka bertiga sama Mama." kata Nanta nyengir, walaupun tahu maksud Mama siapa yang ingin Mama kenal lebih dekat.


"Besok kita kenalan sama pacar Masanta." kata Tari pada Wulan.


"Ih Mama, aku tidak pacaran." kata Nanta cepat, Mama suka sekali menggoda Nanta.


"Iya-iya." Tari tertawa melihat Nanta sedikit cemberut.


"Padahal suka, dibilang pacaran tidak mau." sambung Tari lagi.


"Sok tahu ah Mama." kata Nanta terkekeh.


"Kalau tidak suka mana mungkin mau repot." kata Tari lagi, kepo sekali ingin tahu perasaan Nanta yang sebenarnya.


"Iya memang aku suka, tapi belum tentu kujadikan pacar juga." jawab Nanta apa adanya.


"Nanti diambil orang menangis." Tari terkekeh.


"Mama hati-hati loh kalau bicara, itu doa." kata Nanta mengingatkan Mamanya.


"Tuh kan takut Dania diambil orang." kata Tari terbahak, lebih diperjelas dengan menyebut nama Dania.


"Bukan begitu, aku takut aku menangis. Jangan ah. Aku mau senang saja. Sudah cukup dulu sedihnya waktu Mama dan Papa pisah, sekarang kan kita sudah bahagia. Aku tidak berharap kisah cintaku seperti Mama dan Papa." kata Nanta membuat Tari terdiam.


"Maaf Ma, maksud aku Mama doakan supaya aku bahagia, I love you Mama." Nanta memeluk Tari, menyadari ucapannya barusan membangkitkan luka lama Mama.


"Iya sayang, Mama juga minta maaf bicara tidak dipikir dulu. Mama juga mau kamu bahagia, tidak sanggup kalau kamu atau Wulan harus sedih lagi." kata Tari menepuk bahu Nanta.


"I love you, Mama." ulang Nanta pada Tari.


"I love you too sayang, luar biasa deh love Mama untuk kamu." kata Tari lagi pada Nanta.


"Nanti kalau punya pasangan, aku mau pasangan aku juga love Mama luar biasa." kata Nanta membuat Tari tertawa.


"Aamiin." kata Tari kemudian.


"Ulan lop masanta." sahut Wulan.


"Eh menguping ya, Masanta juga love Wulan luar biasa." kata Nanta menghampiri Wulan dan menciumi pipinya.


Mobil jemputan sudah datang, Nanta tertawa ketika Om Micko mengirimi Mobil mewah berikut supirnya, mungkin di Malang Mobil ini akan jadi perhatian orang ketika mereka seliweran nanti Range Rover seri terbaru dengan warna merah, cukup menarik perhatian, setahu Nanta Mobil ini hanya dibuat sebanyak lima belas unit, tentu hanya orang-orang tertentu yang memilikinya.


Memang Om Micko keluarganya punya showroom Mobil built-up kelas mewah sampai super mewah. Ini pasti dari showroom keluarga Om Micko dicabang Malang, Nanta sudah tidak heran lagi. Ingat cerita Papa saat membawa Mamon ke rumah Om Micko, dikira Mobil mewah yang parkir di halaman rumah Om Micko karena ada acara besar, ternyata Mobil koleksi pemilik rumah.


"Mau setir tidak, Mas? tanya Pak Supir lagi.


"Eh tidak usah, kalau naik mobil mewah begini memang paling enak disetiri." jawab Nanta tertawa sambil menghayal jadi konglomerat disetiri naik mobil mewah. Hahaha biar saja sedikit Norak, kan menghayal juga bagian dari doa.


Bolehlah kalau punya rejeki beli satu mobil semewah ini, batin Nanta, eh tapi kalau Allah mengijinkan dan tidak membuat Papa, Mama dan semuanya emosi, karena itu diluar kebiasaan keluarga mereka.


"Bapak namanya siapa?" tanya Nanta pada Pak Supir.


"Timbul, Mas." jawab Pak Timbul tersenyum ramah, masih muda sih paling beda berapa tahun saja sama Nanta.


"Pak Micko juga titip ini." katanya menyerahkan amplop tebal pada Nanta, setelah Nanta lihat satu ikat uang seratus ribuan.


"Untuk apa?" tanya Nanta pada Pak Timbul.


"Untuk Jajan Mas Nanta dan Teman-temannya nanti. Kan mau diajak jalan ke Batu." kata Pak Timbul pada Nanta.


"Om ini banyak sekali." kata Nanta pada Om Micko melalui sambungan telepon.


"Kalau Dania mau apa belikan saja ya, Nan. Om juga ada transfer ke rekening kamu." kata Om Micko pada Nanta.


"Tapi ini lebih dari cukup, kenapa ditransfer lagi?" Nanta jadi tidak enak hati, ia tulus membantu, malah Om Micko kasih modal luar biasa banyaknya.


"Tidak apa, kan tidak jadi menginap di hotel." jawab Om Micko.


"Kalau begitu uangnya aku kasih ke Mamon saja, karena kan menginap dirumah Papa." kata Nanta pada Micko.


"Eh jangan, itu untuk kamu dan Dania juga teman-temanmu. Kalau bisa tanyakan nomor rekening Dania, Om mau transfer ke rekening Dania juga." kata Micko.


"Om, Malang ini kota kecil, tidak mungkin bisa Nanta habiskan dalam dua hari uang yang Om kasih ini, belum lagi yang direkening Nanta." kata Nanta pada Om Micko.


"Ya sudah habiskan nanti kalau kamu di Jakarta, buat modal kamu ajak Dania nonton, makan dan lain-lain." kata Micko tertawa.


"Hahaha aku pedekate dimodalin ya Om." kata Nanta tertawa keras.


"Jadi kamu setuju ya pedekate sama Dania." Micko terbahak, Nanta terjebak kalimatnya sendiri.


"Ah Om Micko jebak aku." kata Nanta ikut terbahak.


"Om setuju loh, dengan senang hati. Jangan sakiti Dania ya, dia sudah sakit hati sama Om." pesan Micko pada Nanta.


"Eh..." Nanta jadi bingung sendiri.


"Nanta, kamu akan sedikit kesulitan mengambil hati Mama Dania nanti, dia orangnya gampang terpengaruh, bahasa anak sekarang labil. Semoga saja saat mengenal kamu nanti, tidak ada pembisik yang membuat dia menjauhi kamu dari Dania." kata Micko pada Nanta.


"Eh..." Nanta jadi tambah bingung.


"Tapi tenang, Om akan selalu dukung kamu, selamat bertambah dekat dengan Dania ya. Kalau sudah siap menikah kabari Om."


"Om Micko!!!" Nanta sedikit berteriak, Micko malah terbahak, konyolnya Nanta mendengar suara Papa dan Bang Raymond ikut terbahak disana.