I Love You Too

I Love You Too
ATM



Sayang, Transfer aku ya.


pesan Roma pada Raymond.


Sudah.


Raymond mengirimkan bukti transfer mobile banking pada Roma.


Minta Om Kenan transfer Kak Nona juga, sayang.


Oke.


"Om, sudah transfer istri tercinta kah? mereka mau shopping." kata Raymond begitu selesai berbalas pesan dengan Roma.


"ATM Om sudah didompet Nona."


"Kak Nona tahu?"


"Om lupa bilang." Kenan terkekeh kemudian segera menghubungi istrinya. Nona yang sedang berendam di bathtub sambil main handphone segera mengangkat teleponnya.


"Sedang apa?" tanya Kenan dengan manisnya.


"Kamu tidak sibuk? kok bisa telepon?" tanya Nona yang merasa surprise dihubungi suaminya saat lagi bekerja.


"Belum terlalu, masih dilakukan pengecekan sambil menunggu pihak PT Cipta datang." kata Kenan menjelaskan.


"Siapa? Melly?" Nona bersungut, seketika rasa cemburunya muncul.


"Mungkin ya, saya juga kurang tahu siapa yang akan datang. Karena biasanya yang datang bisa dari department lain juga. Saya tidak tahu Melly itu department apa." kata Kenan apa adanya.


"Kamu sedang apa?" Kenan mengulang pertanyaannya karena tadi Nona belum menjawabnya.


"Mandi." jawab Nona langsung saja Kenan merubah posisi aman agar tidak terlihat orang lain, setelah melihat sekitar dan dirasa aman, Kenan mengganti sambungan telepon menjadi sambungan video.


"Kenapa video call?" protes Nona begitu melihat wajah Kenan yang menyeringai jahil. Ia khawatir posisinya terlihat orang lain, Nona mengarahkan kamera pada tembok.


"Temani kamu mandi, aku mau lihat mana?" jawab Kenan terkekeh, posisinya sudah duduk dipojokan menjauh dari semua orang termasuk Raymond.


"Nanti ada yang lihat, aku malu." kata Nona setengah merengek.


"Tidak ada, saya sudah menjauh dari mereka. Kangen saya tidak?" tanya Kenan pada Nona, baru juga berapa jam tidak bertemu. Nona mengarahkan kamera pada wajah dan bahunya.


"Hu uh. Aku senang Mas Kenan telepon, biasanya kalau kerja lupa sama aku." Kenan terkekeh mendengarnya, baru saja teringat maksud dan tujuannya menghubungi Nona.


"Sayang, kamu mau shopping? pakai ATM saya yang didompet kamu saja." kata Kenan takut lupa lagi karena konsentrasinya sedikit terganggu aktifitas Nona saat ini.


"Memangnya ada ATM Mas Kenan di dompet aku?" Kenan mengangguk dan menyebutkan PIN ATM pada Nona.


"Ok, nanti aku cek." Nona tersenyum lebar, aman tidak harus gesek kartu kredit yang biasanya hanya dipakai jika sedang berlibur ke luar negeri. Disaat kehabisan mata uang negara tersebut dan money changer susah dicari barulah Nona menggunakannya, lega sekali rasanya.


"Sayang, Raymond sudah panggil saya." Kenan mengarahkan kamera handphone agar Nona dapat melihat Raymond yang sudah bertepuk tangan memanggil Kenan. Nona menarik nafas kesal saat melihat sosok wanita yang dikhawatirkannya berdiri disebelah Raymond.


"Mas Kenan, awas ya kalau genit-genit, aku pindahkan semua saldo Mas Kenan ke rekening aku." ancam Nona membuat Kenan terbahak.


"Saya tidak genit pun kamu boleh pindahkan semua saldonya ke rekening kamu." kata Kenan disela tawanya.


"Awas saja, aku juga bisa genit-genit." masih saja mengancam, langsung saja Kenan mengernyitkan dahinya.


"Ada tapinya," lanjut Kenan menyeringai, membuat Nona menunggu.


"Apa?" bertanya dengan wajah cemberut.


"Genitnya sama kamu saja, coba lebih tegak saya mau lihat." Kenan tersenyum jahil sedang wajah Nona memerah seketika, meskipun Kenan sudah sering melihat tubuh polosnya tapi permintaan Kenan benar-benar membuat Nona malu.


"Mas Kenan apa sih, aku malu." wajah Nona seperti Kepiting rebus.


"Ayo, sayang. Saya janji tidak akan genit sama yang lain selain sama kamu." bujuk Kenan yang ingin sekali melihat tubuh polos istrinya. Nona pun mengikuti keinginan suaminya berdiri sebentar memperlihatkan dadanya dan kembali merendam badannya di bathtub.


"Sayang nanti temani saya mandi." kata Kenan pada Nona.


"Aku baru tahu Mas Kenan mesum begini ish." kata Nona membuat Kenan tertawa mendengarnya dan segera mematikan sambungan telepon karena Raymond dan Melly tampak berjalan menghampirinya.


"Duh wajah om kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Raymond kepo saat sudah mendekat pada Kenan.


"Ada apa?" tanya Kenan mengabaikan pertanyaan dari Raymond karena ada orang lain diantara mereka.


"Ini Bu Melly dari PT. Cipta." kata Raymond pada Kenan, kembali mengenalkan Walaupun Kenan sudah tahu Melly. Kenan menganggukkan kepalanya tersenyum ramah.


"Pak Kenan ingat saya kan?" tanya Melly karena kemarin Kenan tidak mengenalnya.


"Iya sekarang sudah ingat, bagaimana Bu Melly?"


"Pak Kenan apa bongkar muat tidak bisa dipercepat? kalau harus mundur lagi saya bisa over budget. Dan baru saja saya dapat penjelasan jika saya tidak bisa menggunakan tenaga kerja dari jasa truck yang saya sewa untuk bongkar muat, padahal saya sudah membayar mereka. Jika menggunakan tenaga kerja pihak pelabuhan saya harus bayar lagi." Melly menyampaikan keluhannya. Kenan dan Raymond mendengarkan dengan seksama.


"Saya mohon maaf untuk ketidak nyamanan yang Bu Melly rasakan saat ini, jangan khawatir untuk biaya kontainer, karena memang kapal yang terlambat merapat, perusahaan Ibu tidak dikenakan biaya. Tapi untuk tenaga kerja dari awal kami sudah sampaikan bahwa memang hanya tenaga kerja pihak pelabuhan yang akan melakukan bongkar muat."


"Tenaga kerja dari jasa truck tidak bisa ditanggung oleh perusahaan Mas Kenan ya?" Melly mulai tersenyum genit dan bergelayut dilengan Kenan, berani sekali. Raymond pun terkejut dibuatnya. Kenan menarik nafas panjang mengingat pesan Nona barusan. Kenan juga tidak habis pikir bagaimana bisa Melly yang berpenampilan kalem ini ternyata tidak sesuai dengan kemasan. Perlahan dilepaskannya tangan Melly tanpa senyum.


"Untuk itu tidak bisa, karena selalu disampaikan sejak awal oleh staff kami." tegas Kenan.


"Selanjutnya nanti pihak perusahaan Bu Melly langsung koordinasi dengan staff saya saja, karena saya dan Raymond harus kembali Ke Malang siang ini." kata Kenan tidak ingin berlama-lama didekat Melly.


"Wah saya juga akan kembali Ke Malang, bisa ikut Mas Kenan saja tidak? biar staff dan supir kami menunggu disini." Melly menawarkan dengan kata lain ingin menumpang Mobil Kenan dan Raymond.


"Wah kebetulan ada istri saya dan Istri Raymond sedang menunggu di Mal. Mobilnya saya rasa tidak akan muat, karena belanjaan mereka pasti akan memenuhi bagasi dan kursi tengah. Mohon maaf ya Bu Melly." tolak Kenan sesopan mungkin.


"Saya kira Mas Kenan hanya berdua saja dengan Mas Raymond. Ternyata istri kalian ikut ya." Melly tampak kecewa, keinginannya tidak terpenuhi.


"Mas Kenan, bisa minta nomor handphonenya?" pinta Melly lagi.


"Jika ada keluhan atau apapun terkait pekerjaan langsung saja dengan Bu Tari, Bu Melly. Saya tidak biasa menerima telepon dari customer langsung." jawab Kenan dengan keramahan berkurang.


"Saya baru tahu kalau Mas Kenan sesombong ini." ketus Melly kesal karena Kenan susah sekali didekati. Kenan melirik pada Raymond yang sedari tadi hanya menyimak.


"Bu Melly, apa masih ada lagi? saya ingin mengajak Pak Kenan menemui pihak pelabuhan." kata Raymond akhirnya.


"Apa saya bisa ikut?" tanya Melly pada Raymond.


"Masih ada perusahaan lain yang menunggu untuk kami cek kondisi barangnya." kata Raymond tak ingin diganggu.


"Oh baiklah." Melly akhirnya memisahkan diri ketika Raymond dan Kenan menghampiri pria yang tampak sibuk tunjuk sana sini pada staffnya.