I Love You Too

I Love You Too
Berlomba



Sementara papa dan saudara lainnya setelah sholat jumat langsung beristirahat dikamar hotel, Reza dan Kiki masih berkumpul bersenda gurau bersama sahabatnya di VIP Room, padahal nanti malam mereka berniat mengadakan pesta kecil intenal untuk menikmati liburan bersama di dalam kota.


"Tanggung ya, mau kekamar sebentar lagi ashar, abis ashar aja kita istirahat ya." kata Reza pada sahabatnya. Mereka pun setuju. Kalau sudah kumpul tak ada capeknya. Alex dan Anto pun tampak diantara mereka.


"Wisnu kemana mas, kok ga datang?" tanya Reza pada Alex, ia baru menyadari sahabatnya tak tampak diantara mereka.


"Nyokapnya belum bisa ditinggal, masih dirawat."


"Wah kasian si tante, gue kira sudah sehat." kata Andi menimpali


"Bantu doa ya, masih belum mau makan. Diajak ngomong juga masih belum nyambung."


"In syaa Allah segera sehat." kata Erwin mendoakan.


"Aamiin." jawab yang lain bersamaan. Mereka kembali bercanda, kali ini Erwin yang jadi bintangnya. Reza mentertawakan ekspresi Erwin saat tadi ada diantara Enji dan Sheila.


"Berasa direbutin lu ya?" tanya Mario konyol. Yang lain langsung terkikik geli.


"Direbutin apaan, gue tembakin juga belum."


"Nah lu berat kemana nih sekarang?" tanya Andi.


"Gue ikutin gaya Sheila lah, yang mau nerima gue, itu yang gue pilih."


"Tapi kan lu mana tau mereka nerima lu apa ga, kalau lu ga nembak. Lu fokus ke yang mana nih?" tanya Mario mendesak.


"Menurut kalian gimana, gue juga bingung. Kalau dua-duanya mau sama gue gimana?" Erwin tampak bingung. Yang lain masih tertawa melihat gaya Erwin.


"Jangan sok ganteng deh kak Erwin." celutuk Intan kesal, langsung dicubit pelan oleh Anto, khawatir Erwin tersinggung.


"Hahahaha keliatan sok ganteng ya gue. Padahal emang ganteng ga sih?" tanya Erwin sok polos. Tak terlihat tersinggung.


"Bodo amat win." Andi ikutan kesal ketularan Intan, disambut derai tawa yang lain.


"Kalau menurut aku sih, cocok kak Erwin sama Enji. Aku suka Enji lucu sama kaya kak Erwin kan suka lucu juga." Kiki berkomentar.


"Wiih siap-siap kalau sama Enji, mau ketemu Erwin lapor ajudan dulu kita." Reza menggoda Erwin sambil tertawa.


"Ngalah-ngalahin lu deh Yo nanti, Liatin aja, apalagi jiwa tengilnya udah ada kan." sahut Andi lagi. Kembali yang lain tergelak.


"Mas Alex kalau mau ketemu Erwin ga kaya sekarang lo mas, susah mau ajak bikin Jingle juga." kata Mario lagi ikut meledek Erwin.


"Rese." Erwin terkekeh sambil mengacak rambutnya, bingung sendiri.


"Enji tuh siapa?" tanya Alex mulai tertarik ingin tahu.


"Anaknya pak Burhan Komarudin. Kenal mas? tanya Erwin. Alex menggelengkan kepalanya.


"Bokapnya sih kita kenal." jawab Anto.


"Tadi ada. Yang disebelah gue tuh." Erwin tampak bersemangat.


"Ga perhatiin, rame banget tadi." jawab Alex.


"Kalau sepi juga lu ga bakal ngeh lex, apalagi monik udah disebelah lu." celutuk Anto membuat yang lain tertawa. Alex ikut tertawa sambil mengusap bahu Monik yang duduk disebelahnya.


Regina langsung tersedak, hahaha sepertinya Regina yang merasa tersindir karena ia dan Mario baru memutuskan akan menikah walaupun tanpa cinta. Mario segera menyodorkan air putih yang disebelahnya ke dekat Regina. Langsung saja Regina meminumnya.


"Kecapekan kali Rere, mau kekamar Re?" Cindy menawarkan.


"Ga usah, hanya tersedak." Jawab Regina cepat.


"Siapa yang baru jadian? tanya Alex kemudian.


"Tuh pemain watak, pengen aku timpuk rasanya." sungut Monik. Alex langsung menatap memicingkan matanya menatap Anto dengan senyum miringnya. Seakan minta penjelasan, karena Anto tak pernah cerita walaupun mereka sering bersama.


"Pasti yang tadi dikelitikin sampai melorot kebawah ya." tebak Mario yang tak merasa baru jadian sambil tertawa mengingat Intan yang habis dikelitiki sahabatnya. Kiki dan Monik pun langsung terbahak mengingat hal yang mereka lakukan tadi.


"Makan-makan nanti malam disponsori oleh Anto ya, jangan ada yang keluar duit. Dia mau open bill." kata Monik dengan lantang. Anto yang ditunjuk hanya tertawa pasrah.


"Asiiik." teriak yang lain senang, padahal mereka tak mempermasalahkan jika harus membayar biaya makan nanti malam, tapi senang saja kalau ada yang traktir. Reza pun sudah siap keluar duit karena memang ini bagian dari acaranya.


"Regina , cindy sampai kapan di jakarta. Sampai minggu kan? Jangan buru-buru pulang. Seru nih kumpul gini." Intan memgalihkan pembicaraan.


"Gue Minggu sore balik KL." jawab Cindy cepat.


"Wah cepat amat, buruan pedekate." bisik Erwin pada Andi yang duduk disebelahnya. Andi menggeser sikunya keperut Erwin, takut bisikan terdengar oleh Cindy yang duduk diseberang mereka.


"Regina ga balik lagi ke S'pore. Dia bakal disini terus." jawab Mario mewakili Regina. Ketiga sahabat Reza menoleh pada Mario. Penasaran ingin tahu apa hasil pembicaraan keduanya tadi. Mereka hanya melihat mata bengkak dan hidung memerah Regina yang seperti habis menangis.


"Iya Re?" tanya cindy. Regina menganggukan kepalanya.


"Kami akan menikah minggu depan." jawab Mario apa adanya. Tadi ia sudah menelpon Papi menyampaikan kalau ia menyerah dan mengikuti keinginan papi. Dan secara sepihak Papi menyampaikan kalau pernikahan Mario dan Regina akan dilaksanakan hari sabtu depan di semarang. Dasar kalau tak menyerahpun pasti akan menikah karena sudah diatur.


"Serius lo Yo?" tanya Erwin tak percaya. Karena sebelum sholat jumat Mario masih berusaha menolak untuk menikah. Kenapa hanya dalam waktu tak lebih dari dua jam keadaan langsung berbalik cepat.


"Kalau Mario sudah ngomong ya serius lah, Lu berasa dilangkahin win?" tanya Reza konyol, yang lain kembali terbahak mendengarnya.


"Iyalah, lu bayangin aja yang ketemu calon mertua gue, yang bilang mau nikah bulan depan dia. Kan gue merasa gimana."


"Yang baru jadian juga siapa, yang nikah duluan siapa." celutuk Kiki lagi. Ah kocak sekali mereka selalu saling menggoda dan bersenda gurau.


"Duh jadi pengen dijakarta terus gue, kalau kumpul begini." kata Cindy melihat suasana yang sangat akrab.


"Minta dilamar aja sama kak Andi. Nanti kan jadi dijakarta terus." Jawab Monik membuat Andi dan Cindy terbelalak. Apa yang mereka bahas saat ditinggal Sholat jumat, kenapa jadi gue juga kena, pikir Andi yang belum berniat mendekati Cindy.


"Yang enak kita nih dek, mau sun gini udah halal." kata Reza sambil mencium dahi kiri Kiki, membuat Kiki bersemu merah. langsung saja Andi melempar tissue yang sedari tadi digenggamnya.


"Manasin kita dia. Liatin deh gue juga halal minggu depan." timpal Mario tak mau kalah. Regina tersenyum tipis dibuatnya.


"Nik, ayo kita halalkan. Gimana?" Alex mulai merayu Monik yang selalu menolak diajak menikah karena tak mau terburu-buru.


"Ngapain pacaran lama-lama enakan juga begini." Reza menambah kesal yang lain dengan memeluk erat Kiki.


"Duh jangan pamer deh, kekamar aja gih." Intan kembali dengan judesnya.


"Ih biarin aja tan, makanya kita kapan nyusul, gue juga ga mau lama-lama pacaran. Langsung nikah aja lah kita." jawab Anto membela Reza. Gantian Intan yang sekarang wajahnya tampak memerah. Sepertinya mereka sedang berlomba menuju halal.