I Love You Too

I Love You Too
Sarden



"Huaaaa..." semua dikamar Nanta terbangun mendengar suara tangisan Balen, hari baru pukul empat pagi, sebentar lagi shubuh.


"Kenapa? ayo bobo lagi." kata Kenan pada putrinya.


"Napa semuanya bobo sini, huaaa..." teriak Balen lagi.


"Balen mauna bobo sama Aban tan, napa Mamon, Papon, Ichi ada disini." kata Balen disela isak tangisnya.


"Memang kenapa kalau semua disini?" tanya Nona yang tampak masih mengantuk, sementara Nanta memilih untuk tidur sebentar karena tadi bangunnya langsung melompat, sekarang kepalanya jadi sedikit pusing.


"Papon sama Mamon tan udah ada tamalna. Ichi Juda sama Ncusss udah ada tamalna, napa danduin Baen sama Aban, huaaaa..." kesal sekali Balen tidurnya masih ditemani Papon dan Mamon. Pikirnya semalam, ia merasa sudah besar karena tidur bersama Abangnya. Kenan dan Nona jadi terbahak dibuatnya. Nanta yang menahan pusingnya ikut tertawa.


"Bukannya Balen juga kemarin tidur sama Bang Raymond dan Kak Roma, padahal seharusnya tidur sama Ncusss." kata Nona pada Balen.


"Baen tan temani ade bayi dipeyut tata Iyom." Balen memberi alasannya kenapa mau tidur bersama Raymond dan Roma.


"Tidak apa, Balen. Semalam Abang yang minta Papon bobo disini, Abang kangen sama Papon, Mamon dan Ichi." Nanta menenangkan Balen.


"Aban natal, Baen tan udah temenin Aban. Napa ajak semuanya huhu." masih saja tidak terima.


"Hahaha maaf ya, nanti di Jakarta kita bobonya berdua saja deh, Abang janji." kata Nanta membujuk Balen.


"Ndak." Balen melipat kedua tangannya di dada, mulutnya maju beberapa senti.


"Baen tual aja. Baen bobo sama Ncusss." Balen beranjak dari kasurnya, ia merajuk. Langsung saja Kenan menangkap tubuh mungilnya, diangkat dan diciuminya perut Balen hingga gadis kecil itu tertawa kegelian.


"Papon kangen, malah mau ditinggal keluar." protes Kenan pada Balen.


"Deli tau Papon." teriaknya sambil tertawa. Richi yang tidur disebelah Nona jadi melonjak-lonjak ikut tertawa melihat Kakaknya kegelian, berusaha bangun dari sofa dan ingin menghampiri Kenan dan Balen. Karena tidak berhasil, sekarang gantian Richi yang menangis minta digendong Kenan.


"Papon, adek Ichi nanis." Balen memberitahu Kenan sambil menepuk muka Papanya.


"Hahaha sini Ichi sama Abang." Nanta akhirnya berdiri dari kasurnya, menghampiri Richi dan kemudian menggendongnya. Setelah digendong Nanta barulah tangisnya mereda.


"Siap-siap mau ke mesjid loh." Nona mengingatkan Kenan dan Nanta.


"Baen itut." mulai rusuh lagi Balen.


"Perempuan sholatnya dirumah, sayang." kata Kenan pada gadis kecilnya.


"Tapi Baen mau itut." rengeknya lagi.


"Balen sama Mamon saja, bantu Mamon jaga Ichi." kata Nona.


"Ichi tan ada Ncusss."


"Balen jagain ade diperut Kakak Roma." kata Nanta pada Balen.


"Baen te tamal Tata Iyom duyu ya." ijin Balen pada Kenan yang masih memeluknya.


"Ayo keluar sama-sama, Papon juga mau mandi."


Bubar sudah rombongan dikamar Nanta, tinggal Nanta sendiri yang bersiap mandi lalu sholat shubuh di Mesjid, sebentar lagi pasti sudah ada yang mengetuk kamar Nanta. Buru-buru Nanta mandi sebelum Raymond rusuh mengetuk kamar mandinya, begitu tahu pintu kamar tidak terkunci.


"Baru saja mau Abang susuli." kata Raymond begitu melihat Nanta sudah rapi keluar kamar.


"Tepat waktu ya aku." Nanta tersenyum bangga.


"Iya, pasti karena Balen." jawab Raymond terkikik.


"Hahaha Abang juga pasti bangun karena Balen." Nanta tertawa puas.


"Opa juga, keras sekali tangisnya." kata Opa terkekeh.


"Ayah mana, kok tidak terpengaruh suara Balen?" tanya Nanta pada Raymond dan Opa.


"Kata siapa, Ayah malah tadi menyusul ke kamar kamu, ternyata sudah kaya sarden kumpul semua disitu." Opa terkekeh menceritakan pada Nanta.


"Hahaha kocak nih Balen, pagi-pagi bikin rusuh, kepala aku sampai sakit tadi karena terkejut." kata Nanta masih tertawa.


"Iya Opa kira jatuh, nangis sampai begitu."


"Sekarang mana tuh cucu Opa?" tanya Nanta pada Opa.


"Siapa tadi yang nangisnya paling kencang?" tanya Roma yang kini bermain bersama Balen dikamarnya, mereka sudah menggunakan mukenah sambil menunggu adzan shubuh berkumandang.


"Baeeeen." teriak Balen dengan tidak malunya.


"Siapa yang tidak jadi tidur berdua Abangnya?" tanya Roma lagi terkikik.


"Baeeeen." teriaknya lagi dengan tangan diangkat keatas.


"Siapa yang bangunkan semua orang dirumah ini?" tanya Roma masih tertawa.


"Baeeeen ladiiiii." teriaknya lebih rusuh, Roma terbahak, ada saja ulah Balen yang membuatnya selalu tertawa.


"Sudah adzan, ayo kita sholat." ajak Roma pada Balen.


"Mutenana tedean." katanya menunjuk rambutnya yang keluar-keluar. Roma membetulkan mukena Balen dengan menggunakan peniti.


"Jeyek pate peniti." protesnya pada Roma. Ia menggunakan mukena baru hadiah dari Roma.


"Iya Kak Roma tidak tahu ukuran Balen, nanti Kak Roma minta Bibi jahitkan yang rapi, biar pas dimuka Balen." katanya pada Balen.


"Yah." jawab Balen senang.


"Ayo ke Oma." ajak Roma yang sudah terbiasa sholat berjamaah bersama Oma dikamarnya. Ia menggandeng Balen yang tampak bangga menggunakan mukena barunya.


"Ih cantik betul pakai mukena siapa?" tanya Kiki yang juga bersiap menghampiri Oma ke kamar, diikuti Nona.


"Dibeyiin Tata Yoma." jawab Balen bangga.


"Bagus ya, jadi banyak mukena Balen." kata Nona pada gadisnya.


"Ada tida." jawabnya dengan menunjukkan kelima jarinya.


"Kalau tiga begini." Roma menunjukkan ke tiga jarinya pada Balen.


"Oh." jawab Balen acuh, fokus pada motif mukena yang terus saja dipandangnya.


"Oma, Baen nih." katanya begitu masuk ke kamar Oma.


"Sudah tahu." jawab Oma yang lagi menyusun sajadah.


"Oma tadi tadet Juda ya Baen nanis?" tanya Balen pada Oma.


"Iya, kamu tuh seperti alarm saja, jadi satu rumah terbangun." kata Oma terkekeh.


"hihi Aban sih natal." katanya masih kesal sama Nanta. Semua tertawa, mereka pun mulai melaksanakan sholat berjamaah. Balen sudah pasti membeo, walau gerakannya suka-suka setidaknya ia mulai belajar menjalankan sholat lima waktu sedari dini.


"Oma mutena Baen bayu." pamernya pada Oma begitu selesai sholat.


"Bagus sekali, siapa yang belikan?" tanya Oma pada cucunya, kalau sholat sama Balen, zikir Oma tidak bisa lama, bocah kecil itu akan mengganggu konsentrasi Oma.


"Tata Yoma." jawabnya memeluk Roma.


"Sudah bilang terima kasih belum?" tanya Nona.


"Udah tan ya?" tanyanya pada Roma.


"Sudah." jawab Roma tersenyum.


"Anakku nanti kalau perempuan segemas ini ya pasti." kata Roma pada Nona.


"Bisa jadi lebih menggemaskan, seperti Raymond." jawab Kiki terkekeh.


"Kalau seperti Ayah dan Papi, kalem dan cool gitu, bisa juga." Roma terkekeh teringat Ayah Eja dan Papinya Alex.


"Mirip siapa saja, semuanya keren kan." kata Nona tersenyum bangga bisa berada di keluarga ini.


"Iya, tapi kalau cowok seperti Ayah atau papi saja, kalau perempuan seperti Balen." kata Roma menghayal.


"Kalau seperti Balen berarti seperti Raymond dan Kenan." kata Oma terkekeh, dimata Oma Balen rusuh seperti Om dan keponakan itu.


"Keren juga kan, kalau tidak keren tidak akan jadi suami kita." kata Nona tertawa. Wanita tiga generasi itu masih saja ngobrol di atas sajadah. Opa yang sudah kembali dari mesjid hanya mengintip dan berdehem hingga akhirnya mereka bubar merapikan sajadah dan mukena, lupa menyiapkan minum untuk suami mereka. Semoga saja Bibi sudah menyiapkannya karena dari tadi Oma belum keluar kamar, sementara Nona dan Roma lupa karena fokus sama Balen dan Richi.