
"Ga ada upin ipin disana." jawab cindy sambil tertawa. Manis juga batin Andi.
"Cin, lu bisa nyanyi?" tanya Mario to the point. Kiki tersenyum lebar "Ntar malam dong test vocal?" katanya sambil cengar-cengir. Dibelakang Mario tampak Regina berdiri sambil celingak celinguk, mungkin mencari Mami Mario.
"Yo, lu ga kenalin ke kita? kasian bingung gitu." Bisik Reza pada Mario. Setelah menoleh kebelakang, Mario memanggil Regina untuk dikenalkan pada sahabatnya.
"Lu nginap sini aja Yo. Rame nih kita kumpul nanti malam." ajak Reza. Mario melirik pada Regina.
"Tak apa Yo, aku nanti sama Mami." Regina yang merasa dilirik segera menjawab, karena tahu Mario seperti menganggapnya sebagai beban.
"Regina minggu lalu kamu ke JB ga ya?." tanya Cindy merasa pernah bertemu Regina di Johor Bahru. Regina mengernyitkan dahinya mencoba mengingat. Kemudian mengangguk cepat. Minggu lalu ia ke Johor untuk menghadiri undangan makan malam ulang tahun sepupunya di salah satu Restauran Seafood tepi laut disana.
"Kamu dari JB? " tanya Regina
"Iya aku juga datang ke Tepi laut. Ema teman kuliah aku."
"Wah kalian rombongan di apart lantai sembilan itu? Yang ga dapat taxi pas pulang dari acara akhirnya diantar sama pemilik Restaurant ya" Regina tertawa mengingat beberapa teman Ema yang rusuh karena tak mendapatkan taxi pulang ke apartement. Ia tampak bersemangat. Ada teman sepupunya disini. Paling tidak ia tak terbengong seperti tadi. Kemudian Regina berjalan mendekat pada Cindy, merekapun asik ngobrol membahas acara mereka minggu lalu.
"Buka hati buka mata, sepertinya Regina asik, cakep lagi." bisik Andi pada Mario yang sibuk dengan dirinya sendiri tak perduli akan kehadiran Regina.
Mario melirik ke arah Regina dan Cindy. Baru kali ini ia melihat Regina tertawa lepas. Dari kemarin tampak kaku tanpa senyum dan selalu menempel pada Mami.
"Yo, mami harus ke Semarang, papi menunggu disana. Mami titip Regina." Mami menepuk pundak Mario, kemudian beralih kepada Reza dan Kiki.
"Sweet sekali kalian, Pasti berkah dan langgeng rumah tangganya karena ikhlas menurut sama orang tua. Selamat ya Reza,Kiki. Yuk semuanya Tante pamit dulu." katanya seperti menyindir Mario yang selalu mengajak ribut papanya jika mereka membahas perjodohan.
"Makasih tante sudah menyempatkan datang, salam buat om tante" jawab Reza sopan.
"Nanti tante sampaikan."
"Mami, berapa lama disemarang. Ajak aja Regina." Mami melihat pada Mario malas menjawab.
"Mami pergi dulu, Kalau kamu tak suka kehadiran Regina, antarkan dia ke Semarang, langsung bicara sama papi." Mario menghela nafas panjang, berurusan sama Papi sama saja menghabiskan energi.
"Aku menginap di sini mi."
"Berarti Regina juga. Pesankan satu kamar untuknya."
Setelah berbicara dengan Regina, mami Mario segera berangkat diantar ajudannya.
"Cin, lu dikamar sendiri kan? Ajak Regina nginap disini sekamar sama lu aja. Ga usah buka kamar lagi." kata Kiki pada Cindy.
"Gimana Re? Gue sih senang aja."
"Oh iya boleh?" Jawab Regina yang tampak bingung ditinggal Mami Mario. Kalau bukan karena tekanan dari pamannya, Regina pasti sudah kabur dari rumah.
"Gue balik lah, kalian selamat bersenang-senang? Kiki , Mas Reza selamat ya, semoga langgeng dan cepat dapat momongan" Enji yang sedari duduk manis dibelakang Erwin beranjak menghampiri Kiki dan Reza.
"Aamiin, makasih sudah datang ya Nji." Reza menyalami Enji , Kiki mengikuti dari belakang.
"Gue pamit ke Tante Nina dulu deh." Enji meninggalkan rombongan Reza menghampiri tante Nina.
"Anterin yuk Win, sekalian gue samperin keluarga kita dulu." ajak Reza sambil merangkul istrinya. Erwin mengikuti langkah Reza.
"Kak Andi, titip Cindy." Kiki tersenyum jahil.
Saat menuju kerombongan keluarga mereka bertemu dengan Sheila dan Ibunya, sepertinya habis pamit dengan keluarga Reza.
"Shei, Tante, makasih sudah datang." Reza menyalami Retno.
"Kamu ja, kemana-mana sama Sheila, nikahnya sama orang lain." Kata Retno sambil memandang Kiki tajam, tanpa senyum. Duh emang nyebelin seperti yang mama bilang, batin Reza. Tapi ia membalas dengan tersenyum tipis.
"Maa apaan sih." Sheila menegur ibunya. Retno akhirnya diam tak lagi berkomentar.
"Selamat ya Ki, Bang Eja. Lega ya sudah halal." Sheila menyalami Reza dan kemudian memeluk Kiki. "Jaga bang Eja Ki, Beruntung sekali, suami ama mertua lu baik banget orangnya." Bisik Sheila membuat Kiki tersenyum menggosok bahu Sheila. Sementara Erwin hanya diam mematung, baru pertama kali bertemu dengan Retno membuatnya sedikit ilfil. Beda banget sama Sheila, batinnya.
"Win, yuk ah gue balik. Anterin ke lobby" Enji yang sudah selesai berpamitan dengan Nina menarik tangan Erwin, membuat Erwin salah tingkah. Diantara Sheila dan Enji, belum ada satupun yang menjadi pacarnya. Ah ga ada beban dong antar Enji, kan ga pernah nembak Sheila juga, bathinnya.
"Yuk tante, Shei, ijin ke lobby dulu." Erwin melangkah mengikuti Enji yang menggandeng tangannya. Sheila hanya memandang mengikuti langkah Erwin dan Enji.
"Pacarnya Erwin bang?" tanya Sheila pada Reza.
"Mungkin." jawab Reza mengambang. Lalu pamit menuju ke keluarga besarnya yang sedari tadi belum disapanya.
"Ga mau menginap disini?" tanya Erwin pada Enji saat berjalan menuju lobby.
"Belum ijin, nanti ga punya teman lagi gue."
"Bagaimana cara ijinnya?" tanya Erwin
"Mama papa masih di Boston, lu mau telepon minta ijin? siap-siap di blacklist."
"Hehehehe jangan lah. Nanti malam pada mau barbeque lu mau gabung ga? Kita bikin music live juga internal kita."
"Nanti gue ijin sama mama, kalau dibutuhkan lu juga bantu ijin sama mama ya."
Merekapun tiba dilobby, tak lama mobil yang menjemput Enji pun tiba.
"Nanti berkabar, Nji. Hati-hati ya mas, sudah makan belum? minum obat lambungnya jangan lupa." kata Erwin sambil membantu menutupkan pintu mobil Enji.
"Makasih pak Erwin." jawab sang supir yang tampak sehat hari ini. Erwin pun membalikkan badannya, berpapasan lagi dengan Retno dan Sheila.
"Kamu tuh yang pernah antar Sheila malam-malam ya?" tanya Retno pada Erwin.
"Iya tante."
"Saya kira kamu suka sama Sheila, ternyata sudah punya pasangan."
"Ya ampun mamaaa." Sheila menghentakkan kakinya kesal. Ada aja kalimat Retno yang membuatnya tak enak hati. Itulah kenapa Sheila tak mau pacaran, jika ada yang sudah mengenal Ibunya dan tetap berani melamarnya, maka pria itu yang Sheila terima sebagai suaminya. Karena pasangannya harus bisa menerima Ibunya apa adanya.
Sudah ada yang jemput Shei? mau diantar?" Erwin menawarkan, bagaimanapun Sheila wanita yang di kaguminya dari tiga tahun lalu, saat pertama kali melihat Sheila turun dari mobil Reza.
"Ga usah Win, kita sudah pesan taxi."
"Sudah dimana posisinya, kalau masih jauh cancel aja, biar diantar."
"Iya Shei diantar aja, sudah bayar, menunggu pula." celutuk retno. Tapi keinginannya tak tercapai karena tak lama taxi yang ditunggu pun tiba.
"Makasih Win, gue duluan." Sheila melambaikan tangannya saat sudah duduk manis didalam taxi.