
"Leyi besok temani terapi dong." pinta Rumi saat menghubungi Larry via telephone. Selalu saja Rumi yang hubungi Larry.
"Besok aku kerumah Nanta." kata Larry apa adanya.
"Aku terapinya pagi, kerumah Nanta setelahnya bisa?" Rumi coba bernegosiasi, rumah sakitnya dekat dengan rumah Nanta.
"Harus sampai rumah Nanta jam delapan, Balen sudah standby biasanya. Belum lagi harus belikan Richie es krim, barusan Nanta titip." Larry jelaskan pada Rumi kalau besok Larry lumayan sibuk, sudah pasti tidak bisa temani Rumi terapi.
"Kalau gitu jemput saja bisa?" pinta Rumi lagi.
"Kamu selesai jam berapa memangnya? aku biasanya selesai menjelang makan siang." kata Larry lagi.
"Susah betul mau jalan sama kamu Leyi." Rumi sedikit kecewa.
"Kebetulan saja bentrok sama urusan Balen." Larry terkekeh.
"Biasanya hari minggu berenang sama Balennya." Rumi ingat Larry pernah bilang begitu.
"Iya, cuma Daniel adikku ajak bertemu Balen besok." kembali Larry terkekeh, memang tadi Daniel yang punya ide berenang besok, sebenarnya Larry jadwalkan minggu depan dengan Balen.
"Kalah aku sama Balen ya." Rumi bersungut walau tidak dilihat Larry.
"Hahaha bisa saja." Larry terbahak.
"Leyi, mau tidak jadi bintang iklan shampoo pria?" Rumi tawarkan pekerjaan karena Unagroup akan mengganti model iklan sebelumnya.
"Sepertinya tidak sempet deh Rum, aku tuh sudah di kontrak Warung Elite." jawab Larry.
"Nanti aku bilang sama Papi." bujuk Rumi.
"Tidak usah Rumi, Aku mau shooting iklan kemarin karena temani Balen saja." jawab Larry.
"Oh ya?" Rumi tidak percaya.
"Iya, aku tidak suka jadi terkenal sebenarnya." jawab Larry.
"Tapi bayarannya kan lumayan, Leyi." kata Rumi lagi.
"Iya sih." Larry terkekeh.
"Mau ya? Kalau mau senin kita bahas lebih lanjut." bujuk Rumi.
"Tidak usah." jawab Larry tertawa.
"Kamu tidak sedang menghindari aku kan Leyi?" Rumi jadi sensi karena Larry selalu menolak.
"Tidak menghindar Yumi, kalau menghindar aku tidak kasih tahu besok ada dimana." Larry kembali tertawa. Rumi jadi tertawa, senang saja setiap kali Larry memanggilnya Yumi.
"Rum, next sambung lagi ya, ada telepon masuk." kembali Larry putuskan pembicaraan lebih dulu, selalu saja ada yang hubungi Larry kalau mereka sedang bicara via telepon.
"Siapa?" tanya Rumi posesif.
"Teman." jawab Larry tanpa menjelaskan siapa temannya.
"Cewek ya?" malah tanya padahal Larry sudah bilang ada telepon masuk.
"Iya." jawab Larry.
"Pacar ya?" penasaran ingin tahu.
Tuutttt... telepon sudah Larry matikan saja, padahal Rumi masih ingin bicara.
"Main matikan saja." omel Larry pada Mike yang sedang berada dirumahnya malam ini. Seiqa merajuk jadi Mike tidak jadi pergi dengan Seiqa sore ini, akhirnya mengadu sama Larry.
"Gue lagi curhat, malah terima telepon cewek." keluh Mike dengan wajah kusut.
"Sebentar juga baik lagi." kata Larry tertawa.
"Pusing kan punya cewek." lagi-lagi Larry tertawakan Mike.
"Calon istri." Mike membenarkan sambir cengengesan.
"Tukang merajuk, tidak tahu calon suami lagi bekerja." kata Larry pada sahabatnya.
"Karena gue juga sih bilang sebentar lagi sebentar lagi yang ada jadi dua jam." Mike tertawa sendiri.
"Leyi bagaimana nih, supaya Seiqa tidak lama merajuknya." tanya Mike pada Larry.
"Meneketehe." jawab Larry tertawakan Mike.
"Baru begitu saja sudah panik." lagi-lagi Larry tertawa puas.
"Rese ah, bukannya kasih saran malah dari tadi tertawakan gue." Mike merengut.
"Besok ajak berenang deh sama Balen dan Richie." jawab Larry, duo bocah itu selalu menghibur, yang kesal bisa segera mencair.
"Eh tapi elu masih belum dipingit ya?" tanya Larry lagi.
"Tidak pakai pingit-pingit lah." jawab Mike tersenyum.
"Besok berenang?" tanya Larry, Mike anggukan kepalanya.
"Coba diingat-ingat besok ada urusan persiapan wedding tidak?" Larry ingatkan sahabatnya.
"Ada test food besok, masih bisa ajak Seiqa bertemu Balen dan Richie dulu." jawab Mike ikuti saran Larry.
"Kalau tidak sempat, tidak usah. Daripada berantakan lagi urusan wedding."
"Iya, in syaa Allah sempat." Larry terkekeh.
"Tidak pikirkan jalan macet ya, besok sabtu Jakarta suka macet kalau sudah agak siang. Test food dimana?" tanya Larry.
"Langganan keluarga Om Micko." jawab Mike.
"Sudah pasti enak kalau begitu, kenapa pakai test food?"
"Seiqa maunya begitu, gue ikut saja." Mike tertawa.
"Mulai belajar mengalah ya?"
"Dari dulu juga diantara kalian gue yang paling mengalah." jawab Mike tengil.
"Mengalah apanya, tadi yang matikan telepon gue siapa?"
"Gue." jawab Mike.
"Berarti elu yang paling seenaknya." Larry mengangkat alisnya.
"Tidak selalu, ini hanya kasus kamu sayangku. Gue jagain elu deh dari cewek yang tidak benar." kata Mike.
"Jangan bilang begitu, Rumi sedang dalam proses perbaikan diri. kita dukunglah, kan teman kita juga." kata Larry pada Mike.
"Mulai naksir lu?" tanya Mike sewot.
"Ngajak ribut ya, gue cuma bersikap baik saja."
"Hati-hati bersikap baik nanti dikira kasih hati lagi." Mike mengingatkan Larry.
"Elu kok jadi lebih parah dari bokap gue ya?" Larry menepuk jidat sahabatnya itu.
"Parah." Larry gelengkan kepalanya. Mike tertawa jadinya.
"Daniel, gue balik ya." ijin Mike pada Daniel yang sedang menonton TV.
"Eh iklan kalian tayang nih." teriak Daniel membuat Larry dan Mike menuju ruang keluarga.
"Kok Rumi tidak bilang sih?" tanya Mike padahal tadi dia hubungi Larry.
"Bilang kemarin. Gue lupa bilang kalian." kata Larry tertawa.
"Dia cuma bilang sama elu saja. Keren Balen." komentar Mike lihat gaya Balen di TV.
"Anaknya sudah tidur, belum lihat dia." kata Larry tertawa sendiri lihat gaya Balen di TV.
"Wajah Balen sampai di close up gitu." Daniel tertawa sendiri, jadi senang lihat iklan Abangnya dan Balen, walaupun hanya Balen yang Daniel komentari.
"Naksir kan sama adek gue." Larry terkekeh tertawakan Daniel.
"Hahaha masih piyik sih." jawab Daniel terbahak.
"Kalau sudah besar ya tidak sama kamu juga Daniel." sahut Mike tertawa.
"Sama siapa?" tanya Daniel.
"Sama Abang elu lah si Leyi." Mike membuat kepalanya ditoyor Larry.
"Kenapa lu?" tanya Mike kesal.
"Otak lu tuh yang kenapa." omel Larry membuat Mike terbahak.
"Gue hanya berandai-andai Leyi, seandainya Balen bukan bocah."
"Kalau Balen bukan bocah ya tidak gue ajari berenang lah. Mana mungkin juga gue hampir setiap weekend kerumahnya buat ajari berenang." jawab Larry, Mike hanya mencebik.
"Eh tantang lagi nih iklan." teriak Daniel, harap maklum baru sekali lihat orang-orang yang dikenalnya jadi bintang iklan, pasti agak Norak setiap kali iklan itu muncul.
"Nanta sudah tahu belum?" tanya Mike.
"Tadi kita telepon tidak bahas itu ya, malah bahas Balen yang minta makan diluar biar bisa lancar ngomongnya." jawab Larry.
"Besok kita cek ya, siapa saja yang diinfokan Rumi." Mike kepo, merasa tidak dapat informasi tayang dari pihak Unagroup.
"Kan sudah kasih tahu lewat gue, guenya saja yang lupa, sorry." kata Larry mohon pengertian sahabatnya.
"Baiklah, demi kamu Leyi." jawab Mike.
"Lebay ah, apanya yang demi gue." Larry mencibir sambil tertawa.