I Love You Too

I Love You Too
Penyidik



"Ketahuan lagi deh." Nanta meringis begitu masuk kedalam kamar.


"Kenapa? kan tadi sudah bilang aku lagi masuk angin." tanya Dania bingung.


"Iya tapi ternyata bajuku terbalik dan Balen sadar, eh ketahuan lagi sama Kak Roma." keluh Nanta pada istrinya.


"Huhu Mas Nanta sih tidak teliti." Dania ikut mengeluh, Nanta jadi tertawa geli. Ia segera membaringkan tubuhnya di sebelah Dania.


"Salah aku ya?" tanya Nanta menggelitiki Dania, Dania tertawa geli hingga selimutnya terlepas.


"Salah Balen." kata Dania sambil tertawa menahan geli agar Nanta melepaskannya.


"Geli Mas Nanta, lepas." pintanya memohon pada Nanta.


"Hahaha iya semua salah Balen, sama salah Kak Roma, kenapa juga menyusul Balen." Nanta terbahak melepaskan istrinya.


"Mas Nanta kenapa kita ketahuan terus sih?" tanya Dania bingung, susah sekali punya rahasia dirumah ini.


"Tidak tahu, nasib saja kali." jawab Nanta terkekeh.


"Iya ya nasib, satu setengah bulan nanti aman ya tidak pakai ketahuan." kata Dania memikirkan saat Nanta tugas nanti.


"Mau ketahuan bagaimana? kita sedang berjauhan, kecuali kalau kita *** on the phone dan Balen disebelah kamu. Karena selalu saja Balen yang menangkap basah." Dania terbahak jadinya ingat Balen yang seperti penyidik.


"Karena sudah ketahuan, malam ini kita libur dulu." bisik Nanta sambil memeluk Dania.


"Hu uh." Dania menyetujui, pikirnya kalau besok ada yang menggoda bisa menjawab tanpa beban karena tidak ada aktifitas malam ini selain tidur. Keduanya pun tertidur tanpa melakukan apapun, dalam rangka membersihkan diri dari gosip esok saat sarapan pagi.


Sementara di Sukabumi, anak buah Peter baru saja sampai, ia mengetuk rumah Kakek dan Nenek tapi tidak ada yang membukakan pintu. Tentu saja tidak ada yang bukakan pintu, rumah itu kosong dan tidak ada orang didalamnya, kali ini Peter kalah cepat, ia terlambat bergerak.


"Cari siapa Pak?" tanya tetangga yang kebetulan lewat. Ia mengawasi orang asing yang sedari tadi berdiri didepan rumah tetangganya.


"Bapak sama Ibu Sodikin." tunjuknya kerumah Kakek dan Nenek.


"Oh ada didalam sih, memang jarang keluar rumah, Bapak siapa?" tanya tetangga ingin tahu.


"Saya saudaranya." bohong sudah pasti, tetangga malah tertawa mendengarnya.


"Tumben punya saudara." katanya kemudian berlalu meninggalkan orang asing itu.


"Bos, rumahnya sepi, tidak ada yang buka pintu. Lampu sih hidup." lapor anak buah Peter melalui telepon.


"Coba tanya tetangga." perintah Peter dari seberang.


"Kata tetangga ada didalam, mereka memang jarang keluar." lapor orang itu lagi.


"Foto saja rumahnya."


"Gelap Bos hasilnya tidak Bagus." tapi tetap foto dikirim pada Peter.


"Sebentar gue cek..."


"Gelap bro, besok pagi lu balik lagi deh, usahakan bertemu orang tua itu." perintah Peter lagi.


"Siap Bos." anak buah Peter pun kembali ke Mobil, malam ini ia terpaksa tidur di mobil berjaga-jaga jika si Kakek keluar rumah, kasihan sebenarnya karena ia memantau rumah kosong, yang orangnya sudah tidurnya nyaman di kota lain.


Pukul tiga pagi, sedang enak tidur mobil anak buah Peter di gedor oleh warga yang sedang berjaga malam. Anak buah Peter pun terbangun dari tidurnya. Ia membuka kaca jendela mobilnya.


"Ya pak?" tanyanya bingung.


"Maaf Pak ada apa parkir dan tidur disini?" tanya salah seorang warga curiga, pandangan mata mereka menyelidik.


"Saya mau mengunjungi Bapak Sodikin besok pagi, mau pulang jauh, saya dari Jakarta." jawabnya setengah mengantuk, karena baru saja bisa tertidur nyenyak.


"Besok saja kembali lagi, dilarang ada yang parkir disini, semua harus parkir di garasi." ketus warga yang lain. Mau tidak mau anak buah Peter menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan kediaman Kakek Sodikin dalam keadaan kesal, pekerjaannya sia-sia.


"Mengaku saudara Pak Sodikin dia tadi." komentar Bapak yang tadi sempat bicara dengan anak buah Peter saat ia baru saja tiba.


"Besok pagi kalau datang lagi kita usir saja." sahut yang lain.


"Jangan lupa pagi-pagi matikan lampu rumah Bapak, tetap lakukan seakan ada kehidupan dirumah itu, siapa yang besok bagian bersihkan rumah?" tanya Bapak yang memimpin rombongan.


"Istri saya dan anak saya besok yang akan bersihkan rumah Bapak." jawab yang lain.


"Usahakan sebelum orang itu datang rumah dalam keadaan bersih, siram air dipekarangan tanda halaman habis dibersihkan." perintahnya.


"Siap Pak."


"Sepatu dan sendal letakkan didepan pintu."


"Siap Pak." Mereka pun bubar kembali Ke rumah masih-masing. Ketua rombongan menghubungi nomor telepon yang sudah diberikan Kakek Sodikin kepadanya sebelum berangkat.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumusalaam. Bagaimana Pak?"


"Orangnya sudah saya usir, tadi tidur di mobil depan rumah Bapak Sodikin. Sekarang sudah pergi, besok sudah saya intruksikan pada teman-teman seperti yang Bapak mau, seakan-akan Bapak dan Ibu Sodikin tetap ada didalam rumah."


"Baik terima kasih untuk bantuannya, saya tunggu laporannya ya Pak."


"Siap Pak, terima kasih juga bantuannya untuk warga, besok kami akan mulai membetulkan jembatan yang rusak jadi anak-anak bisa aman menuju kesekolah."


"Sama-sama Pak, kalau butuh tenaga akan saya Kirim juga."


"Tidak usah Pak, di sini banyak orang yang bisa bantu, kami gotong royong demi kenyamanan kamu juga."


"Alhamdulillah..."


"Pak Kenan..."


"Ya Pak?"


"Titip Bapak dan Ibu Sodikin ya, mereka orang baik, mereka panutan untuk kami."


"In Syaa Allah mereka ada ditempat yang aman. Saling bantu dan saling mendoakan ya Pak."


"Baik Pak terima kasih. Maaf menelepon Bapak dini hari."


"Telepon saja setiap saat begitu ada berita Pak."


"Baik, terima kasih Pak."


"Sama-sama."


Sementara anak buah Peter begitu menghubungi bossnya karena diusir warga,


"Kenapa telepon gue malam begini, sudah gila ya?" omel Peter karena anak buahnya menghubunginya dini hari.


"Bos, gue diusir warga. Padahal cuma parkir dan tidur didepan rumah Bapak Sodikin." lapor anak buahnya, bukan lapor sih tapi mengadu.


"Siapa yang suruh lu tidur di mobil, kan gue bilang besok pagi lu balik lagi. Masa begitu saja tidak mengerti sih, bego banget lu."


"Jakarta Sukabumi jauh bos. Tekor di bensin sama tenaga dong"


"Lu bisa tidur di hotel kan, nanti claim biaya sama gue, beneran bego banget otak lu kemana?" Peter berteriak karena kesal, anak buahnya tidak mengerti yang dimaksud oleh Peter.


"Bos kalau suruh jalan kasih peluru dong, saya kan modalnya tipis." keluh si anak buah.


"Dimana-mana kerja dulu baru dibayarz enak betul hidup lu minta dibayar dimuka." omel Peter tidak mau disalahkan.


"Terserah deh bos, besok kalau tidak bertemu Kakek, gue foto rumahnya terus gue balik." katanya Kesal.


"Sekarang lu tidur dimana?"


"Parkiran Indomaret!" menutup telepon karena kesal, sudah capek, duit pas-pasan, dimaki-maki pula.