I Love You Too

I Love You Too
Blush On



Begitu sampai dirumah Abangnya, Kenan langsung saja turun dari Mobil, membiarkan Nanta membujuk istrinya terlebih dulu.


"Kenapa menangis?" tanya Nanta pada Dania. Yang ditanya menggeleng saja.


"Jangan sensi dong, kan aku bukannya galak, aku khawatir Mama kenapa-napa, karena Peter ancam Mama, takutnya Mama sakit karena kepikiran." Nanta menjelaskan.


"Mas Nanta kan bisa bicaranya tidak judes begitu." Dania bersungut, air matanya masih mengalir.


"Duh, ini makan malam acara kita, tapi kitanya malah ribut." keluh Nanta merengkuh Dania kedalam pelukannya.


"Maaf ya, aku bukannya galak. Kamu cantik sekali pakai baju tadi, tapi aku tidak suka kalau cowok lain lihat kamu begitu." Nanta menjelaskan, mengecup dahi istrinya dan menghapus air mata yang mengenang.


"Nanti pulang dari sini, saat dikamar pakai lagi baju yang tadi ya." bisik Nanta pada istrinya, ia tahu Dania sensitive karena sudah capek dandan secantik mungkin malah ditolak oleh suaminya.


"Sayangku, pakai lagi bajunya ya. Biar aku saja yang lihat, betul deh kamu cantik sekali pakai baju itu, tapi roknya terlalu pendek, kaosnya juga tipis sekali, pakaian dalam kamu terlihat, makanya aku larang kamu pakai itu." Nanta menjabarkan. Dania menarik nafas, ia baru mengerti kenapa suaminya jadi galak, ternyata bajunya terlihat pakaian dalamnya.


"Maaf..." kata Dania malu-malu menatap suaminya, Nanta tertawa melihat Dania menahan senyum.


"Ayo turun." ajak Nanta.


"Kiss me." Dania menatap suaminya, Nanta menuruti mencium bibir Dania cepat, khawatir ada yang lewat. Mereka pun turun dari Mobil, Dania segera menggandeng suaminya begitu Nanta berjalan mendekat kearahnya, sementara Kenan dan Micko terkekeh melihat keduanya sudah berbaikan. Lucu sekali mereka ketika ribut tadi, Nanta mendekati Papanya, Dania pun ternyata curhat pada Papanya. Begitu bertemu Papa saling cerita dan tertawakan keduanya.


"Loh Papa juga kesini?" Dania langsung saja senang melihat Papa dan keluarganya yang lain ikut hadir dirumah Ayah dan Bunda.


"Iya dong kan ini acara anak Papa." jawab Micko senyum-senyum.


"Papa ketawain aku." sungut Dania malu karena tadi seperti anak kecil yang mengadu sama Papa.


"Siapa yang tertawakan kamu sih?" Micko jadi tertawa beneran.


"Itu... ah Papa sih tidak asik." Dania berlalu meninggalkan Papanya menyalami yang lain. Nanta tertawa dan mengikuti istrinya menyalami yang lain.


"Dania, kenapa tidak pakai baju yang baru dibeli itu, kan cantik?" kata Roma saat melihat Dania datang.


"Sudah pakai disuruh ganti." Dania menunjuk Nanta dengan wajah datar.


"Oh jadi itu yang dibeli di Bandung?" Nanta terkekeh.


"Iya cantik kan?" tanya Roma menaikkan alisnya.


"Cantik sih, tapi untuk aku saja, tidak untuk yang lain." kata Nanta merangkul istrinya. Dania senyum-senyum jadinya.


"Gara-gara itu hampir perang dunia tahu." kata Nanta pada Roma.


"Please deh jangan diungkit." kata Dania mengingatkan Nanta agar moodnya tidak berubah.


"Iya " jawab Nanta mengacak anak rambut istrinya.


"Besok sudah mulai tinggal dirumah kan?" tanya Oma Misha pada cucunya.


"Iya, tapi Oma Nina memangnya kapan ke Malang?" tanya Dania pada Oma Nina.


"Tergantung Raymond deh." kata Oma Nina pada Dania.


"Aku ke rumah Papa setelah Oma Nina dan yang lain pulang ke Malang saja ya Oma?" pinta Dania pada Oma Misha


"Oma kan kangen sama kamu, berapa hari tidak pulang loh."


"Hehehe Dania juga kangen Oma." Dania memeluk Oma Misha, senang sekali bisa bermanja-manja begini.


"Aku beli buku Bagus loh, nanti Kak Dania baca deh, kita bedah buku." kata Winner menghampiri Kakaknya, berharap ada partner untuk bedah buku mengingat Lucky malas sekali membaca.


"Buku apa?" tanya Dania, ia memang suka sekali membaca. Winner menyebutkan salah satu buku yang baru dibelinya.


"Oh itu aku sudah punya English version." jawab Dania terkekeh.


"Ada dimana bukunya?" tanya Winner.


"Di rumah Nek Pur, besok aku bawakan sekalian."


"Boleh, aku punya versi bahasa." jawab Winner, senang saja bisa dapat buku edisi aslinya yang belum diterjemahkan.


"Kalian punya hobby yang sama rupanya." Lulu tertawa senang.


"Namanya saja adik kakak." jawab Winner tersenyum pada kakak dan Iparnya.


"Sayang, aku ke Mamon dulu." bisik Nanta melihat Mamon dan Bunda. Rindu juga sama Mamon, sejak Nanta menikah mereka jarang ngobrol.


"Mamon sombong ih." kata Nanta pada Ibu sambungnya.


"Sombong kenapa boiii?" tanya Mamon terkekeh.


"Sensitive deh, kamu kan sudah punya istri jadi biar istrimu saja yang perhatikan kamu Nanta."


"Tapi kan aku anak Mamon juga."


"Hahaha lebay deh, aku perhatikan kamu dari jauh tahu, istrimu masih ngambek?" tanya Nona terkikik.


"Tidak ngambek kok cuma nangis saja." Nanta terkekeh.


"Selamat jadi suami sesungguhnya."


"Maksudnya?"


"Akan ada drama-drama yang lain setelah menikah, enjoy boiii." Nona menepuk-nepuk bahu Nanta.


"Tuh Wilma sama Ando." tunjuk Nona pada dua sahabat Nanta.


"Bye." Nanta melambaikan tangannya pada Nona.


"Aku tidak suka bye, Nantaaa."


"Sukanya apa?"


"See you later." Nanta terbahak mendengarnya.


"Ok Mamon, see you later." Nanta melambaikan tangannya.


"Abaaan." teriak Balen yang ternyata Dari tadi duduk sambil memeluk kaki Nona.


"Eh ada Singkong Rebus Abang, kok dibawah?" tanya Nanta.


"Lagi ngambek dia Aban." Nona terkekeh.


"Sini sayang, ada Abang Ando tuh." Nanta menunjuk Ando yang mendekat.


"Huhu tesel sama Aban." Balen merengut, keningnya berkerut


"Kesal kenapa?"


"Aban ndak boeh tepon, tata Papon." maksudnya tidak dibolehkan telepon Abang oleh Papon tadi. Nanta terkekeh menggendong Balen.


"Kenapa tidak boleh?" tanyanya dengan senyum melebar diwajahnya.


"Tau tuh Papon." masih berkerut saja keningnya.


"Yang larang telepon Abang Papon, tapi kok kesalnya sama Abang?" tanya Nanta terkikik geli.


"Abisna Aban sih." masih menyalahkan Nanta.


"Kenapa Abang sih?"


"Aban ndak tepon Baen."


"Oh hahaha iya Abang kira Balen lagi senang bobo sama Ayah Bunda."


"Iya sih."


"Nah kan kalau senang Abang tidak mau ganggu Balen dong."


" Baen mau ngobol sama Aban."


"Salam dong sama Abang Ando." Ando menyodorkan tangannya.


"Aban Ando haum deh." langsung mengendus-endus baju Ando.


"Balen suka?" tanya Ando senang, Balen menganggukkan kepalanya.


"Kiss Abang dong kalau suka." pinta Ando pada gadis kecil itu. Langsung saja Balen menjulurkan kepalanya kearah Ando, ingin mencium pipi Ando. Nanta mengikuti gerakan badan Balen yang langsung mencium Ando ketika mendekat.


"Duh basah deh pipi Abang." Ando terbahak mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang dibawanya.


"Sudah tahu basah masih minta kiss Balen." Nanta mentertawakan Ando, Wilma pun begitu.


"Makanya kusuruh bawa handuk kecil, sudah tahu pasti ada adegan membasahi pipi." kata Wilma terbahak.


"Tata Ima mau tiss juda ndak?" Balen menawarkan, Wilma tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah pakai blush on mahal Ame, sayang-sayang kalau kena air liur Balen.


"Kiss saja." bisik Nanta sambil mendekati badan Balen ke arah Wilma.


"Oh No, Balen. Blush On gue..." Wilma langsung saja kalang kabut ketika mulut Balen sudah mengenai pipinya, Ando dan Nanta tertawa melihat Wilma meringis, sementara Balen terbengong, bingung baru kali ini ada yang tidak mau di kiss oleh Balen.